Posted by: nsrupidara | July 10, 2010

Tour Eropa: Bagian 2

Cerita perjalanan saya ke Eropa 2010 di bagian ini, melompat dari tibanya saya di Universitas Twente ke perjalanan saya ke Lisbon, Portugal. Bagian ketiga akan cerita pengalaman saya selama berada di Twente, termasuk beberapa perjalanan antar kota dan universitas di Belanda. Karena pengalaman itu belum selesai, maka baiklah saya fokus dulu ke pengalaman perjalanan dan selama berada di Lisbon.

Mengapa ke Lisbon? Seperti saya cerita di bagian satu, tour Eropa ini adalah dalam rangka partisipasi saya di dua konferensi. Karena itu, ke Lisbon adalah dalam rangka itu. Saya ke sana memresentasikan paper saya, Connected actors, connected ideas, di forum 26th European Group of Organization Studies (EGOS) Colloquium. Kolokium ini diselenggarakan oleh Faculdade de Economia, Universidade Nova de Lisboa (New University of Lisbon). EGOS 2010 ini berlangsung pada tanggal 1 hingga 3 Juli lalu, walaupun sudah memulai beberapa kegiatan pra-kolokium sebelumnya.

Saya meninggalkan tempat kos saya di kampus Universitas Twente sejak Selasa, 29 Juni. Penerbangan ke Lisbon dari airport Schiphol di Amsterdam sebetulnya jatuh pada 30 Juni. Namun, karena jam penerbangannya pagi jam 8, maka saya memiliki kesulitan soal keberangkatan dari Enschede pada tanggal 30 pagi. Menurut aturan kelaziman, saya harus check in 2 jam sebelum penerbangan, artinya jam 6 pagi. Jarak tempuh stasiun Hengelo, stasiun antar kota yang terdekat dari kampus Twente, ke Schiphol dengan kereta adalah 2 jam lebih sedikit. Dari kos saya harus naik bis ke Hengelo, sebelum bertukar kereta dan itu ditempuh sekitar 7 menitan lah. Artinya, saya harus berangkat dari Twente sekitar jam 3 pagi lebih. Ini masalahnya, pagi-pagi buta. Bukan sekedar pagi-pagi buta, bis belum ada, kereta pun sama. Jadi, tidak mungkin saya berangkat pada 30 Juni pagi. Saya harus berangkat 29 Juni malam. Artinya, menginap gratis di Schiphol, hehehe…

Well, soal menginap gratis di Schiphol bukan hal baru bagi saya. Tahun 2000 pernah saya lakukan itu, waktu menjemput Nelsy, istri saya yang datang bergabung saat saya menyelesaikan studi master di Universitas Groningen. Jadi, nggak masalah. Lain waktu, saat Nelsy dan Nike, anak kami, pulang dari Belanda di akhir April 2001, waktu itu kami menginap di salah satu hotel dekat bandara. Gaya koboi saya jelas tidak pas untuk Nelsy dan apalagi Nike yang waktu itu baru berusia 1 bulan lebih.

Jadi, sekitar jam 8 saya ciao dari kos. Saya pamit ke beberapa teman, karena saya akan menghilang beberapa hari. Maklum, di kos itu para penghuninya harus bergiliran membersihkan dapur dan toilet, serta membelikan barang kebutuhan umum. Dan, antara tanggal 30 Juni hingga 4 Juli di mana saya tidak ada, saya akan mendapat jatah membersihkan dapur. Jadi dengan pamitan, teman-teman akan menjadwal ulang jatah saya itu. Saya menuju ke halte bis dan baru sekitar jam setengah 9 kurang bis-nya tiba. Sesampai di stasiun Hengelo, loket sudah tutup. Saya hanya bisa beli tiket di mesin penjualan tiket. Panik saya, ketika saya lihat mesinnya, cuma ada fasilitas pembayaran dengan kartu bank berjaringan Maestro, atau kartu khusus pelanggan transportasi publik di Belanda, atau koin. Saya pikir seperti di Sydney bisa dengan uang kertas. Saya lihat kartu ATM bank saya lha kok nggak ada logo Maestro (saya lupa logo itu ada di sisi belakang kartu itu). Satu lagi kartu debit yang saya punya cuma ada jaringan Visa, padahal mesin itu tidak terima. Mati kulo. Saya ketok pintu loket karena petugasnya masih ada. Karena pintu tertutup, kami cuma main bahasa isyarat saja. Dan saya mengisyaratkan mau beli tiket tetapi tidak ada koin, tidak ada kartu yang cocok. Dia balas mengisyaratkan, sudah lewat waktu. Saya isyaratkan tolonglah, dia balas (kira-kira), salahmu, siapa peduli. Sialan, pikirku.

Saya lalu pergi ke kios penjual snack dan minta tolong, si pelayan juga bilang maaf tidak bisa membantu. Mungkin karena tidak kenal, walau saya duga dia pasti punya kartu bank. Dia pun tidak bilang, sini tukar saja uang kertasmu dengan koin, yang saya duga dia juga punya. Karena ditolak, saya lalu mencari jalan lain. Saya lihat dua anak muda berjalan memasuki areal stasiun. Saya cegat mereka, minta tolong lagi. Saya bilang, bisa nggak salah satu dari kalian beli tiket dari mesin itu pake kartu bankmu, lalu saya ganti pembayaran dengan cash. Yang satu lalu rogoh kantongnya, lalu ngomong dalam bahasa Belanda ke temannya. Lalu, balik ngomong ke saya. Maaf, kami nggak bisa. Saya coba yakinkan mereka dengan keluarkan uang saya. Ini uang 23 Euro dan 30 sen untuk gantinya, saya pikir mereka tidak percaya saya. Harga itu adalah harga tiket yang saya bayar waktu datang pertama kali, dari Schiphol ke Hengelo. Mereka lalu mengajak saya ke sisi sebelah stasiun, maunya mereka adalah menunjukkan tempat tukar uang kertas ke koin, ternyata sudah tutup. Baru mereka jelaskan bahwa, mereka pun tidak bawa kartu dan tidak punya koin yang cukup, lalu minta maaf tidak bisa membantu. Mengerti saya, akan kesulitan mereka. Saat pamit, yang satu bilang saya, semoga kamu ketemu orang yang rada punya duit, bukan seperti kami… hehehe… Sialan, tapi ya mereka sudah berusaha membantu, terima kasih.

Lalu, datanglah seorang bapak yang kira-kira berumuran 50an tahun. Sekali lagi saya cegat dan nyatakan permohonan bantuan, dengan ceritakan masalah saya. Saya tunjukkan uang tadi itu biar dia percaya. Dia tampak ragu-ragu di awal dan bertanya lalu saya jelaskan dengan lebih baik. Baru dia mendekati mesin itu, mengisi data pembelian tiket, lalu dia bilang saya, harganya 21 Euro 40 sen, saya sedikit kaget, kok lebih murah (note pembelian di loket selalu kena charge service fee, ya seringkali demikian). Dia tanya saya, saya iyakan. Lalu dia proses pembelian dan keluarlah tiketnya. Saya serahkan uang sebesar itu dan dia menyerahkan tiketnya. Wah, saya berterima kasih sekali kepada dia. Dia mengucapkan selamat jalan dan nikmati perjalanan saya. Saya sekali lagi berterima kasih dan pamitan. Selamat, kata hati saya.

Sesampai di platform keberangkatan kereta dan sambil menunggu kereta datang, saya penasaran kenapa kartu ATM saya tidak ada logo Maestro (di depan), ingat, saya yang lupa. Setelah mengeluarkan kartu ATM saya, walah, baru ingat saya kalau logo itu ada di belakang dan sebetulnya saya bisa beli tiket itu pakai kartu ATM saya sendiri. Waduh, waduh, dasar panik duluan, pikiran jadi buntu. Anyway, paling tidak saya sudah solved problem (kepanikan) saya dengan cukup baik. Kata ahli psikologi, itu soal practical intelligence. Kalau berjumpa dengan masalah yang kita cenderung tidak tahu terlebih dahulu bagaimana cara menyelesaikannya, apakah kita menyerah atau mampu membangun cara menyelesaikan dadakan, sekalipun itu trials and errors. Jika kita bisa solving the problem itu artinya kita punya practical intelligence yang (cukup) baik. Orang yang terbiasa mampu menyelesaikan novel problems dengan cara penyelesaian “tiba-tiba” akan siap terlatih untuk berhadapan dengan masalah apapun itu. Mungkin tidak selalu sukses seperti yang diinginkan, namun pasti ada jalan keluar yang bisa dihasilkan orang seperti itu. Seorang social scientist sekaligus pembawa acara pernah melakukan wawancara-wawancara dan beberapa uji coba terkait masalah practical intelligence ini dalam sebuah acara acara TV yang sempat saya tonton di TV ABC sewaktu di Sydney. Dan, saya artinya sudah lolos dari tes gaya si pembawa acara itu.

Kereta tiba dan saya pun naik, bersama penumpang yang lain. Kereta ini kereta langsung ke Schiphol, jadi saya tidak perlu berganti kereta. Jika saya naik kereta yang 30 menit lebih awal atau kemudian dari yang saya tumpangi itu, maka saya harus bertukar kereta di Amersfoort. Well, biasanya tidak tunggu lama juga karena waktu koneksi antar kereta sudah diatur sedemikan rupa, namun kadang ya bisa telat, salah satu kereta jadi harus menunggu. Namun, saya toh tidak punya masalah itu.

Saya coba menikmati perjalanan di waktu jelang “senja”. Saat itu sudah jam 9 malam lebih, namun langit Belanda masih seakan masih sore, belum malam gelap. Maklum, di musim panas (summer), langit baru benar-benar gelap di atas jam 10. Jadi, saya masih bisa menikmati perjalanan berpemandangan daerah pertanian – peternakan dan pemukiman petani, serta kadang tertutup daerah hutan mini. Jika melewati daerah pemukiman, yah rumah-rumah gaya Belanda yang jadi tontonan saya. Namun, perlahan-lahan malam mulai datang, namun lampu-lampu pun mulai membantu menerangi, sehingga pemandangannya menjadi berubah dengan sinar lampu, khususnya di daerah pemukiman.

Saya tiba di Schiphol sekitar jam 11 lebih 10 menit. Saya bergegas naik ke Plaza Schiphol, mencoba mendekati papan informasi penerbangan. Terlihat informasi kedatangan, lalu saya berpindah ke sebelahnya. Benar, informasi keberangkatan, namun penerbangan yang akan saya tempuh belum terdata di situ. Saya berputar-putar sebentar di plaza, mengamati mesin tiket kereta, dan mensimulasikan pembelian. Saya tidak benar-benar beli, jadi ketika sampai tahap pembayaran, saya cancel. Dahulu sewaktu di Groningen, saya selalu membeli tiket di loket, tidak pernah di mesin. Saya ingin tahu seperti apa, membandingkannya dengan mesin tiket kereta di Sydney. Well, tidak persis sama, tetapi seperti itulah kerja mesin penjualan tiket. Bedanya seperti saya katakan di atas, di Sydney saya bisa bayar dengan uang kertas. Koin malah dibatasi maksimum sebanyak 10 koin. Di Belanda, malah koin yang dipakai, sebanyak mungkin, untuk memenuhi harga tiket. Mesin-mesin di Plaza Schiphol itu walaupun memiliki fasilitas pembayaran yang lebih banyak, tetap “mencoret” pembayaran dengan uang kertas. Jelas ada tanda silang pada simbol uang kertas. Artinya, kalau pulang saya tidak beli di loket, maka saya bisa pakai kartu debit saya.

Lalu saya jalan-jalan keliling beberapa lokasi airport itu, mencoba mengenang pengalaman tahun 2000 tidur di Schiphol. Saya tidak ingat persis semuanya, saya kira toh ada yang berubah. Toko-toko di airport sudah tutup. Yang masih buka adalah cafe dan kios makanan, seperti Burger King. Saya ingat dulu saya juga makan di Burger King. Namun, kali ini saya sudah makan malam sebelum berangkat dan saya punya biskuit di tas, jadi malam itu saya merasa tidak perlu beli apa-apa. Saya hanya berkeliling mencari tempat untuk tidur, terutama yang aman, dekat loket petugas atau ada cukup banyak orang. Maklum, soal keamanan diri, kita tidak pernah tahu. Saya sudah menemukan satu dua spot, tetapi saya masih terus putar-putar, kalau-kalau ada yang lebih baik. Saya naik ke lantai atas, tempat check in, kali-kali lebih baik. Rasanya akses ke lantai atas lebih terbatas, namun situasi yang lebih sepi membuat saya berpikir-pikir, walaupun saya lihat ada juga 3-4 orang yang “mencari selamat” di situ untuk tidur malamnya. Paling tidak, saya sudah lihat tempat saya harus check in besok paginya, walau saya tidak amati dengan benar. Juga saya melihat sejumlah mesin check in otomatis, walau saya tetap berpikir konvensional, check in di counter, itu pikir saya malam itu.

Saya turun lagi, dan berjalan di dekat loket informasi pariwisata Belanda di bandara itu. Namun, saya lalu berjalan-jalan lagi ke sayap yang lain dari tempat saya keliling-keliling tadi. Tiba-tiba diumumkan bahwa Schiphol akan ditutup pada jam 12 malam hingga 4 pagi untuk umum. Kaget saya. Tahun 2000 tidak begitu. Saya tidak mendengar lanjutan pengumuman itu dengan baik, karena terfokus mendengar akan ditutup dan saya langsung berbalik, pergi ke loket itu untuk bertanya. Petugasnya menjelaskan bahwa untuk penumpang, Schiphol tetap terbuka. Oh, gitu.. Begitu pengumuman itu terdengar kembali dan saya dengar secara utuh, baru saya dengar dengan baik bahwa saya tidak punya masalah.

Sudah jam 12 malam, saya harus ambil posisi tidur dulu. Saya menuju salah satu dari dua spot yang saya sudah incar. Masih ada tempat kosong. Sudah ada beberapa orang di situ. Mereka belum tidur, tapi sudah dalam posisi siap-siap tidur. Saya pun mulai pasang posisi dan mulai “tidur-tidur ayam”, maksudnya posisinya duduk tetapi dengan mata terpejam dan sesekali kepala terantuk-antuk. Saya coba sandarkan kepala saya ke sandaran kursi (yang pendek) rasanya kurang nyaman, walau sesekali ya saya rebahkan kepala ke sandaran kursi itu. Saya lalu sandarkan tas laptop untuk membentuk sudut yang bisa menahan badan dan kepala saya dan mulai berupaya tidur. Namanya juga tidur ayam, ya sesekali terbangun. Saya jelas terbangun, sewaktu ada petugas keamanan yang mendekati seorang ibu yang juga sedang tidur di situ. Ibu ini punya 2 tas besar, di samping tas tangannya, entah 1 atau 2. Mungkin si dua petugas keamanan itu bersimpati pada ibu itu dan menawarkan agar dia mencari tempat istirahat yang lebih baik di dekat gate penerbangan. Mereka bertanya dan tahu dia adalah penumpang transit, berpikir dia sudah punya boarding pass sehingga lebih baik menunggu langsung di dekat gate di mana kursinya lebih “bersahabat” untuk yang mau tidur. Namun, si ibu itu ternyata belum punya boarding pass. Toh tas-tas besarnya masih ada di situ, berarti dia belum check in dan berarti belum punya boarding pass. Akhirnya, kami yang di lokasi itu pada tidur lagi, selepas perginya kedua petugas itu. Saya terus gaya ayam saya dan sekitar jam 4 pagi, saya terbangun dan berpikir saatnya untuk benar-benar bangun. Supaya tidak ngantuk, saya berjalan-jalan, mengitari lagi Plaza dan menuju toilet untuk cuci muka. Namun, kok rasanya lapar. Saya pikir, kalau biskuit tidak cukup, harus roti atau ya burger. Saya melihat sedikit cafe yang masih/sudah buka dan memilih ke Burger King saja, mungkin pelayanan lebih cepat karena ada beberapa counters yang melayani dan tidak banyak orang. Sebentar saja saya memesan, mendapatkan makanan saya, lalu menuju ke lokasi makan di depannya. Beberapa orang sudah duluan di situ, beberapa juga gabung belakangan. Saya lihat sejumlah anak-anak muda, usia sekolahan juga makan di situ. Well, ini musim liburan sekolah. Mereka mungkin akan berlibur ke negara lain, entah ke mana.

Selepas kenyang dan istirahat sebentar, sudah hampir jam 5 itu, saya putuskan naik ke lokasi check in. Gila, di atas orang sudah pada ngantri, banyak lagi. Saya lalu juga ikut barisan antri. Ingat, di kepala saya tadi ya check in di petugas counter. Jadi, saya tenang saja mengantri. Kembali, calon penumpang penuh dengan anak sekolahan, dalam rombongan. Namun, rombongan kali ini tampaknya ya seusia mahasiswa. Mungkin mereka ini ada study tour, entah ke mana. Beberapa mencoba mengorganisir check in untuk kawan-kawannya yang berada pada barisan antri belakang, di dekat saya. Setelah tunggu beberapa saat, datanglah seorang petugas dan bertanya di dekat saya. Dari orang di depan, dia terus menuju ke belakang dan akhirnya sampai ke saya, dia bertanya, sudahkan saya check in. Saya bilang, saya sedang antri untuk check in. Dia langsung membalas, oh anda harus check in di mesin otomatis yang tersedia, baru antri untuk drop bagasi ke petugas. Sialan, asumsi saya keliru. Salah juga, waktu lewat tadi malam, saya tidak membaca papan-papan informasi kecil soal check in dan drop off bagasi itu. Saya kira itu opsional. Beberapa orang yang lain juga bersikap seperti saya. Berlama-lama antri, baru disuruh check in ke mesin. Satu cewek di belakang saya, sepertinya dia cuma bisa bahasa Belanda (katanya tidak bisa bahasa Inggris) dan saya duga bahasa nasionalnya (karena saya merasa dia bukan berkewarganegaraan Belanda, karena lazimnya orang muda Belanda bisa berbahasa Inggris dengan baik), ngotot dia tidak (perlu) check in di mesin itu. Saya coba jelaskan, dengan bahasa Inggris bahwa setiap penumpang harus check in dulu si mesin, seperti kata si petugas Lufthansa kepada saya. Si cewek cuma balik katakannya dia tidak bisa bahasa Inggris dengan ngomong Belanda, Ik kan niet. Namun, melihat sikapnya, rasanya dia tidak peduli. Saya tidak melihat boarding pass di tangannya, padahal setiap orang yang telah check in pasti memegang boarding pass. Saya coba bahasa tarzan juga dengan menunjukkan copy tiket dan boarding pass, tapi rasanya dia sudah tidak pusing. Entah kalau dia sudah check in secara online, ini dimungkinkan pada pemegang jenis tiket tertentu. Namun, saya pikir, emangnya gua pikirin. Sudah membantu menyarankan, situ tampak nggak pusing ya pusing amat. Saya terus bergerak maju ketika orang di depan saya maju. Si cewek itu juga terus maju. Sampai giliran saya, saya selesai memasukkan satu tas saya, dan mendapat tanda sekuriti untuk tas tangan saya, saya langsung bergegas ke antrian lain untuk masuk ke pengecekan kepabeanan lalu ke gate. Saya tidak tahu apa si cewek tadi lolos karena sudah check atau disuruh balik check in di mesin terlebih dahulu. Yang penting, fungsi sosial untuk mengingatkan sudah dilakukan, dan saya toh harus ngantri lagi untuk urusan berikut.

Pengecekan kepabeanan keluar dari wilayah Belanda berjalan aman. Laptop dikeluarkan dari tas, jaket, ikat pinggang dicopot, discan, lalu saya sendiri melewati gerbang pemindai logam dan tiada bunyi tanda ada logam melekat di tubuh. Toh tidak ada barang bawaan yang aneh. Saya bereskan semua barang saya, lalu bergerak menuju ke gate penerbangan saya, walau waktu penerbangan masih lama. Melewati toko-toko di wilayah keberangkatan, saya masuk ke toko penjual atribut-atribut sepakbola Belanda, plus negara lain dan klub seperti Ajax. Saya pikir, ah kan belum pulang, nanti aja. Ke toko buku, majalah, dan suratkabar, juga cuma lihat-lihat. Lalu, saya menuju ke gate dan duduk-duduk menunggu jam berangkat, sambil membaca buku yang saya bawa.

Waktu boarding tiba, bersama penumpang lain saya siap, antri, dan naik pesawat. Penerbangan saya adalah pertama ke Hamburg, baru ke Lisbon. Waktu tempuh ke Hamburg cuma sekitar 50an menit. Penerbangan lancar, ada layanan breakfast juga, walau cuma sandwich berukuran tanggung dan minuman, saya minta teh dan jus apel. Di pesawat, saya balas tidur karena malam cuma tidur-tidur ayam. Rasanya memang ngantuk beneran dan saya rasa saya sempat tidur pulas, karena sempat tidak ingat apa-apa. Turun di Hamburg, saya putar-putar juga melihat airport ini, karena waktu transit pun ada sekitar 2 jam. Saya sempatkan membeli atribut kota Hamburg, oleh-oleh kecil buat Nike. Ada juga atribut2 supporter klub Hamburg SV dan St. Pauli di toko itu. Cuma, saya tidak mau buang Euro saya yang sudah saya perkirakan pas untuk hidup 4 hari di Lisbon. Lagipula, koper dan tas saya tidak cukup besar untuk nampung terlalu banyak barang, toh saya masih harus beli oleh-oleh kecil buat Nike dan Nelsy. Jadi, lagi-lagi cuci mata, lalu menunggu di gate. Saya bahkan sempat terkantuk-kantuk di kursi tunggu gate.

Waktu boarding tiba, saya naik pesawat. Begitu duduk, saya pasang belt lalu kembali ambil posisi tidur, maklum masih ngantuk. Pikir saya, saya harus fit saat tiba di Libon, karena praktis istirahat saya cuma malam waktu tiba, karena keesokan paginya saya langsung presentasi paper saya. Jadi, kalau tidak cukup istirahat dan kalau terkena sedikit pilek atau apa, bisa repot. Kasus Santa Fe tidak boleh terulang. Jadi, niatan saya, tidur lagi di pesawat dan begitulah jadinya. Saya paling diingatkan oleh rekan duduk kalau ada layanan makan atau saat perangkat makan diambil kembali, selebihnya saya cenderung tertidur. Mungkin, rekan duduk saya, dua orang pemuda Jerman karena selalu bicara dalam bahasa Jerman, mungkin bingung, ini orang kok tidur aja kerjanya. Mereka dua, kalau saya sesekali terbangun, kerjanya cuma baca dan diskusi. Well, saya sudah terbiasa dengan pemandangan orang baca dalam perjalanan dan saya juga sering demikian, terutama kalau di luar negeri, namun tidak kali ini, saya butuh tidur. Oya, penerbangannya 2 jam lebih hingga hampir 3 jam. Begitu rasanya sudah agak dekat baru saya benar-benar terbangun, mencoba melihat-lihat pemandangan daratan dari ketinggian yang cukup. Saya juga baru melihat dengan lebih baik apa yang dikerjakan dua teman duduk saya itu, seperti yang saya katakan tadi.

Saya coba mengamati, yang satu menunjukkan melalui laptopnya, sesuatu yang sedang dia kerjakan. Dia rupanya sedang mengolah satu set data. Saya sempat lirik-lirik. Isinya, sejauh saya bisa lihat, adalah data publikasi, karena saya melihat ada nama jurnal-jurnal, di bidang sains. Orang ini rasanya, ngomong dalam bahasa Jerman, menjelaskan bagaimana dia melakukan analisis data. Jadi dari data publikasi ilmiah yang dia tunjukkan itu, dia manipulasi sedemikian rupa dengan menggunakan bahasa matematika tertentu, lalu keluar hasil-hasil olahan tertentu yang dia tunjukkan kepada temannya. Rupanya dia sedang jelaskan sebuah proses olah data dan hasilnya. Terakhir, jelang dia tutup laptopnya, yang saya lihat, alias yang dia tunjukkan kepada temannya, adalah grafik-grafik garis yang menghubungkan titik-titik tertentu dan membentuk jejaring yang menarik. Gila, ini orang mengolah data kualitatif, dengan memanipulasi sedemikian rupa, keluar grafik seperti itu? Well, saya sudah melihat grafik2 seperti itu beberapa kali, termasuk saat saya mengunjungi kampus Universitas Groningen, almamater saya, di pintu ruang salah satu bekas dosen saya, baru-baru ini. Yang pernah saya lihat adalah grafik jejaring sosial, seperti di pintu ruangan Kees van der Veen itu. Saya merasa tampilan grafis seperti itu menarik, tinggal bagaimana membacanya. Melihat cara teman duduk saya ini menjelaskan ke temannya itu, bagaimana dia hasilkan grafik itu, baru saya bisa memahami bagaimana proses analisis seperti jejaring sosial itu bekerja. Ya, itupun saya raba-raba, karena mereka gunakan bahasa Jerman. Saya pikir, oh begitu to cara analisis jejaring sosial, salah satu bentuk analisis “kuantitatif” atas data kualitatif, untuk melihat pola-pola hubungan sosial antar aktor dalam suatu konteks atau ruang sosial. Saya pernah melihat buku analisis jejaring sosial di perpustakaan Macquarie, namun karena saya tidak berminat melakukan kuantifikasi dalam analisis data saya, jadinya saya tidak begitu pusingkan. Namun, melihat bagaimana orang ini menunjukkan bagaimana dia olah data publikasi ilmiah lalu keluar jadi grafik “jejaring sosial” (saya tidak tahu apa nama grafik yang dia hasilkan) itu, saya merasa ada sesuatu yang menarik di sana. Cuma, kadang kecanggihan alat-alat analisis seperti itu sekalipun membantu, tetapi jauh lebih penting substansi analisis-nya itu sendiri. Jadi, kadang bermanfaat investasi waktu dan belajar untuk memahami alat-alat analisis data seperti itu (kalau tidak salah software yang dia pakai adalah textmate di laptop Mac), namun ada juga orang yang sekalipun tradisional cara analisisnya, tetapi tetap brilian hasil analisis dan teorisasinya. Namun, memang teknologi sudah makin banyak membantu kita, termasuk dalam analisis data kualitatif. Jadi, rasanya saya juga ingin sekali belajar cara-cara analisis menarik itu, tapi saya tetap berpikir untuk realistis in the meantime.

Setelah memahami sedikit apa yang sedang dikerjakan orang itu, saya menilai dia seorang akademisi. Setelah tutup dan simpan laptop, dia keluarkan satu buku dan ngobrol lagi dengan temannya. Dia membolak-balik sebagian halaman buku itu. Buku itu berbahasa Inggris dan saya sempat membaca sedikit tulisan di cover belakang buku itu. Rasanya seputar analisis struktur di belakang sesuatu yang tampak tidak berstruktur. Si penulis buku itu (entah siapa) dinilai oleh salah satu pereview buku itu sebagai salah satu di antara sedikit orang yang mampu melakukan analisis seperti itu, kira-kira itu yang saya baca. Tampak menarik, membaca sesuatu yang tidak terstruktur atau chaotic dan menstrukturkannya untuk dibaca orang lain, luar biasa, ketrampilan yang tidak mudah, bahkan sulit. Berbahagialah mereka yang memiliki ketrampilan itu dan yang terutama membantu orang lain memahami sesuatu yang tidak mudah terbaca di level permukaan.

Tidak lama, pesawat mulai terbang rendah tandanya akan mendarat. Memang pramugarinya juga sudah mengumumkan bahwa pesawat akan mendarat. Kedua kawan saya itu terus ngobrol dan saya tidak mengerti apa yang diobrolkan mereka. Begitu pesawat mendarat dan berhenti, kami semua bergegas siap turun. Saya pun turun, bergegas cepat ke wilayah klaim bagasi dan pintu keluar. Rupanya, karena saya terbang dari Belanda – Hamburg dan tiba di Lisbon, saya tidak perlu lagi melewati pengecekan passport di bagian imigrasi. Ya, itu artinya memang benar-benar sudah Uni Eropa. Sekali saya masuk border Uni Eropa dan lolos pengecekan imigrasi, yakni ketika masuk Belanda, maka saya bebas ke manapun, tanpa diperiksa, kecuali harus tunjukkan passport waktu check in dan melewati prosedur kepabeanan untuk menunjukkan bahwa sayalah benar si pemegang tiket atau boarding pass di tangan saya.

Dari Belanda saya sudah mempelajari bagaimana dari airport saya akan ke pusat kota Lisbon, terutama ke hotel tempat saya menginap. Ada beberapa bis, tapi sejumlah bis yang lain, pemberhentiannya jauh dari hotel. Artinya, harus jalan, dan saya tidak tahu seberapa jauh persisnya, berapa lama, dan tentu saja arah aslinya di lapangan ke mana, walau di peta ya bisa dimengerti. Hanya ada 1 bis yang memang berhenti persis di dekat hotel. Jadi, saya pikir saya harus ambil bis itu. Namun, ketika keluar dari airport, saya terlebih dahulu menuju ke loket informasi pariwisata kota Lisabon, juga Portugal secara umum. Katanya saya bisa beli tiket di situ. Saya pikir, saya juga bisa minta peta kota Lisbon di situ. Ya, saya diberi satu peta, sambil ditunjukkan dari mana menuju ke mana, dengan bis yang mana. Namun, tidak, saya tidak bisa membeli tiket bis itu di situ. Katanya, bayar saja ke si sopir saat kamu naik. OK, aman. Saya tanya lagi, di halte mana saya harus menunggu bis itu. Diinformasikan, jalan saja ke luar, halte paling ujung, ada tulisan aero-shuttle. Aman. Saya menuju ke sana.

Sudah ada cukup banyak orang menunggu di situ. Rasanya sebagian ada dalam rombongan, entah apa, karena beberapa di antaranya berseragam kaos biru. Well, saya berdiri tenang saja, sambil menunggu bis. Satu bis datang, lalu pada ramai-ramai mau naik. Bis itu memang bis yang berjurusan yang tepat seperti yang saya harus naik. Cuma, begitu pada mau naik, si sopir sempat ngomong sesuatu, pakai bahasa Portugis. Kagak ngertilah awak. Jadi, saya termasuk yang harus turun dari pintu bis, sambil dijelaskan si sopir dalam bahasa Portugis, sambil menunjuk ke belakang, mungkin maksudnya, bis yang lain. Setelah turun, baru saya tanya seorang ibu yang menunggu juga di kumpulan orang itu dan tadi berdiri di dekat saya. Katanya, betul itu bis-nya, tetapi rutenya sedang terbalik, jadi tunggu saja, nanti dia kembali. Oh… begicu..

Namun, jam berjalan. Tadinya jam 3an waktu tiba, ini sudah jam 4 lebih, setelah menunggu si bis yang belum datang-datang. Lalu datang lagi satu bis, tapi lebih kecil. Orang-orang yang ramai itu pada cegat bis itu. Si sopir pun ngomong lagi sesuatu dalam bahasa Porto. Lalu dia berteriak sesuatu kata, tiada reaksi yang penumpang naik, lalu dia suruh orang-orang pada naik. Saya cuma mengamati tadinya, tapi karena rame-rame bergerak naik, ya saya juga ngantri mau naik. Cuma, karena saya agak di belakang sedangkan bis berukuran kecil, saya khawatir saya tidak dapat tempat. Saya tanya lagi si ibu itu, dia bilang bis kecil itu juga sebetulnya mau menuju ke arah terbalik dari jurusan yang kami hendak tuju. Namun, karena sudah berteriak nama lokasi tujuan akhir tapi tidak ada satu orang penumpang pun yang naik, maka dia setuju untuk terima penumpang ke arah kota. Oh, begitu… Jadi benar, saya harus ikutan antri, karena bis inilah yang harus saya tumpangi. Namun, betul, belum giliran saya, bis sudah tampak penuh sesak. Masih ada beberapa orang kami yang belum naik, termasuk ibu itu. Lalu tiba-tiba, bis tadi yang katanya muter dulu itu tiba. Pikir saya, juga beberapa orang yang belum kebagian tempat, aman, bis datang. Karena memang penuh, ya bis kecil tadi berangkat, namun kami pikir kami sudah akan dapat bis yang justru lebih besar. Namun, si sopir tidak juga membuka pintu dan menyilahkan kami masuk. Ada seorang petugas lain menemani dia dalam bis, mereka berbicara di dalam, sambil memberi tanda, sabar. Begitu pintu dibuka dan mereka keluar, katanya bis itu tidak akan mengangkut penumpang, karena kaca spion-nya patah. Sialan, sudah nunggu lama-lama, nggak dapat juga. Ditanya apakah ada bis pengganti, si petugas tidak jamin, katanya bisa satu jam lagi, karena sudah 2 bis yang datang. Mati awak, itu sudah hampir jam 5 jadi kalau nunggu ya jelang jam 6 atau malah jam 6 lebih baru bisa dapat bis. Well, itu namanya tunggu bodoh, bahkan tidak jelas. Dan, makin malam dengan ketidakjelasan di suatu tempat yang masih asing, ketidaktenangan pikiran pasti meningkat. Si ibu itu lalu tampak bergegas, katanya dia mau mengecek bis jurusan lain. Dia balik dan mau ngambil barangnya, namun berkata bis yang lain yang dia cari juga tidak ada. Rupanya, dia putuskan mau naik taksi. Namun, dia sempat tanya jurusan saya ke kota ke mana, saya jelaskan. Dia bilang itu jurusannya persis searah dengan dia dan dia tanya, apakah saya mau nunggu bis atau mau naik taksi. Saya pikir-pikir, waduh kalau naik taksi, berapa harga? Karena jurusan kita searah, katanya kita bisa patungan sehingga jatuhnya ya tidak begitu mahal. Dia akan tanya supir taksi, berapa harganya dan kalau saya setuju ya kita paruh-paruh. Dia akan turun duluan karena lebih dekat. Katanya masih akan ngambil kereta ke arah rumahnya yang masih jauh. Lalu, si taksi akan terus mengantar saya ke hotel yang saya tuju. Saya akhirnya sepakat, daripada menunggu tidak jelas. Kami ngantri untuk dapatkan taksi, agak panjang. Begitu giliran kami, dia bertanya si sopir, harganya katanya 12 Euro, berarti kami harus share masing-masing 6 Euro, nggak masalah, toh bis sudah 3,5 Euro. Jadi, kami naik, dan dia turun duluan di stasiun kereta itu. Saya terus dengan taksi itu sampai persis di depan hotel. Aman, sekalipun harus bayar 2,5 Euro lebih mahal dari harga bis. Maklum, status mahasiswa dituntut untuk naik public transport, bukan taksi. Namun, kali ini harus dilanggar karena kondisi. Untuk juga ada si ibu itu yang mau bantu terjemahkan bahasa Porto ke Inggris dan yang juga membantu mencari solusi naik taksi. Yang penting sekarang saya sudah tiba di hotel.

Saya lalu check in, masuk ke kamar, lalu mengambil buku catatan saya, ke mana nanti saya harus menuju untuk registrasi konferensi di kampus Universitas Baru di Lisabon. Saya lalu turun ke lobby, tanya resepsionis hotel, ke arah mana menuju kampus universitas itu. Dia bilang, kamu sudah di daerah sini (tunjukkan dalam peta), tinggal ke arah kanan, tanpa menunjuk peta. Saya cuma bayangkan, OK kanan. Begitu keluar, saya lalu bingung, maksudnya kanan ini yang mana, apakah menyeberang sebelah sana baru ke kanan, atau ada jalan ke kanan di terminal bis dan daerah parkiran mobil di depan hotel itu. Di peta, saya lihat kalau ke kanan lewat terminal itu jalan ke arah hotel-hotel lain yang terdata di informasi konferensi, jadi bukan ke sana. Berarti, harus nyeberang dan saya bergegas menyeberang begitu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Setelah menyeberang dan tiba di sebelah, persoalannya tetap sama, ke mana jalan ke arah kampus? Seorang ibu juga tadi menyeberang dengan saya, dan saya sedikit berlari menuju dia karena dia sudah di depan, untuk bertanya. Apa katanya? Dia tunjukkan arah ke mana saya harus menuju. Dan, menujulah saya ke sana. Saya menyeberang lagi, lagi, dan lagi, hingga kira-kira sampai ke tempat yang ditunjukkan si ibu itu, dia pun masih berjalan searah saya. Di sana saya berbelok kiri, alias menyeberang lagi untuk masuk ke “kompleks universitas”. Begitu mendekati kompleks itu, saya bertanya lagi seorang perempuan muda yang kebetulan lewat. Apa katanya? Oh, bukan di sini, di sana. Mati awak. Memang katanya ada dua lokasi kampus dan ada universitas berbeda di sekitar situ. Namun, saya jelas menyebut nama Universidade Nova de Lisboa. Lha berarti si ibu yang awalnya nunjukin jalan itu tadi ngaco. Weleh. Si nona ini membantu menjelaskan kepada saya arah yang harus saya tempuh, lalu dia pergi. Jalannya keliru total, yang tadi maksud saya. Saya menuju arah baru yang diinformasikan kepada saya. Jalan beberapa meter dan saat ketemu persimpangan, saya coba tanya lagi. Kali ini seorang petugas keamanan, rupaya tempat itu adalah sebuah taman publik dan ada petugas keamanannya. Orang ini saya tanya, awalnya dia sedikit bingung, mungkin karena agak jauh saya “tersesat”. Namun, saya jelaskan dengan menunjukkan peta, saya ini mau ke lokasi universitas dan di peta dia ada di sini. Nah, posisi tempat saya berdiri ini di peta ada di mana, tanya saya. Orang itu mencoba membalikkan posisi peta dan meyakinkan dirinya dia memahami peta itu. Lalu, dia tunjukkan saya, anda sekarang di sini, dan arah yang anda tuju adalah di sini. Anda cukup jauh dari tempat yang anda tuju, begitulah kira-kira. Sialan betul si ibu pertama tadi, keliru total, dan malah menjauh dari sasaran. Si petugas keamanan itu bilang, kadang orang yang terbiasa naik metro, tidak paham lokasi-lokasi dengan baik. Paham saya, dan itu tidak membuat saya berpikir jelek tentang ibu itu, misalnya menilai sengaja menyesatkan, mumpung orang “buta”. Saya malah maafkan dia. Saya lalu tanya si petugas, bagaimana saya keluar dari tempat itu dan tepat menuju sasaran, karena itu sebuah taman. Dia jelaskan, lalu saya berterima kasih dan beranjak. Saya berhasil keluar dari taman itu, setelah kelak-kelok sedikit, lalu menuju jalan besar yang tadi dibilang si petugas. Di sana, saya ketemu lagi dua laki-laki berjas-berdasi, pegawai kantoran yang tampaknya mau pulang dan bertanya mereka tentang lokasi persis kampus itu dibanding peta yang saya pegang. Mereka menunjukkan jalan yang harus saya lewati, bahkan memberi beberapa petunjuk, gedung ini dan itu yang akan saya lewati, setelah itu baru kampus. Betul, saya melewati gedung-gedung itu, tanda benar jalur saya dan akhirnya tiba di kampus Universitas Baru.

Weleh, ketika mau memasuki gerbang kampus, saya ketemu Prof. Arndt Sorge, bekas dosen International HRM saya di Groningen. Tadi waktu tunggu taksi saya juga sudah lihat dia dalam antrian di depan saya, tapi saya tidak yakin apakah itu dia. Karena sekarang berpapasan, saya lalu bertanya dan ia mengiyakan. Tadi saya memang cukup yakin itu dia, namun ada sedikit keraguan siapa tahu saya keliru. Sudah 10 tahun silam dan siapa tahu ada orang yang mukanya mirip. Apalagi ini di Lisbon, dulu di Groningen. Namun, karena sekarang sama-sama menuju kampus Universitas Baru dan bisa berarti sama-sama mau ikuti EGOS, maka saya jadi yakin ini pasti Prof. Sorge lalu menyapa dan bertanya. Kami sempat saling tukar cerita sebentar, sambil menuju ke lokasi registrasi. Prof. Sorge bersama istrinya, yang katanya cuma bisa bahasa Jerman. Pantas waktu saya tanya, apakah dia capek, karena jalan menanjak, dia diam saja. Mereka sudah agak tua, secara fisik Prof. Sorge pun sudah berubah dibanding dia 10 tahun lalu. Jalannya sudah agak ditarik-tarik, walau masih tampak kuat berjalan.

Setelah sama-sama registrasi, Prof. Sorge tampak berbincang dengan orang lain. Mungkin temannya, pikir saya. Toh dia seorang akademisi yang sangat dikenal (belakangan saya baru akan tahu bahwa dia akan menerima sebuah penghargaan dari EGOS). Jadi saya lalu menegur dia untuk pamitan, saya harus kembali ke hotel biar bisa istirahat. Saya bertanya kepada petugas registrasi, bagaimana saya bisa mencapai hotel saya. Dia menunjukkan arahnya di peta dan saya rasa saya cukup paham, walau realitas toh harus dijajal seperti apa. Saya mengikuti arah yang dia tunjukkan, namun ada percabangan jalan, karena itu saya ragu yang mana yang harus saya tempuh. Saya mencoba bertanya seorang ibu yang sedang berdiri di dekat persimpangan itu, dia bilang tidak tidak tahu persis dan membawa saya ke seorang petugas keamanan di gedung Banco Popular, sebuah bank Portugal yang berlokasi di situ. Petugas ini menunjukkan arah jalan, artinya saya harus pilih jalan menyeberang. Saya tanya, apakah saya boleh menyeberang di depan situ, walau tidak ada petunjuk penyeberangan, si ibu itu yang menimpali, tidak boleh. Saya lalu menuju daerah penyeberangan, yang berarti sedikit berputar, menyeberang dan menuju arah yang ditunjuk di bapak itu. Si bapak ini tetap berdiri di depan jalan itu untuk memastikan saya menuju ke jalan yang tadi ditunjuknya. Baik sekali pikir saya. Saya lambaikan tangan tanda terima kasih, sambil bergaya hormat tentara, lalu mengambil jalan yang ditunjukkannya. Jalan agak menurun dan tibalah saya di tempat pertama kali saya menyeberang dan bertanya si ibu yang “menyesatkan” saya di awal tadi. Pikir saya, oalah betapa sialnya saya, wong jalan begitu dekat kok saya berputar-putar tidak karuan. Pantas si resepsionis hotel bilang, ke kanan, itu sudah kampusnya. Namun, informasi di lapangan kadang menyesatkan kita, walau mungkin si pemberi informasi tidak bermaksud demikian. Ini bahan belajar saya kira. Paling tidak, saya jadi sedikit lebih tahu seluk-beluk daerah di sekitar itu.

Masuk kamar hotel, saya mandi, atur pakaian saya ke dalam almari pakaian, juga barang-barang lain. Saya siapkan bahan presentasi saya besok ke dalam tas laptop. Pokoknya ya saya harus sudah siap malam itu, karena sesi presentasi saya jam 9 pagi, sesi paling pertama dalam grup track atau sub-them kami, walau saya presenter ke 3 di sesi itu. Itu sudah jam hampir jam 9 dan saya belum makan malam dan sudah terasa sangat lapar. Tadi saya sempat mencari-cari bahan makanan di kios-kios yang masih buka yang saya lewati waktu mencari kampus Nova de Lisboa. Namun, cuma ada roti dan saya pikir saya harus makan makanan lain. Sempat lewat sebuah restoran China (tapi pelayannya tidak bisa bahasa Inggris), namun saya tangkap dia bilang baru saja tutup, toh dia lagi ngepel lantai. Jadi, terpaksa saya harus makan di restoran hotel, artinya mahal. Jadi, saya turun ke lantai dasar, menuju restoran. Di sana saya minta menu, ada paket nasi – ayam dengan gaya masakan Portugal paling murah 11,50 Euro. Kalau mau prasmanan 15 Euro. Pikir saya, ah 11,50 aja deh, lalu minta air putih saja. Itu yang saya pesan. Namun, saya lalu ditanya si pelayan, air putihnya botol kecil ya. Saya lalu menyadari ini artinya di restoran ini tidak dilayani air putih biasa di gelas yang gratis. Artinya lagi, saya harus bayar satu botol kecil air putih. Pikir saya, harganya akan mendekati 13 atau 14, karena pasti satu botol air putih di restoran akan lebih mahal dari misalnya di kulkas dalam kamar. Saya tidak punya pilihan, saya iyakan. Datanglah lalu satu piring makanan saya, plus satu botol kecil air putih. Dingin minumannya, menyegarkan. Cuma, paket nasinya tidak cukup banyak, padahal saya sedang lapar, hasil putar-putar tersesat itu. Namun, kalau saya pesan tambah, pasti akan sangat mahal. Pikir saya, kalau masih lapar ya embat habis biskuit saya di kamar. Dan benar sehabis makan, terasa masih belum cukup kenyang. Seselesainya saya minta bon-nya dan ternyata saya harus bayar 14 Euro lebih. Sialan, tahu begitu sekalian prasmanan, makan sekenyang-kenyangnya, bayar cuma 15, beda beberapa sen. Tadinya saya pikir, kenapa juga mesti serakah mau makan banyak-banyak, toh saya juga tidak begitu kuat makan, percuma bayar 15. Namun, itulah taktik restoran hotel. Biaya tenaga kerja (koki dan pelayan) yang mungkin cukup mahal disiasati memunguti tarif makan yang tinggi kalau harus masak lagi untuk pesanan di luar menu yang sudah siap terhidang tinggal makan di meja prasmanan itu. Saya paham, lain kali harus lebih cerdik. Saya lalu menuju resepsionis hotel, tanya soal akses internet yang rupanya tidak gratis, dan membeli 2 kartu akses internet. Sialan, hotel ini rupanya juga berbisnis di situ. Kata si resepsionis, perusahaan pengelola jasa internet komersial via fasilitas wifi baru 1 di Portugal, jadi bisa dibayangkan implikasi dari sebuah pasar monopoli. Saya mengerti, cuma mengeluh, kenapa hotel tidak organisir sesuatu yang lebih meringankan tamunya. Rupanya, si hotel juga punya sistem internet dan tahu bagaimana tarifnya? Jauh lebih mahal dari sistem kartu itu, makanya besoknya waktu saya perlu kartu itu sudah habis-bis, dibeli pengunjung lain, yang saya duga ya kawan-kawan partisipan EGOS yang lain. Btw, di hotel yang lain di dekat situ yang harga kamarnya lebih mahal, internetnya gratis. Kebetulan hotel itu jadi venue sesi konferensi kami, jadi saya masih sempat memanfaatkan akses gratis di sana, di sela-sela sesi atau ya setelah selesai dan sebelum pulang ke hotel saya. Maklum, dari pada “sumbangkan” buat perusahaan monopoli yang kemaruk. Saya bahkan sempat coba gunakan login access dari hotel itu di hotel saya, tidak bisa. Sistemnya coverage sinyalnya dibuat sedemikian rupa, walau jarak hotel boleh saya katakan tidak jauh, tetapi sinyal tidak bocor. Ya, saya tidak terlalu mengerti sistem jaringan internet, tapi saya dulu pernah memanfaatkan kebocoran jaringan internet.

Naik ke kamar, saya siap beristirahat. Baca-baca sedikit sambil nonton, habis itu saya tidur. Saya bangun cukup pagi, dibantu alarm tentu saja, menghitung keletihan perjalanan dan ketersesatan kemarin bisa membuat tidur kebablasan. Saya cek lagi seluruh persiapan saya, lalu saya mandi. Slides presentasi saya sudah saya bereskan sejak di Twente, jadi nothing to change lah. Memang paper saya belum tuntas dengan proses analisis data lapangan saya dan teorisasinya, karena itu paper ini cenderung deskriptif dan saya berharap ada masukan-masukan dari forum nantinya. Setelah beres persiapan, sekitar jam 7.45 saya turun, siap berangkat, tapi sarapan dulu di restoran, gratis, sudah termasuk tarif kamar kan. Sehabis makan, jam 8.20an begitu saya menuju venue sesi kami. Saya harus copy file presentasi saya ke laptop di ruangan. Saya lakukan itu, setelah bertanya petugas konferensi yang ada di depan. Lalu saya duduk-duduk sebentar, juga melihat ruangan sesi yang lain di lantai yang sama di hotel itu. Rupanya ada seorang teman dari Austria yang pernah saya ketemu waktu di Turku, Angelika Schmidt. Dia juga ingat waktu saya bilang Turku. Dia masih setia presentasikan paper di track seputar HR/IR, sedangkan saya masuk “track macan” he he he… Maksudnya saya masuk track bermuatan ilmu-ilmu sosial yang tidak melulu membahas isu HR/IR, walau EGOS adalah soal kajian organisasi dan pasti selalu saja berkaitan dengan orang (dan organisasi dan institusi). Setelah rasanya waktu mulai sesi pertama mendekat, saya masuk ke ruangan grup kami, kenalan dengan beberapa rekan yang sudah ada dalam ruangan itu. Saya baru kenal siapa Damon Golsorkhi sesungguhnya, juga Sarah Soule, orang-orang yang tadinya cuma berkontak via email selama ini. Mereka berdua adalah convenors sub-theme kami, bersama Jeffrey Salaz. Sarah lalu membuka sesi pertama dengan memberikan sedikit pengantar umum maupun khusus untuk sesi 1 tentang jejaring antar aktor dan presenter pertama, Frank deBakker dari Vrije Universiteit Amsterdam memulai. Saat presentasi saya selesai, beberapa penanya memang “menyoal” aspek kerangka teoritis saya. Saya menjelaskan apa pendekatan yang membekali riset, namun untuk analisis paper ini saya masih terbuka dengan kerangka teori, bahkan berharap mungkin berteori dari data dan karenanya masih akan “mendelik’i” data saya lagi. Beberapa menyarankan kerangka teori yang bisa saya pertimbangkan, walau ada yang tidak menyarankan apa-apa setelah saya jawab dengan sikap terbuka tadi. Namun, dalam percakapan-percakapan informal setelah itu saya mendapat sejumlah masukan dari teman-teman ngobrol saya.

Pasca presentasi, saya cenderung hanya menjadi peserta pengamat, menikmati presentasi teman-teman lain, juga diskusi yang berkembang. Saya paling melakukan beberapa diskusi informal di luar sesi-sesi. Sempat saya nimbrung pendapat pada salah satu presentasi, namun saya lebih banyak menjadi pengamat, penikmat. Forum EGOS ini terutama track kami menjadi forum yang cukup kaya perspektif yang sayang jika saya lewatkan untuk mengamati dengan baik presentasi dan diskusi. Saya punya beberapa pertanyaan, tetapi begitu melihat kawan-kawan lain antusias angkat tangan dan bertanya, ya saya lalu urungkan niat bertanya, untuk mencermati pemikiran mereka, toh waktu diskusi juga kadang membatasi pertanyaan. Selepas sesi baru biasanya saya ajak ngobrol si presenter, tidak semua sih. Namun, saya benar-benar menikmati suasana diskusi di EGOS yang menurut saya sangat memerkaya saya.

Terkait riset saya ada beberapa teman yang siap mensupport dengan bahan-bahan yang mereka anggap relevan untuk saya baca, termasuk hasil riset mereka yang juga terkait dengan aspek-aspek riset saya. Luar biasa, komunitas yang terbuka berbagi. Senang saya, karena itu saya berharap masih akan berpartisipasi di forum ini ke depan.

Pada malam di hari pertama EGOS dimulai, kami ada opening ceremony dengan 2 keynote speakers, Prof. Stewart Clegg dari UTS, Australia dan Prof. John Meyer, dari Stanford. Saya sudah pernah bertemu dan berdiskusi dengan John Meyer sewaktu saya kunjungi Stanford di 2009. Saya juga sempat bertukar email dengan beliau, termasuk meminta komentarnya atas papers saya. Orangnya baik, mau memberi inputs dan saya sangat berterima kasih dengan profesor hebat seperti dia yang masih mau membantu seorang akademisi baru di percaturan internasional seperti saya. Luar biasa. Dengan Prof. Dick Scott juga demikian, sama dia juga dari Stanford dan masih membantu saya via emails. Saya senang punya kenalan seperti mereka, yang sangat saya hormati secara intelektual, maupun sebagai teman. Saat menyampaikan speech-nya, saya sangat menikmati betul presentasi John Meyer. Presentasi Prof. Clegg juga menarik, namun saking banyak bahan yang dia sampaikan, rasanya terlalu banyak untuk forum besar seperti itu.

By the way, dalam perjalanan dengan metro bawah tanah ke lokasi opening ceremony di Coloseum, saya kenalan dengan seorang teman dari Helsinky yang nanti pada 2012 akan menjadi tuan rumah EGOS Colloquium. Dalam pembicaraan kami, soal IT-isasi diskusi materi-materi EGOS, seseorang nimbrung. Rupanya orang ini adalah teman duduk saya di pesawat yang cerita proses dan hasil olah datanya. Saya ingatkan dia bahwa kita duduk sederetan, dan dia ingat. Ya, kami mengobrol soal Facebook-ing atau Twitt-ing diskusi2 EGOS. Si kawan Jerman itu bilang sudah ada beberapa partisipan yang mendiskusikan di Twitter. Well, saya bukan pengguna Twitter, kalo Facebook ya masih sesekali nongol. Mereka dua tampaknya gandrung dengan fasilitas jejaring sosial dan berpikir untuk memanfaatkannya bagi diskursus intelektual. Jadi, rame benar mereka dua diskusi. Namun, ketika masuk Coloseum, kami bertiga berpisah karena harus cari lokasi duduk masing-masing.

Malam itu pasca opening ceremony, tidak ada makan malam resmi yang disediakan. Saya sempat berdiri ngobrol dengan seorang teman profesor dari National University of Singapore yang kebetulan berpapasan dan berkenalan saat keluar Coloseum. Dia lihat saya pakai batik dan bertanya, Indonesia atau Malaysia, dan saya jawab Indonesia dan kami berkenalan. Juga, saya kenalan dengan teman si profesor ini, seorang teman dari Aalto University, di Helsinki. Dia seorang editor jurnal, Strategic Management Journal. Saat kami ngobrol-ngobrol itu, ada sejumlah makanan ringan dan minuman yang mondar-mandir lewat dan saya ambil dan makan/minum sehingga tanpa terasa saya jadi kenyang. Ya kurang lebih 30 menitan abis ngobrol dan makan/minum itu, kami berpisah. Di jalan pulang pun saya sempat membeli 2 jenis roti untuk penyangga perut kalau-kalau lapar dan memang saya lapar saat nonton pertandingan piala dunia di TV dan memakan habis 2 roti itu. Saya pulang kembali dengan metro, kali ini sendiri. Tiba di hotel, rasanya sudah capek dan ngantuk. Bersih-bersih sedikit, lalu tidur.

Paginya saya bangun jam 7, walau masih bermalas-malasan dan baru jam 7.30 saya mandi. Maklum, pagi ini bukan saya yang presentasi jadi tidak perlu buru-buru. Selepas sarapan, saya berjalan agak santai ke hotel tempat sesi kami. Di sana saya sempat ngecek email via wifi gratis di situ, lalu masuk ke ruangan karena sesi di mulai. Di sesi-sesi hari itu, ada paper yang juga relevan dengan kerangka analisis yang akan saya pakai dalam salah satu paper yang belum sempat saya tulis, baru dalam coret-coretan analisis manual saya. Paper itu menggunakan pendekatan micro-politics yang sudah saya incar karena saya pandang cocok dan bisa menjelaskan fenomena relasi indikator2 dan tema dalam data saya. Saya sempat berdiskusi dengan salah satu penulis dan kami bersepakat bertukar pikiran terus, via email. Lumayan, dapat teman, dan teman yang “sealiran”. Sore hingga malam di hari itu, ada lagi 2 keynote speeches yang disampaikan Prof. Mary Crossan dan Prof. Susan Schneider, dua perempuan tangguh, kira-kira begitu karena sudah mencapai puncak-puncak karir akademik mereka melalui karya2 mereka yang banyak dirujuk orang, walau masih aktif berkarya toh juga belum setua Prof. Sorge atau Prof. Meyer. Selepas itu ada General Assembly, pengumuman dan penyerahan best papers awards dari EGOS tahun sebelumnya, sebuah tradisi baru yang saya jumpai karena di konferensi yang lain awards diberikan untuk paper yang dipresentasi pada masa itu, bukan tahun sebelumnya. Terakhir, penyerahan awards penghormatan (honorary) kepada Prof. Sorge, sebagai seorang intelektual EGOS yang sudah berkarya dan berkontribusi banyak dalam bidang intelektualnya, termasuk melalui EGOS dan jurnal Organization Studies milik EGOS. Saya kira memang sangat pantas beliau menerimanya. Di akhir acara itu saya datang menyalaminya, sebagai mantan muridnya, juga sesama akademisi di bidang kajian-kajian organisasi dan khususnya IHRM. Setelah itu saya pulang.

Malam itu saya kembali makan di restoran hotel, karena pulang sudah malam dan tidak sempat melongok mencari di mana cafe yang masih buka. Saya juga tidak mengikuti acara dinner resmi karena harus bayar 55 Euro lagi, dan waktu pendaftaran dulu saya sudah putuskan tidak ikut. Di hotel, kali ini saya ambil paket prasmanan yang 15 Euro itu. Saya makan secukupnya, sejauh rasa kenyang, termasuk menikmati makanan penutup berupa kue dan buah serta sebuah minuman sirup yang rasanya sedikit beralkohol. Setelah itu saya naik, baca sambil nonton, lalu tidur.

Hari terakhir EGOS, sesi presentasi hanya setengah hari. Kembali, papers dan perspectives menarik disajikan teman-teman. Di akhir seluruh rangkaian presentasi, seorang teman dari UC Berkeley namanya Tom Medvetz memresentasikan hasil risetnya tentang reposisi power boundaries dalam fenomena organisasi Think Tank di AS. Menarik sekali presentasinya untuk mengantar peserta lain memahami fenomena model organisasi baru di sektor kebijakan publik dan perpolitikan itu. Bukan cuma di AS, tetapi di banyak negara lain, fenomena think tank kita mulai bermunculan. Sehabis itu, Damon menutup seluruh rangkaian presentasi di track itu dan mengucapkan terima kasih dan selamat jalan kepada seluruh peserta. Saya berpamitan juga dengan teman-teman, setelah itu mencoba mengakses emails, lalu menuju ke kampus Nova de Lisboa untuk acara makan siang penutup.

Saya sempat melihat2 buku dari sejumlah penerbit yang khusus hadir menjual buku dengan diskon bagi parsipian EGOS. Di hari terakhir itu harga dibanting hingga 50 persen lebih murah atau ditetapkan dengan nilai Euro tertentu yang jauh turun dari harga jual resmi. Saya membeli 2 handbooks yang saya perlukan, satu buku organisational institutionalism dan satu lagi HRM. Saya sangat membutuhkan 2 buku itu untuk penulisan tesis saya, dan saya pikir untuk kebutuhan akademik ke depan. Ada yang lain yang rasanya menarik dan semestinya saya beli, namun tidak jadi. Kali lain barangkali, entah kapan hehehe.. karena sampai tahun depan saya belum merencanakan untuk ke konferensi lagi tahun depan. Di samping harus fokus selesaikan tesis PhD saya, dana saya untuk menghadiri konferensi juga sudah habis terpakai. Jadi, rasanya kalau tidak ada dukungan dana baru, mustahil tahun depan saya ikuti satu konferensi pun, toh itu bukan urgensi atau prioritas tahun 2011. 2012 barangkali, dan mungkin itu akan saya usahakan setelah kembali ke Salatiga. Pikiran saya sementara ini adalah untuk menjaga partisipasi saya di konferensi atau publikasi internasional, itu artinya riset dan publikasi saya harus tetap jalan. Ya, tiada jalan lain.

Selepas penutupan, saya pulang sambil singgah di warung makan China yang dulu saya jumpai sudah tutup itu. Saya membeli satu paket nasi goreng udang untuk makan malam saya. Harganya cuma 5 Euro kurang, jauh dari harga 14-15 Euro. Lagipula, saya memang sudah kepengen makan nasi goreng. Waktu malam makan ya lumayan juga rasanya, sekalipun tidaklah enak-enak amat. Rasanya masih lebih enak nasi goreng di warung Thai Break di Macquarie Center.

Sore itu adalah hari pertandingan Jerman melawan Argentina. Hari sebelumnya saya tidak sempat menonton Brasil lawan Belanda karena bertabrakan dengan sesi keynote speech dan General Assembly itu. Namun, saya sempat menonton pemutaran ulang pertandingan itu. Nah, untuk pertandingan Jerman – Argentina saya bisa nonton langsung dan menyaksikan bagaimana Jerman memukul gundul Argentina dengan 4 gol. Saya adalah pendukung tim Jerman dari dulu dan karenanya gembira dengan hasil itu, sekalipun sering juga kecewa kalau Jerman kalah. Sore itu saya berjingkrakan di kamar hotel atas gol-gol Jerman, terutama gol pertama dan kedua, karena itu menandakan Argentina makin sulit menang, walau lebih diunggulkan. Gol ketiga dan apalagi keempat sudah tidak terlalu saya “merayakannya” karena sudah sangat jelas, Argentina tersisih. Sayang sekali, sebuah tim hebat seperti Argentina harus terhenti di jalan seperti itu, sekalipun mereka diharapkan berbuat lebih banyak. Namun, itulah sebuah pertandingan, sepakbola, Piala Dunia lagi. Selalu saja ada surprises di Piala Dunia, seperti tersingkirnya Perancis dan Italia justru lebih awal. Anyway, adios amigos, sayonara Maradona, Messi, Teves dan kawan-kawan. Sampai jumpa 4 tahun ke depan.

Malam itu saya tidur cepat, karena saya harus bangun jam 4 pagi dan sebelum jam 5 saya sudah harus naik taksi ke airport. Pagi buta belum ada bis, jadi terpaksa taksi. Namun, karena jalan masih kosong melompong ya perjalanan sangat cepat. Saya bayar 10 Euro. Saya pikir fair juga dengan tarif taksi waktu dulu datang, 12 Euro, karena harus mengantar 2 orang di 2 lokasi, walau juga tidak begitu berjauhan, di jam traffic padat, lagipula waktu itu saya patungan membayarnya.

Masuk ke dalam gedung bandara Lisbon, saya mencari di mana lokasi counter Lufthansa agar saya check in. Begitu melihat informasi di papan informasi elektronik, saya langsung menuju counter itu dan mengantri. Setelah beberapa saat, check in selesai, saya langsung menuju ke bagian keberangkatan, menuju gate. Melewati pengecekan kepabeanan, semua lancar. Karena masih pagi, toko-toko bandara masih tutup, sepi. Satu toko buku/majalah kemudian buka. Saya lihat-lihat oleh-oleh kecil untuk Nike, namun sayangnya pilihan sangat terbatas, lagipula cukup mahal. Saya lalu membeli sebuah pensil berbendera dan juga bertuliskan Portugal. Ya, itu cukup simpel, sekaligus meragamkan koleksi oleh-oleh kecil buat Nike. Saya juga membeli sebatang coklat untuk menyangga perut. Sambil menunggu waktu boarding, saya membaca sambil makan coklat. Setelah naik pesawat, sarapan pagi disediakan dan menutup rasa lapar yang makin terasa.

Kali ini saya singgah di Frankfurt, bukan Hamburg. Dulu waktu dari Sydney menuju Birmingham, saya juga singgah di Frankfurt, jadi sudah punya bayangan tentang airport ini. Saya sempat keliling-keliling toko-toko dalam bandara bagian keberangkatan itu dan membeli satu dos kartu remi dengan berbagai gambar Jerman untuk Nike atau ya kami semua kalau mau main kartu di rumah. Saya lalu duduk menunggu jam boarding, sambil membaca atau ya tutup mata tidur ayam. Jam 12 lebih kami boarding, jam 1 lebih pesawat terbang dan jam 2 lebih saya tiba kembali di Schiphol.

Tiba waktu masih sore di Schiphol dan dengan pemahaman yang lebih baik tentang Schiphol membuat saya tidak sekhawatir hari pertama tiba di Belanda. Saya membeli satu paket Burger King, lagi, memakannya, lalu membeli tiket via mesin. Sambil menunggu jam kereta, saya putar-putar Plaza dan mendapati pembagian minuman kaleng kecil Lipton tea gratis. Saya minta 2 kaleng untuk menemani perjalanan saya pulang ke Twente. Sekitar hampir jam 4 saya turun ke platform keberangkatan kereta, menunggu sebentar, lalu naik begitu kereta datang. Meluncurlah saya pulang ke Twente dan tiba sekitar jam 6. Menunggu bis yang agak lama karena kebetulan tidak pas jadwal bisnya waktu tiba. Bis kemudian datang, lalu berangkat dan tibalah saya di kos saya hampir jam 7 malam. Tiba di kos, mandi, siapkan makan dan makan, setelah itu, tempat tidur sudah siap untuk jadi korban saya untuk melepas capek, tidur pulas.

Begitulah cerita perjalanan saya ke dan pulang dari Lisbon. Banyak pengalaman baik dalam perjalanan ini, khususnya saat konferensi berlangsung. Sejumlah teman baru dikenal dan berarti jejaring sosial dalam bidang keilmuan saya bertambah. Seperti saya katakan, EGOS, saya harap saya akan datang lagi, entah kapan dan di mana. Sampai ketemu lagi EGOSIANS. Saya tidak tahu kapan bisa datang lagi ke Lisbon, atau Porgugal. Namun, terima kasih, sudah pernah jadi tempat singgah dalam perjalanan hidup saya.

Calslaan 1 – 109, Universitas Twente, 9 Juli 2010.

Advertisements

Responses

  1. geli juga soal penerapan “practical intelligence” nya, soalnya saya hidup dari itu tiap hari

    • hehehe… saya pas-pas-kan aja tuh mas… namun, ada tidak sedikit orang yang gampang KO ketika berhadapan dengan masalah yang tidak diantisipasinya… ada tidak sedikit orang yang sebaliknya, tangkas bersolusi… jika kepada saya yang tidak tahu menahu ketrampilan pertukangan misalnya dibawa satu set penggalan furniture knock-down untuk dirancang, saya mungkin akan butuh waktu yang tidak sedikit untuk membaca gambar dan prosedurnya dengan baik, baru memulai memasang satu per satu elemen furniture itu dengan pelan-pelan, sesuai tahap-tahap pemasangannya. sekali waktu, ini benar terjadi, yang saya hadapi adalah seperangkat bagian furnitur tanpa prosedur. dan, butuh waktu lama untuk saya memasangnya. namun, bagi seorang berlatar pertukangan, mungkin akan secepat “kilat” bentuk konstruksi melintas di kepalanya lalu dikonstruksikanlah furnitur itu dengan cepat, jauh lebih cepat dari saya. ini jelas membedakan practical intelligence dia dari saya, di bidang pertukangan. practical intelligence adalah bagian dari life skills.

      dalam wacana pembuatan keputusan dan termasuk berkeputusan etis, mungkin ini bisa kita sepadankan dengan konsep kearifan. mungkin kita tidak pernah tahu masalah tertentu sebelumnya, demikian pula dengan implikasi2 keputusan yang bakal kita ambil. namun, seseorang dengan kearifan yang baik, akan mengambil keputusan di atas pertimbangan2 pribadinya yang terakumulasi dari pengalaman2 hidupnya, sekalipun itu tidak kait mengait secara jelas dengan masalah yang dihadapi. keputusan yang diambilnya itu mungkin lebih bijaksana daripada keputusan yang diambil seseorang dengan pengetahuan teknis atau pendidikan formal yang lebih baik.

      terhadap yang begini-begini, sekalipun tidak perlu ahli-ahli banget, rasanya siapapun akan membutuhkan pracitcal intelligence ini, karena tiada dapat kita selalu mengantisipasi dengan baik masalah apa yang bakal kita hadapi.

      mohon pandangan baliknya, mas didik. salam

  2. Saya salut dengan “perjuangannya” sebagai akademisi tulen (cmiiw) pak Neil ternyata masih harus menerapkan “practical intelligence” untuk hal-hal seperti transportasi dll yg menurut saya seharusnya sudah tersedia.

    Lebih lanjut “Practical Intelligence” ini menurut saya selain akumulasi dari pengalaman juga akumulasi dari proses belajar formal dan informal yang selama ini diperoleh seseorang.

    Saya sendiri berkerja dalam area dimana pengetahuan yang saya peroleh di S1 (elektro) kira2 25% yang saya pakai selebihnya saya beradaptasi dan berkembang dengan menggunakan “Practical Intelligence” berupa kebiasaan otak-atik, belajar mandiri di bangku kuliah, diskusi dengan teman dll. Apalagi ketika saya mengelola usaha peternakan saya ilmu elektronya sama sekali tidak terpakai 🙂

    Untuk saya “Practical Intelligence” menjadi kekuatan malahan, karena ketika bekerja di area dimana pendidikan formal saya dipakai penuh (mengajar misalnya) saya melah menjadi tidak bergairah dan mudah bosan.

    Senang sekali untuk sharing dan responnya, saya jadi melihat dunia lain Dunia Neil Rupidara 🙂

  3. Trims mas Didik atas tanggapannya, sudah berbagi cerita lebih jauh.

    Practical intelligence, menurut saya, punya wilayah aplikasi yang luas. Misalnya, dalam bidang pekerjaan saya sebagai pengajar, di samping seorang yang berbekal pendidikan formal di bidang HRM, saya adalah praktisi pendidikan/pengajaran. Lazimnya, sebagai dosen, tidak banyak training yang cukup tentang berbagai dimensi tugas dosen yang diterima di awal. Jadi, misalnya waktu pertama kali mengajar, saya hanya cenderung meng-copy pengalaman2 dosen2, juga guru2, saya dulu, bagaimana cara mereka mengajar. Memang, proses copy dan deliver yang saya lakukan dalam mengajar pasti muncul dalam bentuk versi Neil Rupidara, bukan versi siapa-siapa. Namun, secara garis besar, apa dan bagaimana kegiatan mengajar itu ya keluar sebagai hasil belajar dari pengalaman2 orang lain yang pernah saya jumpai, pemahaman umum tentang suatu tradisi pengajaran yang sudah bangkotan hidup dalam masyarakat kita, dalam dunia pendidikan.

    Namun, sekalipun bisa copy-paste pengalaman2 orang2 lain, detail-detail dalam hal interaksi langsung saya dengan mahasiswa2 tentu sesuatu yang cenderung tidak dengan mudah saya bisa copy dari orang lain begitu saja, karena cenderung dihadapi sebagai sebuah situasi spesifik yang berkarakteristik khusus yang membedakan situasi saya dengan situasi mereka yang lain. Nah, bagaimana saya merespon pertanyaan nakal, atau pendapat kritis, misalnya, yang barangkali dulu tidak dihadapi oleh orang lain. Yang begini-begini ini bisa jadi novel atau baru bagi saya. Namun, bisa jadi saya masih punya referensi pengalaman dari konteks lain, bukan konteks mengajar, taruhlah misalnya saya transfer dari pengalaman saya berorganisasi dulu. Ini hal-hal practical yang tidak selalu punya rumus pasti dalam solusinya, tetapi ya akan berkembang sesuai dengan bagaimana persepsi kita atas kondisi, reaksi kita atasnya (dipandu oleh pengalaman etc), reaksi balik pihak yang berinteraksi dengan kita, dstnya yang menjadi siklus aksi-reaksi dan ruang refleksi di antara kedua kutub itu. Yang begini-begini ini, praktik menjadi pengajar dengan segala macam tetek bengeknya, juga butuh practical intelligence, supaya kita misalnya tidak misalnya main jewer saja anak2 kritis, lalu mematikan kebebasan atau kreativitas mahasiswa dalam berpikir. Mungkin dulu pertama kali mengajar, saya merasa terganggu dengan sikap kritis anak2, tetapi setelah berhadapan dengan itu terus dan terus, mestinya saya punya referensi sikap yang lebih variatif, lebih positif. Jadi, di dalam kasus-kasus olah pedagogi macam begitu, atau dalam banyak dimensi tugas sebagai dosen, saya kira banyak pula dibutuhkan practical intelligence.

    Namun, mungkin tidak semua orang menyadari itu. Orang pikir ya dia cuma butuh pengetahuai tentang bidang keahlian utamanya. Misalnya saya dosen HRM ya cuma cukup tahu tentang seluk beluk HRM sebagai sebuah bidang kajian. Bahwa hari-hari saya mengajar, ya itu urusan lain, saya tidak aware akan kebutuhan practical intelligence. Namun, aware atau tidak, saya kira orang carry on pengalaman2 dan keahlian2 praktisnya. Namun, sekalipun ada bank practical skills and knowledge dalam diri kita, dipakai dengan efektif atau tidak semua itu, ya mungkin tergantung kesadaran reflektif kita, yakni di saat kita mencoba memaknai masalah yang kita hadapi dan mencoba merumuskan apa respon kita atasnya, belajar kembali dari hasil2 yang muncul dari rumusan tindakan kita (entah berhasil atau gagal dalam menjawab masalah). Yang saya khawatir, kita ini seringkali malas memanfaatkan learning loops yang kita miliki, dalam hal ini mencoba berefleksi dari proses interaktif antara diri kita dan masalah2 praktis yang kita hadapi. Karena merasa segala sesuatu seolah sudah berjalan otomatis (taken-for-granted), lalu tidak muncul atau berkembang kesadaran akan dan sekaligus peningkatan kemampuan praktis kita itu, termasuk olah causes dan effects-nya untuk membantu kita mengabstraksikan ketrampilan apa yang kita perlukan saat berhadapan dengan masalah apa. Nah, orang macam mas Didik sudah kaya dengan refleksi dari pengalaman2 empiris dan karenanya “tebal” practical intelligence-nya, yang karenanya bisa menjadi sumber belajar bagi yang lain.

    Sekali lagi, terima kasih!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: