Posted by: nsrupidara | May 5, 2010

Satya Wacana Menuju 3GU?

Pendahahuluan
Pertanyaan kunci yang diajukan di sini adalah, mau ke arah mana sebuah universitas bergerak? Apakah pilihan sebuah universitas bersifat independen dan bisa terlepas dari pola gerak institusi universitas atau pendidikan tinggi secara universal sebagai sebuah institusi raksasa? Jikapun sulit melepaskan diri dari pola institusionalnya, global, regional, nasional, atau apapun, bagaimana memungkinkan pilihan-pilihan lokal/konstekstual sebuah universitas masih menyisakan kebebasan interpretasi yang termanifestasi ke dalam tindakan yang boleh dikata masih bersifat entrepreneurial atau memiliki unsur kebaruan dan secara khusus menjawab tantangan-tantangan khas yang dihadapinya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemungkinan besar tidak akan tuntas terjawab dalam tulisan ini. Di samping banyak hal sulit diurai dalam mega-kompleks-nya konteks perkembangan pendidikan tinggi dunia, membawa konteks yang rumit itu ke dalam sejarah sebuah universitas pun tentu tidak mudah. Sejarah pun belum selesai dan barangkali tidak akan selesai, paling tidak terkait masa hidup kita yang terbatas, dibanding rentang bergeraknya waktu yang berada di luar kuasa kita. Namun, sedapat mungkin, sejauh pergerakan sejarah masih bisa dicover, tulisan ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, pada konteks Satya Wacana, itupun secara terbatas, sejauh daya jangkau pikiran penulis saat menuliskan teks ini, juga terutama terkait apa yang masih bisa direcall.

Untuk itu, tulisan ini disusun dengan pertama menyajikan sejarah perkembangan universitas, di dunia maupun di Indonesia, termasuk perkembangan di fase universitas riset (2G) dan fase komersialisasi aset pengetahuan (3G). Konteks spesifik di UKSW kemudian dipaparkan. Lalu, masalah memutuskan diposisikan, dalam format catatan reflektif untuk diputuskan oleh siapapun yang berkepentingan, seluruh elemen stakeholders UKSW.

Tulisan ini pada dasarnya merangkum kembali beberapa postings pemikiran penulis dalam diskusi-diskusi di milis Ikasatya (ikasatya_nasional@yahoogroups.com) serta beberapa catatan tambahan dari pembelajaran yang terus dilakukan.

Sejarah universitas
Universitas di dunia sudah berusia tua, kira-kira 3500 tahun (Patterson 1997). Merujuk Fletcher, Patterson mengatakan bahwa kira-kira tahun 1500 sebelum masehi (b.c.e = before common era), komunitas tradisi Hindu telah melakukan aktivitas pendidikan sejenis pendidikan tinggi. Mereka melakukan retreat ke hutan Ashrams untuk berkontemplasi dan mendiskusikan filsafat dan agama. Mereka inilah awal mula pendidikan di aras universitas. Di samping itu, pada waktu yang hampir sama, di China juga muncul pola pendidikan orang dewasa dalam kajian sastra, khususnya puisi China. Program ini dilakukan kepada calon pegawai negeri sipil. Merujuk Bowen dan juga Frost, Patterson juga mengatakan bahwa model pendidikan seperti itu juga tercatat dalam naskah-naskah Mesir dan Babel kuno.

Model tersebut tampaknya berlanjut dan masuk perkembangan baru di era Yunani kuno. Disebutkan Patterson bahwa pendidikan tinggi di Yunani kuno mulai secara efektif pada abat ke-5 sebelum masehi. Jadi, waktu berlalu sekitar 10 abad, atau 1000 tahun, sebelum di Athena, pelatihan intelektual gaya Yunani dimulai. Dalam pergerakan waktu itu, olah ilmu secara formal lebih merupakan privilege para imam, the priestly class. Namun, sejak Yunani, eksklusivitas pendidikan di tangan kaum agamawan mulai digugat. Pendidikan adalah urusan publik yang lebih luas, menuju pembentukan warga negara yang bertanggung jawab.

Di zaman itu, sejumlah model kelembagaan pendidikan tinggi muncul, model Academia-nya Plato, Lyceum (Aristoteles), sekolah kaum Stoics (Zeno) dan kaum Epicureans (Epicurus). Istilah universitas belum dikenal, namun karakteristik pendidikan tinggi sebagai sebuah komunitas guru dan murid (universitas magistrorum et scholarium, istilah yang baru dikenal di abad pertengahan) telah muncul di zaman ini. Pendidikan bertumpu pada pola-pola pengajaran kaum cendekiawan muda oleh para sophist. Ekselensi pendidikan di zaman itu diukur dari kemampuan guru dalam mengajarkan muridnya, yakni melalui cara penyampaian yang efektif. Guru yang baik, teachers of arrate, adalah seorang effective speaker (Patterson, p. 16), yang pandai berargumen, beretorika. Murid pun karenanya belajar ilmu retorika, di samping belajar mencintai kebijaksanaan hidup atau filsafat dan dasar-dasarnya. Namun, deviasi terhadap model dominan itu dimunculkan oleh Socrates, yang mengembangkan metode pengajaran melalui bertanya, sebuah metode dialektis.

Riset belum mendapatkan tempat penting, sekalipun dalam model Lyceum, disebutkan bahwa riset telah mulai diintegrasikan ke dalam pengajaran. Patterson menilai bahwa di samping melakukan tugas-tugas pengajaran, Aristoteles menjadikan Lyceum sebagai sebuah reaserch institution (p. 18). Observasi mulai diperkenalkan sebagai metode konstruksi pengetahuan. Model riset terus berkembang di zaman ini, terutama pada model Museum (the temple of the muses, Mesir), tempat pendidikan para peneliti dan ilmuwan, yang melahirkan ilmuwan seperti Euclid, Archimedes, dan Hero. Museum mulai memerkenalkan keberadaan dan pengelolaan perpustakaan berskala besar, sebagai bagian sentral dari kehidupan pendidikan tinggi. Ini tampaknya melandasi berkembangnya model perpustakaan modern.

Sekolah-sekolah kejuruan juga mulai muncul, seperti The Ephebia, sebuah sekolah (wajib) militer bagi kaum muda. Sekolah-sekolah kejuruan terus berkembang terutama di zaman kerajaan Romawi.

Sejak zaman ini pula, model suksesi kepemimpinan akademik dimulai. Dimulai dari Plato diikuti oleh Aristoteles dan seterusnya, regenerasi pemimpin akademik dilakukan, apakah ditunjuk oleh pendahulunya atau dipilih oleh komunitas sekolah. Pola ini yang kemudian menjadi mekanisme pewarisan atribut-atribut pendidikan tinggi sebagai sebuah institusi.

Model guru sebagai orator dan pendidikan yang berorientasi pengajaran terus memengaruhi pendidikan tinggi hingga awab pertengahan. Pada tahun 1100an, Pierre Abelard, “bapaknya” Univ. Paris (1200), sudah disebut sebagai the great orator dan caranya memberi kuliah menjadi model dominan bagi pengajaran di abad itu dan setelahnya. Model seperti ini rasanya masih membekas hingga saat ini. Bayangan orang ketika ditanya tentang pengajar yang bagus, satu di antaranya adalah model orator. Jadi, pengajaran ya tidak bergerak jauh dari sekedar kemampuan sang dosen “melontar peluru” pengetahuannya kepada siswa-siswanya. Konsepsi ini jelas tidak memadai, tidak mampu menjelaskan apa sesungguhnya pengajaran.

Namun, bergerak memasuki abad 19, perubahan orientasi beruniversitas makin kentara. Dimulai dari Humboldt University atau Univ. of Berlin sebagai universitas riset pertama di dunia yang ada sejak 1810, perubahan terjadi secara konsisten di Eropa. Model Humboldtian ini kemudian menyebar negara lain. Di Inggris, Bligh (1990) mencatat, sejak 1850an riset mulai mewarnai kehidupan perguruan tinggi. Model ini menggeser model bookish learning yang mengandalkan memorisasi ilmu pengetahuan yang dominan, termasuk di universitas elit seperti Oxford dan Cambridge. Model universitas riset secara perlahan tapi pasti lalu mendominasi wajah perguruan tinggi dan menempatkan universitas-universitas riset menjadi pemenang dalam “kompetisi” universitas terbaik dunia. Karena riset menjadi demikian penting, maka publish or perish, menjadi lazim di dengar. Ibarat kalau tidak melakukan riset, belumlah menjadi akademisi yang baik, itulah implikasinya pada karakteristik dosen, misalnya.

Di Amerika Serikat model universitas riset diadopsi pertama kali oleh Universitas Johns Hopkins pada 1876, walau kemudian berkembang menjadi varian baru karena bercampur dengan ciri-ciri institusi pendidikan tinggi Amerika yang cenderung desentralistik, dengan memberikan kewenangan ke tingkat negara bagian; pluralisme universitas dan iklim kompetisi antar universitsa, walau di sisi lain menunjukkan fenomena isomorfis atau kemiripan antar universitas; serta otonomi akademik di tangan universitas (Graham & Diamond, 1997). Namun, diketahui bahwa efek adopsi model universitas riset baru terasa pasca Perang Dunia Kedua, di mana lebih banyak universitas yang beralih menjadi lembaga yang aktif dalam kegiatan dan kinerja riset. Prof. Dick Scott dari Stanford, dalam percakapan pribadi dengannya, juga menyebut bahwa Stanford University juga baru mengalami perubahan signifikan di era pasca PD2.

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Di Indonesia, sejarah pendidikan tinggi dimulai sejak zaman kolonialisme Belanda, di mulai dari pendidikan tinggi kejuruan seperti sekolah tinggi kedokteran. Model universitas baru muncul setelah berdirinya Universitas Islam Indonesia (1948) dan Universitas Gadjah Mada (1949) (sumber: Wikipedia).

Tidak ada dokumen reliable yang dapat diakses (saat menulis) untuk menyimpulkan apa model dominan dalam pendidikan tinggi Indonesia di kala itu. Namun, pengajaran diduga adalah orientasi utamanya, mengingat sampai sekarang belum ada satu model universitas riset ala Indonesia pun yang berhasil, walaupun beberapa universitas negeri mulai menunjukkan prestasi yang signifikan, misalnya UI, UGM, dan ITB.

Juga, sekalipun telah lama mengakui riset sebagai bagian tridarma perguruan tinggi, riset tetap jadi aktivitas sekunder. Bahkan, ia bisa dikatakan terabaikan di banyak perguruan tinggi. Tidaklah heran jika kinerja dan kultur riset di perguruan tinggi Indonesia jauh tertinggal dibanding mitra-mitra asingnya.

Nah, kita bisa bayangkan universitas-universitas di Indonesia yang sejak berdiri (1948) sampai sekarang masih saja fokus di pendidikan dan pengajaran. Kita masih berkutat di kehebatan dosen untuk mengajar. Ada yang mengembangkan istilah edutainment, yang saya tidak paham kayak apa itu sebetulnya (barangkali mau adopsi para professional motivators yang “beratraksi” sedemikian ketika menjual pengetahuannya kepada audience mereka).

Perkembangan pasca dikotomi riset versus teaching
Belangangan, muncul trend lain di dunia pendidikan tinggi, terutama di AS, termasuk yang menggejala di universitas2 riset, yakni bagaimana membangun relasi yang solid antara riset dan teaching/learning, atau apa yang dikenal dengan research – teaching nexus. Di sebuah tulisan saya di buku yang diterbikan dalam rangka peringatan 70 tahun pak Willi Toisuta, saya merujuk bukunya Ernest Boyer, “Scholarship Reconsidered” yang di antaranya menjadi stimulan pemikiran ini. Konsep scholarship mulanya cenderung dipahami lebih kepada olah ilmu dalam perspektif riset, sebagai konsekuensi dominasi paradigma riset sejak Univ. Humboldt. Pada universitas2 yang sangat condong ke riset, teaching tampak menjadi anak tiri dan mahasiswa aras sarjana seolah menjadi korban. Lalu, ada juga muncul pertanyaan, apa sih kelebihan yang diterima mahasiswa yang datang belajar di universitas riset, dibanding yang liberal arts, misalnya, kalau pengajaran dan riset tidak saling kait? Di situlah, Boyer menawarkan paradigma baru terhadap dan sekaligus meredefinisi konsep scholarship dengan memasukkan 4 unsur: scholarship of discovery, scholarship of application, scholarship of teaching and learning, dan scholarship of integration. Dari gagasan Boyer ini lalu olah gagasan membangun research – teaching nexus berkembang di mana-mana, walau saya kira mungkin ide ini juga sudah tua (karena sejak Univ. Humboldt pun notionnya begitu, integrasi riset dan pengajaran), tetapi mungkin sebelumnya masih kurang diperlakukan seimbang. Setelah gagasan Boyer muncul, muncullah kemudian Komisi Boyer untuk mengelaborasi implikasi pemikiran Boyer dalam membangun research -teaching nexus. Komisi ini menghasilkan satu laporan yang kini menjadi pegangan banyak universitas dalam pengembangan model-model teaching yang menyatu dengan riset. Universitas Syracuse, misalnya salah satu yang menjadi model, menyebut pendekatannyan: student-centered research university.

Dua streams ini (riset dan teaching) cenderung tidak lagi didikotomikan dan kombinasi keduanya mendorong masing-masing sisi untuk mencapai kinerja yang lebih baik. Di Australia pun saya kira sekarang sedang berkembang upaya-upaya untuk menginstitusikan lebih luas praktik-praktik pengajaran berbasis riset di level undergraduate, paling tidak saran untuk itu sempat terlontar dalam sebuah pertemuan bertema itu di Learning and Teaching Week di Macquarie yang dihadiri oleh dosen-dosen dari universitas2 di wilayah New South Wales dan Australian Capital Territory. Pertemuan yang sama akan terjadi di states lain di Australia.

Nah, perkembangan-perkembangan ini harus juga kita tempatkan dalam konteks kemajuan teknologi, di antaranya aplikasi2 teknologi internet yang menopang teaching/learning dan riset. MIT OpenCourceWare barangkali adalah satu bentuk model terhebat yang saya pahami sejauh ini. Bayangkan orang bisa melakukan sejumlah percobaan fisika lewat internet. Saking menakjubkannya model MIT ini, tahun lalu waktu menghadiri Workshop Open Education di Macquarie, seorang dosen (saya lupa dari univ. mana) mengatakan bahwa, “Mari kita buat “MIT” di Australia”, karena kebetulan salah satu tokoh yang mendesain model MIT itu saat ini adalah pengajar di salah uni di Australia.

Integrasi teknologi (dunia aplikasi) pun tampaknya kini telah membawa satu sub-stream baru lagi dalam perkembangan universitas. Kini dikenal sebuah istilah, “Third Generation University” (3GU) (Wissema, 2009). Kalau model Univ. Paris yang berbasis pendidikan/pengajaran adalah generasi pertama, lalu model Univ. Humboldt adalah generasi kedua, maka kini model3 generasi ke-3 sedang berkembang di universitas2 elit dunia, di antaranya MIT, Stanford, Harvard, Cambridge. Konon cerita ITB sedang bergerak di jalur ini.

Untuk sisi universitas riset varian baru ini saya barangkali memandangnya relevan dengan model scholarship of application (nya Boyer). Ambil contoh Macquarie University di Sydney. Dari antara riset-riset di Macquarie, ada yang hasilnya kemudian berbuah terbentuknya perusahaan-perusahaan, terutama di sektor IT, terkait komersialisasi hak patent dari temuan-temuan mereka itu. Well, bukan saja komersialisasi dari hak intelektual semata (model proses atau produk dijual kepemilikannya), tetapi universitas telah menghasilkan perusahaan-perusahaan dan kemudian menjualnya ke pelaku2 industri. Terbayangkankah kita bahwa perguruan tinggi menghasilkan perusahaan dan menjual perusahaan? Dan, Macquarie pun ditetanggai oleh cukup banyak perusahaan, terutama di bidang IT dan farmasi. Lokasi ini dikenal sebagai Sillicon Gully atau nama publiknya Macquarie Park. Macquarie Uni sendiri punya research park yang disewakan sebagai tempat operasi sejumlah perusahaan. Model ini bisa dibandingkan dengan model Sillicon Valley di negara bagian California, AS. Universitas-universitas di sana, disekitari oleh perusahaan2 hi-tech dan jasa terkait dan menjadikannya menjadi pusat pertumbuhan dan sumber gagasan penting dalam industri maupun pendidikan. Saya tidak banyak mencari info sewaktu di Stanford, namun di sekitar Stanford juga berlokasi banyak perusahaan. Juga, bersama pemerintah/dept pertahanan AS, Stanford punya misalnya pusat/laboratorium riset akselerasi linier untuk menghasilkan energi (SLAC) yang tentu sangat signifikan kontribusinya bagi kepentingan negara. Dan, saya yakin ada cukup banyak pusat riset di berbagai bidang ilmu yang menghasilkan hal-hal berharga seperti itu. Jadi, sejumlah universitas elit telah sampai pada riset-riset aplikatif dengan komersialisasi pengetahuan yang luar biasa.

Pilihan Satya Wacana
Hal utama dari posting kemarin adalah soal redefinisi “bisnis”nya UKSW: hanya pendidikan, pendidikan + riset, atau keduanya plus “komersialisasi” pengetahuan lebih jauh. Proses ini tidak akan mudah, karena menyangkut perubahan paradigma, sesuatu yang seringkali tidak sadar menguasai cara pikir dan tindakan kita, apalagi membayangkan pewarnaan lembaga pendidikan dengan gincu komersialisasi, banyak yang alergi, gampang diprotes. Namun, ini bukan gagasan komersialisasi pendidikan secara tradisional, yakni menunggangi mahasiswa/orang tuanya sebagai kuda beban finansialnya UKSW. Istilah bung Jubhar Mangimbulude, itu sama dengan memancing di dalam acquarium. Komersialisasi intellectual assets itu yang perlu jadi pilihan (3rd Generation Universities/3GUs), yang bahkan dapat menjadi salah satu jalan keluar dari masalah/debat klasik mutu tinggi = biaya mahal.

Jika kita cermati evolusi organisasi dan services di UKSW, bagi saya, sudah ada sinyal-sinyal kita mulai akrab dan masuk ke fase ke-3 (3GUs, Wissema 2009), tetapi strategi organisasi belum secara tersurat mulai diarahkan ke sana. Ambil contoh, Cemsed di lingkungan FE yang di samping sebagai “mesin” aplikasi dan generating ilmu pengetahuan di sektor pengembangan UMKM, juga mampu hidup mandiri dan membiayai hidup orang lain. Bistek di FTI yang dirintis Mr. Tambs pun saya lihat ada pada track ini. Belakangan, Biro Kewirausahaan di aras universitas membentuk Satya Wacana Consulting (atau apa pun namanya), walau saya tidak jelas konsep pikir di unit ini. Ada juga Pusat Studi Gandum di FP yang mampu generate dana yang tidak kecil, sambil menunjukkan leading role UKSW si sektor perganduman. Secara potensial, pusat2 atau aktivitas2 applied research di sektor sciences pun merupakan energi besar.

Sebetulnya, sudah lama kita punya unit-unit semisal UPPW dan UPKM di FE atau UPPBH di FH atau lainnya. Ini adalah model-model awal dari pengembangan sektor riset dan aplikasi di UKSW. Namun, ketika kita tanya bagaimana sayap-sayap akademik teaching – riset – aplikasi ini saling me-reinforce satu sama lain, mungkin kita masih akan garuk-garuk kepala, sekalipun unit2 seperti itu masih hidup. Padahal, ide segitiga akademik ini pun bukan ide baru sama sekali. Pak Willi paling getol bicarakan itu, paling tidak saya dengar sejak saya bermahasiswa di UKSW. Upaya untuk mendorong revitalisasi atau reinventing organisasi2 itu tidak mudah. Tahun 2005 saya pernah melontar gagasan agar unit2 tua di FE itu dilikuidasi dan diganti oleh pusat-pusat riset baru. Bagi saya, organisasi2 itu bukan tidak penting, tetapi mereka hidup dengan dibimbing logika2 yang telah melahirkan dan membesarkannya. Upaya untuk meremajakan tentu bisa ditempuh, namun tidak jarang jatuh karena kelembaman institusi. Karena itu, dengan nakal saya mengusulkan menghapuskan lembaga2 itu dan mengganti yang baru. Shock, itulah yang sempat terjadi. Ada upaya untuk merubah wajah, namun tetap belum optimal. Nah, ini contoh tidak mudahnya ganti paradigma.

Namun, terkait move ke 3GU, pertanyaan bagi UKSW tampaknya harus ditujukan pada bagaimana orientasi dan rancangan pengembangan pada ketiga dimensi akademik itu: teaching – research – services, di samping menyoal links di antara ketiganya. Ambil contoh, jika paradigma di sektor teaching masih yang lama, yakni dosen sebagai yang ekspert lah yang dominan mendrive knowledge constructions mahasiswa, maka kemungkinan untuk berbenturan dengan sektor riset dan services bisa terjadi. Kog bisa? Ya, dengan load mengajar yang tergolong tinggi (tanpa strategi teaching yang tepat untuk karakter universitas riset), maka load kerja dosen akan bertumpuk ketika tuntutan kinerja riset (dan services) meningkat. Memang kondisi ini bisa mendorong terjadi pembedaan peran-peran akademik yang menuntut penambahan jumlah staff. Namun, sampai seberapa jauh kita akan mampu “membengkakkan” diri? Kalau saya sih pikir upsizing diperlukan di UKSW karena kalau tidak akan terjadi pressures yang tinggi dan mentalitas yang muncul ya “either or”. Oleh karena itu, pertanyaan pada ke mana arah sektor teaching yang paling tua itu mau dibawa, sambil bertanya bagaimana sektor riset dan services berbasis asset pengetahuan dikembangkan, saya ajukan.

Perkembangan varian2 universitas riset hingga masuk fase 3GUs di barat di antaranya distimulasi oleh tekanan finansial, baik untuk memenuhi kebutuhan2 umum operasi universitas (kasus Univ. Syracuse), maupun khususnya membiayai riset-riset fundamental yang berbunyi uang yang tidak kecil. Pemerintah (misalnya di AS) tidak sanggup juga untuk menggelontorkan grants tanpa batas ke universitas, di sisi lain menaikkan biaya pendidikan akan membawa efek mahalnya biaya pendidikan (padahal di sejumlah negara, pendidikan tinggi tidak memungut biaya, ataupun diupayakan tetap memungkinkan pemenuhan tuntutan equity, pada pendidikan yang berkualitas). Jadi, saya komersialisasi intellectual assets universitas-lah jalan keluarnya. Saya kira, ini berbunyi juga ketika lingkungan bisnis dan ekonomi di luaran sana juga membutuhkan back-up pengetahuan/riset yang besar, knowledge-based economy sehingga gandengan tangan industri – universitas tidak terhindarkan. Bahkan, kasus2 universitas melahirkan bisnis/perusahaan, seperti cerita saya di Macquarie, pun menjadi hal yang lumrah. Kemarin saya katakan saya tidak dapat keterangan banyak sewaktu di Stanford, tetapi kalau kita sekedar memertimbangkan berkembangnya Silicon Valley, tentu logis melihat itu dalam kacamata dukungan besar Stanford terhada industri hi-tech di Silicon Valley, termasuk munculnya perusahaan2 baru sebagai konsekuensi pengelolaan intellectual property rights hasil riset dalam kampus. Di bukunya, Wissema menggambarkan bahwa universitas2 besar yang disebut namanya sedang jadi leading model untuk 3GUs (seperti MIT, Stanford, Harvard, Cambridge, Leuven), semua telah menghasilkan wilayah2 industri di sekitar universitas atau bisa kita sebut research-park. Sewaktu di Groningen, kami juga pernah dikuliahi oleh seorang manajer research-park-nya Groningen. Di Macquarie, di samping research-park milik Macquarie sendiri yang dikelola oleh sebuah perusahaan milik Macquarie (Access Macquarie), di wilayah sekitar kampus perusahaan-perusahaan high-tech pun bertebaran. Wilayah ini lazim disebut Silicon Gully atau umum mengenalnya Macquarie Park. Well, kita bisa tambah model universitas manapun di sini, tetapi inilah salah satu bentuk masa depan universitas yang perlu kita pikirkan.

Karena terinspirasi model2 seperti itu, dalam percakapan informal dengan dengan Tambs dulu, saya pernah tanya ide pengembangan kluster industri IT yang barangkali dipikirkan oleh Tambs sebagai motor Bistek dan FTI pada umumnya. Ketika itu Bistek pernah mendapat topangan dana untuk membantu mahasiswa mengembangkan (kalau tidak salah) 10 IT projects. Saya pikir, well, ini bakalan jadi perusahaan2 kecil awal yang sangat mudah diprediksi bakal bertebaran kalau path itu diteruskan. Di samping itu, membayangkan model organisasi orbit benda2 ruang angkasa, ya perusahaan2 kecil yang dibentuk ini akan bertumbuh baik ketika masih “diikat” oleh gaya gravitasi di seputar induknya, yakni Bistek atau UKSW. Karena itu, sebuah wilayah industri baru akan diperlukan, di sekitar UKSW. Nah, ketika mendengar Pemkot Salatiga sedang mengusulkan rancangan pembuatan sebuah lokasi wisata religius di Bugel, saya lalu terpikir mengapa ini pemkot Salatiga ini pikirnya nggak nyambung dengan core asset besar di Satya Wacana? Memang, keragaman etnik (dan agama) juga ciri Satya Wacana dan Satya Wacana toh bercita-cita menjadi model masyarakat demokratis, namun gagasan industri wisata religi di Salatiga tergolong jauh dari “magma” raksasa di UKSW, asset pengetahuannya. Di luar itu, toh sudah ada lokasi wisata religi di Ambarawa, misalnya, mengapa mengopi hal yang sama. Kalau kita bertanya dari sudut UKSW, apa sih yang bisa dikontribusikan UKSW pada perekonomian Salatiga, Jawa Tengah, Indondesia ke depan? Jika itu mau dijawab ya sudah semestinya yang diperhatikan adalah asset pengetahuan yang begitu besar di UKSW. Itu ibarat magma yang kalau matang dikelola ya akan muntah ke luar jadi lava yang menyuburkan. Namun, tentu saja ini baru terjadi jika UKSW menyoal dengan benar kompetensi inti dan bisnis intinya, melintasi batas2 bisnis tradisionalnya.

Pertanyaannya, kalau model seperti itu mau kita coba tekuni dan adopsi, lalu di mana pintu2 penting untuk masuk ke sana? Bagi saya, pertama, pengelolaan SDM utama yakni dosen, karena asset pengetahuan berpusat pada para dosen, aktivitas2 dan karya2 mereka. Karena itu, kita tentu harus membayangkan model karakter dan kinerja dosen macam apa yang eksis di UKSW. Dengan begitu, mulai dari memilih, menempatkan (dalam skenario minat pengetahuan), mengimbali (secara cukup supaya tidak pergi cari “makanan” di luar), menilai (mana riset?, evaluasi pengajaran, dan aspek2 lain), serta mengembangkan (sesuai minat, fasilitasi akses pada aktivitas2 dan sumber2 pembiayaan ke manapun, plus pengembangan karakter sebagai orang UKSW), strategi2 itu harus terkait dengan rancangan model universitas yang akan dipilih UKSW. Bagi saya dosen adalah titik fokus karena ini akan terkait juga dengan perubahan paradigma berorganisasi yang bagi saya cukup radikal, walau itulah ciri pendidikan tinggi. Jika organisasi lazimnya adalah dilihat dalam bentuk piramida, dengan pemegang kuasa adalah orang yang duduk di titik tertinggi, presdir kah, rektor kah kalau di universitas, maka dalam kacamata organisasi akademik, kuasa harus ada justru di titik bawah, para dosen, individual atau group. Jadi, piramida organisasi kita balik atau piramida terbalik. Ini juga bukan ide baru, sejumlah ahli organisasi/manajemen sudah ngomong itu, dan saya juga sudah dengar ini dari pak Willi, lupa kapan. Saya teringat pandangan Charles Handy, bahwa pemilik perusahaan itu ya harusnya karyawan, bukan pemilik modal. Saya selalu berargumen, mereka yang bekerja dalam perusahaan itu, sekalipun cuma 8 jam (ambil normatif), adalah pemilik karena hari-harinya yang dipikirkannya ya hidup/matinya perusahaan. Mereka-lah yang “banting-tulang” untuk eksistensi perusahaan. Tentu pandangan ini harus ditempatkan pada konteks pengelolaan SDM yang baik/benar. Ya kalau asal ada pekerja, asal dibayar, dikembangkan ya kalau ada perlu saja, ya logika di atas tadi bisa mengalami distorsi luar biasa. Walaupun saya tetap mau menempatkan diri berpikir bahwa karyawan adalah pemilik dan berhak juga ikut menentukan keputusan-keputusan penting, namun hasil2nya akan terancam terganggu kalau filosofi dan atribut2 manajemen SDMnya amburadul.

Karena universitas adalah komunitas, bukan kumpulan individu2 yang terisolasi, maka syarat kedua untuk masuk ke fase/model universitas 3GUs adalah desain organisasi yang memungkinkan ruang-gerak individu memadai atau terfasilitasi untuk maksud2 pengembangan. Ambil contoh nyata yang sebaliknya dari apa yang diharapkan, berapa banyak mekanisme sharing pengetahuan ada di UKSW? Mekanisme sharing keputusan2 organisasi yang seringkali dianggap penting karena formal, menyangkut banyak orang, itupun tersendat-sendat. Siapakah yang tahu pemikiran2 strategis di UKSW? Paling segelintir elit yang ada di Senat. Para Dekan tidak share dengan baik ke fakultasnya, walau kehadirannya di Senat atas nama dan mewakili fakultasnya. Ada juga wakil-wakil dosen yang dipilih dari antara kumpulan dosen, tetapi tidak ada mekanisme hubungan komunikasi antara si wakil dan kumpulan yang diwakilinya. Saya ingat bung Theo pernah mencoba berkomunikasi dulu, di luar itu hampir tidak ada. Jangankan mekanisme komunikasi seperti itu, rapat Senat pun pernah “terbata-bata”. Kalau rapat-rapat sebagai bagian dari yang rutin (routines as organisational DNA) putus atau tersendat-sendat, kita bisa bayangkan itu sama dengan ada otak, tetapi sel-sel dalam otak kita tidak konek satu dengan yang lain. Pelupa? Masih baik. Bagaimana kalau institutional memory-nya hancur total?

Jadi, ada banyak tatanan organisasi, routines, yang perlu dibangun dan dilancarkan, supaya informasi/pengetahuan mengalir lancar dalam boundaries UKSW, maupun keluar/masuk UKSW dalam interaksinya dengan lingkungan luar. Ibarat darah yang dipompa dan mengalir lancar, maka hiduplah kita. Kalau tidak lancar, ya penyakit A, B, C, macam2 bisa datang. Dan, kalau akut, ya siap koit kan, dimakan dari dalam, dihantam dari luar, persaingan yang akan makin ketat.

Satu pemikiran lain, jika UKSW berani jumpalitan, perkuat para Kaprogdi. Kewenangan dan tanggung jawab utama ada pada mereka, mendekati pusat power sesungguhnya, para dosen. Jangan lagi para Kaprobdi berada di bayang-bayang para Dekan dan pembantunya (apalagi di fakultas dengan 1 progdi sering terjadi dualisme kekuasaan akademik). Dengan mengatakan itu, saya membayangkan hilangnya jabatan2 para Dekan, paling tidak ya tidak sebanyak jumlah sekarang. Gagasan tempo hari untuk gabungkan fakultas-fakultas itu barangkali baik untuk dipikirkan dieksekusi. Para dekan ini hanya untuk menjalankan fungsi koordinasi dan fasilitasi, fungsi2 manajemen akademik utama sudah bergeser kepada para Kaprogdi dan barangkali akan mendorong terbentuknya stuktur pendukung di bawahnya untuk mendorong kinerja akademik para dosen di berbagai front: teaching, riset, dan aplikasi/services. Mungkin gagasan ini perlu dilakukan bertahap. Dicanangkan dulu, supaya ada persiapan-persiapan yang cukup ke arah implementasi pengambil alihan peran utama oleh para Kaprogdi. Ini tentu akan berimplikasi jauh pada eksistensi kelembagaan2 di UKSW, misalnya Senat yang beranggotakan para Dekan. Implikasi2 seperti ini perlu diantisipasi dan dirancang tindakan2 penyesuaiannya.

Dalam kacamata organisasi piramida terbalik, maka fungsi-2 manajemen akademik pun akan bergeser ke sana. Perencana dan pengeksekusi kegiatan akademik sebetulnya ada pada para dosen, sebagai individu atau group. Dalam konteks ini, para kaprogdi lebih memainkan fungsi leadership dan kontrol, termasuk alokasi resources yang bersifat memfasilitasi para dosen berkinerja sebaik2nya. Dengan begitu, para dosen-lah yang tiap tahun merencanakan misalnya apa penelitian, kapan meneliti, menyusun rencana detail, menargetkan hasil apa, berapa banyak. Kaprogdi (dan struktur pendukung) akan back up dan kontrol di sektor riset/services. Namun, untuk sektor pendidikan, peran Kaprogdi tentu masih akan dominan, untuk memikirkan kurikulum (via komite), alokasi pengajaran, dsb. Namun, dalam konteks pengembangan olah pedagogi, saya sempat mengusulkan untuk adanya lembaga seperti PPSP atau sekarang saya lebih suka menyebut Learning and Teaching Centre untuk mem-back up para dosen sebagai pelaksana kegiatan pengajaran. Kalau sektor teknologi pengajaran mau dipisah dari LTC, boleh-boleh saja, namun bisa disatukan,

Nah, memusatkan pada aktivitas akademik para dosen inilah terkait dengan statement saya kemarin bahwa sistem mutu kita harus berpusat ke situ dulu, bukan pada manajemen proses2 administrasinya. Rapi sistem administrasinya belum akan membantu baik pada isu2 akademik secara substansial.

OK, sementara ini dulu. Satu catatan, saya terbuka terhadap opini berbeda, untuk mengarahkan diskusi pada memersoalkan basis-basis argumen dari suatu pemikiran. Menurut saya, itulah yang bisa membuat kita makin menajamkan pokok2 diskusi. Semoga sidang pembaca merupakan komunitas yang menurut saya sudah melampaui level untuk sekedar saling konfirmasi, tetapi juga bukan sekedar asal “berkelahi” kalau mau mendebat. Diskusi ini kan diharapkan bisa memunculkan sesuatu yang berguna bagi UKSW, atau bagi siapapun yang memanfaatkannya. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: