Posted by: nsrupidara | June 11, 2009

Penelitian lapanganku di Jakarta

Bulan Februari hingga April yang lalu saya habiskan untuk melakukan penelitian lapangan untuk tesis doktoralku. Topik penelitian saya adalah tentang bagaimana para profesional SDM di subsidiari perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia mengonstruksi sistem MSDM di perusahaan mereka. Karena itu, lokasi penelitian saya adalah di beberapa perusahaan multinasional yang berada di Jakarta dan sekitarnya. Saya mengambil 3 kasus perusahaan lintas industri, sebuah pilihan yang beresiko dalam kacamata tertentu, tetapi berpeluang juga untuk mendapatkan insights menarik jika spekulasi teoritis yang saya gunakan terbukti.

Sejak dari Sydney saya sudah melakukan kontak-kontak dengan beberapa perusahaan agar bersedia menjadi tempat penelitian saya. Desain awal, penelitian ini akan menjadi two-tier case study, di level headquarter dan di level subsidiari. Karena itu, perusahaan multinasional dari Australia jadi incaran. Cuma, tidak gampang mendapat persetujuan perusahaan-perusahaan yang dituju. Karena itu, desain alternatif disiapkan juga, B dan C, walau penjajagan masih tetap dilakukan pada MNCs Australia.

Dalam membangun dan melakukan kontak ke perusahaan-perusahaan, jejaring sosial penting. Rekan-rekan alumni UKSW, baik dari Fakultas Ekonomi maupun non FE banyak membantu. Saya sangat berterima kasih kepada teman-teman ini, seperti Renny, mbak Debbie, dan belakangan Lia. Jalur relasi lain adalah dari komunitas milis SDM Indonesia. Ada juga seorang rekan di sana yang membantu, di samping dari milis itu juga saya mendapatkan alamat kontak beberapa perusahaan lain. O ya, waktu studi tahap awal saya lakukan untuk membuat sebuah paper, milis-milis HR Indonesia ini malah menjadi tempat penelitian, semacam etnografi elektronik deh, mengobservasi milis-milis. Ada juga teman di milis yang bersedia diwawancarai via email. Relasi lain adalah saudara, yang menghubungkan ke temannya. Relasi lain adalah melalui pembimbing saya yang kebetulan salah satu client konsultasinya memiliki institusi rekanan yang kebetulan baru datang studi banding ke Sydney. Semua karena relasi. Jadi, manfaat dari relasi-relasi ini membuktikan pandangan Mark Grannoveter, seorang sosiolog dari Univ. Stanford yang berteori tentang manfaat social network dalam papernya, The Strenght of Weak Ties. Di sana memang fokus Grannoveter ada pada kenalan-kenalan jauh, itu mengapa disebutnya weak ties.

Saya berangkat dari Sydney 6 February pagi dan tiba malam hari di Jakarta. Dari bandara, saya ambil taksi ke tempat kos di daerah Karet Sudirman. Adik saya sudah membantu mengatur tempat kos saya. Jadi, saya tinggal telpon memastikan saya akan masuk saat saya tiba. Dan, semua lancar. Tiba di kos, tanpa banyak urusan, saya masuk kamar, beristirahat sebentar sambil menyimpan barang-barang bawaan, lalu keluar mencari makan, karena sudah lapar. Pokoknya, segala sesuatu berjalan lancar-lancar saja.

Selamat sabtu dan minggu saya beristirahat, sambil menyiapkan pertemuan pertama hari senin di organisasi kasus 1. Saya sudah membuat janjian dari Sydney, senin jam 2 saya bertemu untuk perkenalan dan baru selasa saya mulai proses pengumpulan data. Jadi, sabtu minggu saya pakai untuk mengenali daerah sekitar tempat tinggal, mengurusi barang kebutuhan harian yang mendesak, serta mencari informasi-informasi terkait dengan rencana penelitian saya ini. Dari kontak awal juga, saya mendapat janjian bertemu Lia, alumni FH UKSW, mantan rekan sesama pengurus Senat (SMU) di UKSW, pada hari senin.

Senin pagi saya bertemu Lia di kantornya dan selanjutnya ia sangat membantu untuk membuka jalan dan memuluskan pelaksanaan penelitian di tempatnya bekerja. Jadi, ternyata saya sudah mulai mengeksekusi desain alternatif dalam penelitian ini. Memang saya masih mencoba menghidupkan desain awal, tapi hasilnya tidak cukup memuaskan. Dan, memasuki minggu-minggu 2-3, saya semakin yakin untuk menjalankan plan C dari desain penelitian saya. Well, soal plan A, B, C ini menunjukkan adanya kelenturan metodologis dalam penelitian saya. Bagi saya, metode penelitian adalah sesuatu yang baik didesain, maupun emerging. Keadaan lapangan akan membuat proses reflektif terjadi untuk menyempurnakan desain dan proses penelitian. Pandangan seperti ini cenderung lebih mudah diakomodasi dalam model penelitian kualitatif, daripada yang kuantitatif yang segala sesuatu sudah pre-determined.

Setelah bertemu dan membahas kemungkinan penelitian di perusahaan tempat Lia, saya menuju ke studi kasus 1. Ups, saya makan siang dulu kok. Di lembaga itu, rencana pertemuan dengan pimpinan unit tempat saya akan “berkantor” untuk penelitian diundur karena kesibukan. Namun, saya ditemani dulu oleh rekan-rekan HR di unit itu, berdiskusi seputar penelitian saya dan hal-hal terkait HR dan studi lanjut di bidang HR. Pada akhirnya ketemu dengan pak Dwi, pimpinan unit yang saya maksudkan tadi, proses percakapan berjalan akrab. Maunya cuma perkenalan, eh sudah menjadi satu sesi pengumpulan data tersendiri. Banyak hal saya dapatkan, terutama perspektif pak Dwi soal pembangunan organisasi HR dan kontribusi HR bagi organisasinya. Well, organisasi ini bukan MNC. Namun, mengapa saya ambil jadi salah satu studi kasus saya tadi? Well, tadi saya katakan di atas, ada sebuah spekulasi teoritis yang saya ambil, efek institusional dalam suatu field organisasional. Lazimnya studi-studi tentang efek institusional dilakukan di dalam satu industri. Namun, ada juga tentang bidang profesi.  Nah, walaupun HR sulit disebut sebagai sebuah bidang profesi yang telah terinstitusi sedemikian rupa dan praktik manajemen, khususnya HR dan khususnya lagi pada fungsi-fungsi tertentu mengandung efek industri, saya tetap ‘nekad’ menabrak batas industri untuk melihat efek institusional pada organisasi lintas industri ini. Di ambilnya studi kasus 1 ini adalah untuk ‘membuktikan’ bahwa memang ada efek institusi yang saya maksudkan. Well, ini bukan sebuah hipotesa yang mau dibuktikan sih, tetapi saya membuka diri terhadap kemungkinan ini. Lagi pula, beberapa penelitian terakhir mengindikasikan ada berlakunya apa yang disebut viral diffusion, atau terjadi distribusi model, gagasan, tools lintas bidang (industri, misalnya). Jadi, saya berspekulasi. Kalau toh tidak terbukti ya tetap saja studi kasus 1 ini bermanfaat dalam keseluruhan desain penelitian saya, di samping bisa dimanfaatkan untuk hal lain di luar setting proyek penelitian ini.

Saya mondok selama 2 minggu atau tepatnya 10 hari di dalam organisasi tersebut, yakni di hari-hari Selasa, Rabu, Kamis, plus satu kali hari Senin. Itu saya gunakan untuk mewawancarai sejumlah narasumber. Metode wawancara yang gunakan adalah narrative interview, yang menghendaki rendahnya intervensi saya dengan predermined questions, apalagi structured-questions. Saya hanya menjelaskan latar belakang penelitian dan sejumlah hal yang saya maksudkan terkait topik penelitian, setelah itu saya biarkan si narasumber bercerita tentang dunia HR di organisasinya itu, khususnya pada bidang tugas yang ditanganinya. Memang, saya juga mengajukan sejumlah pertanyaan selama wawancara tersebut berlangsung, tetapi lebih untuk mendapatkan klarifikasi, atau elaborasi ide atau pernyataan yang sudah disampaikan sebelumnya. Hanya sesekali saya menanyakan sesuatu keluar dari pernyataan sebelumnya dari narasumber, untuk mendapatkan gambaran yang lebih banyak tentang bidang terkait yang ditangani si narasumber. Rancangan wawancara yang hanya 1 jam ternyata berlangsung lebih. Beberapa wawancara berlangsung 1.5 hingga mendekati 2 jam. Saya juga melakukan observasi tentang kehidupan kerja di organisasi itu, khususnya di bagian SDMnya karena meneliti proses pembangunan sistem-sistem MSDM berarti juga terkait dengan dinamika orang-orang di departemen SDM. Saya juga menyempatkan diri untuk mengutak-atik dokumen perusahaan, khususnya melalui fasilitas intranetnya. O ya, di luar wawancara resmi yang telah terjadwal, saya juga melakukan sejumlah percakapan informal, yang bisa membantu saya untuk mengenali pandangan natural terhadap kondisi MSDM di tempat itu. Jadi dengan kombinasi metode-metodi itulah, saya melakukan apa yang disebut triangulasi metode pengumpulan data.

Sambil menyelesaikan studi kasus 1, saya juga berburu data di luar perusahaan. Ini menyangkut perkembangan kondisi hubungan industrial, khususnya selama dan pasca reformasi. Dari pengelola NGO perburuhan, aktivis serikat buruh, akademisi hukum perburuhan dan juga sosiologi (industrial) saya wawancarai. Sayangnya pihak Apindo tidak saya dapatkan kesempatan wawancara. Namun, pandangan pihak Apindo bisa saya dapatkan dari sumber-sumber sekunder, sama seperti juga pandangan pihak buruh, pemerintah, dan NGOs serta akademisi.

Juga di sela-sela itu, saya melakukan kontak telpon dan kunjungan untuk mendapatkan konfirmasi pelaksanaan “work in” saya di perusahaan-perusahaan kasus berikutnya. Dan, perlahan tapi pasti, satu per satu memberi konfirmasi kesediaan dan pengaturan jadwal. Memang tidak banyak kasus yang saya pilih, hanya 4. Namun, jumlah bukan masalah utama, tetapi kecukupan data untuk menggambarkan dan menganalisis masing-masing kasus yang distudikan, itu yang lebih penting. Itulah mengapa saya memilih pola working in alias berlaku seolah menjadi ‘pegawai’ perusahaan sehingga masuk pukul 9 dan pulang pukul 5, ya korupsi 1 jam nggak apa-apa ya. Di Indonesia, Jakarta khususnya, jam kerja normal adalah 8 pagi hingga 5 sore. Kalau di Sydney, jam 9am – 5pm. Kalau di Salatiga, 8 pagi – 4 sore. Jadi, sesungguhnya jam work in saya cukup kan..

Selesai dari kasus 1, saya “beristirahat”, capek juga. Tanpa banyak istirahat, begitu tiba dari Sydney kan saya langsung mulai penelitian saya. Jadi, 4 hari saya pakai untuk pulang kampung ke Kupang. Saya membawa serta ibu mertua, yang sudah lama ingin mengunjungi keluarga saya di Kupang. Waktu efektif di Kupang sih cuma 2 hari, karena kami tiba malam hari di hari pertama dan pulang pagi-pagi sekali di hari ke-4. Tiba di Jakarta ya istirahat hari itu dan besoknya langsung mulai lagi proses perburuan data. Oya, di sela-sela penelitian pertama ini, saya juga sempatkan diri dua kali ke Bandung, mengunjungi keluarga di sana, ibu mertua dan adik-adik serta kakak ipar.

Kasus ke-2 adalah sebuah perusahaan multinasional dengan pemegang saham utama dari Jerman. Perusahaan ini adalah salah satu pemain utama di industrinya. Well, kasus-kasus yang saya pilih adalah pemain-pemain signifikan di industri masing-masing, walau tidak semua berada di top-3 atau 5. Ada satu yang merupakan challenger yang berambisi menjadi salah satu yang terbaik dan sedang melakukan upaya-upaya strategik merealisasi strategic intent-nya itu.  9 hari saya habiskan di perusahaan ini, dengan pola yang sama dengan kasus 1, walau kali ini dokumen perusahaan lebih berupa dokumen cetak. Harusnya 10 hari, tetapi ada 1 hari libur, tapi belakangan saya diberi kesempatan untuk menggunakan 2 jam wawancara tambahan (saat melakukan studi kasus 3) dan terakhir sebelum pulang masih juga ada waktu 1 hari lagi saya melakukan kunjungan dan mewawancarai narasumber tambahan.

Selesai kasus ke 2, saya langsung melanjutkan kasus ke-3, dengan hanya beristirahat akhir pekan di Jakarta. Perusahaan ke-3 adalah sebuah MNC Australia. Dari sudut jumlah pekerja total, hampir sama antara perusahaan ini dengan perusahaan sebelumnya. Namun dari sudut ikatan legal formal ketenagakerjaan, sebagaimana ciri perusahaan dalam industri ini, maka yang disebut resmi sebagai karyawan perusahaan ya jauh lebih kecil. Karena itu, tim SDM di perusahaan ini pun jauh lebih kecil dari baik perusahaan MNC Jerman itu, maupun dengan lembaga tempat studi kasus 1. Namun, dinamika keorganisasiannya boleh dikata relatif tinggi. Saya menghabiskan waktu yang sama, 10 hari minus 1 hari libur, tetapi plus beberapa jam kunjungan pertama beberapa minggu sebelumnya dan beberapa jam kunjungan akhir menjelang saya pulang.

Sambil work in di MNC ini, saya juga meminta waktu untuk beberapa wawancara di luar perusahaan. Di antaranya dengan pihak International Labor Organization (ILO) dan perusahaan konsultan manajemen. Ini juga adalah bagian dari analisis setting institusional yang lebih luas, dari sekedar kondisi mikro dalam perusahaan, walau memiliki keterkaitan langsung dengan kondisi mikro itu, khususnya dalam relasi perusahaan konsultan dan perusahaan-perusahaan kajian saya itu.

Setelah kasus ke-3 selesai, saya pulang rumah, ke Salatiga. Well, boleh dikata berlibur, tetapi ada juga sejumlah kegiatan ‘tugas’ yang harus saya selesaikan di Salatiga, di antaranya menyelesaikan laporan pajak (SPT) tahunan. Pemerintah tampaknya mulai galak dengan urusan ini, jadi saya juga harus penuhi kewajiban saya. Ada beberapa urusan lain yang juga diselesaikan selama 4 hari di sana.

Sepulang dari Salatiga, saya sudah ditunggu jadwal wawancara dengan 2 orang akademisi di bidang HR dari universitas papan atas di Jakarta dan seorang konsultan dari perusahan konsultan manajemen. Mengapa akademisi dari Jakarta saja? Well, ada UGM di Yogya yang juga boleh dikata punya reputasi cukup kuat soal ide MSDM di Indonesia. Namun, terkait dengan peredaran ide yang sedikit banyak memengaruhi gagasan operasional HR di Indonesia, khususnya Jakarta harus dinilai Jakarta-lah tempatnya. Di dukung relasi dengan industri media yang menjadi tempat dipublikasikannya gagasan manajemen, akademik maupun populer, “industri” pengetahuan manajemen di Indonesia masih bisa dinilai berpusat di Jakarta. Mudah-mudahan besok-besok, tempat lain bisa menjadi pusat-pusat ide baru, termasuk Salatiga karena keberadaan UKSW.

Selepas wawancara-wawancara lepas itu, saya masuk ke studi kasus terakhir, di sebuah MNC AS. Ini adalah perusahaan terbaik di industrinya. Dulu dia masih berada di urutan 2/3, tetapi secara konsisten telah merebut posisi nomor 1 dari pesaing-pesaingnya. Pola pengumpulan data saya tidak berbeda, kali ini dokumen kembali saya akses via intranet, walau ada juga beberapa dokumen cetak. Wawancara-wawancara juga berlangsung dengan baik, rapi terjadwal, walau sayangnya saya harus mencatat seluruh keterangan dengan tulisan tangan, alias tidak merekam dengan tape recorder. Well, itulah bagian dari kesepakatan yang kami capai, jadi harus dihormati. Saya menghabiskan 8 hari di perusahaan ini, karena ada 2 hari libur, termasuk libur Pemilu lalu. Namun, saya sempat mengunjungi perusahaan ini sekali beberapa minggu sebelumnya untuk bercakap-cakap dengan HR Directornya.

Berakhirnya studi kasus ke-4 berarti saya telah mengakhiri masa pengumpulan data saya di Jakarta. Saya masih berkesempatan untuk mengunjungi 3 lokasi penelitian sebelumnya sebelum pulang. Di samping masih melakukan percakapan-percakapan terkait data penelitian, saya menyempatkan diri berpamitan.

Well, secara umum, para narasumber sangat kooperatif dalam membantu saya dalam proses penelitian. Saya salut akan komitmen mereka dan mengucapkan terima kasih. Demikian juga yang menjadi fasilitator dalam perusahaan, yang mengatur seluruh jadwal wawancara dan akses pada sumber data lain. Well organised, walau mereka adalah orang-orang yang sangat sibuk. Juga pimpinan HR di masing-masing perusahaan yang telah memberi persetujuan, bahkan antusias memberi data, terima kasih.

Seluruh data sementara ini masih tersimpan dalam tape recorder dan buku catatan penelitian. Satu per satu rekaman wawancara secara perlahan sedang saya transkripkan. Agak lambat proses ini karena harus menyelesaikan 2 papers konferensi saya, sekembali ke Sydney. Namun, saya berkomitmen untuk menyelesaikannya dalam tahun ini sehingga sesegera mungkin melakukan analisis grounded atas seluruh data untuk mengonstruksi model empiris terkait topik, persoalan, dan tujuan penelitian saya.

Advertisements

Responses

  1. Salam Sukses Mas Neil,

    Saya takjub dengan pemikiran-pemikiran mas Neil.
    Banyak akademisi dan juga pembimbing yang masih memilah antara penelitian quantitative dengan qualitative.
    Saya adalah salah satu “korban”keberuntungan dari pemikiran qualitative yang diusung Mas neil. Sampai sekarang memang terbukti dan terlihat bahwa mas Neil adalah qualitative lecturer.

    Saya juga sedang in progress di thesis saya mas.. Saya sedang mencoba bertahan dengan pemikiran qualitative study.. walaupun belum tentu disetujui para pembimbing.

    Salam sukses selalu mas Neil.

  2. Hi Ron.. Wah, salam jumpa lagi. Terima kasih untuk sapaan dukungannya dan terlebih dari itu atas konsistensi track riset-mu di jalur kualitatif. Bagi saya, tidak masalah dalam memilih antara yang kualitatif versus yang kuantitatif. Keduanya sama legitimate secara metodologis, tergantung pada research question yang diangkat, dan terlebih dari itu, paradigma keilmuan atau metodologis yang dianut. Jika masih banyak orang mungkin terlalu mengagungkan quantitative approach dan sebaliknya memandang rendah yang qualitative, itu lebih karena paradigma yang mendominasi pemikirannya, yang kadang tidak disadari. Kebanyakan kita dibesarkan dalam tradisi positivism yang menjadi basis bagi metode-metode kuantitatif. Memang, ada juga aliran positivism dalam pendekatan kualitatif. Sayangnya, sekalipun pun telah bermanfaat banyak dalam pengembangan dunia2 keilmuan, yang positivistik ini cenderung gagal memahami kekayaan fenomena dan interpretasi atasnya, terutama di dunia sosial. Realitas sosial juga kadang sudang dideterminasi dari “belakang layar”, dengan teori-teori canggih, misalnya. Penelitian hanya menjadi tempat testing sangkaan-sangkaan ilmiah yang dibuat sebelumnya. Dunia nyata hanya jadi tempat kumpul evidence untuk membuktikan pikiran si peneliti. Ini jelas berbeda dengan pandangan para peneliti kualitatif yang beraliran interpretive-constructivist, yang menghargai kekayaan fenomena dan memanfaatkan kekuatan interpretasinya untuk mengonstruksi ‘realitas’ sosial. Bagi peneliti macam begini, dirinya (dan kemampuan logisnya) adalah instrumen penelitian, apa yang oleh peneliti kuantitatif lebih ditujukan pada bentuk-bentuk seperti kuesioner dan perangkat2 teknis pengolah data. Jadi, memang ada dasar-dasar pijak yang berbeda antara kedua pendekatan itu, yang kadang-kadang karena pengabaian atas perbedaan-2 itu, terjadilah kekeliruan judgments, seperti sikap memandang rendah atas penelitian kualitatif. Kita tampaknya lupa bahwa dalam kenyataan sehari-hari, banyak pengetahuan kita terkonstruksi secara kualitatif. Hanya karena diberi atribut “penelitian ilmiah” lalu tiba-tiba kita jadi lupa diri dan menjadi hakim yang tidak adil bagi apa yang sesungguhnya juga natural bagi si hakim, hanya karena dibatasi oleh kebiasaan-kebiasaan ilmiah yang melingkupinya.

    OK, sukses dengan penelitianmu. Semoga bisa menjadi salah satu defender yang baik bagi qualitative research. Mari kita promosikan kekayaan paradigma dalam dunia keilmuan kita.

    Salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: