Posted by: nsrupidara | October 3, 2008

Ke Turku Hadiri Konferensi Ilmiah Internasional Pertamaku – 1

26 – 30 Agustus lalu saya mengikuti sebuah konferensi ilmiah di Turku, Finlandia. Ini konferensi ilmiah internasional pertama yang saya ikuti. Ketika saya sebut konferensi ilmiah, maka saya tidak memasukkan jenis seminar atau workshop yang cenderung membahas sesuatu topik secara general. Kalau memasukkan seminar seperti itu, maka saya punya dua kali pengalaman seminar Kepemimpinan yang diselenggarakan oleh the United Board for Christian Higher Education in Asia (UBCHEA atau UB) sewaktu saya menjadi partisipan program Leadership Fellow-nya UB. Atau dulu sewaktu bermahasiswa, saya juga sempat menghadiri Seminar Mahasiswa Universitas Kristen se-Asia di bawah pengelolaan Association of Christian Universities and Colleges in Asia (ACUCA). Yang saya maksudkan adalah sebuah forum ilmiah dari komunitas seilmu dan konferensi di Turku adalah sebuah forum ilmiah para akademisi Manajemen Sumber Daya Manusia.  Karena sebuah pengalaman pertama, maka ada juga rasa gentar hinggap di pikiran saya. Kok bisa? Hmm.. memang begitu kenyataannya. Lha wong ini bertemu se-forum dengan mereka-mereka yang tadinya saya hanya bisa membaca karyanya melalui jurnal-jurnal. Gimana gak gentar berhadapan dengan orang-orang yang kerjaannya mengritik hasil karya orang lain dan mengajukan pandangan-pandangan baru agar ilmu terus berkembang? Kira-kira begitulah perasaan saya sejak saya bersiap diri berangkat dan menginjakkan kaki di Turku, Finlandia.

Saya berangkat dari Sydney, meninggalkan sementara istri dan anak di rumah tempat kami mondok, 25 Agustus malam. Perjalanan dari rumah lancar, tanpa persoalan. Saya mencatat setiap hal berkaitan dengan perjalanan saya karena saya diharuskan buat diary perjalanan sebagai bagian dari laporan pertanggung jawaban penugasan saya selaku mahasiswa Universitas Macquarie yang didanai untuk hadir membawa nama institusi ini. Itulah salah satu prosedur-nya. Dan, sebagai seorang mahasiwa baru, apalagi jika tidak menjalankan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Ini bagian dari saling membangun kepercayaan, bukankah begitu?

Perjalanan saya menempuh jalur Sydney – Hong Kong – Helsinki – Turku. Sydney – Hong Kong kurang lebih 9 jam perjalanan ditempuh dengan baik. Pesawat kami tiba pada waktunya dan saya sempat punya waktu untuk melihat-lihat suasana bandara Hong Kong di pagi yang masih sepi. Saya pernah berada di bandara ini ketika hadir salah satu seminar Kepemimpinan UB seperti saya katakan di atas. Jadi, saya tahu-lah kurang lebihnya. Namun, saya sempat kaget ketika tahu bahwa amplop uang Euro yang harusnya saya bawa ternyata keliru. Yang saya bawa amplop lain yang sama-sama ‘tergeletak’ di meja kerja di kamar saya. Walah, kok jadi begini? Untung saya bawa kartu rekening bank yang memungkinkan saya tarik cash dalam HK dollar lalu tukar ke Euro. Selamat!

Perjalanan HK – Helsinki ditempuh lebih dari 9 jam dan ya lancar lah. Saya tiba di Helsinki jam 3an siang waktu setempat. Jadwal penerbanganku ke Turku cuma berada dalam waktu 1 jam transit karena itu saya minta ‘prosedur pendek’ ke petugas Finnair agar bisa langsung proceed ke terminal domestik. Dan, memang begitulah seharusnya. Saya langsung lari cepat-cepat bawa 1 koper kecil dan menggantung ransel di pundak. Ternyata, karena saya keluar dari terminal internasional untuk pindah ke terminal domestik, maka saya harus berurusan dengan imigrasi. Waduh! Pikiran saya langsung melayang ke pengalaman masuk Amerika di 2005 yang mengharuskan saya tertahan sekitar 1 jam diwawancarai petugas imigrasi karena prosedur masuk Amerika yang diperketat pasca peristiwa 11/9 yang mengenaskan itu. Namun, saya keliru! Prosedur imigrasi Finlandia ternyata tergolong simple. Paspor dan visa saya dicek, lalu ditanya mau ke mana,  tinggal di mana, dan kapan pulang dan semua terjawab dengan baik dan selesai-lah sudah. Selamat saya memasuki wilayah Finlandia, salah satu negara terkaya di dunia. Saya lalu lari-lari cepat ke terminal domestik, antri sebentar, lalu masuklah saya ke ruang tunggu. Tidak lama, panggilan boarding terdengar dan naiklah saya ke pesawat Finnair dan terbang ke Turku.

Sewaktu di Sydney saya sempat ngecek internet, seperti apa sih Turku ini, khususnya tempat-tempat makan agar sewaktu saya tinggal di situ bisa mencari tempat makan yang ‘murah meriah’, maklum mahasiswa, walau dibayar Universitas. Turku disebut sebagai kota tua, bekas ibukota Finlandia, sebelum dipindahkan ke Helsinki. Dan, begitu pesawat saya turun di sebuah lapangan terbang yang tergolong kecil dan sepi, bangunan bandara yang juga kecil, serta tidak banyak kendaraan di luar bandara, pikiran saya langsung nakal menduga, wah ini sebuah kota ‘kecil’. Bayangan kata tua (= ‘terbelakang’) tadi pun makin menguat ketika melihat rumah-rumah pertanian kuno di sepanjang perjalanan bis dari airport ke pusat kota. Anyway, bis-nya nyaman dan tidak berbelit-belit menibakan saya di Market Square yakni di pusat kota, tempat dari mana menurut pegawai hotel (Sokos Seurahuone Turku) tinggal saya jalan lurus saja dan lebih kurang 5 menit tiba di hotel. Market square itu masih cukup ramai, orang masih lalu lalang. Maklum baru jam 5.30 sore dan ingat, ini musim panas (summer), jadi ‘siang’ akan panjang. Saya jalan kaki saja dan betul, tidak lama saya tiba di depan gedung hotel yang terkesan agak tua, sama juga dengan bangunan2 sepanjang jalan dari market square tadi. Kesan datang ke kota tua tetap belum hilang.

Urusan hotel cukup ringkas, karena saya sudah booked dan bayar dari Sydney. Jadi, tinggal lapor, ambil kunci, dan masuk kamar. Masuk kamar, TV sudah on dan sebuah ucapan selamat datang kepada saya selaku tamu hotel tertulis di layar TV. Ups. Wah, ini bukan kota ‘terbelakang’. Pelan-pelan saya mulai meluruskan pikiran melantur saya tadi. Masa bekas ibukota negara sekaya Finlandia saya bayangkan sebagai daerah terisolir di Indonesia, kan aneh. Jadinya, saya lah orang ‘udik’ yang harus belajar menyesuaikan diri dengan selera kota tua namun maju.

Setelah membereskan barang bawaan, saya mandi dan bertukar pakaian (maklum tidak mandi 1 hari dalam perjalanan!). Saya lalu turun ke lobby hotel, bertanya resepsionis, ke mana saya bisa ketemu supermarket. Dia memberi tahu, ‘kamu belok kiri dan jalan saja, tidak jauh dari hotel ada supermarket terdekat’. Namun, dasar orientasi spasial belum on, saya tafsir belok kirinya lain. Saya nyebrang jalan dan belok kiri di blok depan hotel dan tidak ketemu supermarket. Saya balik lagi ke depan hotel dan jalan lurus, walau di seberang jalannya. Lalu lihat2 beberapa toko-toko dekat situ, saya malah asyik menonton barang2, bukannya mencari supermarket. Akhirnya ‘terdampar’-lah saya di salah satu toko kecil yang menjual majalah, barang keperluan hari2 dan masuklah saya dan membeli sebotol air putih dan pasta gigi. Belakangan baru saya tahu, bahwa di supermarket yang ditunjuk si resepsionis, barangnya lebih murah (sialan!). Tapi, itulah seni berorientasi, belajar dari pengalaman, termasuk keputusan2 coba-coba dan keliru. Setelah itu, saya berputar-putar di sebuah mall yang isinya barang ber-merek yang jelas akan mengganggu kocek saya kalah saya berani beli-beli sesuatu di situ. Jadi, ya window shopping saja lah. Setelah itu, saya turun ke counter Hesburger dan membeli satu paket burger-kentang untuk makan malam saya. Hesburger ini adalah sebuah perusahaan retail makanan cepat saji berbendera Finlandia dan memang raja di rumahnya. Tampaknya McDonald atau sebangsanya tidak bisa melakukan penetrasi dengan mudah di pasar domestik Finlandia karena kuatnya Hesburger. Coba cek webnya: http://www.hesburger.fi/en/ atau di Wikipedia yang jelas-jelas menglaim penguasaan pasar oleh Hesburger.

Setelah itu saya pulang untuk melepas lelah. Paling tidak, saya sudah memiliki pemahaman spasial singkat tentang pusat kota Turku. Besok tinggal bagaimana saya mencapai Turku School of Economics (TSE), tempat HRM Global 2008 Conference berlangsung. Namun, begitu tiba di hotel, saya langsung tanya bagaimana cara mencapai TSE, berapa lama, dan ke arah mana (besok paginya masih saya pastikan lagi). Dan, malam itu saya tidur cukup mantap karena kelelahan di perjalanan. By the way, saya tidak mengalami masalah jetlag. Dan, ‘ketrampilan’ ini dilatih oleh senior-senior saya, bung Marthen nDoen dan mas Harie Sunarto ketika pertama saya injakkan kaki di Belanda, tepatnya di Amsterdam dan bermalam di sana Agustus 2001.

Pagi saya bangun sekitar pukul 7 lalu mandi dan ganti pakaian. Setelah rapi, saya turun untuk makan pagi di restoran hotel. Saya sempatkan lagi bertanya petugas hotel soal bagaimana mencapai TSE dan saya putuskan, jalan kaki saja! Lha setiap hari di Sydney saya jalan 20an menit dari rumah ke kampus, kenapa untuk jarak yang sama saya tidak demikan?, pikir saya. Toh itu akan membuat saya makin mengenal wilayah kota ini. Saya ambil peta kecil yang tersedia gratis di hotel untuk mengancang-ancang perjalanan saya. Lalu, saya kembali ke kamar untuk baca-baca literature yang sengaja saya bawa untuk ‘membunuh waktu’ sambil tidak kehilangan momentum dan orientasi pikir yang sedang saya jalani untuk menyusun literature review untuk tesis saya.

Sekitar jam 11.30 saya sudah siap dan kemudian turun ke lobby hotel untuk mulai berjalan. Hari itu gerimis dan sampai saya mau jalanpun masih. Jadi, saya menggunakan payung yang sudah saya persiapkan dari Sydney. Maklum, sedia payung sebelum hujan dan memang sudah cek keadaan cuaca di Turku sejak di Sydney. Angin cukup kencang dan karena itu saya jalan pelan-pelan. Saya ambil jalan lurus saja sejak hotel hingga nanti berbelok kanan setelah mentok. Di situ saya akan ketemu sebuah jembatan, melewatinya, dan berbelok kiri untuk mendapati jalan ke arah TSE. Dan, ya seperti itulah salah satu rute yang benar. Namun, yang tidak saya sadari adalah saya ketemu salah satu bangunan bersejarah di Turku, The Cathedral, atau Tuomikirkko menurut bahasa Finnish. Ini bangunan yang didirikan pada 1230… hmm… hampir 800 tahun lalu. Masih mantap berdiri. Saya mengambil foto Cathedral ini lalu berjalan melewati sebuah taman kecil di sampingnya.

Turku Cathedral (Tuomikirkko)

Turku Cathedral (Tuomikirkko)

Kira-kira mendekati kampus TSE, saya lalu mencari tempat bertanya. Seorang ibu yang sudah cukup tua yang kebetulan baru turun dari wilayah kampus Universitas Turku saya cegat dan bertanya ke mana persisnya saya bisa ketemu bangunannya TSE di Rehtorinpellonkatu 3 (katu tampaknya = street). Dia tidak bisa membalas dalam bahasa Inggris yang baik, namun mengerti pertanyaan saya dan mengantar saya ke depan TSE. Luar biasa, sangat ramah dan mau membantu. Saya berterima kasih dan beliau meninggalkan saya. Dan, saya langsung menuju gedung Turun Kauppakorkeakoulu (bahasa Finnish-nya Turku School of Economics). Jam di HP saya baru menunjuk pukul 12, jadi saya masih punya 2 jam dari jam resmi registrasi. Waktu yang cukup panjang untuk mengeksplorasi kampus kecil TSE.

Saya melihat2 beberapa segmen gedung TSE ini. Mercatori, sebuah cafe dengan space yang cukup nyaman untuk minum teh/kopi sambil menikmati makan siang ringan atau sekedar kue. Sekelompok mahasiswa terlihat sedang makan siang. Namun, saya belum mau makan siang dan masih pengen lihat-lihat. Saya ke suatu ruangan yang ternyata adalah semacam kantor Relasi Internasional-nya TSE. Beberapa mahasiswa sedang menerima penjelasan dan nguping dikit, mereka lagi di-briefing soal rencana melakukan studi di universitas di luar Finlandia. Saya cek shelf informasi-nya ada cukup banyak buku promosi universitas ‘asing’ di situ dan ada juga Macquarie Uni. Jadi, mahasiswa TSE mestinya cukup tahu Macquarie kalau mereka berminat mengambil kuliah di Australia. Juga saya dapati beberapa leaflet dan brosur program TSE sendiri. Sedikit surprise, saya jumpai tulisan: Tuition: Free!. Rupanya studi di Finlandia tidak perlu bayar uang kuliah. Namun, tentu seorang mahasiswa asing harus siap membayar biaya hidupnya di negara dengan tingkat biaya hidup yang tinggi di Finlandia. Syukur kalau dapat beasiswa, walau TSE jelas menyebut, “TSE tidak sediakan beasiswa untuk keperluan akademik lain (di luar tuition fee) dan biaya hidup.”

Dari situ, saya melihat sebuah toko alat tulis kecil, beberapa ruang kelas, melewati perpustakaan TSE yang kecil, lalu terasa-lah lapar. Waktu melihat Mercatori, jelas itu bukan jenis makan siang yang saya cari. Saya harus temukan kantin yang menyediakan makanan yang ‘lebih berat’. Saya cek di info gedung yang terpampang, ada sebuah restaurant, tapi di lantai bawah. Lalu, saya ambil jalur tangga turun ke bawah dan melihat-lihat, “ah, benar, ada sebuah kantir di sana.” Betul, di sana ada sejumlah menu berat yang saya cari untuk makan siang. Sedikit mengeksplorasi menu agar memilih yang pas, lalu saya ngantri untuk mulai mengambil makan siang dan membayar. Namun, saya lupa meminta kuitansi (lagi-lagi soal prosedur laporan pertanggungjawaban penggunaan uang Universitas), begitu saya balik dia bilang, “maaf, sudah kelewatan, kamu tadi tidak minta,” jadi saya pikir wah rugi 5 Euro nih (walau belakangan saya bisa claim pengeluaran ini dengan membuat pernyataan bahwa saya tidak dapat/kehilangan kuitansi, sebuah pernyataan di depan seorang berprofesi Justice of Peace dan bisa diperkarakan kalau saya ngapusi). Lumayan kenyang, saya lalu naik ke atas kembali dan menunggu waktu buka registrasi. Jam 2 kurang 15, 2 wanita muda dan satu setengah baya mulai menyiapkan 2 meja untuk registrasi. 2 cewek tadi saya ketemu waktu menyempatkan diri naik ke kantor Dept of Management di lantai atas. Rupanya mereka mahasiswa PhD di TSE dan membantu konferensi ini. Tahu tidak, cuma 5 ada orang wanita yang mengurusi konferensi internasional ini? Dua di antara mereka sempat saya kontak sejak saya di Sydney, ketika menyerahkan paper saya dan segala urusan registrasi, termasuk minta Invitation Letter untuk urusan visa ke Konsulat Finlandia di Sydney. Hebat! Finlandia memang tergolong negara dengan tingkat partisipasi perempuan yang tinggi di jabatan-jabatan kunci, politik, bisnis, maupun bidang kehidupan yang lain. Wong Presiden Finlandia itu cewek, Tarja Halonen.  Demikian juga menteri pendidikan, serta kepala konsulat di Sydney. Dalam salah satu diskusi di konferensi tentang pengelolaan keragaman latar belakang di tempat kerja (diversity management), partisipan diskusi itu mengakui bahwa tidak ada masalah kesetaraan gender dalam berbagai bidang di Finlandia, hal mana masih jadi masalah di banyak negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, apalagi Indonesia.

Setelah registrasi, saya turun ke Mercatori, minum kopi dan makan kue, lalu menunggu waktu pembukaan konferensi, jam 3. Peserta mulai berdatangan dan saya mengenali dengan cukup baik satu wajah, Prof. Pervez Ghauri. Saya belum pernah bertemu beliau, tapi mengenalnya sebagai bekas Prof. Bisnis Internasional, Direktur Program MSc. International Business di Univ. Groningen, Belanda, program mana telah saya tempuh untuk memeroleh gelar master. Hanya, ketika saya berkuliah, Pervez telah pindah ke Manchester Business School.

Pembukaan dilakukan cukup singkat oleh PR1, Prof. Satu Lahteenmaki, lagi-lagi seorang perempuan. Satu adalah salah seorang penggagas konferensi ini, yang merupakan kerja sama TSE dengan HRM Study Group dari International Industrial Relations Association (IIRA) (tahun 2009, saya akan hadir di 15th World Congress IIRA di Sydney dan membawa serta satu paper yang sudah diterima untuk kongres bergengsi ini). Juga ada sambutan singkat Prof. Stefan Zagelmeyer dari Cologne Business School, Jerman, Chair dari HRM Study Group, bersama Prof. Mick Marchington, Manchester Business School). Selepas itu, kami peserta disajikan sebuah video semi-dokumenter tentang upaya Nokia untuk membangun praktik bisnis yang etis, termasuk menerapkan standar etika-nya ke seluruh rantai nilai operasi bisnisnya, yakni melibatkan perusahaan-perusahaan outsourcing-nya di berbagai belahan bumi. Yang menjadi fokus video itu adalah di China. Menarik sekali video ini, apalagi dengan fenomena kehidupan pabrik di China yang tidak berbeda dari Indonesia yang masih suka memanipulasi para pekerjanya. Di situlah salah satu persoalan bagi Nokia dengan penerapan standar etika bisnisnya. By the way, video itu dibuka dengan segmen percakapan tiga orang eksekutif puncak Nokia di pinggir rumah kayu di atas laut dalam keadaan bugil penuh, It’s Finnish way of doing business, man! Ha ha ha ha… Ya, katanya kadang kita bisa berjumpa orang2 Finnish yang bugil ria di lokasi-lokasi tertentu, dan gilanya, waktu kami sejumlah peserta ramai2 berjalan pulang ke hotel, di tengah jalan ketemu segerombolan mahasiswa (termasuk 1 mahasiswi) yang berbugil ria lari di malam jam 9, tanpa satu lembar pakaianpun, dan temperatur malam itu saya perkirakan sekitar 13-14 derajat Celcius. Gila! Sampai2, teman2 yang Finnish pun ngakak dan ngomong ke saya, “Now, you know what is one of our Finnish ‘culture’. You’ve seen it on the video and you see it again.” Dan, kami pun ngakak semua.

Selepas video ada pembahasan oleh panelis. Satu di antaranya adalah rekan saya, A/Prof. Narendra Reddy, dari South Pacific University di Fiji. Kami sempat berkenalan sebelum pembukaan dan karena sama-sama orang sekawasan (Fiji dan Australia tidak jauh dan apalagi Narendra menyelesaikan S3-nya di Australian Graduate School of Management (AGSM) di Univ. of New South Wales, Sydney. Jadi, kami kayak orang sedaerah di tanah rantauan. Setelah itu, sesi keynote speaker buat Pervez Ghauri, berbicara di atas topik Globalisation, Multinational Enterprises, and Corporate Social Responsibility. Pervez membawa dimensi marketing yang cukup kental dalam presentasinya. Walaupun terkesan ‘aneh’ untuk sebuah konferensi HRM, namun bagi saya tetap merupakan sebuah pencerahan memahami kompleksitas operasi perusahaan multinasional di era sekarang ini. Operasi yang terpecah-pecah di ragam negara dengan diikat satu mentalitas bersama, yang menurutnya ada pada isu Branding. Selepas tanya – jawab, hari I konferensi ditutup dengan makan malam.

Pada acara makan malam ini saya berkenalan dengan seorang teman dari Univ. Vaasa, Jussi Leponiemi, seorang mahasiswa PhD dan peneliti. Menurutnya, dalam beberapa hari dia akan memertahankan disertasi/tesisnya. Kami berdiskusi banyak hal, tentang interest akademik, pendidikan secara umum (saya lalu tahu, bahwa proporsi penduduk berpendidikan tinggi di Finlandia sangat tinggi), soal orientasi pendidikan tinggi di Finlandia, dan khususnya soal pola penulisan tesis yang mengambil format thesis by publication. Karena memasuki wilayah penelitian masing-masing, lalu dia merekomendasikan nama rekannya, Adam Smale, sebuah nama yang sudah saya ketahui sejak di Salatiga dan terutama di Sydney, sebagai salah satu bintang baru di dunia akademisi HRM. Saya lalu berkenalan dengan Adam, ya sebuah percakapan singkat yang sangat baik untuk memulai membangun sebuah network internasional di kalangan rekan sebidang.

Kami lalu pulang bareng dengan berjalan kaki, termasuk Pervez Ghauri. Setiba di hotel, saya lalu bertukar pakaian, membersihkan diri, dan tidur. Cukup melelahkan, walaupun juga sangat menyenangkan. Demikian-lah hari pertama konferensiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: