Posted by: nsrupidara | December 26, 2008

Etika riset: Akhirnya..

Tulisan ini diposting terlambat, tetapi tidak apa-apa. Isinya, rasa syukur.

9 Desember 2008, surat pernyataan bahwa aplikasi etika risetku dinyatakan selesai alias final approval granted. Wah, lega sekali soalnya saya bolak-balik 3 kali diminta memberi klarifikasi dan penjelasan tambahan berkaitan dengan review etika atas usulan penelitian PhD-ku. Kalau di Indonesia hal beginian mah tidak perlu dipusingkan. Lain halnya di negara lain, khususnya negara-negara demokratis yang maju. Untuk meneliti saja, perlu dipastikan bahwa tidak ada komponen pelanggaran standar etika dalam penelitian yang akan dikerjakan. Standar itu di antaranya, tidak ada penggunaan unsur paksaan dalam perekrutan partisipan, dalam pelaksanaan pengumpulan data, dan karenanya calon partisipan harus bebas mengatakan setuju atau tidak dalam berpartisipasi, bahkan berhak untuk undur diri dari penelitian tersebut kalau merasa tidak nyaman. Bayangkan kita yang berasal dari negara berciri masyarakat hierarkis yang seringkali terbiasa dengan penggunaan power, misalnya ‘perintah atasan’ untuk mengerjakan sesuatu hal, apa tidak mumet harus menjamin bahwa siapapun yang diminta terlibat dalam penelitian tidak boleh dipaksa oleh siapapun. Standar yang lain adalah soal penjaminan kerahasiaan sumber data, kecuali sumber data setuju nama atau posisinya disebutkan secara eksplisit dalam hasil penelitian. Ini juga terkait dengan isu property rights dalam penggunaan/pemanfaatan data/keterangan yang diperoleh dalam penelitian. Hal-hal macam begitulah di antaranya yang membuat usulan saya berkali-kali diminta tambahan penjelasannya, juga karena model penelitian kualitatif berpola naratif dan mendalam sehingga tidak punya panduan penelitian yang kaku.

Namun, syukurlah bahwa approval-nya sudah diberikan sehingga fokus sekarang adalah persiapan pelaksanaan fielwork, yang masih menunggu konfirmasi perusahaan-perusahaan studi kasus. Semoga approvals-nya menjadi kado akhir tahun 2008 atau kado tahun baru. Ya, semoga.

Satu catatan kecil dari proses yang cukup panjang ini adalah bahwa kadangkala kita diperhadapkan pada sesuatu yang berbeda dari cara pikir atau kebiasaan kita, apalagi ketika hidup dalam suatu lingkungan institusional yang berbeda. Tidak mudah untuk adjust terhadap sesuatu yang seperti itu. Namun, kita toh harus dapat menyesuaikan diri. Jika kita mampu, maka itu adalah sebuah kemenangan. Menang karena kita belajar untuk ‘mengalahkan’ diri sendiri, hal yang tidak mudah. Menang karena kita belajar sesuatu yang berbeda dari apa yang sudah biasa kita lakukan, cara pikir yang sudah lama mapan. Semoga Anda juga bisa menang dalam konteks sejenis.

Advertisements

Responses

  1. Pak Neil, saya selalu bingung kapan harus mengalahkan diri sendiri, dan kapan harus mengalahkan orang lain. Saya juga bingung menentukan batas antara rela berkorban dan menjadi naif.

  2. He he he Sat… sebuah konteks yang sulit untuk dihitam-putihkan kondisinya atau diberi batas-batas yang tegas. Setiap orang tentu punya referensi “kebenaran” atau “kamus hidup” yang menjadi acuan pikir, rasa, dan tindaknya. Setiap berhadapan dengan fenomena apapun di sekitarnya, ia akan merefer kepada kamus itu, untuk menentukan apa yang perlu disikapinya dan bagaimana harus menyikapinya. Apapun yang muncul, memiliki justifikasi di seputar kebenaran itu.

    Pertentangan akan muncul jika terjadi kesenjangan antara standar kamus itu dengan fenomena itu dan itu bersifat signifikan. Di sini reaksi kita barangkali akan menentukan apakah kita hendak menundukkan kebenaran luar berdasarkan kamus kita, atau sebaliknya mencoba untuk melakukan adjustment terhadap kamus kita, seberapa tinggi/rendahnya adjustment itu dilakukan.

    Dalam konteks pertanyaanmu, kapan mengalah dan kapan mengalahkan, saya tidak punya jawaban. Ini wilayah filsafat yang sulit. Kadang itu merupakan pertarungan konsep diri yang berat. Tapi, kita punya rujukan2 nilai, norma, tujuan hidup yang menjadi pegangan. Kalau bagimu itu sangat prinsipiil untuk membuktikan bahwa kamusmu benar, fight mungkin akan menjadi pilihan. Namun, ada orang yang memilih sikap, biarpun dia merasa benar, dia tidak fight. Namun, saya kira saya tidak memilih jalan seperti itu. Saya akan fight, sejauh neraca evaluasi saya memberi saya justifikasi bahwa saya perlu fight. Demikian pula sebaiknya, saya mungkin akan memilih mundur dari pertarungan, kalau saya merasa itu pilihan yang lebih baik. Soal reaksi perasaanmu bahwa pilihan itu baik atau tepat atau sebaliknya sebuah kecelakaan yang bodoh, pasti memang akan muncul memberi penguatan atau catatan belajar.

    Sekali lagi tidak bisa hitam putih, hasil evaluasi dan respon saya mungkin bisa berbeda dalam konteks tempat, waktu, atau lain yang berbeda. Mungkin bukan soal pilihan itu sendiri yang penting, tetapi refleksi atau pembelajaranmu dari apa yang sudah kamu pilih itu. Jadi kalau itu salah, apa maknanya buat kamu saat kamu berefleksi dan apa implikasi bagimu ke depan. Kalau itu ternyata baik/benar, lalu? Dalam filsafat kerendahan hati tentu, jika kamu menang pun kamu tidak perlu busungkan dada sebesar-besarnya, walau perasaan senang atau bangga adalah manusiawi.

    Dalam konteks pergumulan diri itu, mungkin membaca tulisan-tulisan filsafat eksistensial akan memberi sedikit bantuan pemahaman, kalau bukan pencerahan. Saya suka membaca pandangan Soren Kierkegaard, walau cuma jadi penikmat bukan murid. Saya belum pernah membaca Jean-Paul Sartre, mudah2an akan sempat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: