Posted by: nsrupidara | December 22, 2010

Hantu Sains Mengintai Di Pinggir Jantung Iman

Alam semesta tidak membutuhkan Tuhan dalam proses penciptaannya. Hukum-hukum alam secara independen dapat menjelaskan bagaimana alam semesta terbentuk pada awalnya, bergerak hingga menjadi seperti sekarang, dan terus berkembang ke masa yang akan datang. Demikian kira-kira kesimpulan Stephen Hawking, begawan fisika teori, dalam buku terbarunya, “The Grand Design” (2010) yang ditulis bersama Leonard Mlodinow, profesor fisika dari California Institute of Technology (Caltech). Tiada tempat bagi Tuhan dalam alam semesta.

“Because there is a law like gravity, the universe can and will create itself from nothing… Spontaneous creation is the reason there is something rather than nothing, why the universe exists, why we exist. It is not necessary to invoke God to light the blue touch paper (fuse) and set the universe going (p. 180).”

Kesimpulan mengejutkan itu ibarat sebuah lontaran jab Mike Tyson menghajar telak wajah dan membuat jatuh terjerembab lawan tandingnya. Seperti itulah yang saya rasakan saat duduk di depan televisi, ketika menyimak acara berita malam ABC TV di Sydney, Australia dan tiba-tiba menerima isi berita menyangkut buku Hawking tersebut. Di awal pemberitaan itu, saya antusias menanti apa isi kesimpulan terkini dari Stephen Hawking tentang asal muasal alam semesta. Sekelibat pemikiran, saya berharap kesimpulan baru Hawking ini akan membantu meredakan ketegangan antara kaum scientists, terutama mereka yang ateis, dengan kaum agamawan dan juga para scientists Kristen. Namun ketika si pembaca berita meneruskan beritanya, yang terjadi justru sebaliknya, kekecewaan lah yang muncul dari dalam diri saya. Hawking ternyata berkesimpulan di luar harapan saya selaku seorang akademisi Kristen yang berharap terjadi harmonisasi sains dan agama. Kesimpulan ini tidak saya antisipasi akan datang dari Hawking yang masih dapat digolongkan seorang deist atau seorang yang percaya akan keberadaan Tuhan yang impersonal (lihat Eric Young, “Stephen Hawking’s New Claims Opposes Isaac Newton: Christian Responds”, dalam Christian Post, 7 September 2010; atau bandingkan misalnya pemosisian pemikiran Hawking dalam debat agama vs. sains oleh Edgar Andrews, profesor Fisika Material terkemuka dari Universitas London, dalam buku “Who Made God?: Searchinf For a Theory of Everything” (2009).

Kesimpulan terbaru Hawking ini bisa diduga akan menaikkan tempature relasi agama – sains. Deepak Chopra yang juga menulis sebuah review atas buku tersebut pada blog-nya dan diberi judul “Stephen Hawking’s Grand Book – Where Is the Design?” misalnya mengatakan, “a blow was struck for the noisy camp of atheists while the world of devout believers had one more reason – this time a crushing one – to consider science as the enemy of religion.” Alister McGrath, seorang profesor Historical Theology dari Oxford University yang banyak menulis dalam bidang relasi agama dan sains, mengatakan dalam sebuah wawancara televisi pasca penyiaran pemikiran Hawking bahwa debat agama vs. sains (terutama sains menurut perspektif para ateis) akan terus berlanjut.

Sejarah peradaban pemikiran telah menunjukkan hubungan agama dan sains yang penuh dengan ketegangan, terutama pasca dan dalam rangka merespon Teori Evolusi Darwin (lihat misalnya Richard F. Carlson (2000), Editor, Science & Christiniaty: Four Views). Penemuan-penemuan terkini dalam perkembangan ilmu pengetahuan telah dipakai terutama oleh kaum ateis untuk menyerang posisi agama, terutama kekristenan, dalam berbagai bidang. Serangan-serangan ini kemudian berbalik serangan balasan dari terutama kalangan Kristen dengan sikap anti-sains, sebuah sikap yang tampaknya perlu juga dikritisi secara hati-hati.

Perdebatan tajam antara kaum scientists, terutama mereka yang ateis, dengan kaum agamawan Kristen ini sangat kentara di ruang-ruang publik, terutama di dunia barat atau di negara-negara maju yang menerima perbedaan pemikiran yang boleh diekspresikan secara terbuka. Dari ruang-ruang debat publik, baik di lokasi terbatas tertentu maupun di lokasi yang terakses publik misalnya televisi, radio, internet, atau melalui literature, baik itu buku-buku populer maupun publikasi ilmiah, kencangnya perdebatan tidak terhindarkan. Ini melahirkan polarisasi dalam masyarakat yang sulit sekali dihindarkan, terutama ketika menyangkut isu-isu kunci seperti eksistensi Tuhan, asal muasal alam semesta dan kehidupan pertama di muka bumi, tentang asal muasal manusia, hingga tentang historitas dan ketuhanan Yesus.

Runcingnya perdebatan ini pun berimplikasi seolah “tidak ada jalan tengah” untuk mendamaikan agama dan sains. Agama dan sains adalah dua dunia yang terpisah dan bertentangan. Menerima sains berarti degradasi iman, demikian pula sebaliknya, menerima agama berarti sikap anti-intelektual. Ini menyulitkan posisi para scientists Kristen yang setia pada imannya, tetapi juga adalah para pemikir di front terdepan dalam perkembangan sains. Posisi sulit scientists Kristen ini sangat kentara dalam pernyataan Francis Collins dalam bukunya “The Language of God: A Scientist Presents Evidence for Belief ” (2006). Francis Collins adalah ketua Human Genome Project yang berhasil memetakan struktur gen manusia dan menjadi salah satu temuan sains yang menakjubkan. Collins mulanya adalah seorang agnostik yang kemudian menjadi ateis tetapi akhirnya menjadi Kristen. Collins yang Kristen ini namun juga meyakini bahwa evolusi sebagai benar karena didukung sangat kuat oleh temuan-temuan sains telah menjadi korban sikap anti-sains, atau dalam hal ini anti-evolusi, dari sebagian kalangan Kristen. Demikian ditulis oleh Collinss (2006, p. 146):

“A few months later I spoke to a national gathering of Christian physicians, explaining how I had found great joy in being both a scientist studying the genome and a follower of Christ. Warm smiles abounded; there was even an occasional “Amen.” But then I mentioned how overwhelming the scientific evidence for evolution is, and suggested that in my view evolution might have been God’s elegant plan for creating humankind. The warmth left the room. So did some of the attendees, literally walking out, shaking their heads in dismay.”

Fenomena perdebatan, atau bahkan dialog, agama – sains ini hampir tidak tampak di Indonesia. Ini mungkin dikarenakan sikap tabu kita terhadap pemikiran anti-agama, atau sesuatu pemikiran yang berdimensi tidak begitu sejalan dengan pemahaman yang terwariskan dari tradisi beragama kita.

Sikap ini menempatkan kita di Indonesia seolah-olah merasa segala sesuatu tenang saja adanya. Atau kalaupun ada gangguan pemikiran non-agama atau pemikiran “sempalan” dari pemahaman mainstream agama, maka tinggal dikeluarkanlah fatwa “Itu pemikiran sesat, jangan didengar, jangan dibaca, merusak iman.” Sikap ini tentu bisa “menyelamatkan” warga agama, warga gereja khususnya, dari intrusi “pemikiran sesat”, namun itu hanya cenderung bersifat sesaat. Dengan iklim keterbukaan yang makin tinggi dengan difasilitasi oleh perkembangan khususnya teknologi informasi, akses terhadap “pemikiran sesat” cenderung lebih, bahkan sangat mudah. All is only one click away, kira-kira demikian prinsip akses terhadap ragam pemikiran di dunia internet. Dengan begitu sikap protektif agama, gereja khususnya, akan cenderung mubazir.

Memang, di dunia maya kini juga sudah terjadi perang pesan antara scientists ateis dengan agamawan atau sceintists beragama yang anti terhadap temuan-temuan sains yang “mengguncang iman”. Namun, apakah sikap konfrontatif antara agama dan sains ini kemudian membantu kita dalam memahami apa yang sesungguhnya terjadi dalam alam semesta ini? Saya khawatir jawabannya adalah, tidak.

Karena itulah tulisan ini dibuat untuk menaruh di hadapan kita polemik panjang antara agama dan sains ini. Tujuan saya adalah mendorong terjadinya dialog dan refleksi lebih lanjut tentang relasi agama dan sains khususnya di kalangan gereja, di antara agamawan praktisi, teolog, scientists, maupun warga gereja pada umumnya. Saya telah mengemukakan posisi intelektual saya di depan, sebagai seorang akademisi yang memimpikan harmonisasi agama dan sains. Posisi ini jelas terbuka untuk didebat siapa saja, yang semoga itu terjadi dalam iklim yang saling menghargai posisi intelektual, bahkan pemahaman iman.

Benarkah Sains Adalah Hantu Bagi Agama?
Posisi sains di depan agama, gereja khususnya, bukanlah posisi tunggal, terutama bila dilihat dari posisi penilai yang berbeda. Dalam pendahuluan buku “Sciece & Christianity,” R.F. Carlson (2000) menulis, “There are, however, distinct viewpoints held by Christians, and these distinct viewpoints are found in particular Christian subcultures, substraditions and groups, but these groupings cut across all sorts of Christian boundaries” (p.11). Buku ini berisi perdebatan empat (4) aliran pandang dalam Kristen tentang relasi agama dan sains, yakni Creationism, Independence, Qualified Agreement, dan Partnership. Pandangan Creationism memosisikan agama sebagai lawan terhadap sains, terutama terhadap bidang kosmologi, fisika dan matematika tentang penciptaan alam semesta dan terhadap bidang biologi dan genetika tentang penciptaan makhluk hidup dan khususnya manusia. Pandangan Independence menempatkan agama dan sains sebagai dua bidang terpisah yang berdiri paralel atau tidak berinteraksi satu sama lain, termasuk tidak berkonflik.

Namun sebagaimana tulisan ini telah dimulai, posisi ketegangan agama dan sains-lah yang cenderung mendominasi wajah relasi kedua bidang tersebut. Dan sebagaimana telah juga dikemukan, sikap berhadap-hadapan bukan semata soal sikap agama (dhi. gereja) terhadap sains, tetapi juga atau bahkan terutama sikap scientists, terutama yang ateis, terhadap agama. Baiklah kita simak sejumlah posisi pandang atau penilaian terhadap agama berkendaraan sains.

Sikap tidak bersahabat sains terhadap agama terutama dikumandangkan oleh kalangan new atheists. Richard Dawkins, professor biologi evolusioner terutama bidang zoology, mungkin merupakan tokoh terdepan dari aliran new atheism. Sejumlah buku yang diproduksinya (misalnya: “The Greatest Show On Earth”, “The Blind Watchmaker”) menghujam secara tajam jantung pertahanan kaum agama dengan argumen utama bahwa evolusi-lah satu-satunya jawaban terhadap terhadap pertanyaan mengapa umat manusia eksis, bukan Tuhan yang menciptakan manusia sebagaimana misalnya dideskripsikan kitab Kejadian. “Puncak” serangan Dawkins terhadap agama adalah dengan diluncurkannya bukunya berjudul “The God Delusion” (2006). Di sana Dawkins menulis, “The whole argument turns on the familiar question ‘Who made God?’, which most thinking people discover for themselves. A designer God cannot be used to explain organized complexity because any God capable of designing anything would have to be complex enough to demand the same kind of explaination in his own right. God presents an infinite regress from which he cannot help us to escape. This argument … demonstrates that God… is very very improbable indeed (p. 109).” Di halaman 113, kesimpulannya bahkan bergerak ke level yang lebih pasti, “… comes close to proving that God does not exist.” Karya-karya Dawkins seolah menjadi bagian dari selebrasi “kemenangan” sains atas agama.

Namun, Dawkins tidak sendirian dalam menyerang agama. Fronts serangan kaum ateis terhadap agama makin melebar. Di dunia Fisika, penulis seperti Victor Stenger, pun tidak kalah galak. Bukunya “God, The Failed Hypothesis: How Science Shows that God does not Exist” (2007) secara frontal berargumen bahwa sains tidak pernah menemukan jejak keberadaan Tuhan. “Existing scientific models contain no place where God is included as an ingredient in order to describe observations. Thus if God exists he must appear somewhere within the gaps or errors of scientific models, ujarnya (dikutip dalam E. Andrews (2009), Who Made God?, p. 67).” Bahkan jika pun mau ditarik lebih jauh, konfrontasi kelompok-kelompok kritis terhadap historisitas Jesus dapat digolongkan sebagai serangan sains, terutama social sciences, terhadap agama Kristen. Kelompok seperti ini menilai bahwa narasi Injil serta tulisan-tulisan Perjanjian Baru merupakan sebuah konspirasi besar para pengikutnya dalam memosisikan Yesus yang sejatinya seorang manusia biasa dalam posisi sebagai Tuhan. Kelompok seperti Jesus Seminar mendekonstruksi pemahaman kita misalnya dengan mengatakan bahwa sebagian besar kutipan pernyataan Yesus dalam Injil adalah fiktif.

Ketidaknyamanan hubungan agama dan sains tentu bukan barang baru. “Daftar serangan” di atas akan panjang kalau mau ditelusuri satu persatu dan secara keseluruhan telah menempatkan agama, terutama Kristen dalam posisi yang tidak nyaman. John Lennox, prefesor Matematika dari Oxford University, karenanya mengatakan, “It is a widespread popular impression that each new scientific advance is another nail in God’s coffin (2009, God’s Undertaker: Has Science Buried God?, p. 15).” Namun, anggapan bahwa temuan sains adalah serangan terhadap agama, sebagaimana yang diposisikan oleh para ateis, sama juga dengan posisi kalangan fundamentalists agama-agama, sesungguhnya adalah sesuatu yang tidak benar. Cukup banyak scientists jempolan tetap berpijak di atas kaki iman yang kokoh. Di samping nama-nama masa kini seperti F. Collins, E. Andrews, J. Lennox yang dikutip di sini, scientists lampau seperti Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler, Galileo Galilei dalam bidang Astrofisika (lihat Lennox, 2009 atau Hans Kung, 2007, “The Beginning of All Things: Science and Religion) atau George Mendell di bidang Genetika (lihat John Cornwell, “Darwin’s Angel: An Angelic Riposte to The God Delusion) adalah orang-orang dengan keyakinan agama, Kristen (termasuk Katolik) dalam hal ini, yang kuat. Temuan-temuan mereka seolah dapat dipersepsi sebagai bentuk serangan terhadap agama. Namun, apa yang mereka sampaikan adalah temuan-temuan tentang apa yang senyatanya terjadi dalam alam semesta, bukan serangan terhadap agama. Di sini, tampaknya cara pandang terhadap posisi sains di depan agama memerlukan peninjauan kembali.

Mereaksi Teka-Teki Hawking Tentang Eksistensi Tuhan
Kembali ke kesimpulan Hawking tentang posisi Tuhan dalam penciptaan alam semesta, apa yang mau kita katakan atasnya? Untuk merespon itu tentu dibutuhkan suatu pemahaman akan argumen-argumen di belakang kesimpulan Hawking. Mengingat background penulis, maka tulisan ini tidak berada dalam kapasitas teknis keilmuan untuk merespon secara substansial misteri awal mula alam semesta dan kehidupan. Kita memerlukan sumbangan pemikiran dari para ilmuwan Kristen untuk membantu kita memahami perkembangan pemikiran di dunia sains dan menarik implikasinya bagi pokok pemahaman teologis.Dialog-dialog antara ilmuwan dan teolog Kristen dalam hal ini menjadi sedemikian diperlukan dan tulisan ini berposisi untuk menstimulasi dimulainya dialog-dialog itu secara berkelanjutan. Untuk, baiklah kita pahami sejumlah hal berkenaan dengan perkembangan pemikiran di dunia sains yang memerlukan sikap terbuka kita untuk menanggapinya.

Pertama, bahwa alam semesta diyakini oleh para fisikawan atau kosmologis telah berusia kurang lebih 13,7 milyar tahun (lihat misalnya, Hans Kung, 2008, “The Beginning of All Things: Science and Religion; Hawking dan Mlodinow, 2010) dan dalam usia yang demikian alam semesta terus berkembang atau dikenal dalam Fisika sebagai the expanding universe. Penetapan usia ini tampaknya didasarkan pada Big Bang Theory (Teori Dentuman Besar) yang sejauh ini diterima sebagai penjelasan yang paling dapat diterima oleh para ilmuwan tentang bermulanya alam semesta. Namun, di luar pemahaman ini, ada pemahaman lain bahwa tidak ada awal dan dengan demikian tidak ada pula akhir dari alam semesta. Pandangan kedua ini memandang alam semesta bersifat kekal (infinite universe, lihat misalnya Joseph Silk, 2006, “The Infinite Cosmos”). Kedua pandangan ini memiliki implikasi yang berbeda terhadap kemungkinan diterimanya pandangan tentang penciptaan alam semesta dan hari kiamat, dan karenanya tentang Tuhan sebagai pencipta. Diterimanya teori Dentuman Besar mengisyaratkan bahwa ada titik nol bermulanya ruang dan waktu dalam alam semesta dan karenanya agama dapat menempatkan pandangannya bahwa semua itu terjadi sebagai proses penciptaan Tuhan. Jika alam semesta, pasca dentuman besar, terus berkembang dengan kecepatan tertentu (yang dikatakan berakselerasi) dan pada suatu waktu mencapai puncak ekspansinya, maka dapat terjadi pemampatan alam semesta untuk kembali ke titik asalnya dan terjadi implosion atau apa yang dikenal dengan istilah “big crunch”. Ini dapat dibayangkan sebagai akhir dari alam semesta, atau barangkali bisa disetarakan sebagai hari kiamat dalam konsep agama-agama. Namun, sumber tertentu menyebutkan kemungkinan-kemungkinan bentuk kiamat yang lain, misalnya berakhirnya daya dukung matahari yang menjadi sumber energi dominan bagi kehidupan di dalam tata surya kita. Pandangan-pandangan itu bagaimanapun juga tidak mengindikasikan bahwa akhir zaman sudah dekat. Pandangan ini tentu saja berbeda dari pandangan agama-agama yang mengindikasikan bahwa kiamat kian menjelang, apalagi misalnya memasukkan pandangan suku Indian-Maya bahwa 2012 adalah waktu kiamat. Tidak, akhir hayat alam semesta, dalam pemahaman ini, tidak bakal terjadi secara tiba-tiba, kecuali terjadi kekacauan dalam hukum-hukum alam secara luar biasa. Namun, ketika menempatkan peran dan kuasa Tuhan dalam konteks ini tentu saja apapun mungkin terjadi. Sebaliknya, implikasi dari pandangan bahwa alam semesta bersifat kekal, tidak berawal dan tidak berujung atau setara konsep alfa – omega dalam pandangan Kristen, maka alam semesta sudah ada dari kekekalan dan akan terus berada tanpa batasan waktu. Dalam konteks ini, jelas eksistensi dan peran Tuhan sama sekali tidak diharapkan. Konsep penciptaan dan kiamat tidak eksis dalam pandangan ini. Namun, kesanggupan manusia untuk bertahan hidup menjadi pertanyaan tersendiri.

Kedua, di dalam proses evolusi alam semesta itu, terjadi peristiwa-peristiwa yang secara akumulatif makin kondusif bagi bermulanya kehidupan makhluk hidup. Events yang dimaksud adalah termasuk di antaranya benturan-benturan benda ruang angkasa dengan bumi, letusan-letusan dahsyat gunung berapi. Semua peristiwa yang menakutkan itu justru telah memberi iklim yang kondusif bagi kehidupan, misalnya dengan menghadirkan asam-asam amino di bumi yang memungkinkan makhluk bersel tunggal bisa memulai kehidupan, serta meningkatkan kadar oksigen serta sinar matahari yang menjadi “bahan bakar” bagi kehidupan yang lebih kompleks. Karena kondisi yang demikianlah, kehidupan yang lebih kompleks telah dimungkinkan. Kehidupan pertama di muka bumi diperkirakan bermula pada sekitar 3,9 milyar tahun lampau. Bumi kita ini sendiri diperkirakan telah berusia sekitar 4,6 milyar tahun (lihat misalnya Andrew Parker, 2003, “In The Blink Of An Eye: The Cause Of The Most Dramatic Event In The History Of Life”). Data ilmiah seperti ini memberi bukti yang sangat kuat bahwa kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia, telah berevolusi sedemikian rupa panjangnya, disertai sejumlah kejutan, revolusi, atau letupan perkembangan makhluk hidup, terutama pada fase yang disebut sebagai Cambrian. Proses yang seperti itu rasanya merpuakan suatu proses yang tidak mudah dibayangkan seperti apa telah terjadi, ketika misalnya itu diperbandingkan dengan pemahaman penciptaan dalam 6 hari dan perkiraan usia alam semesta yang hanya sekitar 6000 tahun berbasis tafsiran Alkitab.

Ketiga, studi-studi tentang genom, yang terakselerasi keberhasilan pemetaan genom manusia pada tahun 2003, menunjukkan bahwa genom manusia memiliki 99,9% kemiripan antara satu individu dengan individu yang lain (Francis Collins, 2006). Ini membawa implikasi yang serius misalnya pada pandangan bahwa Tuhan menciptakan manusia berbeda antara satu ras dengan ras yang lain, apalagi terhadap pandangan ada keunggulan ras satu terhadap lainnya. Collins karenanya berkesimpulan, “… we humans are trully part of one family (p. 126).” Yang tampaknya mengejutkan kita dari studi ini adalah perbandingan pada tingkat DNA antara manusia dan simpanse ditemukan kemiripan sebesar 96% dari keseluruhan struktur genom. Perbedaan mencolok adalah pada kromosom 2 manusia yang tampaknya merupakan penggabungan kromosom 2A dan 2B pada simpanse (Collins, p. 137).

Perkembangan-perkembangan sains seperti ini tampak mengguncang pemahaman konvensional kita tentang alam semesta dan kehidupan yang pada gilirannya membawa implikasi yang serius pada cara bagaimana kita harus memahami keseluruhan proses penciptaan alam semesta dan makhluk hidup, terutama manusia. Oleh karena itu, perkembangan sains semestinya harus direspon oleh agama-agama secara bijaksana. Pertanyaannya, bagaimana kita harus memahami semua ini dalam kacamata eksistensi dan keberkuasaanTuhan?

Menanggapi pertanyaan seperti itu, Edgar Andrews berargumen bahwa hipotesis tentang keberadaan dan kuasa penciptaan Tuhan jauh lebih dapat diterima daripada pandangan bahwa alam semesta terlahir secara spontan sebagaimana pandangan Hawking. Penerimaan akan hipotesis Tuhan ada ini didudukkan di atas pandangan filosofis bahwa segala sesuatu yang ada permulaannya pasti memiliki penyebabnya, sebagaimana posisi argumen yang di antaranya dibangun oleh William Lane Craig, profesor riset dalam bidang Filsafat dari Talbot School of Theology (lihat Stan W. Wallace, 2000, “Does God Exist?: The Craig – Flew Debate”). Seperti diungkapkan di atas, Big Bang Theory yang saat ini dianggap saat ini teori terkuat dalam menjelaskan asal-usul alam semesta mengindikasikan secara kuat eksistensi dan karya Tuhan. Hawking sendiri pernah menyatakan, “So long as the universe had a beginning, we could suppose it had a creator (dikutip dari Andrews, 2009, p. 98).”

Namun, Hawking dan Mlodinow, juga Stenger, pada akhirnya condong menilai bahwa alam semesta jadi dengan sendirinya, bukan karena atau tidak ada kaitannya dengan proses penciptaan oleh Tuhan. Menanggapi posisi sikap seperti itu, Andrews berargumen bahwa jika alam semesta ini bersifat expanding, maka ini mengisyaratkan ada titik mula (a singularity, sebuah titik di mana sejumlah kuatitas fisik menjadi tidak berbatas, infinite) di mana alam semesta kemudian berekspansi dari kondisi awal sebagai sebuah universe yang luar biasa padat (infinite density) dan luar biasa panas. Namun, Andrews mengingatkan kita bahwa, “we need to understand that the big bang was not some kind of cosmic-scale explosion in space (p. 104).”

Dengan meyakini ada big bang, Andrews menolak hipotesis bahwa: 1) Tuhan tidak ada dan 2)hukum-hukum Fisika mampu secara independen menciptakan alam semesta dari ketiadaan dan hukum-hukum itu dikatakan telah ada dengan sendirinya. Bagi Andrews, hukum-hukum alam yang teratur itu ada dalam alam semesta yang memiliki titik awal atau telah diciptakan. Hukum-hukum itu karenanya adalah bagian dari produk yang diciptakan atau bagian dari mekanisme penciptaan Tuhan. Di luar titik nol bermulanya alam semesta, konsep ruang dan waktu tidak ada dan karenanya hukum-hukum alam semesta itu tidak mungkin eksis.

Di situ kita mendapati perbedaan pandang pada pada titik pertanyaan, (si)apakah yang telah dan mampu membuat segala sesuatu dari ketiadaan dan menjadi pengatur proses-prosesnya hingga menjadi sedemikian rupa seperti adanya kini? Dan di situlah argumen Teologi dan Filsafat telah membawa kita pada jawaban bahwa Tuhanlah The uncaused Cause, super-intelligent agent yang eksis secara kekal dan karenanya telah mencipta alam semesta dan kehidupan, pandangan mana ditentang oleh Hawking serta atheistic scientists yang menyukai argumen bahwa alam semesta telah ada dengan sendirinya dari waktu yang kekal ke waktu kekal. Bagi ilmuwan ateis, jika argumen Tuhan lah pencipta alam semesta, maka di atas argumen segala sesuatu ada penciptanya mereka bertanya, lalu “Who made God?” Namun, pada titik yang lain atheists menerima bahwa hukum-hukum alam yang telah sedemikian membentuk dan mengatur alam semesta dan menciptakan kehidupan ada dengan sendirinya. Dengan argumen yang sama, segala sesuatu ada penciptanya, Andrews mengajukan lawakan dialog 4 pihak yakni antara seorang enquirer, seorang theist, dan dua orang atheist sebagai berikut (p. 18, di-Indonesia-kan penulis):

Enquirer: Maaf, bisakah Anda jelaskan pada saya siapa yang menciptakan segala sesuatu?
Theist: Ya, Tuhan yang menjadikan segala sesuatu.
Atheist 1: Oh? Lalu siapa yang menjadikan Tuhan?
Atheist 2: Kita yang menciptakan Tuhan.
Theist: Lalu, siapa yang menjadikan kita?
Atheist 1: Evolusi yang menjadikan kita.
Theist: Siapa lalu yang membentuk evolusi?
Atheist 2: Evolusi adalah bagiar dari segala sesuatu, segala sesuatu itu yang menjadikan evolusi.
Enquirer: Maaf saya interupsi…, tapi siapa lalu yang menjadikan segala sesuatu? Oh, lupakanlah.

Meminjam argumen Richard Dawkins, adalah suatu kemustahilan yang tinggi (high improbability) mengharapkan segala sesuatu terjadi dengan sendirinya. Andrews mengibaratkan sebuah mangkuk utuh yang dijatuhkan dan pecah berkeping-keping yang kemudian pecahan-pecahannya dipungut kembali secara acak dan dijatuhkan lagi dengan harapan bahwa ada kemungkinan untuk menyatu kembali dengan sendirinya seperti sedia kala, demikian pulalah harapan bahwa hukum-hukum alam dan seluruh peristiwa alam, yang diyakini para atheists telah memungkinkan kehidupan terbentuk out of nothing, telah ada atau terjadi dengan sendirinya, keduanya sama-sama mustahil. Bagi Andrews, keteraturan alam semesta hanya mungkin terjadi bilamana ada sebuah kekuatan penuh keteraturan yang memungkinkannya demikian dan di situ argumen metafisika tentang keberadaan Tuhan memiliki posisi yang kuat, sekalipun itu kini harus dimengerti merupakan suatu proses yang luar biasa panjang, bukan sebuah penciptaan seketika. Demikian pula dengan pandangan Collins bahwa Tuhan mungkin telah menggunakan DNA sebagai bahasaNya dalam menciptakan makhluk hidup, sehingga proses evolusi yang panjang dan kemiripan manusia satu dengan yang lain, bahkan kemiripan manusia dengan simpanse, atau bahkan asal muasal kehidupan dari satu spesies tertentu yang sama, bukan hal yang tidak mungkin di tangan kuasa Tuhan. Kita kini lalu ditantang untuk memahami proses evolusi secara ilahi (theistic evolution).

Namun, penjelasan seperti itu jelas tidak mudah atau barangkali tidak bisa kita terima dan karena itu dialog sains dan agama menjadi diperlukan. Perkembangan di dunia sains ke depan karenanya akan menjadi sesuatu yang pada dasarnya akan ikut membentuk pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana Tuhan telah menjadikan alam semesta dan kehidupan. Namun, pada saat yang sama hal itu mengindikasikan diperlukan juga keterlibatan agama-agama dalam memaknai perkembangan dari dunia sains. Tanpa itu, tampak sains seolah selalu menjadi hantu yang akan terus mengganggu kehidupan iman kita dan barangkali mereka yang lemah akan dengan mudah terguncang imannya dan jatuh. Akankah kita lalu akan terus menempatkan sains sebagai sesuatu yang berada di luar jangkauan agama? Rasanya tidak karena sainslah kendaraan kita untuk memahami bekerjanya alam semesta yang kita yakini telah dibentuk secara luar biasa oleh Tuhan pencipta yang maha kuasa.

Shalloom

Penulis adalah dosen Univ. Kristens Satya Wacana pada bidang kajian sumber daya manusia dan organisasi, kini mahasiswa PhD di Macquarie University, Sydney, pemerhati dialog agama – sains.

Advertisements

Responses

  1. Saya salut dengan pandangannya… Tuhan ada atau tidak ? Karna dalam ketiadaan itu ada. Dan itu adalah Tuhan. Saya setuju pandangan Hawking, tentang peran Tuhan dalam penciptaan tidak ada. Akan tetapi saya berbeda pendapat akan keberadaan Tuhan, Tuhan itu tetap ada, ada dalam ketiadaan. Dalam filosofi Hindu ribuan tahun silam , dalam kitab Bagawadgita dinyatakan bahwa Tuhan berwujud maha besar, Tuhan berwujud Maha Kecil, Tuhan Memenuhi Alam Semesta, Tuhan Mengisi Ruang Kosong, dan Tuhan tidak terpikirkan sehingga kesimpulannya adalah bahwa Alam Semesta, sebelum dan sesudahnya adalah wujud existensi Tuhan. Alam ini adalah Tuhan.

    Sehiingga Sains diperlukan dalam terus memahami sifat dan kebesaran Tuhan.

    Selama ini ketabuan tentang Tuhan sesungguhnya telah mengkerdilkan eksistensi Tuhan. Dalam berbagai agama dikemukakan bahwa Tuhan memiliki beberapa sifat seperti manusia. Sebabnya mungkin karna level pemahaman manusia sesuai dengan zamannya dan kondisi lingkungan saat itu dalam menggambarkan Tuhan masih sederhana.

    Dengan semakin majunya IPTEK maka pemahaman manusia menningkat, sehingga sifat Tuhan menjadi berbeda.

    Kalau boleh saya usul sebaiknya dalam rangka menjembatani kebuntuan hubungan antara Agama dengan Sains adalah dengan memuat Mata Pelajaran atau Mata Kuliah “Perkembangan Pemahaman Manusia tentang Tuhan. Sehingga generasi muda kita sudah siap dalam rangka menerima perubahan pandangan tersebut. Tidak seperti saat ini, begitu ada pandangan yang aneh dan berbeda langsung ditanggapi dengan kecaman pedas, sampai ancaman pembunuhan segala.

    Akankah nantinya mereka Ateis Agnostik atau Teis, yang penting mereka menggunakan logika dan argumennya dalam rangka membela pendirian dan prinsipnya. Tidak seperti sekarang, jangankan Ateis beda pemahaman ajaran dalam satu agama saja membuat semua orang panik dan bakar-bakaran. Kapan dunia sains dapat maju.

    saya seorang guru SD, dari semenjak SD sudah terjadi polarisasi pandangan, di SD ada mata pelajaran Sains yang mempelajari tentang Evolusi Darwin, sementara Guru Agama mengajarkan tentang Adam dan Hawa, nah, Kalau kebetulan siswanya cerdas lalau membandingkan keduanya , mesti jawab apa ? Bingung, saya sendiri bingung.

    Tapi biasalah namanya saja masyarakat kecil yang seolah diajarkan belajar acuh, tak perduli, munafik, sok tahu, berusaha menjelaskan asal-asalan saja, sementara siswa tersebut terus bertanya, Lalu apa jadinya generasi kita ke depan, jika kita tetap memelihara dua ular di satu sarang. Sedangkan ular tersebut bermusuhan. Yah siap saja untuk merasakan kemunduran.

    • Yth. Pak “Netral”

      Terima kasih sudah mengunjungi dan berdialog di blog ini. Mohon maaf baru sempat membalas komentarnya.

      Pertama, saya salut juga dengan pemikiran bapak. Tidak banyak orang berani bebas berpikir selayaknya bapak. Bagi saya, dengan kebebasan berpikir yang bapak tunjukkan memberi kita kesempatan untuk memahami kemungkinan adanya kepelbagaian cara pandang dan itu akan membantu kita untuk menjadi lebih baik, lebih maju, paling tidak untuk/dalam pemahaman kita sendiri.

      Kedua, saya pribadi tidak sependapat dengan Hawking. Bagi saya, Hawking (dan science) tidak punya bukti (langsung) untuk menarik kesimpulan itu, bahwa Tuhan tidak berperan dalam penciptaan (ini terkait juga dengan tanggapan pak “Whereisthewisdom” soal filsafat sains). Bahwa Hawking (dan scientists lain) bisa menjelaskan bagaimana proses terbentuknya dan bekerjanya universe, rasanya tidak ada satu evidence pun yang dari semua itu yang bisa digunakan langsung untuk dengan yakinnya mengatakan, Tuhan tidak berperan. Kesimpulan seperti itu hanya bisa dibuat dari suatu refleksi, dan menunjukkan ada dasar keyakinan tertentu yang memberi arah penyimpulan, dan jelas bukan hasil langsung dari seluruh bukti-bukti ilmiah. Sama pula dengan penyimpulan, walau terbalik arahnya, bahwa karena semua evidence yang sama dalam alam semesta, lalu yang deists atau theists katakan, itu bukti bahwa Tuhan eksis. Dalam hal itu, ada lompatan fakta-ke-keyakinan di sana. Nah, dengan dasar keyakinan saya, saya tergolong yang menyimpulkan bahwa science telah cenderung memberi bukti-bukti Tuhan ada dan berkuasa, termasuk berperan dalam proses penciptaan, walaupun Tuhan (barangkali) menggunakan mekanisme-mekanisme yang kini kita klaim sebagai hukum-hukum alam, proses evolusi misalnya. Sekali lagi, itu diambil bukan karena jelas scientific evidence langsung menunjuk ke situ, tetapi karena direfleksikan di atas keyakinan saya. Namun, sama seperti mereka yang lain yang berkesimpulan demikian, pengambilan kesimpulan seperti itu juga bukan seperti yang diklaim pihak tertentu sebagai keyakinan buta. Dalam hal ini, saya kira cukup banyak scientists telah membuat penjelasan logis atas keyakinan-keyakinan mereka, baik itu yang menolak atau menerima eksistensi dan peran Tuhan dalam kehidupan alam semesta.

      Terkait dengan peran Tuhan dalam penciptaan, ketiga, hmm.. rasanya pernyataan pak Netral bahwa alam adalah Tuhan perlu dijelaskan. Bagi saya, bapak bisa jadi mengaburkan posisi pencipta dan ciptaannya. Dengan mengidentikkan alam = Tuhan, maka kita bisa terpeleset menyimpulkan bahwa alam-lah sesungguhnya pencipta manusia, apa yang diyakini para atheists. Alam semesta eksis “dari sono”nya, tidak butuh diciptakan, dan dengan hukum-hukumnya yang eksis tanpa satupun penyebab ia sudah sanggup mencipta. Jika statement bapak, alam = Tuhan, ada dalam pemahaman seperti itu, bagi saya bapak menciptakan kontradiksi dalam pemikiran bapak sendiri, sehingga patut ditanyakan, apakah benar dalam pemahaman bapak Tuhan itu ada? Ataukah, Tuhan dalam konteks berpikir bapak memang sebuah entitas metaforis. Jika Tuhan bukan sekedar sebuah metafora dari sebuah struktur beraturan, maka menjawab Tuhan ada tetapi menganggap alam adalah Tuhan adalah kontradiktif. Bahwa melalui alam semesta Tuhan sudah menampakkan dirinya dan karenanya dari atau melalui alam semesta sesungguhnya kita bisa “menjumpai” Tuhan, saya kira itu tidak berarti alam = Tuhan, walaupun kita tidak pernah tahu wujud Tuhan itu bagaimana karena dia diyakini bisa mewujud ke dalam ragam bentuk.

      Namun, kembali, saya paham bahwa ada pihak yang memang memandang bahwa “Tuhan” itu adalah alam semesta. Konsep Tuhan yang digunakan dalam hal itu lebih menunjuk kepada keteraturan alam semesta tetapi ia adalah sesuatu yang “tiada bertuan”. Jika saya tidak keliru, itu disebut pantheism. Bagi saya, silahkan saja mereka yang mau berkonsep demikian, namun itu jelas berbeda dengan konsep Tuhan sebagai sebuah pribadi, ‘seorang’ pencipta yang telahmencipta dengan intensi atau purpose. Jika konsep Tuhan di antara kita bisa macam-macam, maka dalam hal ini, kita perlu dudukkan secara jelas dulu, apa konsep kita masing-masing tentang Tuhan.

      Dalam konteks menyoal-jawab tentang Tuhan, saya setuju tentang kemungkinan telah atau akan dikerdilkannya hakekat Tuhan oleh konsep-konsep atau pemikiran-pemikiran kita, apalagi ketika kita bersandar hanya pada referensi kita yang terbatas, dibanding hakekat Tuhan itu sendiri. Christian Bible mengatakan, “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukan jalanKu, demikian Firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu.” Ini hanya menunjukkan betapa kita tidak bisa imagine atau sampai pada pemahaman yang komprehensif tentang Tuhan. Tentang diri kita sendiri dan alam semesta ini saja, rasanya tidak ada satu anak manusia pun yang sanggup menguasai seluruhnya. Namun, karena ketidakpenuhan pemahaman masing-masing kita itulah lalu saya melihat pentingnya dialog/debat pemikiran/keyakinan untuk membuka sekat-sekat pemahaman dan belajar satu dari yang lain, walaupun tidak mungkin juga mengharapkan akan munculnya satu “pemahaman super” yang merupakan kombinasi-kombinasi pemikiran terbaik. Rasanya kok tidak begitu juga. Dengan dialog-dialog itu, koreksi-koreksi memang berpeluang terjadi menuju penyempurnaan pemahaman, namun paling tidak kita bisa memahami dasar2 yang melahirkan pemikiran2 yang berbeda-beda itu.

      Usulan bapak soal mewadahi percakapan pemahaman kita tentang Tuhan sebetulnya kan sudah masuk dalam lingkup matakuliah Filsafat (termasuk cabang filsafat sains yang disinggung pak “Whereisthewisdom” yang akan saya tanggapi terpisah untuk membangun dialog lanjut). Pertanyaan tentang Tuhan (terkait juga dengan pertanyaan, apa artinya kita eksis sebagai manusia yang begini ini) adalah salah satu pokok pergumulan filsafat yang sudah berusia tua. Karena itu rasanya tidak perlu matakuliah baru lagi, sejauh ada keterbukaan untuk menyoal-jawabkan hal itu dalam matakuliah2 filsafat yang disajikan di universitas2. Matakuliah Agama juga sama, sudah membahas itu. Namun mungkin kalau mau sedikit membuka diri terhadap pemahaman2 “baru” sebagai bagian dari perkembangan pemikiran/peradaban, Agama harusnya juga menjadi tempat yang pas untuk menggumuli eksistensi Tuhan itu. Tentu yang saya maksudkan di sini pemahaman yang tidak “dikunci” oleh dogma-dogma agama semata-mata dan menabukan hal-hal relevan dalam membangun pemahaman yang solid tentang Tuhan.

      Saya pribadi tidak masalah dengan pilihan keyakinan apapun. Atheism juga adalah keyakinan atau ‘agama’. Namun, dalam konteks benturan pemikiran, saya kira sebuah masyarakat yang terbuka juga perlu membuka diri terhadap debat pemikiran, termasuk lintas keyakinan. Dalam dunia keilmuan, itu hal wajar karena semua klaim kebenaran (truth) harus diuji. Bahwa dalam proses menguji kebenaran yang dipegang orang-orang tetap kukuh pada pendirian masing-masing, ya itu hal yang barangkali sulit ditolak, itu hak individu yang harus dihormati.

  2. Just my two cents, perbandingan antara agama dan sains yang terjadi selama ini tampaknya perbandingan yang kata orang seperti “membandingkan apel dan jeruk”. Sains dan agama berada pada level yang berbeda. Science adalah aspek praktis (ekstensi) dari filsafat tertentu yang disebut filsafat sains sedangkan agama berada pada level yang sama dengan filsafat sains bukan dengan sainsnya sendiri. Karena itu perbandingan yang sebenarnya adalah filsafat sains vs agama bukan sains vs agama. Beberapa puluh tahun yang lalu Gordon H. Clark mengamati bahwa banyak dari saintis yang tidak paham filsafat sains. Dan ini mungkin adalah penyakitnya sehingga perbandingan yang tepat tidak terjadi.

    Yang perlu dipertanyaan sekarang adalah bagaimana hubungan antara agama dengan filsafat sains. Apakah agama menempatkan filsafat sains pada level dimana dia tidak akan bisa mengganggu agama (apapun penemuannya) tanpa harus menolak manfaat sains? Mungkin dalam memaknai hubungan sains dengan agama kita perlu mengingat kritik Hume terhadap induksi yang menurut Russel adalah sesuatu yang mendasari sains? Atau mungkin kita perlu mengingat Einstein yang (dalam Popper) mengatakan bahwa dia tidak percaya teorinya benar kalaupun prediksi teorinya benar? Mungkin kita perlu lebih banyak memahami filsafat sains baru membandingkan agama dan sains?

  3. Terima kasih responsnya pak,
    Tetapi masalahnya adalah dalam perdebatan tentang sains vs agama atau sejenisnya jarang ada tanggapan yang menukik sampai sedalam itu dan para ilmuwan ateis (terutama the New Atheists) dibiarkan “lolos” seolah-olah kesimpulan mereka adalah kesimpulan yang benar dan obyektif. Mungkin perlu beranjak lebih lanjut dari “saya menyimpulkan demikian karena kecenderungan berpikir seperti ini dan kamu menyimpulkan demikian karena kecenderungan berpikir seperti itu” ke “apakah dalam masing-masing pandangan dunia itu ‘science is epistemically justified.’?” Dengan kata lain dari pandangan-pandangan dunia itu, mana yang memberikan dasar yang teguh bagi dilakukannya sains? Juga perlu dibahas misalnya kalaupun hasil sains menunjukkan bahwa Tuhan tidak ada, are we justified untuk percaya bahwa Tuhan tidak ada.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: