Posted by: nsrupidara | January 19, 2010

Ke Santa Fe dan Stanford – Bagian 1

Bulan Juli – Juli 2009 lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi negeri paman Sam lagi. Dulu di tahun 2005, saya pertama kali menginjakkan kaki di negerinya bung Obama. Waktu itu saya mengunjungi dan mondok belajar pengelolalaan aktivitas akademik di St. Olaf College di Northfield, Minnesota. Ini terjadi dalam rangka partisipasi saya di Leadership Fellow Program yang didukung oleh United Board for Christian Higher Education (UB). Kali ini, saya datang lagi karena menghadiri sebuah konferensi di Santa Fe.

Adalah keikutsertaan dalam the 10th International Human Resource Management Conference yang memungkinkan saya menginjakkan kaki (lagi) di AS. Konferensi ini dituanrumahi oleh New Mexico State University (NMSU). Saya mengikutsertakan sebuah paper berjudul, Actors Amidst Pressures: The Configuration of Human Resource Systems Within A Multinational Context, sebuah paper yang ditulis bersama Peter McGraw, pembimbing saya. Mewakili kami berdua, sayalah yang berangkat menjadi presenter paper ini. Itung-itung itu menambah koleksi pengalaman menghadiri konferensi internasional.

NMSU sih berlokasi di kota Albuquerque, ibukotanya New Mexico State, tapi Prof. Phil Benson, ketua panitia penyelenggara, bersama timnya, memilih Santa Fe sebagai tempat penyelenggaraan konferensi. Santa Fe adalah bekas ibukota New Mexico dan sebuah kota bersejarah, dengan karakteristik Indian yang kental. NM State sendiri memiliki warna Spanyol yang cukup kental. Nama jalan dan penggunaan bahasa Spanyol di (semua?) fasilitas publik bisa terbaca sepanjang perjalanan saya dari Bandara Albuquerque ke stasiun Railrunner dan sebaliknya. By the way, ada yang ingat atau tahu lagu Santa Fe-nya Bon Jovi dan film Young Guns? Nah, barangkali itu bisa memberi sedikit ilustrasi tentang Santa Fe dan New Mexico.

Oya, saya berangkat dari Sydney menuju Santa Fe tanggal 20 Juni siang dengan menumpangi pesawat United Arways. Airport tujuan perjalanan saya ke New Mexico adalah Albuquerque dan yang saya tempuh dengan bersinggah di San Fransisco International Airport (SFO). Sebetulnya ada jalur alternatif yakni via Los Angeles, tapi karena nanti sewaktu kembali dari Santa Fe saya akan singgah di Stanford, maka si agen perjalanan memilihkan rute SFO ini. Dan, itu sangat membantu saya memahami SFO.

Diwarnai keresahan
Berangkat dari Sydney siang dan aman-aman saja. Namun, sejak beberapa hari sebelum berangkat saya sudah menyimpan keresahan karena jarak waktu antara turunnya pesawat di airport San Fransisco dan keberangkatan pesawat berikut ke Albuquerque, airport terdekat ke Santa Fe, cuma di bawah 2 jam. Padahal, saya harus berganti terminal, internasional ke domestik. Dan, yang lebih celaka, prosedur customs harus diselesaikan di San Fransisco dan bagi orang Indonesia, prosedur imigrasi Amerika ini agak kurang bersahabat. Pengalaman ke Minnesota 4 tahun sebelumnya sudah membelajarkan saya. Saya harus “diinterogasi” atau melewati prosedur pengecekan lapis kedua, sebelum dilepas bebas menghirup udara airport St Paul. Ini pasti akan sama. Artinya, resiko ketinggalan pesawat ada di depan mata. Saya tadinya tidak memerhatikan jarak waktu itu, sewaktu setuju tiket dan jadwal perjalanannya. Ketika tahu waktunya mepet dan mau ganti jam penerbangan, pergantian itu harus disertai pembayaran tambahan dan lumayan mahal jadi saya pasrah saja, toh katanya si airline paling akan memindahkan ke jadwal penerbangan berikutnya. Namun, di kepala saya sudah terbayang, kalau satu telat, yang lain akan ikutan dan saya membayangkan akan telat tiba di Santa Fe. Saya khawatir disatroni kawanan Billy the Kid, ah nglantur, cuma khawatir dengan ketidaktahuan akan wilayah ini. Dan, dari hasil penelusuran singkat, transportasi di Santa Fe terhitung parah, walau saya kira pasti ada taksi. Saya tidak tahu seberapa besar/kecil kota ini. Sebetulnya ada free shuttle yang mengantar penumpang kereta ke sejumlah lokasi kota ini, tetapi informasi mengatakan alat transport ini sudah modar jam 4/5 sore. Di situlah letak keresahan saya. Sudah nggak tahu kotanya, masa harus ditambah jalan kaki segala kalau nggak dapat kendaraan?

Keresahan yang lain adalah soal flu babi (swine flue), eh H1N1. Sebelum berangkat saja, manajemen Macquarie sudah sangat ketat mengecek resiko perjalanan dan baru mau mengeluarkan izin kalau manfaat perjalanan tidak bisa dikorbankan, plus resiko bisa dimanage. Saya harus mengisi formulir risk assessment, plus menjawab sejumlah pertanyaan tambahan, sebelum diizinkan berangkat. Untungnya, baik Santa Fe maupun Stanford, saat risk assessment dilakukan masih belum ada kasus H1N1, walau kehati-hatian tetap diperlukan. Jadi, sampai H – 1, saya pantau terus perkembangan kasus infeksi H1N1 di 2 kota ini dan hanya dalam hitungan hari 2 kota ini mulai mencatat adanya kasus H1N1. Celaka!! Saya sih sudah minta diberikan flu-shot, vaksin anti flu (bukan anti H1N1) yang diharapkan cukup membantu. Ada juga resep obat Tamiflu, tapi saya belum beli, yang hanya dipegang saja selama perjalanan. Dokter juga bilang, kalau ada gejala selama di sana, segera temui dokter di sana dan tanyakan apakah resep yang dibawa itu baik bila digunakan.

Nah, yang bikin resah lagi ya sewaktu perjalanan, salah seorang teman sederetan duduk agak pilekan. Waduh. Ini pilek biasa atau H1N1? Hantu di kepala langsung mengganggu. Kalaupun bukan H1N1 saja, kalau ikutan kena pileknya kan bisa bikin daya tahan badan turun dan mudah terserang sakit lebih parah. Ini membuat saya tidak tenang. Jadi, luar biasa perjalanan ini ada dalam tekanan psikologis yang lumayan. Jadi, dengan berbekalkan sapu tangan yang menutup hidung, saya menjalani penerbangan ini. Saya usahakan bisa cukup tidur biar agak membantu fit-nya kondisi badan, tetapi pikiran tidak cukup membantu untuk bisa tidur nyenyak. Namun, saya sih sempat tidur dan saya atur waktu tidur dengan menyesuaikan waktu Amerika, bukan Sydney, supaya begitu tiba di sana ya tidak kena jet-lag. Untuk urusan jet-lag saya sudah tidak terlalu punya problem, berdasarkan pengalaman-pengalaman selama ini. Aman lah.

Nah, ketika pagi menjelang dan saya sudah benar-benar bangun, di samping berharap tidak dihinggapi virus pilek si tetangga, saya komat-kamit agar pesawat bisa landing pas waktu atau lebih tempo dari jadwal. Tanda-tanda sih positif. Record waktu di layar tv pesawat menunjukkan kondisi aman. Dan, memang landingnya masih dalam waktu yang terhitung pas.

Begitu pesawat sudah nyandar dan penumpang boleh turun, saya bergegas lari agar bisa tiba cepat di antrian pelayanan customs. Dan, saya terhitung “barisan terdepan” dari pesawat kami. Saya pikir ini cukup membantu. Ealah, 2 orang di 3 baris di depan saya malah lambat prosesnya. Saya mulai tidak sabar. Orang yang tadi di belakang saya waktu mencapai pengantrian customs eh malah sudah dilayani duluan. Mereka ada di line antri yang berbeda. Mati, pikirku. Bolak-balik saya lihat jam tangan melulu. Waktu bergerak terus, walau masih ada ruang waktu untuk nantinya berlari lagi ke terminal domestik, kalau beres urusan imigrasi kedatangan ini. Akhirnya 2 orang “tutup botol” itu beres juga dan antrian kami berjalan lagi. Selamat, pikirku. 2 orang di depan saya tidak terlalu bermasalah, lancar. Jadi, saya semakin yakin bisa mengatasi pendeknya waktu peralihan ke penerbangan berikut.

Ketika dipanggil ke loket petugas customs dan menyerahkan dokumen, saya semakin yakin aman. Dia tanya kepentingan datang ke Amerika kujawab mantap, presentasi paper di konferensi ilmiah. Dia tanya sejarah kunjungan ke Amerika, kujawab mantap, 2005 pernah ke Northfield untuk kunjungan akademik, visa J1. Pokoknya mantap. Dia ambil sidik jari dan foto wajah, saya pikir, OK beres, selamat tinggal prosedur menjengkelkan. Namun, ketika dia menyerahkan pasport dan dokumen pendukungku dan mengatakan, Mr Rupidara, please go through that way, enter a room over there and follow the secondary check, saya langsung lemas, benar-benar lemas. Yang selamat tinggal ya penerbangan berikut, ini sudah pasti. Dulu 1 jam, itupun tidak banyak orang. Kali ini? Begitu saya sampai di ruangan pelayanan prosedur imigrasi khusus bagi sejumlah pendatang dengan kebangsaan tertentu, ya benar-benar lemas. Sudah ada banyak orang, lha kapan saya keluar dari ruangan ini, pikirku. Wah, kacau.

Begitu masuk, saya maju ke petugas di depan meja, mengatakan diminta untuk pengecekan lanjut dan menyerahkan paspor dan formulir dari pemeriksaan pertama. Saya bilang, I have a connecting flight within an hour. Maksudnya barangkali dia bermurah hati mendahulukan saya. Tapi, dijawabnya, ya yang lain juga sama dan ini sudah prosedur standar. Sialan. Katanya, nanti petugas airline akan datang ke sini untuk ngurusi penerbagangan berikutnya. Jadi, memang ini sudah pasti akan terlambat. Lemas, tetapi mau bagaimana.

Namun, ini petugas imigrasi juga pilih-pilih. Saya pikir, Amerika ya adil lah. Antri ya antri. Namun, ada yang berbaik hati pada 2 orang ibu muda, satu dengan anak kecil. Mereka didahulukan karena alasan penerbangan. Bahkan, pake diantar segala. Saya lihat peluang, maju lagi untuk katakan, Sir, I have a connecting flight within 30 minutes (karena waktunya sudah berjalan sekitar 15 menitan). Tapi, dia tidak gubris. Sialan pikirku. Ya akhirnya pasrah. Dan, kemudian datang petugas airline dan saya laporkan bahwa urusan imigrasi ini belum selesai dan tidak mungkin kejar pesawat. Dia bilang, begitu kamu selesai, nanti langsung saja ke counter, nanti dialihkan ke penerbangan berikut. Sedikit amanlah. Namun, di kepala masih berkecamuk, kapan ini urusan selesai dan bagaimana dengan perjalanan Albuquerque ke Santa Fe dan nanti tiba di Santa Fe?

Sekitar 20 menitan lagi, seorang petugas mengambil paspor saya dan membawa masuk ke ruangan. Dia lalu keluar, pikirku akan panggil saya lalu masuk ke ruangan untuk ditanyai. Eh, dia simpan lagi pasportku. Entah kenapa. Dia malah masuk ruangan lagi, keluar lagi, ambil paspor yang lain dan panggil orang lain. Well, saya langsung emosi, maju ke meja dan protes pada petugas yang duduk di meja. Dia mau marah saya, minta saya duduk. Saya bilang, lho, harusnya saya sudah dilayani, kenapa orang yang datang belakangan yang malah dilayani. Dia menenangkan saya dan minta saya duduk dan nanti dia yang layani. Ya, ngalah deh. Betul, selesai ngurusi clientnya, dia ambil pasport saya dan memang dari segi urutan saat itu ya giliran pasportku yang harus diambil (setelah kasus diletakkan kembali). Dia panggil saya, sambil cek data saya di komputernya. Tahu-tahu dia bilang, “pasport Anda tadi sudah ada yang ambil (dari sistem komputernya bisa diketahui ada orang yang sudah entry nomor pasport saya ke sistem), tapi katanya, rupanya orang itu tidak berani layani Anda (kasus temannya yang tadi ambil pasport saya dan kembalikan ke loker). Kalau saya tidak takut, siapapun Anda.” Weeh, jadi bingung deh saya. Lalu, saya coba nalarkan, jangan-jangan karena dari Indonesia dan Indonesia diasosiasikan dengan terorisme, si dia jadi ngomong ngelantur. Lalu kujawab, “lha apa juga yang harus ditakutkan dari saya?” Dia tanya lagi sejumlah detail data untuk verifikasi data yang ada dan lain-lain. Tidak lama, urusan pengecekan ini beres dan saya resmi dipersilahkan masuk ke wilayah administrasi Amerika. Lalu, sebelum keluar saya katakan, “Maaf, saya ini pesawatnya sudah ketinggalan, tadi ada orang dengan alasan penerbangan lanjutan bisa dilayani, kenapa saya tidak. Kemudian, mengapa juga saya yang gilirannya dilayani, malah dikembalikan antrian pasportnya ke loker? Ini tidak fair.” Dia bilang, “urusan pasport Anda tadi itu akan saya selesaikan dengan kolega saya. Itu tidak benar. Ah, yang penting sudah beres.

Bergegas saya ke luar, ambil koper, dan menuju ke counter United Airways untuk penerbangan domestik. Betul, perjalanan saya dialihkan ke flight berikutnya tanpa charge. Namun, waktu sudah menunjukkan jam 1 siang waktu setempat, saya belum makan siang. Berarti, harus segera mencari cafe untuk mengisi kampung tengah ini. Sambil berjalan mencari cafe di dalam airport, saya mencoba hidupkan HP yang dari tadi off, sejak dari pesawat karena gerakan cepat urusan imigrasi yang jatuh kepanjangan itu. Ealah, lupa saya minta aktifkan international connection semasih di Sydney. Maklum, provider saya 3 (Three) belum punya koneksi otomatis alias aliansi strategik dengan provider setempat . Jadi, memble deh, padahal sudah janji untuk memberi kabar begitu tiba, kepada Nelsy dan Nike di Sydney.

Selepas makan, saya masih sempat punya waktu sebelum terbang lagi. Coba-coba hidupkan laptop dan nyari siapa tahu ada koneksi internet gratisan. Dulu di Finland ada akses wireless internet gratis di airport. Masa di San Fransisco tidak ada sih? Benar, ada sinyal, tapi harus bayar, komersial. Sialan. Kapitalis bener sih, pikirku. Lemes deh, tutup lagi laptopnya, masukkan ransel dan duduk diam menunggu penerbangan.

Albuquerque – Santa Fe
Penerbangan ke Albuquerque berlangsung lancar, tidak ada keterlambatan. Pesawat turun dengan mulus di landasan airport. Beberapa saat, setelah pesawat bersandar bagi di fasilitas parkir terminal bandara, kami pun turun. Saya bergegas turun karena harus mencari transportasi ke Santa Fe.

Ada paling tidak 2 pilihan untuk sampai ke Santa Fe. Pertama, saya gunakan train yang namanya Railrunner. Atau, ya gunakan shuttle-(mini)bus yang langsung ke Santa Fe. Dari Sydney saya sudah menyiapkan diri naik Railrunner. Maklum, mahasiswa kalau bisa ya naik public transport. Dan, saya tergolong mahasiswa yang baik, irit menggunakan uang kampus. Namun, saya agak ragu-ragu karena begitu tiba di lantai 1 airport, counters layanan shuttle-bus ada di depan mata. Bimbang saya, apalagi saya belum tahu ke mana harus pergi untuk bisa mengakses Railrunner. Namun, saya akhirnya putuskan, Railrunner. Saya tanya petugas keamanan di bandara ABQ, di mana saya bisa naik shuttle bis bandara – stasius Railrunner dan segera ke sana.

Namun, setiba di shelter bis itu, saya harus menunggu cukup lama di sana. Karena agak lama, saya menyesal juga tidak ambil bis. Namun, keputusan ya keputusan. Beberapa saat kemudian datang bis itu. Saya tanya si sopir, benar, bis ini menuju ke stasiun Railrunner di pusat kota. Naiklah saya. Kira-kira 30 menit saya berada di bis berputar-putar kota sesuai jalur bis ini, termasuk melewati kampus NMSU. Begitu sampai di stasiun di kota, saya cepat-cepat ke track Railrunner, karena waktu tinggal beberapa menit. Di sana telah menunggu cukup banyak orang. Oya, kalau mengikuti rencana awal, saya harusnya naik Railrunner yang jam 4 sore. Namun, karena keterlambatan pesawat tadi, saya harus naik yang jam 7.46 malam. Ini perjalanan terakhir ke Santa Fe.

Railrunner, diambil dari nama roadrunner, si burung yang berlari super cepat di wilayah gurun Amerika, tokoh kartun yang pernah diputar di TV saat saya masih kecil. Gambar yang menghiasi kereta yang tampak cukup mentereng ini menggambarkan si burung roadrunner itu. Ini double-decker train yang masih baru dan tampak masih kempling dan sangat nyaman. Kalau mau berjalan, suara si burung yang lazim didengar di film kartun itu pun berbunyi.

Saya bergegas naik dan mengambil tempat yang cukup leluasa, supaya bisa cukup nyaman beristirahat. Memang, penumpangnya juga tidak padat, jadi ada lah space yang cukup. Namun, istirahat tidak berarti tutup mata dan tidur, karena saya justru ingin menikmati pemandangan dalam perjalanan, apalagi di waktu jelang matahari terbenam. Di tengah perjalanan, di satu tempat, si “pilot” railrunner mengumumkan bahwa tempat yang dilewati ini tidak boleh ada pemotretan untuk menghormati kultur suku Indian setempat. Saya tidak tahu dan tidak mencari tahu, suku apa dan mengapa, kecuali ya menghormati saja.

Perjalanan dengan Railrunner sekitar 1.5 jam. Saya tiba sekitar jam 9.15, tiba di Santa Fe Depot sudah gelap. Saya pikir kalaupun malam, saya toh barangkali bisa gunakan taksi. Seperti di depan, sebetulnya ada shuttle-bus gratis yang berputar kota Santa Fe. Namun, bis ini sudah berhenti layanannya jam 4 sore, khusus hari Sabtu. Saya menjadi jelas karena bertanya seorang bapak tentang shuttle-bus ini. Dari Sydney saya tidak cek banyak informasi seputar Santa Fe, khususnya kalau tiba di malam hari begini. Nyatanya, yang saya hadapi adalah, tidak ada taksi. Saya berdiri dan berdiri, kok melompong. Akhirnya saya putuskan bertanya dua orang ibu-ibu yang tampaknya mau menghabiskan waktu malam minggunya. Mereka katakan mereka menanti sebuah kendaraan, namun tidak tahu apakah lewat lokasi hotel saya. Jadi, mereka sarankan saya jalan saja, karena tidak begitu jauh. Setelah berterima kasih, saya pun angkat koper dan angkat kaki, jalan kaki di malam hari di kota yang belum pernah dikenal.

Bermodalkan peta yang saya pegang, saya ancar-ancar arah jalan saya ke lokasi hotel yang saya tuju. Memang tidak jauh sih, tapi ya sambil tarik atau gotong koper ya capek juga. Lagipula, udah capek akibat perjalanan panjang, yang penuh ketegangan. Saya tiba di hotel, pintu depan sudah tutup. Namun, masih ada layanan bagi tamu yang datang malam, lewat pintu samping. Maklum ini hotel tidak cukup besar lah, seperti transit hotel bagi para travellers, kalau saya lihat dari desain hotel. Setelah check-in yang disertai sedikit argumen, karena saya dicatat baru masuk tanggal 21 padahal sudah saya ralat sebelumnya, saya langsung menuju kamar.

Waktu sudah sekitar pukul 10 malam. Tidak ada lagi warung makan yang kelihatan mata masih buka (padahal tidak tahu sih sebenarnya, karena Santa Fe adalah kota turis dan ada cafe yang buka sampai tengah malam). Tadi waktu lewat, ada cafe yang buka. Namun, saya tidak tahu apa masih buka dan terlebih dari itu ya saya tidak mau capek lagi. Untung masih ada sisa kentang dan sedikit snack di tas yang bisa mengganjal lapar saya. Jadi, sehabis mandi, saya langsung makan dan bersiap istirahat. Sebelum istirahat, saya harus kabarkan keadaan saya buat Nelsy dan Nike di Sydney. Untung ada koneksi internet gratis di setiap kamar hotel. Jadi, saya bisa langsung email mereka, sambil memberi tahu tidak bisa koneksi via HP.

Saya masih cek acara konferensi dan juga berita via internet. Setelah itu, sambil nonton talkshow lalu music di TV, saya tidur. Selamat datang di Santa Fe, itu tema tidur saya he he he.

Advertisements

Responses

  1. Hehe.. Saya selalu suka cerita perjalanan yang nggak sesuai jadwal, seperti ini. Seru. Ditunggu lanjutannya, pak. 🙂

  2. Trims komentarnya, Sat. Asli, seru, paling tidak dalam pikiran, selama berurusan dengan imigrasi AS itu dan memikirkan (jadwal) penerbangan/perjalanan.

    Lanjutannya masih tunggu waktu untuk ditulis. Mohon sabar menanti. Bersambung, kira-kira begitu lazimnya cerita berseri he he he… Tidak kalah serunya.. walah promosi he he he..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: