Posted by: nsrupidara | January 27, 2009

Kepemimpinan Pak Willi di UKSW: Hasrat Kuat bagi Keunggulan Akademik, dan Ekspresi Kehadiran Kristen

Pendahuluan

Sulit untuk membantah bahwa Universitas Kristen Satya Wacana (selanjutnya UKSW) adalah sebuah perguruan tinggi Kristen yang pernah mengambil tempat dan peran sentral dalam percaturan kehidupan pendidikan tinggi dan berkehidupan masyarakat di Indonesia, teristimewa dalam lingkungan komunitas Kristen. Contoh paling mencolok mata adalah penerapan pertama kali Sistem Kredit Semester di Indonesia di era 1970an. Lembaga Penelitian Ilmu Sosial, Pusat Bimbingan, Perpustakaan, Pusat Bahasa, dan Pusat Pengembangan Sistem Pengajaran pernah menjadi lembaga-lembaga pionir dan/atau berposisi penting dalam menstimulasi peran akademik sebuah perguruan tinggi. Menambah deretan itu, Lembaga Pengabdian Masyarakat UKSW juga menjadi penopang penting apa yang sering diistilahkan Willi Toisuta, rektor ke-3 UKSW, sebagai segitiga akademik. Kehadirannya baik di lingkungan masyarakat Jawa Tengah, maupun khususnya bagi pemerintah daerah Timor-Timur serta komunitas mahasiswa Indonesia Timur, khususnya Papua dan Timor Timur cukup sentral. Bersama Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen, UKSW juga membentuk Yayasan Bina Darma di 1979 melalui mana peran sentral UKSW dalam konteks pendidikan dan pengembangan kepemimpinan angkatan muda Kristen makin mendapat pengakuan yang luas. Catatan-catatan ini barangkali tidak atau belum menggambarkan seluruh kenyataan UKSW di zaman itu.

Kehebatan yang demikian sesungguhnya menggambarkan betapa kuatnya peran kepemimpinan yang terlanjutkan dan bahkan semakin menguat khususnya hingga “zaman keemasan” di atas. Studi Collins dan Porras (2000) yang dituangkan dalam Built to Last walaupun mendelegitimasi mitos dan dominasi peran pemimpin besar dalam kepemimpinan peran perusahaan-perusahaan visioner di industri-nya, namun harus dibaca sebagai mengekspresikan sentralnya konsistensi kepemimpinan dalam membangun institusi/organisasi. UKSW pun pada tempatnya telah membangun dan memiliki karakteristik demikian. Pemimpin yang hebat bukan bekerja hanya untuk mengekspresikan kehebatannya belaka, tetapi lebih dari itu justru membangun institusi yang kuat dan itu telah dimulai dari Oeripan Notohamidjojo yang meletakkan dasar-dasar filosofis kelembagaan UKSW. Oleh Collins (2005) dalam Good to Great, peran pemimpin sebagai poros pertumbuhan organisasi akhirnya ‘dipulihkan’ dan ini membenarkan separuh perjalanan sejarah kepemimpinan di UKSW yang membangun institusi yang kuat dan kemajuan organisasinya.

Membaca fenomena UKSW dalam perspektif pengalaman pribadi penulis, sulit untuk membicarakannya dalam konteks kepemimpinan 2 rektor pertama UKSW, yakni O. Notohamidjojo dan Sutarno. Penulis tidak punya pengalaman empiris untuk berbicara pada kedua konteks tersebut. Di samping itu, dalam pemahaman subjektif penulis, pada periode kepemimpinan Willi Toisuta, UKSW makin eksplisit dalam visi kepemimpinan akademiknya dalam konteks perkembangan lembaga pendidikan tinggi modern.

Membahas kepemimpinan pak Willi, penulis mencoba mengaitkannya dengan dua konsep yang cukup sering penulis dengar secara langsung dari beliau, yakni academic excellence (penulis terjemahkan sebagai keunggulan akademik) dan Christian presence (kehadiran Kristen). Dua konsep ini, setahu penulis, bukan saja ‘dikejar’ pak Willi dalam sejarah kepemimpinannya di UKSW, namun juga dalam berbagai peran kepemimpinannya di berbagai organisasi yang terkait dengan kehidupan pendidikan, seperti di the United Board for Christian Higher Education in Asia (selanjutnya disingkat UB).

Jika secara konsisten seseorang berupaya untuk mencapai sesuatu maksud besar tertentu, maka di dalam dirinya ada hasrat atau pendorong yang sangat besar. Oleh karena itu, sengaja pula menggunakan kata hasrat kuat atau tepatnya passion. Dan, dalam interaksi personal dengan pak Willi, penulis merasakan besarnya energi itu, yang selalu tampak dalam ‘berapi-apinya’ pernyataan dan bahkan ekspresi fisik tubuhnya ketika membicara hal-hal tersebut. Seorang teman penulis dari Taiwan dalam sebuah perjalanan dengan taksi ke bandara internasional Hong Kong pernah mengatakan kekagumannya kepada pak Willi yang selalu energik, baik dari sudut rangsangan intelektual, relasi pribadi, maupun gerak-geriknya.

Mendorong Academic Excellence di UKSW

Penulis pertama kali tiba di Salatiga tahun 1986. Namun, pengenalan lebih jauh akan UKSW tampaknya baru dimulai sejak 1987, ketika penulis menempuh pendidikan SMA di Semarang dan terkhususnya ketika penulis mulai masuk tahap pendidikan tinggi di 1989 hingga awal dekade 1990an, periode mana merupakan era kepemimpinan Dr. Willi Toisuta sebagai Rektor.

Di kala itu, UKSW sedang dalam masa ekspansi, baik secara fisik maupun khususnya di atas landasan visi akademiknya yang sangat maju. Saat itu, UKSW sedang membangun gedung F, kemudian gedung G, dan Perpustakaan. Gedung-gedung dan asset fisik tentu bukan yang utama, karena yang sebetulnya yang ingin dicapai UKSW adalah kepemimpinannya di bidang akademik.

Ada cukup banyak indikator yang bisa ditunjuk untuk klaim di atas. Pertama, lewat pidato-pidato atau sambutan-sambutannya, sebagai rektor di zaman itu pak Willi intens mengomunikasikan visi dan tema pengupayaan academic excellence. Bukan saja pada ritual besar seperti upacara/perayaan dies natalis atau jika ada kesempatan pada kebaktian senin, pak Willi pun turun menyampaikan itu dalam rapat-rapat Fakultas juga dalam pertemuan-pertemuan dengan mahasiswa. Selebihnya, bukan sekedar retorika kepemimpinan, program-program pengembangan kampus jelas mengekspresikan mimpi besar itu. Di antaranya, UKSW di periode akhir 80an hingga awal 90an telah memandang jauh ke depan tentang konsep perpustakaan modern dalam kehidupan perguruan tinggi di era teknologi maju, padahal internet belum merupakan wajah keseharian masyarakat kampus atau umum selayaknya sekarang.

Konsep lain yang mengokohkan orientasi UKSW ke arah keunggulan akademiknya adalah relasi bermakna di antara ketiga darma pendidikan tinggi: pendidikan/pengajaran – penelitian – pengabdian masyarakat, yang lazim disebut-sebut pak Willi sebagai segitiga akademik. Bahkan, konsep research-based teaching and learning yang kemudian mengemuka di percaturan pendidikan tinggi Amerika Serikat setelah Ernest Boyer mengeluarkan bukunya Scholarship Reconsidered pun telah digagas sang rektor berambut putih ini sejak zaman itu dan terakhir dituangkannya kembali dalam dokumen Grand Strategy UKSW 50 Tahun Kedua ketika masih menjadi anggota Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW). Namun, dalam konteks paradigma ber-universitas di zaman itu yang jelas sangat kental pola teaching-centred-nya, ide tersebut memang masih terasa jauh panggang dari api. Namun, bukanlah Willi Toisuta jika tidak mampu mengomunikasikan dan mendorong lingkungannya secara elegant untuk memasuki medan paradigmatik baru yang penuh menghiasi kepala putihnya itu. Bahkan, mahasiswa UKSW di periode kepemimpinannya pun telah diajaknya akrab dengan jargon dan ambisi besar membangun universitas berbasis praktik-praktik pendidikan yang demokratis.

Konsep Belajar Itu Asyik adalah hal lain yang juga selalu didengungkannya, dalam perspektif membangun academic excellence di UKSW. Konsep ini sulit dilepaskan dari kacamata segitiga akademik dan research-based teaching and learning. Memang belakangan sebagian orang menyempit-tafsirkan konsep Belajar Itu Asyik dengan konsep seperti edutainment. Berdasarkan eksplorasi literature dan pengalaman observasi dan dialog pedagogis yang penulis alami sejak 2005, penulis memandang telah terjadi pengerdilan makna konsep Belajar Itu Asyik ketika dijejalkan ke dalam atau disepadankan dengan wacana edutainment. Kondisi ‘salah baca’ ini sama dengan klaim Stanley Aronowitz, Distinguished Professor of Sociology and Cultural Studies, Graduate School of City University of New York ketika menulis bagian Introduction buku baca Paulo Freire, Pedagogy of Freedom, “… Freire’s work has suffered the misreading of well-meaning educators who have interpreted his work as a “brilliant methodology,” a kind of manual for teachers who would bring out the best in their otherwise indifferent students. Such characterizations are undoubtedly fed by the common identification of pedagogy merely with compassionate teaching…the only issue is how to teach on the basis of caring.” Dalam tafsiran subjektif penulis, yang Willi Toisuta maksudkan adalah keintiman eksplorasi ilmu pengetahuan oleh para mahasiswa, dengan dibimbing para dosen dalam suatu relasi dosen – mahasiswa yang akrab tetapi profesional. Dengan memahami kepelbagaian style belajar dan mengajar mahasiswa dan dosen, maka konsep Belajar Itu Asyik tidak bisa ditafsir sebagai edutainment tetapi lebih mengekspresikan penumbuhan minat menggeluti bidang ilmunya secara mendalam dan bukannya sekedar menghibur mahasiswa ibarat seseorang menyanyikan lagu merdu dan membuai pendengarnya. Dosen bukan sekedar butuh (barangkali bahkan tidak butuh?) ketrampilan berorasi atau melucu dalam rangka membuat mahasiswanya menjadi ‘pegulat’ ilmu pengetahuan yang sejati. Bentuk edutainment masih tetap saja menempatkan dosen sebagai titik sentral dalam proses belajar – mengajar, bukannya mahasiswa sebagai subjek yang asyik dalam belajar.

Karena itu, ketika merumuskan kembali format pedagogi UKSW sebagaimana tertuang dalam dokumen Grand Strategy UKSW itu, pak Willi dengan sangat eksplisit ingin mereorientasi pendekatan pedagogis di UKSW sebagai pedagogi yang research-based. Dan, dalam berbagai kesempatan lain, beliau dengan sangat tajam menempatkan orientasi tersebut dalam konteks perkembangan dunia pendidikan tinggi yang dilingkupi oleh kemajuan teknologi. Namun, pak Willi sesungguhnya sudah menggagas dan turun menggumuli konsep ke dalam program UKSW sejak lama, termasuk ketika merancang proyek pengembangan Perpustakaan UKSW yang karena masalah finansial membuat realisasinya terputus dari sebuah gagasan besar.

Membaca visi dan tindakan pak Willi memberi penulis sampai pada suatu titik refleksi tentang komplikasi pandang pak Willi tetapi pada saat yang sama merupakan sesuatu yang terelaborasi, terkomunikasi secara sederhana sehingga cukup mudah dipahami, serta terencana dalam program kerjanya ketika menjabat sebagai seorang rektor. Bagi penulis, ini adalah ekspresi dari sebuah kapabilitas kepemimpinan yang rumit dan sulit didapat pada banyak orang. Ia mampu mengawin-mawinkan, misalnya, prinsip pedagogis kritis, tradisi riset dunia pendidikan tinggi, konteks lokal, dan teknologi maju. Hal ini akan makin kelihatan nanti ketika menghubungkannya dengan program-programnya yang lain yang memanifestasikan konsep Christian presence.

Jelas hal-hal di atas tidak cukup untuk menggambarkan seluruh gagasan maju seorang Willi Toisuta. Namun, paling tidak hal-hal tersebut membuktikan baik pada tataran gagasan maupun tindakan empiris seorang pemimpinan, pak Willi telah menunjukkan konsistensi dan daya implementasi yang kuat dari satu hasrat yang kuat untuk mencapai hal-hal yang diimpikannya. Ia masih membawa energi besar itu di usia-nya yang ke-70 dan bahkan mewariskan energi besar itu bagi generasi-generasi penerusnya untuk berjuang memenuhinya karena zaman terus berubah dan segala sesuatu bergerak mengalir.

Terus Mengupayakan Makna Kehadiran Kristen

Konsep kehadiran Kristen di UKSW sudah menjadi sebuah komitmen sejak masa pra-konsepsi UKSW. Kelahiran UKSW adalah bukti panggilan iman untuk melakukan sesuatu bagi gereja, masyarakat dan bangsa Indonesia. Karena itu, membaca pilihan-pilihan Satya Wacana sejak dulu dalam berkehidupan akademik dan melayani masyarakat lewat layanan pendidikan tinggi tampak jelas ekspresi diri dalam merespon panggilan eksistensialnya sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi Kristen. UKSW dan pelayanannya adalah bagian dari karya dan anugrah ilahi.

Tidak terlalu sulit untuk membaca manifestasi panggilan eksistensialnya dalam kebijakan dan program di masa kepemimpinan pak Willi, paling tidak dalam kacamata subjektif penulis. Hal-hal yang diungkapkan di atas menyangkut hasrat membangun dan mencapai academic excellence tiada lain, tiada bukan merupakan perwujudan pertanggungjawaban iman pemimpin dan komunitas UKSW dalam rangka memberi layanan pendidikan tinggi yang terbaik bagi masyarakat Indonesia. Pendidikan ditujukan untuk membentuk masyarakat terdidik, kaum intelektual yang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi serta mengemban tanggung jawab moral sebagai warga Negara yang bertanggung jawab. Dalam konteks tugas mulia seperti itu, mengupayakan pendidikan tinggi yang unggul secara akademik mengisyaratkan pemenuhan panggilan iman di atas.

Satu program yang baik dilihat sebagai perwujudan respon kehadiran Kristen adalah dibukanya program Pasca Sarjana Studi Pembangunan sebagai bentuk respon akademik UKSW terhadap masalah-masalah empiris dalam pembangunan yang mengambil pola kajian akademik yang trans-disiplin. Lazimnya progdi sejenis berada di disiplin ilmu ekonomi, namun UKSW mendekatinya secara berbeda. Menurut keterangan pak Willi dalam sebuah pembicaraan informal dengannya, pendekatan yang dipilih UKSW adalah problem-based dan banyak masalah pembangunan sifatnya kompleks alias memiliki akar masalah yang melibatkan ragam disiplin karena itu progdi ini tidak bisa diselenggarakan dengan pola monodisiplin. Namun, yang perlu disebutkan di sini adalah komitmen UKSW bukan untuk sekedar menyelenggarakan sebuah program pasca sarjana, tetapi lebih dari itu memberi kontribusi dalam berbagai masalah pembangunan. Ini bukan sekedar just an academic purpose, tetapi memaknai kontribusi dunia akademik pada masalah-masalah empiris. Ini sebuah action-oriented perspective dalam dunia akademik. Itulah tugas lembaga pendidikan.

Di luar itu, berbagai program pengabdian masyarakat yang dikerjakan oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat UKSW pun dapat dinilai sebagai bentuk menggarami dunia sekitar. UKSW bahkan tidak takut berhadapan dengan gesekan-gesekan bernuansa sentimen sosial-politik, misalnya perbedaan agama atau politik. Keputusan untuk menjalankan program Kuliah Kerja Nyata sebagai mata kuliah wajib dengan mengirimkan mahasiswanya ke daerah di sekitar Salatiga yang nota bene dominant muslim adalah satu contoh. Contoh lain, adalah sebuah program pengembangan masyarakat di pulau Atauro di Timor Timur yang secara politik tetap dapat dikategorikan sebagai daerah rawan. Orientasi utama tampaknya adalah pergilah dan lakukanlah perbuatan baik kepada sesamamu. Karena itu, berbagai kesulitan (misalnya ketegangan sosial mahasiswa dan masyarakat) bukan dilihat sebagai faktor penghambat yang harus membuat kita lari dari realitas, tetapi justru menjadi tantangan untuk mencari solusi kreatif dalam mencari format relasi sosial yang lebih baik.

Dalam beberapa kali pembicaraan dengan pak Willi, penulis juga mendapatkan kesan bahwa upaya memaknai kembali konsep Christian presence dalam konteks yang terus berubah selalu menjadi concern-nya. Apa arti menjadi sebuah Universitas Kristen di Indonesia saat ini dengan problematika multidimensionalnya. Ambil contoh, suatu waktu dalam percakapan beregu bersama pak Willi dan beberapa rekan, beliau menerjemahkan kembali konsep Creative Minority yang dipinjam pak Noto dari Arnold Toynbee, sejarawan Ingrris. Pak Willi merasa UKSW perlu mereinterpretasi-nya dalam tantangan yang berubah, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Beliau sendiri telah mengajukan konsepnya yang barangkali suatu saat perlu didiskusikan secara lebih mendalam. Ini menunjukkan bahwa pak Willi selalu berupaya meng-up-date pemikirannya tentang makna kehadiran Kristen ini sesuai konteks zaman

Memaknai Kembali Konteks Kepemimpinan di UKSW: Belajar dari pak Willi

Pertanyaan kritis dalam perspektif kajian kepemimpinan atas pengalaman empiris kepemimpinan pak Willi adalah apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman hidup beliau sebagai seorang pemimpin. Sebuah studi yang dilakukan oleh Lombardo dkk yang dikutip Hughes dkk (Leadership: Enhancing the Lesson of Experience), menjustifikasi berperan pentingnya refleksi sebagai mekanisme pertumbuhan kepemipinan. Studi itu menunjuk faktor ini (refleksi atas pengalaman) sebagai faktor yang menjelaskan keberhasilan banyak pemimpin bisnis. Dalam sebuah tulisan reflektif tentang program pengembangan kepemimpinan yang diselenggarakan oleh UB penulis mengatakan, “…one key success of those people is about ‘their ability to extract something worthwhile from their experiences and in seeking experiences rich in opportunities for growth.’ This research concluded that experience was the common denominator in the ability of all these individuals to lead (Conger 1992).”

Dalam konteks itu, buku ini telah memuat banyak refleksi para sahabat, keluarga, dan handai tolan. Tentu banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman hidup dan khususnya dari pengalaman kepemimpinan Willi. Namun, apa yang hendak penulis tambahkan dari rangkaian refleksi ini?

Pertama, penulis dalam pengalaman pribadinya, pernah berkesempatan hidup di dua institusi pendidikan tinggi yang berbeda karakteristiknya. Pertama, di St Olaf College, sebuah liberal arts college yang sangat mengedepankan aspek pengajaran dan pembelajaran, termasuk service learning, untuk membentuk pribadi yang holistic. Kedua, di Macquarie University yang sejak 2006 memroklamirkan ambisinya untuk menjadi salah satu yang terbaik dengan menjadi research-based university. Kedua komunitas ini hidup dalam visi institusionalnya yang kuat dan inspiratif. Keduanya juga menjadi komunitas yang mau hidup di atas mimpi-mimpinya itu. Warganya berkeinginan untuk menjadikan visi, misi, nilai-nilai komunitasnya sebagai bagian dari percakapan dan tindakan mereka sehari-hari.

Bagi penulis, komunitas seperti itulah yang diinginkan pak Willi bagi UKSW. Sampai purna tugasnya, penulis menilai pak Willi sudah tuntas menjalankan tugas kepemimpinannya. Ia ber-ide dan ia merealisasikannya. Dan, komunitas UKSW, paling tidak dari amatan penulis yang kali itu adalah seorang mahasiswa dan karenanya melihat dari perspektif kehidupan mahasiswa, adalah komunitas yang bangga siapa dirinya, tahu ke mana mimpinya, dan antusias untuk membicarakan dan mengerjakan itu dalam kehidupan kesehariannya. Mahasiswa UKSW bangga menjadi creative minority. Namun, tugas besar membangun academic excellence tentu tidak mungkin selesai hanya dalam periode satu orang pemimpin. Universitas-universitas besar tidak membangun kultur dan kesuksesannya dalam ‘satu malam’. Kuncinya ada pada konsistensi dan karena itu soal ini patut kita pertanyakan kembali, jika jalan pilihan menjadi Satya Wacana sebagaimana yang telah diambil para pendiri dan diteruskan hingga periode kepemimpinan Willi Toisuta (sebagai titik waktu analisis) tetap terjaga bahkan terus ditajamkan. Akankah UKSW menjadi UKSW yang dicita-citakannya sendiri?

Kedua, sebagai pemimpin, pak Willi adalah seorang pemimpi besar. Namun, bukan cuma memimpikan, pak Willi membawa turun mimpinya menjadi realitas. Dari sudut pandang analisis institusional, pak Willi seorang agen yang hendak merubah institusi mapan yang melingkupinya. Ia berproses mendiseminasikan idenya untuk merubah paradigma dan sentimen publik yang bisa menghambat setiap ide baru. Ia juga seorang ahli pengemas gagasan atau seorang framer yang membawa turun mimpinya yang kompleks ke format pesan yang lebih mudah dicerna, ia seorang komunikator dan mobilisator ulung yang selalu energik menyosialisasikan dan mendiskusikan mimpi-mimpinya. Ia juga melengkapi dunia idenya ke dalam program, karena ia seorang policy maker yang memiliki power untuk menyusun program dan mengeksekusinya. Merujuk Campbell (2004, Institutional Change and Globalization), pak Willi adalah seorang institutionalist yang komplet pada dirinya sendiri, walau jelas ia hampir-hampir tidak pernah bekerja sendiri karena begitu banyak yang akan menglaim diri sebagai pengikutnya.

Memimpikan selalu memiliki seorang pemimpin yang komplet dalam sebuah institusi tentu bisa menjadi satu persoalan dalam dirinya sendiri. Namun, di zaman yang hampir segala sesuatu tidak bisa hidup tanpa jejaring, konteks kepemimpinan harus dilihat dalam kacamata jejaring kepemimpinan. Sebuah organisasi seperti UKSW adalah organisasi yang kompleks dalam perspektif keragaman dan karenanya kekayaan human and social capital-nya. Persoalannya adalah bagaimana sebagai sebuah organisasi UKSW mampu membangun mekanisme-mekanisme organisasionalnya untuk memanfaatkan fata kekayaan aset manusianya dan relasi di antara mereka. Di situlah persoalan absensi kelengkapan kapabilitas kepemimpinan dalam diri satu orang bisa ditutupi dengan membangun jejaring kepemimpinan. Namun, hal ini pula merupakan masalah kapabilitas pemimpin, yakni bagaimana pemimpin membangun iklim saling percaya dan kolaboratif. Dan, ini tidak mudah karena dalam lingkungan yang dipenuhi oleh ’orang-orang pintar,’ siapa mau percaya siapa tinggal siapa. Self-centred selalu menjadi masalah setiap individu dan karenanya juga sebuah komunitas.

Namun, belajar dari pengalaman kepemimpinan pak Willi, tampaknya masalah kredibilitas pemimpin menjadi kunci. Karenanya integritas dan kejujuran (baca juga termasuk keterbukaan) menjadi penopang. Pemimpin yang demikianlah yang mendapat kepercayaan orang lain yang kemudian bersedia mengikutnya. Dan, cukup banyak hal dalam pengalaman empiris kepemimpinan pak Willi yang membuktikan itu.

Akhirnya, terima kasih pak Willi karena telah menjadi role model yang hidup dalam kepemimpinan kami yang lebih muda. Mudah-mudahan, muncul banyak Willi Toisuta baru yang memimpin di berbagai organisasi untuk terus membawa maju organisasinya dan memberi bukti kehadiran kasih Allah dan kehidupan Kristiani di tengah masyarakat dan bangsa.

Tulisan ini telah dimuat dalam buku: Willi Toisuta: 70 Tahun Sang Visioner

Advertisements

Responses

  1. Pak, apakah John Titaley sehebat Willi Toisuta?

    • Yang pasti, keduanya ada di antara orang-orang hebat yang dimiliki UKSW. Dan, masing-masing punya karakateristik yang tidak persis sama. Membobot yang tidak kongruen untuk dikomparasikan adalah pekerjaan tidak mudah. Kalaupun dicoba dicari dasar hitung-hitung apa satu lebih dari yang lain, mungkin itu pun masih bisa menyesatkan karena kualitas tetap merupakan sesuatu yang sulit diperbandingkan begitu saja, tanpa melibatkan subjektivitas si pemberi nilai, apalagi ketika membanding-bandingkan orang-orang hebat. Jadi, kesimpulan akhirnya mereka sama-sama orang hebat yang pernah dimiliki UKSW. Jika punya waktu, senang juga menyelami kiprah pak John dan juga pak Willi secara lebih baik dan menulis tentang kepemimpinan mereka secara lebih memadai. Jika kesampaian, menulis biografi pemimpin-pemimpin yang telah dihasilkan dari perut Satya Wacana, seperti beliau berdua, barangkali merupakan rewards yang cukup baik bagi apa yang sudah mereka lakukan di dan untuk UKSW, di antaranya.

  2. Syalom, Pak Neil.

    Tulisan bapak mengenai Pak Willi Toisuta di atas sangat menarik bagi saya. Sebagai seorang alumni, saya menjadi tahu lebih banyak tentang orang-orang hebat yang pernah ada di universitas yang saya cintai ini, sehingga dapat menggali inspirasi dari mereka. Berkaitan dengan tulisan ini, saya tertarik untuk mendiskusikan pemahaman saya mengenai “academic excellence” dan “christian presence” sebagai dua konsep utama (visi?) yang sering dibicarakan dan dicita-citakan pak Willi di UKSW. Saya mendekati kedua konsep tersebut dalam perspektif manajemen stratejik yang sedang terus saya pelajari sampai saat ini.

    Kedua konsep yang dicita-citakan pak Willi di UKSW tersebut berada dalam dua sisi panggung yang berbeda, namun saling berkaitan erat satu sama lain. Apabila UKSW dimetaforisasi sebagai sebuah korporasi non-profit yang memiliki puluhan program studi sebagai unit bisnis-unit bisnis di dalamnya, maka dalam perspektif manajemen stratejik, “academic excellence” terpahami di benak saya sebagai suatu nilai yang hendak dicipta UKSW, untuk menghadapi perubahan tuntutan zaman yang sudah sedemikian kompleks dan dinamis, dan meraih keunggulan kompetitif. Sejauh yang saya pelajari, keunggulan kompetitif adalah isu yang dibicarakan pada level unit bisnis atau dalam hal ini program studi. Untuk mewujudkan “academic excellence”, maka komponen yang perlu diperhatikan dari UKSW adalah “business system” dari setiap program studi dengan tiga elemen di dalamnya, yaitu basis sumber daya, basis aktifitas (aktifitas primer dan aktifitas pendukung pada rantai nilai), dan tawaran nilai. Konsep “academic excellence” ini membahas pertanyaan “bagaimana” UKSW (dalam hal ini setiap program studi) berkontribusi dalam panggilannya di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bermasyarakat di Indonesia. Oleh karena itu, dengan mengandaikan Indonesia ataupun cakupan geografis tertentu sebagai sebuah panggung, maka konsep ini digumuli di belakang panggung, atau “backstage”.

    Masih dalam perspektif manajemen stratejik, konsep “christian presence” terpahami di benak saya sebagai suatu mind-set, landasan filosofis, dan dasar sikap dalam menghadapi berbagai tantangan zaman yang berubah secara dinamis. Umat kristiani hadir di dunia sebagai garam dan terang bagi dunia. Demikianpun UKSW, sebagai salah satu lembaga pendidikan kristen, hadir di Indonesia untuk menjadi garam dan terang bagi Indonesia. Menjadi garam dan terang ini dapat diwujudkan, apabila UKSW secara signifikan benar-benar mampu melihat kebutuhan masyarakat di Indonesia, melihat berbagai ancaman dan tantangan yang ada, dan secara pro-aktif dan dinamis membantu peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat Indonesia. Konsep “Christian presence” ini menjawab pertanyaan “apa” yang perlu dilakukan oleh UKSW dalam panggilannya di tengah-tengah bangsa Indonesia. Konsep ini digumuli UKSW di atas panggung (onstage) yakni Indonesia sebagai medan layan UKSW.

    Kedua konsep di atas sesungguhnya saling berinteraksi satu sama lain. Segala sesuatu yang ditentukan UKSW sebagai bentuk “Christian presence”-nya selalu kemudian dijawab melalui “academic excellence”. Interaksi yang tepat antara kedua konsep inilah yang dalam perspektif manajemen stratejik disebut sebagai Pemosisian Kompetitif (competitive positioning). “Academic excellence” selalu dirumuskan dengan terlebih dahulu melihat dan menentukan apa bentuk “Christian presence” yang hendak dikontribusi oleh UKSW.

    Sebagai generasi 2000-an di UKSW, saya tidak pernah mengecap masa kepemimpinan pak Willi di UKSW. Saya sadar bahwa dalam pemahaman saya di atas mungkin telah terjadi simplifikasi atau pemaksaan dimana-mana. Oleh karena itu, saya berharap pak Neil sebagai orang yang merasakan langsung masa kepemimpinan beliau, mau mengklarifikasi dan memberi pemahaman yang lebih baik mengenai kedua konsep di atas.

    Syalom.

  3. […]  Kepemimpinan Pak Willi di UKSW: Hasrat Kuat bagi Keunggulan Akademik dan Ekspresi Kehadiran Kristen […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: