Posted by: nsrupidara | July 17, 2010

Benarkah kemarin lebih baik dari hari ini?

Kemarin, ketika sedang ngecek apa yang terjadi di lingkungan teman-teman via Facebook, seorang teman kuliah di FE, Budi, menyapa via fasilitas chat. Well, Budi adalah teman seangkatan saya. Kami sama-sama aktif di lembaga kemahasiswaan FE, mulai dari kepanitiaan sampai menjadi pengurus. Ngalor ngidul tanya keadaan saat ini dengan Budi, termasuk apakah teman-teman alumni FE yang bekerja di Jakarta masih suka kumpul-kumpul, kami lalu teringat masa mahasiswa kami yang sering kumpul-kumpulnya, terutama di saat dan melalui kegiatan-kegiatan SEMA. Menyenangkan mengingat masa kemahasiswaan kami, karena banyak hal baik dan mengesankan ketika masih bermahasiswa.

Hari ini ketika sedang merapikan barang-barang untuk pulang ke Sydney, saya sempatkan “lari” ke Youtube untuk mendengar lagu-lagu dari periode saya bermahasiswa. Ada terlalu banyak lagu kenangan, lagu yang disukai, namun saya di antaranya kembali memutar lagu-lagu Skid Row. Dari 18 and Life, I remember you, Wasted time, In a darkened room dan lainnya, mengesankan mendengar kembali suara emas ditambah bisa melihat aksi panggung Sebastian Bach. Bach dan Skid Row sangat digemari, lagu-lagu mereka terentang dari yang manis hingga yang seperti grasa-grusu, cirinya metal. Namun, mereka bukan satu-satunya band hebat di masa itu. Ada banyak, tentu saja. Siapa di zaman itu yang tidak kenal Guns n Roses, Bon Jovi, Cinderrela, Poison, misalnya? Cobalah kawan-kawan ke Youtube dan menikmati lagu-lagu dari grup seperti itu di sana.

Banyak orang mengatakan, kalau gemar musik rock, heavy metal, maka periode 80an hingga 90an adalah masa emas. Jika lihat komentar para pengunjung youtube yang memutar lagu-lagu di era itu, bisa kelihatan beta mereka merindukan masa itu kembali, ketika dibandingkan dengan lagu-lagu zaman sekarang. Komentar bukan saja datang dari mereka yang merasakan era itu, tetapi juga dari anak zaman sekarang yang mendengar dan memimpikan seandainya ada di era itu.

Benarkah era itu memang lebih baik? Ini susah dijawab, oleh saya, bisa tidak obyektif. Saya tidak pernah mengikuti dunia musik zaman ini selayaknya saya di masa 80an – 90an. Selera musiknya seperti apa saja saya tidak tahu, tidak pusing. Jadi, saya jelas tidak tepat menjawabnya.

Soal kemarin lebih baik dari hari ini juga sering muncul dalam konteks yang lain. Dalam sebuah posting tulisan Vice Chancellor Universitya Macquarie, diangkatlah komentar yang menilai bahwa mahasiswa zaman sekarang belajarnya kurang dibanding zaman dulu. Dari segi konsumsi waktu, katanya demikian. Ada juga klaim yang barangkali bisa ditemukan di sumber lain, dari segi cakupan bahan belajar pun sama.

Kadang-kadang, setelah melewati masa transformasi dari suatu keadaan ke keadaan baru, orang mulai mengeluh dan merindukan kembali keadaan lama. Dulu sebuah tulisan di Kompas pernah mengangkat kerinduan sejumlah orang bekas Jerman Timur, yang telah menyatu dengan saudara-saudaranya di Barat dan menjadi satu Jerman, mengatakah masa Jerman Timur lebih baik.

Dalam diskusi-diskusi tentang Satya Wacana pun, tidak jarang di milis alumni referensi dan perbandingan dengan Satya Wacana di periode 70an, 80a, hingga 90an, diajukan untuk mengatakan dulu lebih baik dari hari ini. Tidak sedikit kawan yang lalu mengatakan, mengapa sekarang kok justru mundur?

Entah benarkah lebih baik, tidak semua hal yang dibicarakan dan disimpulkan didasarkan atas sebuah kajian yang sistematis dan kokoh. Namun, perasaan toh kadang juga benar, dan paling tidak pantas untuk didengar.

Namun, seorang rekan muda, Satria dalam sebuah tulisannya mengatakan bahwa toh kita hidup di hari ini. Terlalu melihat ke belakang juga apa gunanya, kalau yang dihadapi di hari ini tidak bisa dan kurang diupayakan untuk dibuat lebih baik. Romantisasi saja tidak cukup.

Namun lagi, merubah selalu tidak mudah. Dari perbandingan antara kemarin hingga hari ini saja, sudah bermakna ada perubahan terjadi dari waktu ke waktu. Celakanya, perubahan itu dikatakan tidak atau belum membawa keadaan yang lebih baik. Akhirnya, kita kembali ke titik pertanyaan awal, benarkah kemarin selalu lebih baik. Mungkin, mungkin juga tidak.

Bagi saya, untuk kita punya masa lalu untuk dijadikan bahan pembanding. Dan, lebih beruntung lagi, kita punya masa depan untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan bersyukur ada hari ini untuk melakukan sesuatu yang menjembatani kedua spektrum waktu. Namun, toh kita harus realistis untuk hidup di hari ini. Hari ini bukan kemarin, walau bisa dipaksa-paksa untuk menjadi kemarin. Hari ini juga bukan besok, walau bisa dipaksa-paksa untuk menjadi besok. Namun, hari ini tidak pernah terlepas dari kemarin dan juga besok.

Jika waktu terus bergulir, maka ia sudah bergulir antara waktu kemarin, hari ini, dan besok yang melintas generasi yang satu ke generasi yang lain dan dia akan terus bergulir. Karena itu, tidak perlu meratapi keadaan, biarkanlah semua bergulir. Tugas kita ya tetap berupaya semampu mungkin membuat, hari ini sama atau lebih baik dari kemarin, dan besok lebih baik.

Dari Twente di malam terakhir,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: