Posted by: nsrupidara | March 14, 2010

The case for Christ

Tulisan ini masih dalam proses konstruksi, namun dishare sebagai bentuk “pemanasan”.

Benarkah peristiwa Kristus nyata? Bagaimana membuktikannya? Atau barangkali, apakah memang ada buktinya? Bagaimana hal-hal itu dijelaskan oleh kita yang hidup sekarang?

Judul tulisan ini persis diambil dari judul buku Lee Strobel, seorang jurnalis Chicago Tribune, Amerika, yang memiliki latar belakang keahlian di bidang hukum, khususnya masalah kriminalitas. Strobel menulis bukunya, The case for Christ dengan dilatarbelakangi niatan untuk menantang argumen-argumen para teolog yang mendukung kebenaran kisah Yesus Kristus. Menurutnya, ia bukan seorang yang percaya Kristus dan merasa “terganggu” dengan konversi iman yang dialami isterinya yang menjadi seorang Kristen. Menurutnya, isterinya mengalami perubahan karakter setelah itu dan karenanya ia terganggu untuk menantang kebenaran basis iman Kristen itu. Dengan didahului oleh investigasi dokumen2 yang dilakukannya, ia kemudian mencari teolog-teolog yang mewakili keahlian-keahlian khusus di seputar peristiwa Yesus 2000an tahun lampau untuk disoal-jawab. Mereka adalah ahli sejarah kitab suci, ahli kejiwaan, arkeolog, dll. Boro-boro membenarkan keyakinannya, yang didapatkan Strobel justru convincing arguments bahwa cerita tentang kehidupan, pelayanan, kematian, dan kebangkitan Yesus dalam Injil bisa dipercaya. Nah, tulisan ini di antaranya mencoba untuk menyajikan kembali argumentasi-argumentasi yang diangkat oleh buku itu. Namun, tidak hanya buku Strobel itu, tulisan ini juga melibatkan buku lain seperti yang ditulis oleh John Dickson (The Christ files), juga Evans, Wright dan Miller (Jesus, the final days). Di luar itu, pemahaman penulisan ini juga diperkaya oleh bacaan-bacaan lain, misalnya John Shelby Spong (Rescuing the Bible from fundamentalism).

Orang Kristen di seluruh dunia menerima kebenaran peristiwa Yesus dari Alkitab, Perjanjian Baru dan khususnya dari 4 kitab Injil, Matius, Markus, Lukas, dan Yahya atau dari pengajaran turun temurun yang bersumber dari Alkitab. Peristiwa Yesus itu diterima sebagai benar apa adanya, tanpa keraguan sedikitpun. Ini hal yang normal dalam sistem keyakinan manapun, menerima inti ajarannya sebagai sebuah kebenaran yang mutlak. Bagi orang Kristen masa kini, kebenaran itu sudah merupakan sesuatu yang taken-for-granted.

Barangkali di luar pengetahuan banyak orang Kristen, kebenaran peristiwa Yesus telah menjadi salah satu perdebatan penting atau sentral dalam sejarah. Perdebatan atau kesangsian telah mendorong banyak sekali ilmuwan mendedikasikan diri untuk menstudikan sejarah Yesus dan Kekristenan, menguji kebenaran peristiwa Yesus. John Dickson, misalnya, seorang sejarawan Macquarie University, mengelompokkan para ilmuwan atau sejarawan itu ke dalam tiga kelompok: kelompok skeptics atau taruhlah kelompok ekstrim kiri yang menolak keTuhanan Yesus (bahkan barangkali menolak adanya Tuhan). Pada kelompok ini harus diakui juga ada keragamannya, ada yang menolak keseluruhan peristiwa Yesus sebagai sesuatu yang historis, hingga ada yang menolak terjadinya kebangkitan Yesus secara fisik. Kelompok kedua adalah para apologists, atau saya sebut saja ekstrim kanan yang tanpa ragu menerima kebenaran peristiwa Yesus, termasuk kebangkitanNya secara fisik, apa yang menjadi salah satu topik utama perdebatan. Dalam kelompok ini pun ada variasi, ada yang mencoba membuktikan secara ilmiah, ada yang tampaknya bisa disebut kelompok pokoknya. Kelompok terakhir adalah mainstream academics yang menstudikan peristiwa Yesus lebih sebagai sebuah pencarian ilmiah, tanpa tendensi untuk menerima atau menolaknya terlebih dahulu atau a-priori, sebagaimana 2 kelompok lainnya. Dua kelompok pertama cenderung menyiarkan pandangan dan temuannya melalui jalur publik, misalnya dalam bentuk buku atau forum-forum high profiles. Kelompok terakhir cenderung menyampaikan pandangan dan temuannya lewat jalur-jalur ilmiah, sebelum berujung pada general publications.

Seringkali orang Kristen pada umumnya berada jauh dari apa yang digumuli oleh kelompok2 ilmuwan di atas. Orang Kristen baru terlibat pada isu ini jika suatu publikasi yang mengejutkan, misalnya, tiba-tiba diberitakan luas di media massa atau tersebar secara lisan atau tertulis di dalam komunitasnya. Apakah, sikap jauh dari upaya-upaya ilmiah dalam konteks ini adalah manifestasi dari, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”?

Namun, akibat dari tidak memiliki basis-basis argumentatif dalam keyakinan imannya atau dalam membuat kesimpulan menyangkut apa yang diyakininya, sikap yang sering muncul atau disampaikan kepada orang Kristen pada umumnya adalah, “Jangan dengar atau baca atau nonton sesuatu yang dapat merusak iman.” Kalau iman itu kuat, mestinya tidak ada yang menggoyahkannya. Diperhadapkan kepada logika terbalik seperti apapun, keyakinannya tetap kuat. Karena itu, seharusnya orang Kristen tidak perlu takut diperhadapkan kepada bukti-bukti yang menantang keabsahan peristiwan Yesus. Mereka justru harus mampu berhadapan dan berbalik membuktikan bahwa bukti-bukti yang menolak historisitas peristiwa Yesus itu harus ditolak, tentu saja dengan mengajukan bukti-bukti atau logika yang cukup untuk menolaknya dan mengatakan bahwa peristiwa Yesus adalah benar terjadi, sesuatu yang menyejarah.

Namun, tentu pembuktian itu tidaklah mudah, apalagi bagi orang Kristen yang hidup berjarak 2000 tahun dari peristiwa itu. Sebagai sebuah kejadian pada 2000an tahun yang lampau, siapa yang bisa membuktikannya sebagai benar sebagaimana diceritakan dalam Alkitab? Apakah Alkitab, Perjanjian Baru khususnya, ke-4 Injil khususnya adalah sumber yang bisa dipercaya? Secara iman iya, itulah pengakuan iman orang Kriste, namun secara nyata atau akal sehat atau logika bagaimana?

Di situlah pentingnya, iman bersanding dengan ilmu pengetahuan, metode dan akhirnya temuan ilmiah. Ini membuat kita tidak terjebak mentalitas “pokok’e”, tetapi tampil menolak sanggahan-sanggahan, sedapat mungkin, dengan didasarkan pada basis ilmiah. Di situlah studi-studi yang di antaranya disebut di atas barangkali bisa membantu kita. Di situ pulalah, memahami logika dan kesimpulan para penolak pun memiliki tempat penting untuk balik menolak kesimpulan mereka.

Tulisan ini tidak berpretensi bahwa segala sesuatu sudah selesai, dalam makna kesimpulan ilmiah. Studi-studi masih terus terjadi sehingga tidak bisa dikatakan final, walau selayaknya setiap orang Kristen penulis mengatakan bahwa imannya sudah final. Namun, banyak bukti dan logika yang perlu diakomodasi untuk terus menguatkan keyakinan orang Kristen, di samping harus diakui pula bahwa gugatan2nya tetap saja sama atau makin kuat dan tiada henti.

Tentang gugatan, barangkali kita bisa mencari dan mendapati keberatan-keberan kelompok Jesus Seminar, yang menganggap Yesus bukanlah Tuhan, ia sama manusianya dengan atau tidak lebih dari kita. Saya sendiri jelas belum begitu mengenal kelompok ini, kecuali disinggung pada satu dua sumber yang pernah dibaca, bahwa kelompok ini berisi para intelektual skeptis yang menolak kesejarahan Yesus Kristus sebagaimana keyakinan Alkitab. Terhadap kelompok seperti ini, saya bertanya, apalah arti sebuah kesimpulan (mereka) jika itu cenderung dibuat di atas prasangka atau keyakinan sebelum fakta dan logikanya dibangun? Kelompok Jesus Seminar pada dirinya merupakan para skeptics yang sudah kadung menolak historisitas Yesus versi Bible, jadi mau dikejar ke ujung bumi pun ya mereka akan cenderung menolak, kecuali bilamana ada di antara mereka yang kemudian mengalami konversi sikap. Seperti kita ketahui dalam sejarah perjanjian baru pun ada kasus-kasus sceptics, seperti Yakobus (Inggis: James, adik Yesus) dan Paulus yang berbalik dari tidak percaya menjadi pengikut bahkan martir bagi pemberitaan kebenaran karya ilahi di dalam dan melalui Yesus. Untuk fair, perlu dicatat bahwa di antara anggota Jesus Seminar ada juga yang disebutkan mengalami konversi dari mainstream academics menjadi skeptics, seperti John Dominic Crossant (baca Dickson). Crossant adalah salah satu pendiri Jesus Seminar.

Harus juga dicatat, bahwa kesimpulan yang dibuat dalam tulisan ini pun pasti akan di-challenge oleh mereka yang skeptik dan dituding sebagai pikiran seorang believer ya pasti begitu. Well, saya kira pandangan seperti itu harus dibiarkan terbuka, diterima sebagai ada, menantang, tetapi tidak akan mematahkan kesimpulan. Jelas bahwa, proses menuju kesimpulan saya pun adalah sebuah proses yang tidak bisa diperbandingkan dengan proses ilmiah para skeptics seperti dalam Jesus Seminar. Mereka adalah ilmuwan yang waktunya habis untuk berbagai telaah di wilayah perdebatan ini sedangkan saya hanya mendasarkan diri pada keyakinan iman dan sejumlah kecil literature. Namun, saya kira itu tidak berarti yang ‘sedikit’ harus begitu saja tunduk pada yang ‘banyak’. Bukti dan penalaran harus diperbandingkan. Oleh karena itu, saya katakan tulisan ini tidak berpretensi seolah-olah kesimpulannya sudah final, walau sikap iman bagi saya tetap final. Semoga temuan-temuan ke depan akan memberi bukti-bukti yang lebih kuat untuk menggugurkan pandangan para skeptics.

Pokok-pokok argumen Stroble

Beberapa argumen lain: Tom Wright dan John Dickson

Advertisements

Responses

  1. Pak Neil,

    Trims buat brainstorming-nya.

    Setiap orang Kristen, saya kira, perlu melakukan pencarian pribadinya terhadap Kristus sejauh yang dia mampu, sebelum akhirnya harus puas dengan fakta bahwa kemampuannya untuk mengetahui ternyata amatlah terbatas dan, karenanya, menjadi ikhlas untuk semata-mata percaya (kalau mau percaya), beriman (kalau mau beriman). Tidak mau percaya atau beriman juga tidak masalah. Tidak ada bedanya. Toh, percaya atau tidak percaya, keduanya sama-sama tidak tahu, bukan?

  2. Sama-sama Sat..

    Saya setuju, ada keterbatasan kita dalam rangka memahami Tuhan. Namun, kalau kita duduk di atas seluruh klaim keilahian yang ada, termasuk melalui peristiwa Kristus ini, saya kira harusnya evidence-nya jauh dari sekedar cukup untuk membuat kita yang percaya tidak sekedar percaya asal percaya, apalagi percaya di atas ketidaktahuan. Problema kita barangkali adalah kita malas mencari tahu dan saya pun tidak jarang demikian. Kemalasan kita karena complacency, sudah puas sekedar menjadi Kristen dan percaya Kristus. Namun, apakah benar kita Kristen, sebuah label bagi pengikut Kristus? Jawaban atas pertanyaan ini tentu harus datang dengan jujur dan kritis. Dan, complacency tadi itu baru mendapat tantangan ketika kita menempatkan secara serius, misalnya, klaim para sceptics bahwa peristiwa Kristus itu cuma bualan. Kalau bualan, mengapa percaya? Sikap kita yang benar saya kira harusnya akan membuat adanya perbedaan antara yang percaya versus yang tidak.

    Nah, tadi saya katakan evidencenya lebih dari cukup dan karenanya tidak memungkinkan kita untuk percaya asal percaya atau merasa tidak tahu. Evidence itu akan saya sajikan kemudian dalam lanjutan tulisan ini, tentu dengan kesadaran bahwa orang lain tetap bisa saja menolak menyebutnya cukup atau meyakinkan. Namun, ketika saya yang merasa itu lebih dari cukup untuk membuktikan kebenaran peristiwa itu lalu merasa seolah-olah saya tidak tahu bahwa itu benar atau merasa banyak hal saya tidak tahu tentang Kristus, saya kira saya menyia-nyiakan peristiwa penyingkapan kuasa ilahi terbesar dalam sejarah manusia, walaupun peristiwa penciptaan dan evolusi kehidupan dunia menjadi suatu tatanan yang rapi juga tidak kalah menakjubkannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: