Posted by: nsrupidara | June 11, 2009

Karakteristik pendidikan tinggi

Tulisan ini adalah pembahasaan kembali dari sebuah buku yang sempat saya baca beberapa hari lalu. Sudah beberapa tahun terakhir ini saya memberi perhatian membaca literatur pendidikan tinggi untuk memahami lebih baik kehidupan institusi pendidikan tinggi. Concern ini sesungguhnya sudah lama, sejah dulu aktif di Lembaga Kemahasiswaan UKSW. Namun, khususnya semenjak berkesempatan menjadi visiting scholar di St Olaf College di Northfield, Minnesota tahun 2005, perhatian saya pada dunia pendidikan tinggi dan pendidikan pada umumnya terus berkembang.

Buku itu sebetulnya menargetkan pembaca yang belum mengenal dunia pendidikan tinggi. Jadi, saya seharusnya bukan pembaca sasaran buku itu. Namun, buku itu memberi pemahaman menarik dengan memuat sejumlah aspek historis, perkembangan pendidikan tinggi, khususnya di Inggris (tentu dalam kaitan dengan sejarah pendidikan, maka ia juga harus merujuk ke zaman sebelumnya, Yunani kuno misalnya), yang bermanfaat bagi pembaca seperti saya yang hari-hari hidupnya adalah bersama dan untuk pendidikan tinggi.

Walaupun buku ini menegaskan dual function pendidikan tinggi, yakni teaching dan research, yang seringkali dilihat oleh sejumlah orang sebagai dua ‘kepentingan’ yang bertabrakan dalam kehidupan pendidikan tinggi, si penulis buku sesungguhnya membangun satu link kental di antara keduanya. Si penulis mengatakan bahwa, dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, tidak ada satu keyakinan (belief) pun yang terlalu sakral sehingga tidak bisa ditantang. Oleh karena itu, pengetahuan (yang memuat suatu substansi kebenaran tertentu) selalu harus dilihat sebagai sesuatu yang bersifat relatif, tidak tetap dan tidak statis. Dalam kacamata pandangan seperti itu, maka belajar (learning) dalam kehidupan perguruan tinggi adalah sebuak aktivitas meneliti, sebuah proses untuk mencari dan menemukan kebenaran atau pengetahuan yang terus berubah  itu. Nah, karena dari sudut pandang dan proses yang ditempuh memungkinkan tiap orang menemukan pengetahuan versinya, maka pengetahuan yang diperoleh harus selalu di-tes apakah memiliki reasoning yang menguatkan untuk diterima sebagai benar adanya. Dalam kaca mata itu, maka diskusi adalah proses esensial di perguruan tinggi, di mana mahasiswa dan dosennya memresentasikan pengetahuannya, memertanyakan dan mengantisipasi pertanyaan yang mencoba membongkar logika kebenaran sebuah pengetahuan. Dengan begitu, implikasinya bagi kegiatan pengajaran dosen adalah, bahwa “the most effective teaching consists of pulling ideas out of students, not drumming them in.” Well, pandangan ini jelas kontradiktif dengan realitas kehidupan pendidikan tinggi kita di kebanyakan institusi perguruan tinggi di Indonesia. Bagi kita, mengajar ya dosen menceramahi para mahasiswanya, untuk menunjukkan bahwa dia tahu segala sesuatu tentang apa yang hendak atau sedang dikuliahkannya. Dalam totalitas pandangan yang saya sampaikan itu, maka riset dan teaching adalah dua dunia yang tidak terpisahkan, menyatu sebagaimana upaya universitas-universitas dan colleges di Amerika yang sedang membangun model-model student-centered research-based university.

Saya tertarik mengutip pernyataan si penulis berikut, “If you cannot understand this questioning attitude (maksudnya di dunia pendidikan tinggi ya isinya adalah selalu memertanyakan atau menggugat kebenaran sebuah pengetahuan), you cannot understand what distinguish higher education from other areas of learning.” Luar biasa, pernyataan ini. Tidak jarang, masih mungkin kita jumpai dosen yang ‘ngecing’ mahasiswa yang usil. Jadi, kalau bisa memberi kuliah tanpa dibumbui dengan pertanyaan, maka bagus. Kalaupun ada pertanyaan, maka budaya kita masih belum berterima jika si mahasiswa punya pandangan berbeda dari dosennya. Coba lihat tes-tes atau ujian, kebanyakan masih merujuk pada kebenaran yang dipegang si dosen. Masih sangat jarang para dosen menguji rasionalitas pandangan mahasiswa. Mereka masih menguji jawaban mahasiswa terhadap kebenaran normatif yang mereka pegang, entah bersumber pada buku teks yang mereka pakai atau ya keyakinan pribadinya. Padahal, catat si penulis buku itu, “The persistent challenging of those with authority creates a tension in our society that is innovative and constantly adapting to change. Jadi dari gugatan, pertanyaan dan upaya menolak atau meragukan sebuah kebenaran, justru akan muncul inovasi. Sebaliknya, tanpa itu masyarakat akan cenderung statik, ketinggalan zaman.

Pandangan seperti itu dibangun si penulis dari sejarah pendidikan (tinggi). Ia mencatat model pendidikan Socrates, misalnya, yang sangat dikenal dengan Socratic Method, sebagai salah satu akar pendidikan tinggi. Ia juga mencatat bahwa di abad pertengahan terjadi perkembangan model debat atau disebutnya contested discussion, sekalipun era ini pun memiliki dimensi ‘kegelapan’ yakni elitisme kebenaran berdasarkan otoritas formal. Contested discussion menyaratkan proses mendengar secara kritis, memahami, dan merangkum pendapat pihak lain sebelum mengajukan argumen terbalik menggugat kebenaran pendapat itu. Jadi, orang tidak bisa bersikap ‘pokoknya’, tetapi harus belajar mengadu argumen di atas argumen. Tanpa itu, tidak pantas kita menolak pandangan orang, apalagi cuma seenaknya mengatakan “pokoknya menurut saya itu salah (memangnya kamu mbah-nya kebenaran?).” Well, ini menunjukkan bahwa tradisi ilmiah pendidikan tinggi sebagai sebuah komunitas kritis adalah sesuatu yang berusia panjang, dibangun dari satu masyarakat (Yunani) ke masyarakat lain (negara Eropa lainnya, Amerika, dan sebagainya). Namun, mengapa kultur pendidikan tinggi kita di Indonesia justru lebih suka yang gaya “pokoknya, pokoknya” ?

Abad 15, 16, dan 17 sebagai abad pencerahan (Renaissance) memunculkan tradisi baru, individualisme yang humanis. Yang dimaksudkan dengan individualisme di sini adalah kebebasan individu untuk mengekspresikan apa yang dipandangnya baik, benar. Memang dominasi kebebasan ekspresi adalah di dunia seni, namun ia telah memengaruhi mashab ini untuk memengaruhi kultur pendidikan tinggi, khususnya di negara-negara barat. Dari individualisme ini, orang didorong untuk mengekspresikan pemikirannya yang original karena itu menunjukkan perkembangan umat manusia dan itu adalah esensi dari aktivitas riset, mencari dan menemukan sesuatu yang baru dan original untuk menyingkap kebenaran dan mememajuan ilmu pengetahuan (serta seni dan teknologi) dan kehidupan manusia pada umumnya. Sebagaimana pelajaran sejarah sewaktu SMA, semangat pembaruan budi ini, merupakan reaksi terhadap dominasi kebenaran oleh institusi-institusi formal, khususnya agama. Agama telah membangun suatu institusi pikir yang memiliki ciri disiplin (di luar itu salah), ada sesuatu kebenaran tunggal (faith) yang dipegang oleh sekelompok orang. Implikasinya di dunia pendidikan tinggi saat itu, pembelajaran di universitas-universitas lalu bersifat “bookish learning.” Ini dihantam oleh semangat kebebasan mengekspresi yang ada pada individu, berbasis bukti yang diperoleh dari sebuah observasi ilmiah (bukan kebenaran doktrinal yang harus dipatuhi buta dan kaku) yang selalu mengejar atau meragukan kebenaran.

Kata si penulis, model pengajarah bookish tadi justru terjadi di universitas-universitas elit di Inggris, Oxford dan Cambridge, sebagai tempat berkumpulnya kamu elit. Pengajaran di Ox-bridge adalah pengajaran yang lebih berupa memorisasi, daripada mendorong creative imagination.  Well, masih ada juga model pendidikan seperti itu, sampai hari ini termasuk di kebanyakan lembaga pendidikan tinggi kita, 4-6 abad setelah ‘masa gelap’ itu. Waduh!!!. Akhirnya lulusan yang dihasilkan lebih merupakan Encyclopedists (tukang hafal, seperti kamus atau eksiklopedi) atau ahli kuis pengetahuan, daripada seorang yang bisa disebut benar-benar intelek. Pendidikan tinggi yang seharusnya bercirikan semangat mencari dan karenanya mendorong original discovery of ideas, tetap terkontaminasi oleh elitisme dan ketrampilan memorisasi, bukan sebuah demonstrasi kecanggihan sel kelabu otak manusia yang luar biasa melalui penciptaan-penciptaan.

Namun, memasuki abad 19, terjadi pemulihan fungsi dan model pendidikan di universitas-universitas di Inggris. Kurikulum yang tadi penuh dengan mata kuliah hafalan, kita membuka jalan bagi pembelajaran kritis melalui science, hukum, ekonomi, matematika, filsafat, etc. Dan, pembelajaran dengan pendekatan ilmiah kembali ditempuh melalui semangat mencari dan menemukan, dan itu artinya riset menjadi engine-nya. Dan, model universitas di Jerman (Germanic Model) menjadi contoh berkembangnya model universitas riset.  Penulis buku mencatat bahwa, sejak 1889 para professors (dosen) di universitas dituntut untuk aktif melakukan riset. Dan, sejak itu pula komitmen pemerintah untuk mendukung kegiatan riset secara finansial dan infrastruktur menjadi makin mengemuka, walau tetap juga mengalami masa pasang surut atau ketegangan berkaitan dengan konsekuensi pendanaan pemerintah.

Model universitas riset terus berkembang sampai hari ini, walau di saat yang sama memahami sisi koin yang lain dari dual function tadi, yakni universitas sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran juga tetap menjadi satu concern pokok. Di tengah perkembangan itu, termasuk tensi di antara kedua fungsi itu, tahun 1980an menambahkan dimensi manajerial dalam kehidupan perguruan tinggi. Universitas harus dikelola secara lebih baik, walau penulis mencatat diperlukannya kehati-hatian menransfer terminologi manajemen ke dalam dunia pendidikan tinggi secara gegabah. Misalnya, ia kemudian mengatakan, “The concept of efficiency is inappropriate to some aspects of university work. It concerned with the costs to achieve pre-determined objectives, but research and best forms of teaching are adventures of discovery.” Jadi, managerialism di dunia pendidikan tinggi tetap perlu memerhatikan karakteristik kunci pendidikan tinggi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: