Posted by: nsrupidara | May 18, 2010

LEMBAGAKAN OTONOMI UNIVERSITAS

Dalam konteks inovasi di tingkat universitas, benarkah pernyataan, “Di atas segalanya, bagi reformasi pendidikan Indonesia, yang harus terlebih dahulu kreatif dan inovatif adalah universitas-universitas kita (Pedju, Kompas 24 November 2009)?”

Pernyataan itu tampak benar tetapi cenderung mengabaikan konteks. Universitas tampak dianggap aktor kunci, pemain penentu yang dapat melakukan apa saja.

Kenyataannya mungkin justru tidak demikian, khususnya bila institusi pendidikan tinggi dipahami secara komprehensif. Asumsi bahwa universitas otonom, bebas berolah pikir untuk menghasikan inovasi, menafikan kenyataan bahwa sesungguhnya universitas tidak bebas. Studi-studi institusional di sektor pendidikan (misalnya Meyer et al., 1992) justru menunjukkan kuatnya belitan insitusional dalam mempengaruhi gerak universitas.

Efek institusional
Kasus Universitas Glasgow diangkat dalam tulisan Pedju itu sebagai ilustrasi penguat argumentasi segitiga relasi universitas-industri-pemerintah dalam mendorong inovasi. Digambarkan bahwa dari Glasgow lahir paling tidak dua karya penting dalam sejarah inovasi, yakni mesin uap-nya James Watt dan teori ekonomi pasar-nya Adam Smith. Universitas karenanya ditempatkan sebagai pelaku sentral.

Pertanyaan penting dalam konteks tersebut adalah, apa faktor yang telah memungkinkan Glasgow melakukan itu? Dalam hal itu, teori institusional memersoalkan konteks institusional di sekitar Universitas Glasgow secara historis, untuk memahami Glasgow sebagai salah satu model peran yang telah berkontribusi pada perubahan sosial – ekonomi yang lebih jauh dalam Revolusi Industri.

Apa yang terjadi di Glasgow sangat terkait dengan proses pencerahan intelektual yang dikenal sebagai Scottish Enlightenment (Patterson, 1997). Di skala regional Eropa juga sedang terjadi reformasi pendidikan tinggi yang memiliki keterkaitan dengan apa yang terjadi di Glasgow (Anderson, 2004). Anderson menggambarkan terdifusinya model perubahan dari satu universitas ke universitas lain, lintas negara di Eropa.

Reformasi pendidikan tinggi Eropa itu erat terkait dengan konteks sosial Eropa umumnya yang ditandai oleh pergerakan intelektual melalui peristiwa reformasi dan kontra-reformasi, revolusi ilmiah, dan pencerahan. Dalam konteks itu, universitas yang tadinya dikontrol oleh gereja dan negara menjadi lebih otonomi, walaupun reformasi itu juga tidak bisa dilepaskan dari peran penguasa, sebagai aktor institusional penting.

Serupa, konteks institusional (yang kondusif) pulalah yang menjadi faktor penjelas mengapa pendidikan tinggi Amerika Serikat mampu mengambil alih kepemimpinan akademik dari partnernya di Eropa pasca perang dunia kedua. Graham & Diamond (1997) berargumen bahwa desentralisasi kebijakan, pluralisme kelembagaan, otonomi universitas, dan kompetisi antar universitas merupakan kondisi yang memungkinkan universitas-universitas Amerika berkembang pesat dan berkinerja tinggi, terutama setelah mengadopsi model universitas riset dari Jerman.

Jadi, efek lingkungan institusional perlu dipertimbangkan di sini. Mengabaikannya dapat berarti kegagalan memahami konteks aktual, demikian juga rekomendasinya.

Otonomi Universitas
Salah satu problematika serius di dalam institusi pendidikan tinggi di Indonesia adalah mengakar dan kakunya logika sentralisasi kebijakan yang relatif tinggi di tangan pemerintah.

Sentralisasi kebijakan cenderung berorientasi penyeragaman yang lazimnya ditempuh melalui tatanan regulasi yang berkekuatan koersif. Dalam kondisi demikian, tekanan justru akan diberikan terhadap pelaku yang menghendaki kelenturan atau hendak keluar dari kekakuan standards. Tekanan seperti itu tidak selalu datang langsung dari pemerintah, tetapi juga dari sesama aktor perguruan tinggi yang cenderung menekankan syarat konformitas pada regulasi.

Kungkungan logika regulatif yang kaku dan dominan akan bersifat vis a vis gerakan inovasi dan kreativitas pada level perguruan tinggi.

Kondisi demikian karenanya justru terbalik dari rekomendasi Pedju. Pemerintah sebagai salah satu unsur institusi pendidikan tinggi justru ibarat tutup botol yang harus dibuka terlebih dahulu sehingga isi di dalam botol bisa bergerak atau digerakkan.

Kreativitas dan inovasi universitas hanya mungkin muncul bila otonomi universitas benar-benar dijamin dan menjadi logika dominan dalam institusi pendidikan tinggi Indonesia. Karena itu, berbagai kelonggaran perlu diberikan untuk mendorong inovasi dan kreativitas di level universitas, misalnya dalam hal kurikulum, standard kesarjanaan, dan manajemen universitas, termasuk cara pengorganisasian kalender akademik. Altbach dkk. (2005) berbicara tentang otonomi substantif dan procedural pada universitas dan kebebasan akademik pada dosen.

Memang di sisi lain, pemerintah perlu memantapkan kerangka pengawasan mutu pendidikan. Ini telah terakomodasi dalam sistem akreditasi perguruan tinggi sehingga yang diperlukan lebih pada memantapkan kredibilitas sistem ini.

Di samping itu, akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan tinggi memerlukan mekanisme pengendalian oleh publik. Dengan begitu institusi pendidikan tinggi tidak hanya bertumpu pada universitas dan pemerintah. Aktor-aktor berkepentingan lain pun perlu diakomodasi kepentingannya.

Otonomi yang akuntabel itulah yang diharapkan terjadi. Ruang gerak yang lebih leluasa dapat menghindarkan pendidikan tinggi Indonesia dari jebakan a losers’ game (Frensidy, 2007). Kebebasan akademik yang ditantang dengan upaya peningkatan mutu secara berkelanjutanlah yang akan memunculkan inovasi yang sesungguhnya dari universitas.

Namun, kebebasan tidak datang dengan sendirinya. Otonomi universitas perlu dilembagakan.

Neil Rupidara
Dosen Universitas Kristen Satya Wacana, Mahasiswa PhD. Universitas Macquarie.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: