Posted by: nsrupidara | May 5, 2010

Ke Santa Fe dan Stanford – Bagian 2 – Habis

Presentasi paper dan akhir konferensi
Presentasi paper jatuh pada Selasa, 23 Juni 2009 dan paper saya ditempatkan pada kelompok sub-tema HRM dan Social Political Environment, sebuah pengelompokan yang menurut saya kurang lazim dalam komunitas HRM serta kurang pas untuk paper saya. Jika itu terjadi di group seperti EGOS, European Group of Organization Studies, itu sudah jadi “makanan harian”. Dan, memang benar, presentasi-presentasi paper di kelompok ini tidak terlalu mengundang peminat. Hanya sedikit orang yang menghadiri sesi presentasi kami yang terdiri dari 3 papers dengan fokus yang berbeda. Satu presentasi di seputar tema psikologi dan HRM, satu lagi HRM dalam konteks humanitarian aid, dan paper saya yang terakhir. Saya sih lebih prefer paper saya masuk kelompok yang sama dengan 3 papers terkait yang digolongkan ke dalam kelompok HRM and Institutional Environment, pada hari sebelumnya. Terlepas dari itu, thanks to Prof. Phil Benson and his team, organiser the 10th IHRM Conference yang sudah memberi kesempatan bagi saya presentasi di forum ini, menyosialisasikan ide sekaligus mendapat masukan dan memerluas jaringan.

Konferensi berakhir pada esok harinya, yang paginya didahului oleh presentasi oleh Prof. Simcha Ronen dari Tel Aviv University, Israel. Ronen adalah seorang peneliti manajemen cross-cultural dan bersama rekannya telah memodelkan clustering budaya nasional negara-negara. Dan, presentasinya kali ini juga menyangkut hal yang sama, peninjauan kembali cultural clusters itu berdasarkan hasil analisis meta atas hasil-hasil riset sejak hasil penelitian Ronen dan rekan keluar di tahun 1985. Menurut Ronen, hasil kajian yang terakhir ini menunjukkan konsistensi dari hasil penelitian yang lama, walaupun menunjukkan terjadi sejumlah kecil adjustments. Prinsipnya, dalam urusan kebiasaan manajemen, efek globalisasi masih terkendala oleh banyak faktor seperti budaya.

Kesan utama saya dengan forum konferensi seperti ini adalah bahwa rekan-rekan akademisi ini adalah orang-orang penuh komitmen keilmuan yang luar biasa. Setiap tahun, dari satu konferensi ke konferensi lain, mereka hadir dan menyajikan papers mereka. Bahkan, ada yang untuk satu konferensi saja bisa menyajikan 2 hingga 3 papers. Dan, lazimnya mereka mengikuti setidaknya 2 konferensi dalam setahun. Jadi, saya kagum atas produktivitas ilmiah mereka. Orang sesenior Simcha Ronen, misalnya, toh masih tetap meneliti dan memiliki ketajaman analisis yang tinggi. Karena itu, berada dan mengambil bagian dalam komunitas seperti ini selalu menjadi suatu yang membanggakan dan berharga bagi dan untuk saya. Ini sebuah kemewahan yang bisa dikecap orang biasa seperti saya.

Setelah penutupan konferensi di siang itu, saya sempatkan diri jalan-jalan keliling kota Santa Fe yang tidak seberapa besar itu, termasuk mengunjungi penginapan seorang teman dari AIM India, Rajiv Khumar, yang mau meminjamkan kabel transfer data dari kamera ke laptop. Saya berjalan kaki, sambil mengambil gambar pada beberapa lokasi yang menurut saya perlu diabadikan. Santa Fe adalah kota tua yang memiliki beberapa gedung bersejarah. Hari sudah sore ketika saya tiba di hotel dan saya pulang dengan membawa makan malam sehingga tidak perlu keluar lagi mencari makan malam. Oya, malam sebelumnya saya sempat menikmat makan malam lezat di sebuah restoran kecil dan itu membuktikan pernyataan beberapa teman sewaktu di Sydney bahwa yang menarik di Santa Fe salah satunya adalah the food.

Besok pagi bangun saya merapikan pakaian dan barang bawaan, siap untuk meninggalkan Santa Fe. Saya menyempatkan sarapan dulu di cafe hotel sebelum akhirnya check out. Saya memutuskan untuk berjalan kaki perlahan-lahan ke Santa Fe Depot, stasiun kereta. Saya sempat singgah membelikan boneka kecil berbentuk anak Indian untuk Nike di sebuah toko souvenir di tengah kota. Saya jalan pelan-pelan saja karena masih punya waktu, sambil melihat bagian-bagian Santa Fe yang saya lewati.

Di Santa Fe Depot, saya tunggu keretanya lumayan lama. Saya agak “alergi” dengan ketinggalan kendaraan/kereta, jadi selalu berusaha untuk tiba jauh sebelum waktu pemberangkatan kereta. Beberapa kali saya keluar masuk toko kecil di stasiun hanya untuk lihat-lihat barang-barang jualannya atau membeli air minum atau jus. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya the Railrunner datang juga dan siap diberangkatkan kembali dan sayapun, bersama penumpang lainnya, naik.

Perjalanan dari Santa Fe ke Albuquerque kali ini memberikan saya pemandangan yang lebih baik karena terjadi di siang hari. Saya bisa melihat model bangunan atau rumah-rumah di Santa Fe yang unik-unik, seperti kotak dari tanah liat. Juga, bisa melihat padang kering yang terbentang luas, menunjukkan keras-nya alam. Kereta juga melewati perkampungan suku Indian tertentu yang memberi kesan kepada saya bahwa kelompok masyarakat ini pun belum benar-benar menikmati kemewahan Amerika. Atau, barangkali itu cara menghormati cara mereka hidup sebagai komunitas? Namun, saya tidak mengambil gambar di lokasi pemukiman Indian, mengingat pesan si masinis sewaktu datang ke Santa Fe.

Perjalanan ke San Francisco: Satu Lagi Tensi dalam Perjalanan
Setiba the Railrunner di stasiun downtown Albuquerque, saya sebetulnya bermaksud berputar-putar dulu di sekitaran stasiun, sambil cari makan sian. Namun karena memertimbangkan akan berat membawa koper plus ransel ke sana ke mari, saya akhirnya putuskan untuk langsung saja ambil bis ke airport. Makan siang bisa saya cari di salah satu cafe di airport Albuquerque.

Perjalanan dengan bis kembali melewati kampus New Mexico State University. Beberapa penumpang yang join di tengah jalan berpenampilan seperti gelandangan, dan bahkan berperilaku aneh selama di bis. Aneh-aneh saja. Albuquerque karena itu terkesan tidak cukup ramah alias sedikit mengkhawatirkan bagi orang asing. Anyway, saya tetap saja menikmati perjalanan itu dan tiba di airport dengan selamat.

Begitu tiba, saya langsung naik ke lantai berikutnya dan mencari counter United Airways untuk check-in. Namun, oleh petugasnya, saya disuruh check-in sendiri di mesin yang tersedia. Walah, gaptek begini disuruh main-main dengan mesin canggih. Namun, mesin itu cukup user-friendly jadi saya tidak mengalami kesulitan melakukannya. Saya akan menempuh perjalanan dari Albuquerque ke San Franscisco, sebuah penerbangan malam hari. Saya perkirakan waktu itu saya harus tiba di San Franscisco International Airport (SFO) jam 9an malam dan pindah ke train dari SFO ke Millbrae, lalu dari Millbrae ambil CalTrain ke Palo Alto, lalu ganti kendaraan ke Stanford Guest House (SGH). Tadinya saya pikir dekat, sehingga saya mau jalan kaki saja. Namun, kata pegawai SGH, kalau jalan bisa 1 jam, artinya tidak mungkin, apalagi di malam hari. Karena itu, dari Sydney saya sudah kontak orang SGH, bahwa karena tiba malam, saya mungkin butuh bantuan penjemputan. Mereka bilang, begitu tiba, nanti telpon saja baru dijemput. Jadi, perjanjiannya begitu, saya tiba di stasiun Palo Alto, saya call mereka, saya dijemput. Cukup aman.

Selepas check-in, saya cari sebuah cafe, pesan makan siang saya dan melahapnya segera. Sambil lunch, saya baca-baca buku yang saya bawa. Habis itu, saya sempat melihat-lihat sekitar airport. Rupanya airport Albuquerque ini terletak pada suatu dataran di atas bukit yang luas. Jadi, ibarat posisinya adalah dalam kawah satu gunung besar. Nun jauh mata memandang adalah punggung gunung terentang membentuk barisan mengelilingi salah satu sisi pandang dari dalam airport. Kombinasi hamparan luas wilayah airport dan sekitarnya, gunung, awan, sinar matahari dan langit membuat pemandangan di airport ini menjadi sangat menawan. Di sore hari, ketika langit berubah mendung dan mulai sedikit gerimis, efek sinar matahari dalam kondisi seperti itu memunculkan busur pelangi yang cukup tegas turun ke kaki langit, ke tanah. Teringat saya cerita peri-peri turun ke bumi berkendaraan pelangi dalam hikayat Jaka Tarub. Menakjubkan.

Namun, makin sore, langit kok bergerak hitam kelam, bukan sekedar tibanya malam. Hujan pun menderas. Itu tanda cuaca bergerak tidak bersahabat dan itu kadang bisa mengganggu penerbangan. Namun, di Albuquerque kondisinya tidak terlalu jelek. Penerbangan-penerbangan tetap saja lancar. Satu dua rombongan penumpang bergerak naik pesawat. Seorang rekan peserta IHRM Conference dari Uni Newcastle saya lihat ada di antara penumpang yang siap berangkat. Rupanya dia naik pesawat jalur Los Angeles dan pesawatnya berangkat pada jadwalnya. Namun, pesawat kami yang menuju ke SFO diumumkan ditunda. Katanya, cuaca di Denver (tempat singgah pesawat itu) sangat buruk, pesawat belum diizinkan terbang pada jadwal terbangnya. Jadi, pesawat akan telat tiba di Albuquerque, artinya akan telat pula penerbangan kami ke SFO, artinya akan telat pula jadwal perjalanan saya ke Palo Alto, termasuk ke SGH. Saya mulai khawatir dengan ketidakpastian ini. Jam berapa berangkat dan jam berapa pula tiba? Hmm… walahualam… Gelisah mulai meradang.. Beberapa penumpang protes berat, karena ada connecting flights mereka ke tempat lain, bahkan penerbangan internasional. Kalau tidak salah, ada yang akan ke Singapore. Pasrah, itu yang akhirnya terjadi. Untungnya, airline-nya langsung mengatur ulang jadwal penerbangan mereka dengan flight yang lain.

Mengisi waktu, saya mengambil laptop dan menyambung internet. Untung di airport ini akses internet digratiskan, tidak seperti di SFO. Cukup menghibur, bisa mengisi waktu di tengah ketidakmenentuan. Kira-kira 2 jam lebih, hampir 3 jam pesawat itu telat. Artinya, selama itu pula kemunduran waktu saya tiba di SFO dan Palo Alto, kalau semua lancar.

Kami diundang untuk segera boarding begitu pesawat siap. Saya bergegas naik dan segera menduduki kursi saya. Sempat saya menutup mata, beristirahat sebentar, karena di samping capek akibat perjalanan panjang dari Santa Fe, juga penerbangan ini sendiri cukup panjang, lebih dari 2 jam. Ada jarak waktu 1 jam antara Albuquerque dan San Francisco sehingga sempat membuat saya agak bingung kenapa kok penerbangan dari SFO ke ABQ (waktu datang) kok kesannya panjang benar jamnya dari sebaliknya. Namun, setelah beberapa saat terbang dan kira-kira makin dekat ke SFO, saya lalu membuka mata dan mencoba menikmati pemandangan terbang di atas daratan Amerika di malam hari. Lampu-lampu menyala di wilayah yang cukup luas, ke sana ke mari lampu, pertanda kami mungkin sedang terbang di atas sebuah kota besar. Kadang agak kosong, berarti mungkin melewati sebuah daerah dengan pemukiman tidak terlalu banyak, mungkin sebuah kota kecil.

Ketika memasuki San Franscisco, tampak dari jauh kerlap-kerlip lampu dan luas wilayahnya. Tampak meriah, baik di seberang kiri maupun kanan teluk. Ya, San Franscisco sebuah megapolitan, sebuah daratan yang terpisah dari daratan lain tempat kota Oakland di seberang teluk. Kedua kota itu dihubungkan dengan sebuah jembatan yang menjadi ciri kota San Francisco, San Francisco – Oakland Bay Bridge, yang melewati sebuah pula di antara keduanya, bernama Yerba Buena. Waktu mau mendarat, pesawat terbang di atas jembatan ini dan tampak kendaraan-kendaraan berlalu lalang memenuhi jembatan. Ada pula Golden Gate Bridge di sisi lain San Francisco, sebuah jembatan berwarna merah.

Begitu pesawat landing, saya langsung buru-buru mengejar transit train ke stasiun BART (rapid train) ke Millbrae. Saya tanya salah satu petugas di mana saya bisa mengakses transit train terdekat dan dia memberi petunjuk. Saya naik ke level atas di mana train itu beroperasi. Datang satu train, tapi bukan jalur yang saya inginkan, ini jalur berputar. Saya tunggu yang lain, datang, tetapi ternyata oleh operatornya diumumkan, kereta ini akan juga berputar. Matilah awak. Rasanya memang sial, sudah telat, inipun berputar-putar lagi. Dan betul, sia-sia, sesampai di stasiun BART, sudah tutup. BART terakhir sudah pergi dan baru buka lagi besok pagi. Lemas badanku. Artinya saya harus tidur di bandara SFO, entah cari tempat berbaring di mana. Sebetulnya, tidur di bandara bukan hal baru bagi saya. Saya pernah lakukan itu waktu menjemput istri saya tiba di bandara Schipol, Amsterdam. Saya datang dulu malamnya, putar-putar di bandara, tidur sebentar, putar-putar lagi, lalu jemput saat pesawat tiba. Karena itu, saya tahu bahwa di bandara-bandara seperti ini cukup aman.

Saya akhirnya kembali ke ruang dalam SFO, mulai mencari lokasi istirahat. Untung, dari ABQ saya ada bawa makanan yang dibungkus, jadi saya isi perut sebentar, yang sudah kruyuk-kruyuk. Saya sudah berkeliling mencari lokasi yang tampak aman, di mana ada petugas-petugas bandara beroperasi. Saya pilih tempat duduk, lalu mulai duduk selonjoran. Saya sempat baca-baca, stop. Sempat ngetik-ngetik, stop. Mumet, pikiran tidak jalan. Pergi ke toilet, balik lagi. Duduk lagi, sambil dengar musik, tutup mata, buka lagi. Orang-orang lalu lalang, ke sana ke mari. Ada penumpang pesawat yang berlari terbirit-birit dikejar-ngejar panggilan terakhir untuk boarding. Saya ya ngantuk, tapi mau tidur ya sulit juga. Namun, begitu sebagian petugas bandara mulai pulang dan makin sepi, pelan2 saya akhirnya tertidur. Kira-kira itu jam 2 pagi. Itupun sambil terbangun-bangun.

Sekitar jam 4 saya bangun. Saya ke toilet untuk cuci muka, lalu pergi mencari kereta. Kali ini, saya dekat dengat lokasi BART, jadi langsung. Saya beli tiket BART, lalu naik. Keretanya super kencang, pantas namanya Bay Area Rapid Train. Weesss.

Saya tiba di Millbrae, turun BART, lalu tanya seorang penumpang lain, bagaimana kalau mau ambil CalTrain ke Palo Alto. Dia memberi petunjuk untuk membeli tiket di mesin tiket, lalu menunjuk platform di mana kereta ke CalTrain lewat. Sempat menunggu sekitar 30 menitan baru CalTrain datang. Well, sekalipun itu musim panas, pagi di San Francisco ternyata dingin juga. Saya naik ke kereta dan mengambil tempat di lantai atas biar pemandangan bisa lebih mantap. Ini kereta double-decker lagi.

Sepanjang perjalanan saya menikmati pemandangan yang ada. Yah, cuma gedung-gedung, hutan-hutan kecil, lapangan rumput. Satu pemandangan yang cukup menarik adalah tumbuhan palem yang tampak menghiasi kota, kalau tidak salah di San Mateo. Daerah yang dilewati ini juga tampak berbukit-bukit, walau lintasan keretanya rata. Si masinis juga selalu mengumumkan nama stasiun yang akan dilewati satu per satu menjelang masing-masing stasiun, jadi saya tidak khawatir kelupaan dan terlewat tempat tujuan.

Pengalaman Berharga di Stanford
Tiba di Palo Alto, saya nyari pesawat telpon. Saya telpon SGH. Sialnya, petugasnya cuma 1 dan dia menunggui guest house itu. Maklum, masih cukup pagi. Pegawai lain baru masuk jam 8.30. Saya bisa tunggu, katanya, tapi ya kelamaan. Akhirnya saya tanya saja bagaimana saya bisa sampai ke sana dan dia bilang bisa pake bus Marguerite, bis milik Stanford University yang melayani route-route yang terhubung ke kampus dan fasilitas milik Stanford lainnya. Saya pergi ke lokasi bis, tanya ke sopir, bis mana yang bisa mengantar saya ke SGH. Kata petugas itu, bis yang satunya lagi. Saya tunggu dan ketika datang, saya tanya apakah bis ini bisa membawa saya ke SGH. Dia bilang, saya harus pindah ke bis lain yang menuju ke SLAC. Waktu diucapkan SLAC, slek, saya tidak tahu apa itu, yang penting terdengar slek. Katanya, daripada bisnya, lebih baik bis yang lain, supaya saya tidak diajak berputar terlalu jauh. Nunggu hanya sebentar saja, sampailah bis itu datang dan saya naik. Begitu naik, saya bilang sopirnya, saya menuju SGH dan tolong berhentikan saya di bus stop yang ke sana. Bis berputar-putar ke beberapa lokasi di kampus Stanford, setahu saya melewati rumah sakit. Dan, begitu dekat pemberhentian yang saya tuju, si sopir mengingatkan saya. Baik juga tidak membuat seorang asing seperti saya kebingungan dan kesasar. Lalu, saya tunggu bis yang katanya menuju “slek”, katanya busnya rada kecil. Dan, tidak lama kemudian datang sebuah bis kecil dengan bentuk cukup unik, berwana putih merah (see picture). Saya stop bis itu, lihat papan namanya rutenya menuju SLAC, oh SLAC, bukan slek, lalu bilang ke si sopir, saya mau ke SGH. Bis dilengkapi dengan seat-belt segala. Sebagai penumpang taat, pertama kali saya pasang seat-beltnya. Bis berjalan melewati wilayah kampus Stanford yang mulanya saya bingung ini ke mana ya. Agak berputar-putar bis itu, karena memang dia melayani transportasi antar lokasi-lokasi milik Stanford, supaya warga Stanford terfasilitasi mobilitasnya. Bis ini gratis dan teratur jam operasinya. Dari luar terkesan bis tua, tradisional, tetapi di dalamnya fasilitasnya luar biasa. Ke sana, ke mari, akhirnya kami ke luar kampus Stanford, masuk jalur publik, jalan raya besar di kota Palo Alto, lalu tiba-tiba dia belok memasuki suatu wilayah khusus. Daerah ini adalah daerah dengan sistem sekuriti khusus. Saya baru tahu bahwa SLAC itu kepanjangannya Stanford Linier Accelerating Center, sebuah laboratorium pengakselerasi energi nasional, kerja sama pemerintah AS, dhi. Dept. Energi, dengan Univ. Stanford. Dulu, unit ini di bawah koordinasi Dept. Pertahanan, katanya. Karena ini fasilitas penting bagi hayat hidup orang banyak di AS, makanya sekuritinya khusus. Begitu memasuki wilayah itu, si sopir minta saya keluarkan kartu tanda pengenal agar dilihat si petugas sekuriti. Katanya, ini sudah prosedur standard keluar masuk SLAC, jadi saya akan lakukan itu terus-menerus. Paham saya. Begitu bis berhenti di pos keamanan, saya angkat pasport dan kartu mahasiswa saya. Si sopir yang bilang saya tamu SGH. Aman, si sopir membawa saya ke SGH, setelah sebelumnya menurunkan penumpang di salah satu pemberhentian utama di SLAC. Persis di depan SGH saya diturunkan. Dan, lega lah saya, sudah tiba dengan selamat di tempat ini.

Saya segera check-in. Ditanya, kenapa telat, lalu diberi tahu lokasi ruangan saya serta fasilitas2 SGH, termasuk ruang makan pagi. Benar juga, saya sudah lapar, walaupun ngantuk juga. Jadi, saya turun ke lantai bawah, masuk kamar, terlentang sedikit, lalu pergi makan pagi dulu. Setelah itu, baru saya mandi, lalu tidur, walau cuma sebentar, karena saya harus ke kampus Stanford. Saya harus laporkan kedatangan saya ke sekretaris Dept. Sosiologi, yang telah diatur oleh Prof. Dick Scott, agar saya bisa juga urus akses masuk perpustakaan Stanford, yang untuk masukpun harus ada izin.

Saya tanya ke si resepsionis SGH, bagaimana saya bisa ke kampus lagi. Dia jelaskan mekanisme kerja bis Marguerite dan beri list jadwalnya kepada saya. Juga kepada saya diberi peta kampus Stanford, maklum ini kampus super raksasa. Karena itu, saya mulai memerkirakan di mana saya turun bis, jalan hingga sampai ke Dept. Sosiologi, lalu ke perpustakaan jika sudah beres di sana. Juga saya lihat-lihat di mana lokasi kantin, karena hari sudah mulai siang dan saya harus makan siang. Lalu, saya mengambil bis dan meluncur ke kampus.

Tidak terlalu sulit mendapati Dept. Sosiolog sebetulnya, karena lokasinya di Main Quadrangle, itupun di barisan depan. Namun, karena baru ya sedikit pusing-pusing ke sana ke mari. Tadi sewaktu di SGH saya sudah kontak email ke si sekretaris, jadi dia juga sudah menunggu. Setelah bercakap-cakap sebentar, dia mengisi satu formulir, menandatangani, saya juga tandatangani, formulir mana harus saya bawa ke perpustakaan untuk dapat kartu khusus akses perpustakaan. Lazimnya untuk dapat kartu itu, orang luar kampus Stanford harus membayar, dan cukup mahal. Namun, karena disponsori oleh Prof. Scott, saya dapat gratis. Saya juga diberi tahu bahwa Scott baru tiba senin, walau Scott sudah bilang dan kami sudah janjian ketemu hari Selasanya. Dari situ, saya ke perpustakaan, mengurusi kartu akses, selesai, lalu saya bergerilnya buku di perpustakana Green yang cukup raksasa itu. Harus diingat, Stanford punya beberapa perspustakaan selain Green Library, termasuk perspustakaan Johnson milik Stanford Graduate School of Business (SGSB). Saya meminjam beberapa buku untuk dibaca di SGH. Setelah itu, saya pergi mencari cafe dan saya diberitahu ada cafe BBQ di tengah kampus. Cukup ramai, harus mengantri, walau itu musim liburan dan kampus Stanford tergolong sangat sepi di musim libur. Namun, sambil menunggu pesanan saya selesai, ada seseorang berdiri di bawah panas matahari, memegang sebuah buku, berorasilah dia dengan berteriak kencang-kencang. Tidak ada yang memerhatikannya dengan serius, paling menoleh, bahkan yang melewatinya. Saya pikir apa orang itu agak stress, tapi ya inilah negeri bebas berpendapat, jadi hak dialah, termasuk mau dinilai gila sekalipun. Sehabis makan, saya sempat mengunjungi SGSB, termasuk ke librarynya di mana saya pun boleh mengakses dengan kartu saya itu. Saya cuma lihat-lihat sebentar, lalu saya balik ke SGH untuk istirahat.

Sabtu dan minggu saya lebih banyah di SGH, walau harus juga turun ke kampus Stanford untuk cari makan. Di SGH, kerja saya ya baca buku-buku yang saya pinjam, sambil mengetik, mengembangkan paper saya untuk publikasi jurnal. Hari senin saya kembali ke kampus. Pagi membaca dan menulis di perpustakaan lalu siang saya ketemu Prof. John Meyer, salah satu founding fathers new institutional theory dalam bidang sosiologi. John Meyer sudah berstatus Prof. Emeritus, sudah lumayan tua. Namun, dia masih sangat tajam dalam membaca arah pikiran dan memorynya masih sangat lincah menceritakan proyek2 risetnya yang terkait pokok-pokok diskusi kami. Saya sebelumnya telah mengirim 2 papers ke beliau untuk dibaca dan dikomentari. Saat ketemu, kami hanya mendiskusikan hal-hal relevan dalam konteks relevansi teori institusional dalam kajian MSDM. Belakangan, dia memberi komentar tertulis atas kedua papers saya itu, via email. Saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan beliau, terutama untuk inputs yang diberikannya. Pasca diskusi dengan Meyer, saya kembali ke perpustakaan dan melanjutkan bacaan saya, sebelum pulang ke SGH.

Selasa pagi saya kembali ke kampus, bertemu Prof. Dick Scott, satu lagi founding father dari teori institutional baru. Scott bilang dia baru dari Univ. of Alberta di Canada, menghadiri satu konferensi tentang teori institusional. Belakangan saya tahu bahwa Alberta merupakan salah satu “gudang” institutionalists ternama, sebuah tempat yang saya catat pantas untuk dikunjungi suatu waktu, entah kapan. Dalam introduksi percakapan kami, Scott juga mengatakan bahwa dari Stanford telah lahir sejumlah teori kunci dalam kajian2 organisasi, di antaranya institutional, resource-dependence, dan population ecology. Memang di samping berbasis di Dept. Sosiologi, para social theorists Stanford itu juga bermukim di Dept. Pendidikan, SGSB.

Scott lalu membawa saya memasuki catatan-catatannya atas 2 paper saya. Satu per satu dibahasnya, dan saya mencatat, sambil mendiskusikan pemikirannya, berdasarkan pemahaman saya. Satu yang mengganggu pikiran saya adalah catatannya tentang pemahaman saya tentang Resource-based View/Theory (RBV/T). Dia merasa saya tidak cukup tepat menafsir posisi teori itu. Saya sempat mengajukan bantahan, namun saya menerima masukannya sebagai catatan kritis untuk difollow up. Pasca diskusi itu, saya mencoba membaca ulasan tentang pemikiran Edith Penrose, mbah-nya RBV. Memang, RBV dipopulerkan di antaranya oleh Prof. Jay Barney dari Ohio State Uni, namun Penrose adalah salah satu pembangun fondasi teori itu. Dan, sekalipun setelah membaca kembali literature RBV dan saya tetap merasa kesimpulan saya benar, catatan Scott juga ada benarnya, yakni basis pemikiran evolutionary economics yang bersinggungan dengan teori itu. Saya tidak masuk jauh ke sisi itu, namun catatan itu telah memerbaiki posisi pemahaman saya. Karena catatan Scott itu pula, saya sempat melakukan percakapan per emails dengan Prof. Jay Barney, sebuah pengalaman lain yang tidak terbayangkan dan berharga. Terima kasih buat mereka berdua, juga Meyer.

Setelah diskusi, Scott mengajak saya makan siang dan dia membawa saya ke salah satu kantin di kompleks Medical School. Wow, saya baru tahu cafe ini dan menunya pun lebih ragam, termasuk ada menu makanan Asia, pengetahuan yang membawa saya untuk kembali lagi ke cafe itu beberapa kali selama di Stanford. Scott yang menraktir saya siang itu. Kami sempat mengobrol tentang kondisi dan sejarah Stanford. Scott sempat membawa saya berkeliling di seputar kompleks itu, menunjukkan tempat-tempat favoritnya. Singkatnya, saya menjadi sedikit lebih paham tentang Stanford, yang walaupun raksasa dari segi reputasi ilmiah, dana, dan luas kampus, ternyata jumlah mahasiswanya cuma sekitar 5000 lebih banyak dari mahasiswa UKSW. Lazimnya, universitas ternama seperti Stanford memiliki jumlah mahasiswa paling tidak di atas 20,000 orang, namun tidak bagi Stanford.

Hari-hari saya di Stanford bergulir cepat. Saya merasa cukup positif kunjungan saya ke Stanford. Banyak hal yang saya peroleh sebagai masukan, baik untuk riset PhD saya, maupun pengetahuan umum. Buku-buku dan papers yang sempat saya baca, termasuk yang dipinjamkan atau diberikan Scott dan Meyer, memberi cukup banyak masukan. Saya sempat berjalan-jalan mengunjungi sejumlah lokasi di kampus Stanford, termasuk mengambil beberapa foto. Yang paling saya suka adalah pemandangan dari jalan masuk ke kampus Stanford, jalan raya yang dihiasi jejeran pohon palem secara rapi yang mengantar masuk tamu ke kampus Stanford. Dengan latar sebuah lapangan berbentuk oval dan karenanya disebut The Oval, serta di belakangnya berdiri The Main Quad serta Chappel, kampus Stanford tampak anggun dan mantap, sekokoh prestasi lembaga ini. Saya senang pernah hadir di salah satu kampus terbaik dunia ini.

Pulang ke Sydney
Tanpa terasa tanggal 3 Juli, waktu untuk kembali ke Sydney, tiba. Sore sebelumnya, saya sudah mengatur rencana kepulangan dengan resepsionis SGH. Saya akan diantar dengan mobil SGH ke stasiun. Saya juga sudah pamit dengan Scott dan Meyer, paling tidak via email. Saya sempat mengundang mereka, jika ada kesempatan dan rencana, untuk mengunjungi Macquarie di Sydney, dan tidak lupa Satya Wacana. Saya juga sudah kembalikan semua buku pinjaman saya. Pagi itu saya tinggal packing pakaian dan barang-barang saya. Sehabis itu, saya kembalikan kunci kamar ke resepsionis dan diantar ke stasius Palo Alto. Sesampai di sana, saya berpamitan dengan pengantar saya. Saya membeli tiket di mesin tiket dan menanti CalTrain ke arah Millbrae dan selanjutnya ke airport SFO.

Tadinya saya pikir mau ke downtown San Francisco. 3 Juli adalah 1 hari sebelum the Independence Day negera ini. Pasti ramai di pusat kota. Memang sejak di CalTrain, saya sudah berjumpa dengan rombangan orang yang menuju ke downtown. Namun, karena berpikir tentang ramainya itu, dan mengingat beban bawaan, saya putuskan menuju ke SFO. Tadinya pikir, simpan tas dulu, baru ambil BART ke downtown. Namun, rasa malas datang dan akhirnya berkeputusan untuk menunggu saja di SFO, hingga keberangkatan. Saya cuma berkeliling2 di SFO, membunuh waktu, tentu saja makan siang dan malam. Saya juga sempat melapor ke kantor imigrasi AS di airport bahwa saya akan meninggalkan AS hari itu. Jam 8 malam, saya terbang kembali ke Sydney. Kali ini tanpa halangan apapun, semua lancar.

Saya tiba di Sydney Kingsford Smith International Airport jam 6 pagi lebih dikit. Jika di Amerika sedang musim panas, Sydney justru sedang musim dingin karena itu saya sudah mantapkan jaket saya sejak turun pesawat. Keluar dari prosedur customs dengan lancar, saya bersegera turun mengambil kereta api untuk pulang ke rumah. Saya tiba dengan selamat di rumah, berkumpul kembali dengan Nelsy dan Nike.

Senang bisa berada kembali dalam keluarga, namun senang pula sudah mencatat pengalaman perjalanan ke Santa Fe dan Palo Alto, khususnya Stanford. Mungkin perjalanan ini tidak akan terulang, tapi siapa tahu. Yang pasti sejarah hidup saya sudah mencatat pengalaman berharga ini. Saya masih ingin berkunjung lagi khususnya ke Stanford suatu waktu, tapi saya lebih berkeinginan untuk juga bisa mengunjungi tempat lain seperti Alberta, Copenhagen, dan beberapa universitas lain yang merupakan oase2 intelektual tempat saya bisa mengembangkan diri terus menerus dan menjadi bagian dari komunitas intelektual sebidang minat.

Terakhir, terima kasih kepada Tuhan atas berkat dan penyertaanNya. Engkau sungguh besar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: