Posted by: nsrupidara | June 27, 2010

Tour Eropa: Bagian 1

Tulisan ini menceritakan perjalanan saya ke Eropa dalam tujuan utama memresentasikan papers saya di dua konferensi di dua negara berbeda, Inggris dan Portugal. Namun, karena waktu antara satu konferensi ke konferensi lain cukup jauh, saya memanfaatkan waktu untuk melakukan kunjungan studi ke negara ketiga, Belanda. Pertanyaan, kenapa tidak di Inggris atau Portugal? Pertama, Inggris mahal, poundsterling rek, di samping ya tidak begitu kenal ke sana. Kedua, Portugal ya juga asing dan memang tidak punya kenalan sama sekali di sana, walaupun dulu pernah berjumpa dua orang rekan dari Portugal ketika menghadiri sebuah konferensi di Turku, Finland. Ketiga, di Belanda ada sejumlah opsi tempat dan kebetulan ada sejumlah kenalan, lama maupun baru. Belanda pun menurut perhitungan saya ya masih relatif lebih murah. Saya sempat meminta persetujuan dari sebuah universitas di Denmark dan indikasinya cukup positif. Namun, alasan lain memutuskan Belanda pada waktu itu yaitu karena ada peluang dukungan dana dari sebuah lembaga kolaborasi riset Belanda – Australia, sayangnya saya gagal dapat dana itu.

Cerita bagian pertama ini hanya mengenai perjalanan dari Sydney hingga ke Birmingham, selama di Birmingham, dan dari Birmingham ke Enschede. Birmingham adalah tempat konferensi pertamaku, the 11th International Human Resource Management Conference. Tahun ini konferensi IHRM diselenggarakan oleh Aston Business School, Aston University yang berlokasi di Birmingham. Cerita saya bertajuk ke Santa Fe dan Stanford adalah cerita tentang konferensi IHRM ke-10. Nah, ini adalah penyelenggaraan ke-11 dari konferensi ini. Ini konferensi dua tahunan, namun telah terjadi pergeseran tahun pelaksanaan pada tahun tertentu dan pada IHRM 2009 diputuskan untuk dikembalikan ke track-nya dan itu jadi pada 2010.

Saya berangkat dari Sydney pada 8 Juni sore. Itu hari kerja, hari sekolah. Nike, anak saya, sebetulnya mau sekali mengantar, paling tidak ke stasius kereta Macquarie University. Namun, di sekolahnya dia punya project membuat sebuah kapal laut, berpasangan dengan seorang temannya. Kalau dia tidak hadir, kasihan temannya. Jadi, sebagai anak baik yang senang sekolah, dia putuskan ke sekolah dan hanya berpamitan dengan papinya di pagi hari. Nelsy juga kerja, tetapi menyempatkan diri untuk pulang menjelang saya berangkat dan mengantar ke stasiun. Perjalanan ke airport internasional aman, lancar. Setiba di sana, saya langsung ke konter Thai Airways yang juga melayani penerbangan Lufthansa, maskapai penerbangan yang saya gunakan. Keduanya masuk dalam satu grup aliansi international airlines yang dikenal dengan Star Alliance. Check-in beres, saya buru-buru beli payung kecil di kios Australian Post, lalu menukar uang Euro. Saya sempat menukar beberapa, tapi pikirku lebih baik tambah dikit untuk meminimalkan penarikan uang selama di perjalanan. Si petugas konter bank ANZ malah anjurkan lebih banyak lagi dengan segala dalihnya, biasa kan dia juga untung dari fee konversi.

Setelah itu saya langsung masuk mengikuti prosedur imigrasi dan kepabeanan keluar Australia. Lancar saja. Padahal ketika pulang ke Indonesia, paspor saya sempat tidak terdeteksi oleh scanner imigrasi dan airlines. Namun, yang ini paspor baru, yang lama sudah diganti sama pihak Konsulat Sydney. Selepas memasukkan kembali dan memakai barang2 yang dicopot untuk di-scan, saya langsung meluncur ke gate penerbangan dan duduk menunggu di sana, sampai tiba waktu boarding. Saya sempat meng-sms Nelsy sebelum boarding, menyampaikan bahwa saya sudah hampir berangkat.

Perjalanan ke Birmingham ini panjang. Fase penerbangan pertama adalah ke Bangkok, makanya pakai Thai Air. Untung situasi keamanan di Bangkok sudah relatif baik. Orang semasa bergejolak, airport pun jadi sasaran kelompok bertikai. Perjalanan ditempuh kurang lebih 7 jam. Saya hanya membaca, menonton, dan… tidur selama penerbangan. Tentu saja tidak lupa untuk makan. Istirahat dalam perjalanan adalah senjata saya melawan jetlag. Selama ini saya hampir tidak pernah punya persoalan berarti dengan jetlag karena strategi ini: tidur cukup dan khususnya menyesuaikan dengan waktu di negara tujuan. Dulu sekali sewaktu ke Belanda pertama kali di tahun 2000, saya diajari rekan-rekan senior saya yang kebetulan waktu itu sedang menempuh S3 atau persiapannya, bung Marthen Ndoen, mas Hari Sunarto, dan mbak Rooskities agar tidur tengah malam (waktu Belanda), supaya besok pagi bangun sudah biasa mengikuti jam setempat. Itu salah satu strategi lain. Jadi waktu itu saya dipaksa begadang, dibawa jalan melihat-lihat Amsterdam dan diajak ngobrol hingga sekitar jam 11 malam baru dibolehkan tidur. Dan, berhasil. Satu persoalan saya dengan jetlag justru antara waktu Indonesia – Australia dan baru-baru ini, sewaktu pulang untuk acara pemakaman ibu saya.

Dalam perjalanan ke Bangkok ini, sebelah saya seorang anak laki-laki baru gede. Badan lumayan besar. Dia bawa keliling satu map arsip, pikir saya ngapain anak ini pikul map arsip segala. Tahu nggak, isinya kertas-kertas hasil gambar. Dia menggambar macam-macam, binatang, bentuk seperti patung, atau ya sekedar sketch mosaik tertentu. Dia sempat ngliatin, tanya bagus nggak. Ya lumayan, jadi saya bilang dia, bagus. Rasanya ada dalam rombongan keluarganya yang rasanya memanfaatkan waktu berlibur ke Bangkok. Tahu kan, pasca bentrokan berdarah antara massa Baju Merah dengan pihak tentara (yang menjalankan instruksi pemerintah), banyak negara melarang warganya ke Bangkok. Jadi, pihak otorita pariwisata Bangkok ya desparate mendatangkan wisatawan. Rasanya biaya ke Bangkok jadi dimurahin. Makanya, waktu turun dan lihat anak itu ada dalam satu rombongan yang lumayan banyak, pikir saya ini pasti manfaatkan kesempatan baik itu. Toh, itu belum masa liburan sekolah, padahal saya kira-kira anak itu pasti masih SMA.

Tiba di Bangkok sudah sekitar jam 11 malam. Saya bergegas ke bagian transit. Memang saya sudah check in dari Sydney, tapi saya cuma mau lihat ke gate mana saya harus menuju untuk penerbangan Lufthansa ke Frankfurt. Sewaktu cek, bingung saya, kok nggak di papan daftar penerbangan. Rupanya ada perbedaan waktu antara yang di boarding pass (tiket) dengan di papan itu. Penerbangannya mundur beberapa menit jadi tampilannya mundur ke belakang, bukan di poin waktu yang saya cari. Dasar. Saya langsung menuju ke gate-nya, belum buka dan tempat duduk pun cuma sedikit dan sudah penuh, jadi ya terpaksa berdiri. Sekitar 20 menitan baru dibuka gate-nya. Di tempat lain model gate-nya tidak seperti Bangkok, yang pake tutup segala, pake cek lagi. Sok ketat, pikirku. Malah waktu cek, paspor saya ditahan katanya mau ngecek lanjut karena saya kan tidak check in di Bangkok. Datang satu petugasnya, “keker-keker” paspor saya, dikira palsu kali. Itu yang saya bilang tadi, sok ketat tidak perlu. Saya ditanya, karena ini kok paspor Indonesia, tapi dari Australia. Dikira teroris kali, apalagi pake gondrong dikucir, bertopi lagi. Enak aja, mahasiswa tahu. Dilihat visa-visa saya, ditanya lagi kenapa ke Inggris. Saya jawab aja dengan tegas, konferensi ilmiah. Orang-orang imigrasi ini juga perlu ditegasi biar nggak seenaknya curiga orang. Lalu dia bilang, nggak apa-apa kok, kami cek karena kamu belum ada dalam data kami. Sengaja, kalau online kan tahu bahwa saya penumpang dari Sydney, transit di Bangkon, tapi akan langsung ke Birmingham, via Frankfurt. Saya lalu dibolehkan terus, lalu nyari tempat duduk, capek dari tadi berdiri.

Pesawat berangkat sesuai jam yang dicantumkan di papan tadi. Penumpang diundang untuk boarding. Saya sih sudah mengantuk. Di Sydney sudah jam 3 pagi, Bangkok jam 12 tengah malam. Namun, di Birmingham baru jam 3 sore. Jadi, saya harus tahan-tahan dikit, atau nanti tidur lebih panjang. Ya, saya masih bisa tahan beberapa waktu di pesawat, namun kemudian saya terpaksa tidur. Terbangun, tidur lagi. Terbangun, tidur lagi. Sampai sekitar jam 5 pagi waktu Franfurt saya benar-benar bangun, karena juga ada pelayan bawa makanan untuk breakfast. Pas juga. Abis makan, saya cuma ngintip keluar jendela pesawat, karena pesawat sudah mulai terbang lebih rendah dan kelihatan daratan Jerman. Tampak luas, penuh pepohonan hijau. Rumah-rumah jarang dan terkonsentrasi di tempat2 tertentu, tapi berjauhan dan tidak banyak rumah di satu konsentrasi. Rasanya makin dekat ke Franfurt, saya juga melihat beberapa kali sejumlah kumpulan kincir angin, sebagai pembangkit listrik di beberapa tempat. Ada sekitar 6-12 kincir di satu lokasi. Berarti kincir angin tampak makin jadi pilihan sebagai pembangkit listrik alternatif, dan rasanya itu langsung dikelola oleh masyarakat karena jumlah yang terbatas. Saya pernah menyaksikan satu acara pra – pertemuan pembahasan perubahan iklim Kopenhagen di mana digambarkan inisiatif masyarakat di Kopenhagen dalam memanfaatkan sumber-sumber energi alternatif. Dan, salah satunya adalah kincir angin yang oleh seorang petani Denmark digunakan untuk kebutuhan energi bagi dia dan orang di sekitarnya, melalui dua buah kincir raksasanya.

Mendarat di Franfurt, tampak tulisan dan logo Lufthansa memenuhi. Maklum ini markas Lufthansa. Begitu berhenti, saya langsung bergegas mencari lokasi layanan transfer. Maklum check in di Sydney tidak termasuk dari Franfurt ke Birmingham, jadi harus check in lagi. Namun, layanannya cukup cepat dan lancar, walau cuma dilayani satu petugas. Setelah memegang boarding pass, saya langsung menuju ke gate tempat pesawat berikutnya. Namun, untuk itu harus lagi lewat pos pabean, ngecek lagi barang bawaan di handbag plus badan. Aman, nggak masalah. Paling dicek tuh satu botol shampo yang kelihatan agak besar, tapi karena isinya cuma 90 ml, masih di bawah 100 ml, jadi tidak ada masalah.

Di gate, saya duduk-duduk sambil baca. Juga sms Nelsy bahwa sudah di Frankfurt dan sebentar lagi terbang ke Birmingham. Kebanyakan penumpang flight ini kelihatan seperti businessmen/women, rapi-rapi. Mungkin ada pertemuan dengan mitra bisnis atau kantor mitranya di Birmingham. Namun, saya duduk bersama dua mahasiswa asal Inggris, satu kuliah di Melbourne, satu kuliah di Jerman. Mereka berdua saling cerita pengalaman masing-masing dan saya lebih suka menikmati buku saya, atau ya tutup mata sambil terkantuk-kantuk. Penerbangan ini sekitar 1 jam setengah.

Turun di Birmingham, tidak ramai. Antrian imigrasi tidak panjang. Karena saya belum mengisi formulir imigrasi, saya berhenti dulu sebelum masuk antrian untuk mengisi. Selesainya saya langsung menuju antrian. Beberapa orang malah baru ngisi di situ, jadi saya dipersilahkan mendahului mereka. Ketika dipanggil oleh petugas imigrasi, saya ditanya mau ngapain, tinggal di mana, dan berapa lama di Inggris. Langsung saya jawab. Dan, tidak berbelit-belit, saya paspor saya dicap dan langsung dipersilahkan keluar. Aman deh, tinggal ambil tas yang masuk bagasi. Nunggu bentar, tas keluar, ambil, lalu mau jalan keluar. Karena tidak tahu di mana harus ngambil train menuju ke pusat kota Birmingham, saya tanya petugas di situ. Gayanya mau bantu, bilang sini saya tunjukkin. Ealah, sok jadi polisi lagi. Wong sudah tahu saya sudah lewat prosedur imigrasi, masih minta pasport saya. Tahu dia ini orang asing, wong bertanya. Mau sok galak, begitu terima paspor mau nanya macam-macam. Balik kutegasi, saya sudah ditanya tadi di dalam dan saya ini mahasiswa dari Australia mau ke Aston Business School, saya mau presentasi papers saya. Tinggal di mana? Ya di Aston Triangle, akomodasi kampus. Mungkin nggak punya selak lagi, dia kembali paspor dan bilang silahkan. Balik saya tekan dia, situ bilang tadi mau tunjukin saya di mana saya ngambil train, lha kok malah nanya-nanya lalu lupa kasih petunjuk. Dia lalu minta maaf dan memberi petunjuk ke mana saya harus menuju. Saya langsung bergegas keluar, mencari eskalator naik ke lantai atas, mencari lokasi train. Ketemu, tapi kok nggak tulis menuju kota Birmingham? Bingung. Rupanya harus naik transit train dalam bandara ini menuju stasiun kereta Birmingham International (BHI) baru ganti kereta. Pantas, tidak ada loket karcis, petugas, pikir saya lha kok gratis, katanya biayanya sekitar 3 pounds. Saya akhirnya naik kereta itu, turun di BMI. Beli tiket menuju stasiun Birmingham New Street, pusat kota. Turun di sana, tanya-tanya gimana menuju Aston University. Dijelaskan bingung, maklum karena jalannya belok kanan, naik lift, puter kiri, puter kanan, keluar, belok kiri. Pusing deh, belum lagi dialek Inggrisnya juga mesti hati-hati didengar. Karena itu, setelah keluar stasiun terpaksa tanya lagi dan ditunjukkan pos pusat informasi kepariwisataan Birmingham. Sampai di situ dikasih peta Birmingham, ditunjukin jalur jalannya, lalu ditunjukin titik pertama jalan nyatanya. Jadi, meluncurlah saya. Namun, setelah kira-kira dekat lokasi Aston University menurut peta, lha kok nggak ada tulisan sama sekali. Katanya harus lewat jalan bawah tanah, mana? Bingung lagi. Terpaksa tanya lagi seorang ibu di situ, baru dia tunjukin di mana jalan bawah tanah itu. Sebetulnya, jalan lebih mudah adalah nyebrang jalan, karena tidak pake putar2 via jalur bawah itu. Salah instruksi dari awal, mau gimana. Sampai di dalam kompleks Aston University, lalu ke mana lagi? Di mana Aston Business School? Ada peta, tapi kan ya posisi berdiri ini apa, ya tidak tahu. Tanya lagi, baru dibilangin di masa main entrance, di mana Aston Business School. Jadi, meluncurlah ke sana. Harus diingat, saya pilih jalan kaki dari stasiun New Street tadi justru karena tidak tahu jalan. Kalau naik taksi, bisa, tapi kalau nggak tahu daerah kan bisa dibawa puter keliling. Jalan kaki juga adalah jalan paling ampuh untuk segera kenal daerah. Jalannya pun cuma 15 menit, toh sudah biasa jalan kaki selama di Sydney.

Begitu tiba di ABS, langsung registrasi hotel, registrasi konferensi, dan naik ke kamar hotel. ABS punya hotel untuk penyelenggaraan konferensi dan sejenisnya, namanya Conference Aston. Ya saya nginap di salah satu kamarnya, lantai 3, fuiiiihhh, kamarnya pun berputar-putar, paling ujung lagi. Jadi dari satu sisi ke sisi lain, yang ternyata saling berhadapan, tapi karena lift tamunya cuma satu itu ya berputar. Ada lift lain tapi tidak sampai lantai dasar, saya sudah coba dan malah bikin bingung. Begitu sampai, taruh barang, langsung terlentang di tempat tidur. Capeknya.. maklum, saya panggul satu ransel lumayan berat berisi laptop dsb dan tarik satu koper pakaian. Namun, lega karena sudah sampai, walau capek minta ampun, perjalanan panjang dari Sydney.

Karena capek dan nggak mau mengulang pengalaman di Santa Fe yang justru pada hari jelang presentasi saya terserang flu, saya putuskan untuk cuma istirahat. Ada sesi untuk mahasiswa PhD, tapi saya pilih tidak datang. Toh malam akan ada resepsi pembukaan Konferensi dan tempatnya katanya harus jalan kaki ke tengah kota. Jadi, lebih baik istirahat, pulihkan tenaga. Sambil istirahat saya kontak Nelsy dan Nike, bilang sudah sampai dengan selamat. Agak sorean saya sempurnakan materi presentasi untuk dua paper. Itupun belum selesai lagi, ditinggalkan karena harus ikuti acara pembukaan. Harus ikut acara ini, karena dinner-nya kan gratis, sudah dibayar dari fee registrasi.

Turun ke lobby hotel, para peserta lain sudah pada kumpul juga. Di situ saya lihat beberapa muka yang sudah saya kenal dari konferensi-konferensi sebelumnya. Ada Elaine Farndale dari Tilburg University, Belanda tapi kini juga mengajar di Penn State University, AS. Sempat ngobrol dengan dia sebentar. Lalu ada Prof. Phil Benson dari New Mexico State University, chair IHRM Conference tahun lalu. Sempat juga sapa dan ngomong sebentar dengan beliau. Beberapa cuma hai-hai lalu sebut nama, kenalan singkat. Beberapa lain cuma lihat rupa, seperti Prof. Dennis Briscoe, Prof. Ann-Wil Harzing, Prof. Karin Sanders. Saya sempat bertemu dan ngobrol dengan seorang teman PhD dari Finland, Wei Lu. Tahun lalu ketemu di Santa Fe dan kami sama-sama gunakan teori institusional dalam riset PhD kami, cuma dia riset tentang Finland MNCs di China. Lalu, seluruh peserta diajak jalan. Sebagian naik taksi karena turun hujan. Wealah, dingin juga, padahal kan sudah mau summer. Untung jaketku lumayan menghangatkan. Cuma karena hujan dan angin, dinginnya cukup kerasa. Kami berjalan kaki menuju gedung City Council, karena akan dijamu minum anggur oleh Lord Mayor of Birmingham.

Di sana, sambil minum jus jeruk beberapa kali dan makan biskuit, saya sempat berkenalan dengan beberapa teman baru. Saya juga datang menyapa Prof. Karin Sanders, calon mitra kolaborasi saya dari Universiteit Twente, Enschede. Dia datang karena ada 2 papersnya bersama mahasiswa PhDnya yang akan dipresentasi. Beberapa teman lain pun sempat saya berkenalan. Lalu sebagian peserta diajak masuk ke ruang sidang para anggota Council of Birmingham, dipandu oleh istri Mayor. Lihat-lihat, dengar penjelasan, lalu bubar, menuju ke lokasi dinner. Masih hujan, masih angin, dan masih dingin. Sampai di restoran tempat makan malam, karena prasmanan, saya berkeliling cari tempat duduk, lalu keliling bergerilya cari makan. Udah lapar. Dua putaran makan malam saya habiskan, sambil ngobrol dengan beberapa teman semeja. Lalu, selepas nikmati hidangan pencuci mulut, saya bersiap pulang. Ada beberapa juga teman yang bersamaan mau pulang. Sudah jam 9 malam, dan kami menuju ke hotel. Untung jalan pulang masih bisa ditebak dengan baik dan sampai tanpa kesasar. Saya langsung naik ke hotel, bersihkan gigi dan muka, lalu ngetik-ngetik bentar, lalu tidur. Besok belum jatah presentasi, tapi ya kalau bisa sudah beres bahan presentasi. Satu beres, satu masih setengah jalan, berarti besok malam harus lanjut.

Hari pertama presentasi dibuka dengan keynot speech dari Chief Executive Chartered Institute of Personnel Development (CIPD), asosiasi profesi HR di Inggris yang sangat dikenal. Menarik juga informasi tentang tantangan-tantangan saat ini dalam keprofesian HR yang disampaikan, terutama soal bahwa HR ikut bertangung-jawab dalam pengembangan kepemimpinan dalam perusahaan. Kasus British Petroleum di Teluk Meksiko dijadikan salah satu contoh persoalan kepemimpinan bisnis yang harus digeluti oleh HR, karena di samping menyangkut kepemimpinan bisnis, juga soal (in)sensitivitas kultural.

Setelah itu dilanjutkan dengan simposium tentang Global Talent Management yang dipimpin oleh Prof. Paul Sparrow dan Elaine Farndale, yang di samping menampilkan mereka dua, juga ada Prof. Randall Schuler, Prof. Ingmar Bjorkman dan Chistina Makela, serta Prof. Susan Jackson. Habis itu para peserta terpecah ke dalam sesi-sesi. Saya jelas mencari sesi yang kiranya terkait minat riset saya, walau ada topik-topik menarik yang juga bertabrakan, jadi harus terpaksa memilih, di samping masalah jarak antar tempat konferensi juga mengendalai mobilitas. Sore hari kembali ditutup dengan simposium di tingkat pleno, semua kumpul lagi. Kali ini Prof. Rosalie Tung bicara soal emerging economies, seperti China, India, dan sejumlah negara belahan dunia Selatan, seperti Brasil, Meksiko. Lalu ditutup dengan case study sebuah MNC dari India sebagai sebuah emerging economy. Setelah itu bubar, namun harus kumpul lagi untuk Conference Dinner and Tour. Saya pilih ke Aston Villa stadium, toh di situ juga lokasi dinner-nya. Ingin tahu kayak apa sih stadion Aston Villa itu.

Rombongan berangkat ke stadion pake satu bis. Sampai di sana, eh pake nunggu segala, kayaknya masih koordinasi dengan pihak pengelola stadion. Kami pun dipecah jadi dua kelompok, berbagi jatah masuk. Ditunjukin ruang ganti pemain dan baru tahu saya rupanya ada perang psikologi dalam pertandingan sepakbola antar klub. Setiap klub tamu selalu dikasih ruang ganti tamu yang fasilitasnya jauh lebih jelek dari tim sendiri. Namun, kata si petugas, karena stadion Aston Villa adalah stadion internasional, digunakan untuk event internasiona, maka perbedaan tadi tidak boleh terlalu mencolok, dibanding di stadion lain yang tidak/jarang untuk event internasional. Betul juga, gila, beda fasilitasnya. Misalnya, papan untuk briefing tim tamu cuma papan putih biasa. Di ruang ganti tim tuan rumah, di samping papan lebih lengkap, ada tivi segala yang bisa dipakai untuk memutar ulang kejadian babak pertama, lalu dianalisis untuk perubahan strategi babak kedua. Fasilitas mandi dan perawatan kesehatan pemain juga beda. Gila. Habis itu, kami lihat ruang conference pers, ruang khusus pelatih tuan rumah, baru masuk lapangan Aston stadium, sambil diiringi lagu pertandingan, selayaknya dua buah tim yang akan bertanding akan memasuki stadion, toh kami dibagi ke dalam 2 lines. Ada-ada saja si petugas ini. Dia cerita terus, soal di mana pemilik Aston Villa kalau duduk, di mana VIP, dan macam-macam. Setelah itu tour berakhir di Hall stadion tempat kami akan dinner. Para peserta berkelompok, menenggak minuman, sambil ngobrol dalam kelompok. Saya segerombolan dengan beberapa rekan yang kira-kira seusia atau lebih muda yang kebetulan sama-sama tadi dalam rombongan tur. Kami juga yang duduk semeja, walau ada juga yang akhirnya pindah bergabung dengan temannya, tinggal kami berempat. Satu dosen dari Kanada, keturunan China, satu mahasiswa PhD dari Hull, orang Lybia, satu mahasiswa PhD India, dan saya sendiri. Ngalor ngidul cerita, sambil menikmati makan malam, minum anggur, dan terakhir menu penutup. Setelah itu kami pulang.

Dalam acara makan malam itu, juga diumumkan penerima best papers awards. Marion Festing dari ESCP Europe Campus Berlin kembali mendapat awards ini. Tahun lalu dia menang bersama mahasiswanya Martina Maletzky, sekarang bersama mahasisnya yang lain Lena Knappert. Elaine Farndale juga menang kali ini. Satunya lagi Aggarwal Upasana dkk. dari Indian Institute of Technology. Saya tidak akan pernah punya chance untuk ini kalau terus memasukkan extended asbstract sewaktu di-review awal dan bukannya full-paper.

Tiba di hotel, saya melanjutkan penyelesaian bahan presentasi. Tuntas. Habis itu tidur, setelah sebelumnya kirim email buat Nelsy.

Hari kedua konferensi dibuka dengan dua keynote speeches. Pertama, dari Prof. Chris Brewster tentang hasil-hasil kajian comparative HRM dari Cranet surveys. Kedua, Prof. Felix Brodbeck tentang hasil riset GLOBE Project. Habis itu, masuk lagi ke sesi-sesi paralel. Dan, siang itu saya presentasi salah satu paper saya, “Mimesis, Logic of Adoption and Corporate Identity”. Sama seperti kasus IHRM 10 di Santa Fe, bingung saya kenapa paper ini dipilih ditempatkan di topik aneh soal HR, CSR and Ethics. Tidak ada sama sekali singgun soal CSR dan etika dalam paperku itu. Kenapa tidak dimasukkan dalah kajian institusional yang cukup banyak papers bicara tentang itu? Topik CSR dan Etika ini menarik peminat yang sangat sedikit, terutama para presenters, plus sekitar 5 orang peserta lain. Itupun, satu presenter tidak hadir, jadi makin sedikitlah orangnya. Ketiga papers pun arahnya beda-beda. Teman orang China yang dosen di Kanada yang juga presentasi di sesi ini secara eksplisit menyatakan bingung kenapa papernya dibawah topik ini, karena sekalipun menyebut work ethics, it is not HRM and ethics. Cuma presenter pertama yang klop, papernya tentang HR dan CSR. Jadi, kami bicara ngalor dan ngidul lah, lah wong tidak persis seminat. Namun, presentasi saya boleh dikatakan baik. Salah seorang dari sedikit peserta tamu di ruangan itu menilai analisis dalam paper saya interesting. Beberapa pertanyaan dia ajukan dan saya jawab. Seorang teman lain juga bertanya lagi dan kembali menjawab sebelum sebelum sesi ditutup oleh pemimpin sesi. Di luar kawan yang bilang tertarik tadi mengomentari lebih jauh. Katanya, disamping dia tertarik hasil analisisnya, pendekatan analisis yang interpretif juga dihargainya sebagai jarang dalam mainstream riset HRM. Ya tentu saja ada cukup banyak articles yang sejenis bisa dijumpai di berbagai konferensi dan jurnal, tapi mungkin dari antara presentasi-presentasi yang dia ikuti, saya yang agak nyeleh dengan interpretive paradigm. Dia juga orang di jalur ini, banyak menggunakan pendekatan discourse analysis, makanya dia tertarik dengan pendekatan dan hasil analisis saya. Syukurlah, masih ada penghargaan. Memang, sejak hasil review abstrac dulu, pereview juga sudah mengatakan analisis paper ini akan menarik, walau abstrak baru sajikan bahan yang singkat. Well, tengkyu lah. Saya jadi terhibur, walau eksptasinya lebih dari itu.

Memang pendekatan institusional tampaknya belum diterima baik dalam kajian-kajian IHRM. Sudah cukup banyak juga papers mengambil posisi ini, namun nyata juga di sesi lain yang saya ikuti hari berikutnya di mana papers yang disajikan menggunakan institutional analysis, peminatnya juga tidak berbeda jauh dari sesi presentasi saya itu. Karena itu masuk di wilayah saya dan supaya sesi juga hidup, saya dua kali ikut sumbang pemikiran di situ. Waktu sesi pertama, tanggapan ramai, karena sejumlah peserta dari wilayah middle east datang mendengar si presenter yang membawa kasus middle east. Habis itu beberapa mereka minggat ke sesi lain, jadi relatif lebih sepi lagi.

Selepas presentasi di hari itu, saya ke sesi sharing pengalaman penelitian di negara-negara berkembang. Ada kasus China oleh Bjorkman, ada India oleh Arup Varma, ada Africa oleh Yaw Debrah, dan ada Middle East oleh Kamel Mellahi. Saya join sesi ini saat Mellahi yang presentasi. Menarik sesi ini sebetulnya, sayang saya telah karena sebelumnya hadiri sesi lain. Peserta juga banyak dan antusias karena memerkuat pengalaman, termasuk menyiasati kesulitan-kesulitan ketika meneliti di negara berkembang.

Besoknya, saya presentasi lagi satu paper saya, pada putaran sesi-sesi kedua. Yang paginya saya ikuti sesi yang saya cerita di atas yang papersnya gunakan teori institusional itu. Kali kedua presentasi pesertanya lebih banyak. Di samping harus presentasi, saya juga ditunjuk penyelenggara menjadi chair alias memimpin sesi. Empat presentasi dari negara dalam masa transisi, pertama dari Latvia (mahasiswa PhD), kedua saya, lalu ketiga dari Iran (mahasiswa PhD di Inggris), dan terakhir dari Saudi Arabia (mahasiswa PhD New England, Australia). Secara keseluruhan seluruh sesi berjalan bagus dan tanggapan juga baik dari peserta, termasuk saat saya presentasi. Beberapa rekan menyatakan tertarik dengan riset saya dan meminta ijin untuk menggunakan satu model yang saya (bersama Peter McGraw) kembangkan untuk menganalisis proses konstruksi HRM systems di konteks subsidiari perusahaan multinasional. Ada yang kemudian mengajak kerja sama di suatu waktu, tentu saja saya setuju sekali. Ya, ini pengalaman yang menyenangkan tentu saja, padahal urutan presentasi papers saya, saya nilai terbalik. Paper kedua harus di urutan pertama, sebaliknya, karena itu menggambarkan kaitan analisis. Namun, toh pesertanya beda-beda jadi tidak pusing.

Hari itu konferensi ditutup setelah makan siang. Saya menjumpai beberapa teman untuk say goodbye. Juga menemui Prof. Pawan Budhwar sebagai chair konferensi untuk berterima kasih sekaligus menyampaikan pesan untuk melibatkan kasus Indonesia dalam edisi buku IHRM Asia Pacific-nya yang berikut. Dia mengatakan ya, akan ada edisi berikutnya dan mudah-mudahan dia mau memasukkan pengalaman Indonesia di edisi itu dan mudah-mudahan mau mengajak orang seperti saya.

Sore itu saya ada janjian untuk bertemu seorang teman Forum Akademia NTT (sebuah komunitas diskusi online di internet) yang sedang mengambil PhD bidang Sosiologi di Universitas Birmingham, bung Elcid Li. Saya sudah kontak dia sebelumnya dan dia baru bisa selepas jam 6 sore. Kami janjian ketemu di stasiun New Street, lalu dia akan mengajak saya ke rumahnya, di sana istrinya sudah siap makan malamnya. Namun, karena saya akhirnya diajak-ajak keliling lihat kota Birmingham dulu karena belum sempat lakukan selama konferensi kecuali ke City Council itu, maka akhirnya kami makan malam di sebuah restoran China. Setelah itu baru kami mengambil bus ke rumahnya. Di sana kami menonton sepakbola Inggris vs. Amerika Serikat yang berakhir imbang, lalu diajaknya ke kampusnya. Saya memang paling suka mengunjungi kampus-kampus dan kampus Univ. Birmingham juga boleh dikatakan bagus fasilitasnya bagi mahasiswanya, terutama dengan melihat gedung dan ruang kerja bung Elcid. Dia juga bercerita sedikit tentang perpustakaan dan khususnya koleksi buku-buku berusia tua. Ya sejak ketemu sampai saya pulang kami bercerita banyak hal, tentang studi kami, pengalaman2 lain, dan juga tentang NTT kami. Saya lalu diantar bung Elcid kembali ke pusat kota, sebelum dia pulang dan saya berjalan kembali ke Conference Aston.

Setiba di kamar, saya rapikan semua barang supaya besok pagi tinggal beres-beres sedikit dan berangkat. Saya sempat email Nelsy dan bilang semua sudah selesai dan besok pagi saya berangkat. Pagi bangun saya mandi, rapikan sedikit barang yang masih di luar koper, lalu bergegas turun untuk breakfast. Sehabis breakfast, saya duduk-duduk sebentar di lobby hotel, setelah kembalikan kunci. Tidak terlalu lama, lalu saya jalan menuju stasiun untuk ambil train ke Birmingham Internasional. Setiba di airport, karena waktu check in masih lama, saya cuma mondar-mandir. Sempat membeli gantungan kunci untuk Nike, lalu putar-putar lagi.

Waktu check-in, hampir masalah soal transit di Dublin. Dalam perjalanan ke Amsterdam, pesawat saya, Aer Lingus, akan menuju Dublin, Irlandia, baru ganti yang ke Amsterdam. Ini petugas check ini nanya mana visa. Lha jelas di situ saya punya visa UK dan visa Schengen. Saya nggak pusing Irlandia masuk Schengen atau tidak atau OK dengan visa UK atau tidak, yang penting kan juga cuma transift. Dia tanya ke petugas lain via telpon tanya boleh tidaknya saya transit dan dipastikan boleh. Proses selanjutnya lancar, barang masuk bagasi, kecuali ransel yang saya mau panggul/tarik. Saya naik ke lantai atas untuk bagian departure. Sempat makan siang dulu di Burger King, baru masuk proses kepabeanan dan imigrasi. Semua aman, lalu di dalam menunggu jam pesawat boarding dan terbang. Agak unik juga bandara Birmingham ini. Gate pesawat bukannya dicantumkan di boarding pass, tetapi penumpang diminta awas mencermati di televisi atau papan pengumuman menjelang penerbangan. Macam-macam aja. Saya ya sedikit-sedikit lirik, supaya tidak ketinggalan pesawat.

Begitu pengumuman boarding dibuka, saya langsung menuju pesawat. Tidak lama, karena pesawat juga cepat penuh, pesawat siap terbang dan take off lah kami beberapa saat kemudian, menuju Dublin. Tiba di Dublin, weleh, ini airport tampak tradisional. Kami turun dari pesawat berjalan kaki menuju ruang tunggu atau transit. Naik pun jalan kaki lagi ke pesawat, sama seperti bandara-bandara di luar Jakarta aja, padahal ini kan ibukota Irlandia. Yah, terserah deh otoritas bandara Dublin, itu kan hak mereka.

Saya sempat putar-putar lihat bandara yang tidak begitu besar itu, tapi ya tidak keluar supaya tidak pusing lagi dengan urusan imigrasi. Sempat tukar sisa poundsterling ke Euro, lalu beli miniman serta satu kartu pos untuk oleh-oleh buat Nike. Abis itu ya menuju gate untuk tunggu, walau waktu masih lama. Duduk sambil baca, plus lihat orang-orang yang boarding di beberapa gate terdekat, bosan juga. Apalagi pesawat kami telat dan diundur sekitar 30 menit waktu terbangnya. Kata si petugas, tibanya akan sama. Walah, boong, sudah pasti telat, seberapapun menitnya, banyak atau sedikit. Baru sekitar jam 5.20an kami dipanggil boarding. Take off sekitar jam 5.40an dan di kepala saya, ah ini sudah pasti telatnya tiba di Schipol, dan terakhir di Univ. Twente, Enschede. Jam 8 lebih baru landing di Schipol.

Urusan imigrasi lancar, sekalipun di visa saya tercetak nomor paspor yang salah, walau sudah ada keterangan pihak konsulat Belanda di Sydney. Entah ada pengaruhnya atau tidak, kan saya dulu pernah tinggal setahun di Belanda dan tidak punya catatan bermasalah. Tunggu bagasi juga tidak lama. Jadi saya langsung buru-buru keluar mengejar kereta. Sedikit lupa tata letak Schiphol, terpaksa tanya orang di mana tempat beli tiket. Yang ditanyapun bingung karena juga pendatang. Setelah putar badan, baru lihat loket penjualan tiket kereta. Cepat2 ke sana, beli tiket, dan kata petugas keretanya akan berangkat 8 menit lagi. Langsung saya tancap gas lari ke arah eskalator ke underground train station, lalu tunggu sekitar 5 menitan, train datang dan naiklah sudah. Sudah hampir jam 9 malam, lupa beli makan malam. Mati sudah, sampai Enschede pasti kelaparan.

Saya beli tiket kereta ke stasiun Hengelo, satu stasiun besar sebelum stasiuns Enschede. Prof. Sanders yang menyarankan. Dari Hengelo katanya naik bis yang langsung menuju kampus Twente. Benar juga, lebih mudah. Saya tiba di Hengelo sudah jam 11 malam. Untung masih ada bis hingga jam 12 malam. Tidak tunggu lama karena bis sudah ngetem di situ. Tinggal nyalakan mesin, penumpang naik, lalu jalanlah bis. Saya bilang si sopir, tolong turunkan saya persis di pintu masuk kampus, karena di loket penjaga di situ saya harus ambil kunci kamar kos saya, begitu kata petugas student housing sebelum saya berangkat dari Sydney. Saya diturunkan di halte depan main entrance, menuju kantor penjaga di situ, tanda tangan pengambilan kunci, lalu bertanya ini rumah kos-nya yang mana. Maklum sudah sekitar setengah 12 malam, saya nggak tahu lokasi kos-nya. Si penjaga bilang tenang, dia antar. Syukurlah. Saya diantar pakai mobil dan diturunkan di jalan di depan rumah kos saya di dalam kampus universitas Twente. Saya buka rumah itu dengan kunci depan, menuju kamar dan membukanya, lalu taruh barang dan istirahat sebentar. Setelah itu saya makan sisa biskuit yang ada di tas, masih lapar, tapi ya mau apa tidak sempat beli makanan di Schiphol. Lalu saya bersih-bersih sebentar, sms Nelsy bahwa sudah tiba di Twente, lalu tidur.

Lega, satu fase dari perjalanan ini selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: