Posted by: nsrupidara | June 14, 2010

Universitas Twente Pun “Libur” Untuk Mendukung Kesebelasan Belanda

Sejak bertemu Prof. Karin Sanders di International HRM Conference di Aston Business School, 9 -12 Juni lalu, saya sudah diundang untuk ikutan nonton bareng saat kesebelasan Belanda berhadapan dengan Denmark. Katanya, karena pertandingan itu jatuh pada jam kerja dan banyak orang ingin menyaksikannya, petinggi kampus Universitas Twente mengambil kebijakan “meliburkan” aktivitas kampus pada jam pertandingan. Sebetulnya bukan benar-benar meliburkan, tetapi memfasilitasi warga kampus yang mau menonton dengan jalan menyediakan satu tivi raksasa di sebuah lapangan rumput di pinggir jalan utama di kampus itu. Kata Prof. Sanders, kalau saya punya atribut warna oranye, maka bawa atau pakai. Sayangnya saya tidak punya, kecuali topi merah oleh-oleh dari kunjungan di Univ. Stanford tahun lalu. Warna merah adalah warna Denmark, jadi walah kebalikannya, jadi pendukung Denmark di tengah massa ‘fanatik’ Belanda, di ‘kandang’nya. Saya sebetulnya juga bukan pendukung Denmark, walau sempat menilainya sangat bagus ketika masih diperkuat pemain seperti Michael Laudrup, Morten dan Jesper Olsen, Preben Elkjaer, Frank Arnesen, tim yang dikenal dengan nama Danish Dynamite. Anyway, undangan itu membuat saya penasaran kayak apa nanti acara nonton bareng itu.

Saya tiba di kampus Universitas Twente pada hari minggu, 13 Juni tengah malam. Perjalanan Birmingham – Amsterdam yang sebetulnya pendek jadi sangat makan waktu karena penerbangan yang saya tempuh adalah dari Birmingham – Dublin dan Dublin – Amsterdam. Entah kenapa si agen perjalanan di kampus Macquarie memberi jalur ini, padahal ada jalur penerbangan langsung, barangkali lebih murah, tetapi ya tidak terlalu masuk akal, kecuali dia cari untung dari fee penerbangan yang 2 kali dan lebih panjang itu. Karena tiba tengah malam ya saya agak malas-malasan bangun di Senin pagi. Namun, karena sudah janji bertemu dengan Prof. Sanders, saya akhirnya bangun juga sekitar jam 7 lebih sedikit. Setelah merapikan sejumlah hal di kamar kos sebulan di dalam kampus Twente yang baru ditempati semalam, saya ngecek email dan tahu permohonan jam pertemuan diajukan 1/2 jam di muka. Saya sih oke saja dan sekitar jam 11 ya sudah meluncur karena tidak tahu persis lokasinya, kecuali bermodalkan peta kampus dan alamat tujuan. Maklum, kampus ini juga besar dan modal saya adalah kaki doang, jadi ya harus hitung2 lama perjalanannya juga. Saya tiba beberapa menit sebelum jam janjian dan Prof. Sanders sendiri masih ada pertemuan dengan kolega dan mahasiswanya. Namun, hanya sebentar menunggu kok.

Kami membicarakan sebentar paper saya yang rencananya ingin ditulis bersama untuk publikasi jurnal. Sehabis itu kami membicarakan tentang pengalaman masing-masing mengikuti IHRM Conference. Sehabis itu, kami makan siang dan berpisah. Prof. Sanders tidak jadi nonton bareng. Dia masih capek katanya dan memilih pulang, daripada bermatahari ria nonton bola di lapangan. Saya cuma tanya di lapangan mana massa kampus akan menuju untuk menyokong tim nasionalnya bertanding di Piala Dunia. Dia memberi ancang-ancang dan tinggal nanti saya cari persisnya. Namun, saya tidak langsung ke situ, saya pergi ke kantor student housing Twente untuk mengurusi kontrak kamar saya. Eh, kebetulan dalam perjalanan ke sana saya ketemu kios kampus yang jualan barang-barang kebutuhan harian, khususnya makanan. Jadi, selepas penandatangan surat kontrak kamar, saya malah berbelanja, bukan pergi nonton bola. Saat lagi ngambil-ngambil barang kebutuhan di mediummarket (karena bukan mini, bukan juga super hi hi hi..) sudah terdengar bunyi terompet ditiup, juga suara komentator radio berbahasa Belanda mengulas jalannya pertandingan. Ah, berarti sudah mulai. Pasti di lapangan itu sudah ramai, pikir saya. Namun, saya tetap asyik saja berbelanja, maklum ini soal hidup he he he… Dan, ketika saya mendekat ke kasir, di dekat situ ada tivi yang menyiarkan pertandingan Belanda – Denmark, tetapi jelas tidak ada orang yang pusing menonton di situ. Pikir saya lagi, pasti pada ramai ke lapangan. Wah, tidak sabar untuk segera ke lapangan. Setelah selesai membayar, dengan tas plastik penuh belanjaan, saya mencari di lapangan manakah acara nonton bareng berlangsung.

Saya cuma mengikuti suara hura-hura orang dan bunyi terompet terdengar. Pikir saya sudah terjadi gol, walau ternyata belum. Namun, suara itu membantu arah perjalanan saya. Begitu saya ke tempat yang lebih lapang, tampaklah massa kampus sedang berdiri dan duduk memandang ke satu arah, menonton. Belum kelihatan tivinya, karena tertutup pepohonan. Tapi, paling tidak saya sudah ketemu, di mana orang banyak berkumpul, dan ke sanalah saya pergi. Wah, meriah juga. Seragam oranye, entah topi, selendang, baju, trompet kertas atau plastik, halah pokoknya pada oranye-oranyean. Sepeda-sepeda digeletakkan saja di pinggir lapangan. Mobil diparkir juga di pinggir situ. Pokoknya asyik nonton mereka. Saya meletakkan plastik belanjaan agak jauh dari kerumunan. Pikir saya, ini kalau Belanda kalah kan bisa repot saya. Sudah pakai topi merah, bukannya serius datang nonton, eh malah bawa barang belanjaan. Bisa disatroni orang kecewa, apalagi kalau ada yang mabuk segala. Namun, ini massa kampus, bukan massa berandalan di pusat kota yang barangkali bisa nekad merusak kalau tim pujaannya dikalahkan. Jadi, tidak begitu khawatir saya. Setelah tarik nafas karena capek mengangkat barang, saya maju mendekati kerumunan. Ternyata babak pertama sudah tinggal beberapa menit saja. Kedudukan masih nol – nol. Namun, ketika ada peluang bagus, massa bersorak, meniup trompet, wah pokoknya merespon pertandingan dengan baik. Tidak lama kemudian peluit penutup babak pertama ditiup dan pertandingan dihentikan sementara.

Sejumlah orang bubar dari lapangan, menuju ke berbagai tempat. Saya juga berpikir lebih baik pulangkan barang belanjaan dulu, dan saya pulang ke lokasi tinggal saya. Sesampai di ‘rumah’ dan sedang menyimpan barang belanjaan, terdengar lagi suara hiruk pikuk lonjakan kegirangan ditingkahi suara-suara trompet bersahutan. Wah, ini pasti sudah ada gol. Begitu selesai dengan barang-barang belanjaan, saya kembali menuju lapangan nonton bareng itu. Benar, tadi sudah terjadi gol, gol bunuh diri, dan sementara Belanda memimpin 1 – 0. Beberapa orang juga baru bergabung beberapa saat setelah itu. Pokoknya ramai. Sesekali trompet ditiup lagi. Kalau ada peluang bagus, masa kembali bersorak. Untuk aksi yang bagus, penonton bertepuk tangan mendukung si/para pemain. Di tengah ritual-ritual penonton, ada seseorang kerjanya memotret sana sini. Mungkin di wartawan, tapi entahlah. Penonton pun ya tidak pusing, asyik dengan urusannya sendiri. Yang tenang tetapi mengikuti dengan seksama juga banyak. Dari anak muda mahasiswa, sampai yang senior entah pegawai administrasi atau dosen/peneliti, pokoknya ada di situ berbaur. TV raksasa yang ditonton digantung oleh, di sebuah kendaraan proyek yang ‘leher’nya bisa dipanjangkan. TV dilengkapi pula dengan sound system bersuara mantap, sehingga makin meriah. Dan, akhirnya Belanda menambah lagi satu go, jadi 2 – 0 dan semua bersorak-sorai gempit menyambut gol, dan si wartawan pun girang mengambil gambar pada momen meriah itu. Teknisi pengatur TV pun langsung memutarkan lagu ‘daerah’ penyambut gol. Jadi semua sorak bergembira.

Hingga pertandingan berakhir, tidak ada lagi tambahan gol. Belanda memukul Denmark 2 – 0. Yang pasti dan penting, massa bergembira, bukan menggerutu dan marah. Mereka senang, sudah ‘buang’ waktu dan dibalas dengan kemenangan. Ini mungkin berbeda dengan massa penonton Australia di kota-kota di Australia saat kesebelasannya dipukul Jerman dengan telak 4 – 0, pertandingan yang tidak saya tonton karena dalam perjalanan ke Twente. Saya sih sebetulnya secara moral ikut mendukung Australia, walau secara realistis tidak melihat Australia sebagai tim yang layak diperhitungkan dalam kejuaraan ini. Belanda malah bagi saya memiliki peluang cukup baik untuk menjuarai Piala Dunia dan memang mereka juga bermain cukup bagus, walau kadang saya tidak begitu suka gaya bermainnya. Anyway, “liburan” usai dan orang-orang kembali ke tempat kerja masing-masing. Masih ada sejumlah anak muda yang rasanya masih ingin merayakan kemenangan di situ. Saya pun memutuskan kembali ke penginapan.

Well, hari pertama di Twente, hari sepakbola, hari kemenangan. Semoga saya juga ikutan ‘menang’ selama mengunjungi kampus ini. Ada kunjungan lain yang harus diatur lebih jauh, terutama dengan kawan-kawan di luar Dept. OPHRM, Twente. Belanda, saya sudah datang kembali, setelah 9 tahun berpisah. Selamat berjumpa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: