Posted by: nsrupidara | July 22, 2008

The creative class dan creative economy

Richard Florida, seorang professor di bidang American urban studies mengembangkan sebuah konsep yang dikenal sebagai creative class. Konsep ini tentu tidak baru sama sekali, jika membandingkannya dengan konsep creative minority-nya Arnold Toynbee yang diadopsi pak Noto dan sudah menjadi jargon penting di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Menarik sekali juga bahwa analisis Florida menguatkan pandangan akan berperannya suatu kelas ‘elite’ yang kreatif yakni the creative class dalam konteks kemajuan bangsa-bangsa dan kota-kota di zaman dunia yang datar ini (The world is flat, Thomas Friedman), sama seperti dan menguatkan kembali tesis Toynbee dalam sejarah lampau, soal berperan (/tidak)-nya creative minority dalam maju mundurnya peradaban. Florida menulis 3 buah buku bertajuk creative class, yakni “The rise of the creative class”, “Cities and the creative class”,  dan “The flight of the creative class” (katanya, baru terbit sebuah buku barunya berjudul “Who’s Your City?”).

Dalam bagian pendahuluan buku terakhir bertajuk the creative class yakni, The flight of the creative class (2007), Florida menyajikan 4 buah gambar hasil olahan statistik dari analisis the creative class-nya yang ‘mengejutkan’ (sejumlah gagasannya dinilai kontroversial dan menerima kritik yang cukup banyak dan tajam, bahkan tudingan-tudingan miring terhadapnya). Duduk di atas  gagasan the world is flat-nya Friedman, Florida mengungkapkan bahwa ternyata dunia yang kini ibarat ‘satu panggung sandiwara itu ternyata ‘cuma’ menjadi ajang pergulatan strategik dari sekelompok kecil bangsa atau kota. Ini dinilainya setidaknya berdasarkan 2 indikator yang menunjuk penting atau strategisnya suatu lokasi dunia dalam era ekonomi pengetahuan. Pertama, pada jumlah hak intelektual yang didaftarkan pada atau berasal dari daerah/kota tertentu. Kedua, jumlah kaum cerdik pandai kreatif yang tercatat bermukim di daerah/kota tertentu. Pada dua indeks itu, menara menjulang (baca: frekuensi yang tinggi) hanya terkonsentrasi pada kota-kota penting di AS, Eropa Barat, dan Jepang.  Ada sinyal-sinyal penting dari sejumlah wilayah di Eropa dan Australia yang mengindikasikan tantangan baru dari beberapa kota berprospek strategik ke depan,  misalnya disebutkan dari kota Wellington di Selandia Baru yang menjadi lokasi pemusatan pembuatnan trilogi The Lord of the Rings, sebuah seri film berdimensi teknologi tinggi dan merupakan hasil karya kaum kreatif. Jadi, bagi Florida, negara-negara atau tepatnya kota-kota penting dalam peta dunia yang akan mendominasi kemajuan dunia adalah tempat berkonsentrasinya para cerdik pandai atau kelas kreatif dunia. Di kota-kota ini, kaum cerdik pandai yang dimaksudkannya itu bukan cuma mereka-mereka yang berasal dari tempat itu sendiri, tetapi kebanyakan mereka berasal dari belahan dunia manapun yang berkumpul di situ karena daya tarik lokasional dari tempat tersebut. Jadi, menambahkan analisis Toynbee tentang pentingnya the creative minority dalam kemajuan peradaban, Florida menilai dunia yang datar ini memungkinkan terjadinya mobilitas berskala global dari kelompok kreatif ini dari suatu lokasi ke lokasi lain yang menawarkan ‘imbalan’ strategik bagi mereka, barangkali itu adalah air pelepas dahaga kreatif mereka, di samping tentu imbalan-imbalan bernilai ekonomis. Paling tidak, kesimpulan besar kita adalah, kelas kreatif inilah yang akan menjadi penggerak dominan dalam perekonomian dunia di ‘abad baru’, abad ekonomi pengetahuan, ekonomi kreatif.

Bergerak ke belakang, Florida juga menyajikan statistik-statistik tertentu pada konteks perekonomian Amerika sebagai sebuah giant economy yang digambarkannya sedang mengalami pergeseran dari ekonomi industri dan jasa konvensional ke perekonomian kreatif (creative economy). Bayangkanlah pusat-pusat information technology dunia seperti Silicon Valley atau Bangalore yang menjadi pusat daya cipta hi-tech. Nah, kira-kira begitulah gambaran sebuah konteks perekonomian yang disebut sebagai creative economy. Cuma, daya cipta kan tidak cuma di sektor IT kan? Di bidang-bidang lain seperti farmasi, petrokimia, bahkan seni pun kita bakal melihat berbagai bentuk kreativitas dan inovasi penting pada abad baru ini. Pokoknya segala yang serba knowledge intensive-lah, atau penemuan-penemuan baru sebagai hasil atau buah dari pergulatan riset/pengetahuan yang intensif, untuk gampangnya. Bidang-bidang itu pulalah yang akan menjadi merupakan pusat-pusat investasi ekonomi besar-besaran melalui aktivitas riset dan pengembangan (R&D), pengembangan SDM, walaupun saya kira semua bidang berpeluang untuk menjadi lahan daya cipta jika semua orang mau berpikir ‘out-of-the-box’ dan ‘evidence-based’. Jadi nilai ekonomi maupun manfaat-manfaat baru lainnya diperoleh karena orang berupaya seoptimal mungkin dalam memberi nilai tambah baru pada sesuatu ide, model, produk, dll karena bergulat pikir atas hal-hal tersebut. Kembali ke soal statistik itu, diungkapkan Florida bahwa 47% perekonomian Amerika telah digerakkan oleh sektor-sektor kreatif ini. Luar biasa!!! Namun, dari segi ketenagakerjaan, ekonomi kreatif masih lebih kecil dari ekonomi jasa. Namun sebagai konsekuensi logisnya ia memrediksi bahwa akan terjadi pergeseran strategik dalam tahun-tahun ke depan. Kesimpulan sederhananya, “the ruling class will be the creative class.”

Cukup atau barangkali sangat kontras, misalkan, membandingkan gambaran itu dengan Indonesia yang dari segi perekonomian masih didominasi oleh sektor manufaktur dan dari segi ketenagakerjaan masih terkonsentrasi di sektor pertanian. Pendeknya perekonomian kita masih terkonsentrasi pada sektor-sektor atau produk-produk primer, belum atau bukan mendekat ke arah wilayah ekonomi kreatif yang dibayangkan Florida. Mungkin karena itu, lalu kota-kota penting di Indonesia cuma tampak penting dalam peta-peta yang dibuat Florida pada kriteria kota dengan penduduk terpadat di dunia dan kota dengan konsumsi energi yang besar (seperti Jakarta). Lainnya, Belanda makin jauh, buunngg….!

Dalam dunia yang datar, the creative class digambarkan akan sangat tinggi mobilitasnya. Mereka akan mengalir ke tempat-tempat seksi di manapun, kapanpun. Misalnya, Florida mengambil contoh seorang peneliti nomor wahid di bidang stem-cell yang pindah dari Amerika Serikat ke Inggris. Lebih jauh, Florida membaca gerakan-gerakan strategik dari pemerintah-pemerintah negara dan kota tertentu untuk menjadikan lokasinya sebagai magnet baru bagi the creative class ini. Bukan apa-apa, karena perekonomian dunia ternyata digerakkan oleh kelompok ini, bukan oleh sekedar modal keuangan, modal mesin, modal manusia (yang diukur oleh angka terdidik formal, misalnya), apalagi hanya oleh okol. Di lokasi di mana kalangan kreatif ini ada, nilai kontribusi riil mereka ruar biasa. Karena itu, misalnya, digambarkan oleh Florida bahwa kota-kota tertentu di Amerika seperti New York dan Los Angeles pun kalau ditakar nilai ekonominya bisa melampau ekonomi skala negara. Florida mengatakan, Amerika menguasai 40an posisi perekonomian raksasa dunia jika kota-kotanya juga dihitung sebagai entitas ekonomi setara negara bersaing melawan negara-negara (Di  sumber lain,  lihat misalnya Rugman dan Hodgetts, 2000  yang mengutip data UNCTAD, kita bisa melihat dominasi perusahaan-perusahaan multinasional Amerika Serikat (bersama Uni Eropa dan Jepang – the triads), yang ikut mendominasi 100 besar ekonomi dunia, dalam perbandingannya dengan negara-negara). Kota-kota di Amerika tersebut disebutnya dibanjiri oleh imigran-imigran kreatif dari berbagai belahan dunia. Misalnya, siapa tidak kenal sekarang Sergey Bryni- penemu Google yang aselinya berasal dari Rusia. Florida malah mengungkapkan orang nomor satu di banyak perusahaan raksasa dunia yang berlokasi di Amerika pun cukup banyak yang datangnya dari negara lain. Simpel-nya, kota-kota, negara-negara, tempat-tempat di Amerika itu telah menjadi lahan migrasi entrepreneurs kelas dunia. Dan, trend mobilisasi kelas penting dalam masyarakat ini akan terus berlanjut, namun akan bergerak ke tempat-tempat penting baru di dunia.

Namun, Florida menilai bahwa migrasi kelas kreatif ke Amerika agak tersendat belakangan ini. Disajikannya data soal visa yang ditolak, lamanya urus visa, dan sejenisnya yang menjadi hendikep bagi terus mengalirnya the brilliant minds ke Amerika, orang-orang mana yang telah menjadi sumber dominasi ekonomi AS di dunia. Ia membaca bahwa negara dan/atau kota tertentu seperti Finlandia di Eropa atau di Australia (Sydney, misalnya) dan New Zealand (Wellington) dapat menjadi kota penting ke depan, melihat mobilitas masuk kalangan cerdik pandai muda yang barangkali akan terus menetap dan menggerakkan perekonomian kreatif di lokasi-lokasi itu. Ini bisa terjadi karena upaya strategik dari lokasi-lokasi itu (dhi. pemerintah, universitas, dll) untuk menarik minat datangnya the young great minds ke situ, hal mana masih sulit terbayangkan di kepala saya bagi negara seperti Indonesia yang justru mengalami kerugian karena out-flow dari the young talents. Pengalaman pribadi saya hidup di Belanda; Norfield, Minnesota; dan Sydney paling tidak memberi gambaran sederhana pada saya bahwa arus migrasi mahasiswa-mahasiswa asing ke tempat-tempat itu bisa menjadi indikator awal, walaupun migrasi kaum peneliti, seniman, IT-geeks, dan para professionals atau experts lainnya mungkin terjadi dalam angka yang terus meningkat tetapi luput dari amatan dan pengetahuan saya. Singkat kata, pikiran nakal saya bertanya, apa jadinya kota-kota Indonesia yang sama sekali tidak ada upaya serius untuk memertahankan dan apalagi menarik sumber daya manusia penting untuk berkecimpung dalam perekonomian kreatifnya? Jangankan menarik, jarak jauh antara kampus-kampus dan lembaga-lembaga penelitian dari dunia perekonomian riil pun sangat nyata. Kampus jarang meneliti bagi penemuan ide, model, aplikasi baru bagi kemajuan perekonomian; pengelola perekonomian pun masih menganggurkan kapasitas mereka agar lebih kontributif dalam mendorong laju perekonomian. Gak usah jauh-jauh, di Salatiga, kota kecil di Jawa Tengah tempat saya bernaung pun ibarat ada dua kerajaan yang hampir saling terlepas satu sama lain (mutually exclusive) yakni kerajaan pemerintah kota Salatiga yang mengomandoi ekonomi lokal dan kerajaan Universitas Kristen Satya Wacana yang menguasai aset-aset pengetahuan masa depan. Di banyak tempat lain di Indonesia saya kira podo wae. Kapan ada sinergi????

Oya, terkait dengan itu, Florida dan dua rekannya juga menilai pentingnya universitas dalam pemroduksian the creative class dan produksi pengetahuan (bahan ini bisa mudah ditemukan di internet, sama juga dengan berbagai analisis Florida dan pihak lain seputar ide/teori Florida). Peran ini akan terjadi sejauh universitas menaikkan ratingnya ke posisi sebagai sumber inovasi (engine of innovations), walau mereka mengritik pandangan sempit universitas sebagai engine of innovations yang juga sedang berkembang. Di sini peran penggodogan kreativitas dan inovasi menjadi penting. Di sini, investasi pada penemuan2 baru menjadi berperan. Di sini, pokoknya segala hal berkaitan dengan persemaian pikiran dan tindakan baru menjadi tidak ternilai. Sikap dan tindakan mematikan hal-hal itu justru adalah sebuah bunuh diri bagi masa depan.

Dalam konteks itu, Florida mengeluarkan 3 rumus penting, yakni 3T: technology, talent, tolerance. Penelitian Florida dan teman-temannya itu menunjukkan peran universitas yang besar pada ketiga faktor kunci itu: satu pada kontribusi penting pada cutting-edge technologies, attract creative talents, dan karena asalnya dari macam-macam tempat dan latar belakang, maka, ketiga, menjadi sebuah melting-pot budaya dan menghasilkan manusia-manusia yang menghargai toleransi. Namun, soal toleransi ini dapat dilihat juga dalam soal keberterimaan kita terhadap ‘tindakan-tindakan beresiko’ dalam hal ekspresi ide-ide baru dan eksperimentasi hal-hal baru. Jadi, kalau suatu tempat justru discourages toleransi pada hal-hal tersebut, ya ia hanya menjadi tempat yang dijauhi the creative class. Sama jugalah dengan universitas yang ‘mengerangkengi’ kebebasan berpikir.

Florida dan teman-teman kemudian menyebut universitas sebagai a creative hub. Saya menilai ini lalu mendorong pergerakan ke universitas yang penuh kegiatan dan hasil kolaboratif dalam bidang riset (research-university) yang pemanfaatan hasil-hasil tersebut dapat menjadi sumber daya ekonomi bagi universitas-universitas yang kreatif atau inovatif, menjadikan mereka entrepreneurial atau innovative university.

Jika kita merenung dan mengritisi pandangan/teori Florida ini, maka pertanyaan kepada kita perlu diajukan soal keseriusan kita (negara, kota, universitas, perusahaan, organisasi, etc.) untuk menjadikan diri kita sebagai lokasi target berdomisili dan berperannya the creative class ini dan sekaligus menjadi pusat kegiatan kreatif. Khusus bagi universitas dan organisasi, keseriusan pada pencarian, pengembangan, dan pemeliharaan manusia-manusia kreatif sebagai sumber daya strategik ke depan ini menjadi soal. Khusus bagi universitas yang secara potensial menjadi penyuplai the creative class ke masyarakat dan organisasi, apa iya yang digodognya adalah the creative class. Barangkali, ada banyak pertanyaan yang perlu diajukan, termasuk pertanyaan balik pada pemikiran-pemikiran Florida (tulisan ini tidak atau belum mau diposisikan ke arah situ). Pendek kata, apakah kita adalah tempat yang akrab bagi the great minds untuk menetap?

Dalam konteks itu lalu, saya teringat kembali diskusi tentang Intellectual Capital di Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia di UKSW tempo hari yang bagi saya masih menyisakan sejumlah PR pribadi dan mestinya PR bagi siapapun yang concern pada pengembangan kelas kreatif, great minds, atau sederhana-nya sumber daya manusia yang berkualitas, beserta pengembangan sumber daya organisasional, dan sumber daya relasional untuk membangun dan mengembangkan modal intelektual organisasi dan masyarakat kita bagi sebuah kemajuan.

Advertisements

Responses

  1. Berikut adalah tanggapan Bung Petra Karetji. Tanggapan ini memuat juga pandangan beliau seputar artikel Paul Pierson, “Not Just What, but When: Timing and Sequence in Political Processes” (Studies in American Political Development 14 (Spring 2000): 72 – 92).

    Hi Bung Neil:

    Terima kasih atas “sharing” terakhir ini. Kalau boleh saya hubungkan dengan artikel Pierson tempo hari yang Bung Neil kirim, terutama soal “positive feedback processes” sebagai proses2 yg self reinforcing/path dependent. Lalu ada referensi lain (Anthropology and Development – Jean-Pierre Olivier de Sardan)yang berbicara soal 5 jenis “adapter”: 1) Pioneers, 2) innovators, 3) the advanced minority, 4) the tardy majority, dan 5) latecomers.

    Kalau kita merge pemikiran2 ini mungkin bisa kita simpulkan juga:

    Positive feedback processes dalam artikel Pierson memungkinkan adanya penguatan terhadap apa yang sudah dikembangkan sebelumnya (katanya dalam bahasa ekonomi proses”increasing returns”). Adanya sejumlah kaum kreatif yang berada dalam lokasi yang sama memungkinkan proses pertukaran pengetahuan secara lebih cepat, asal memang ada mekanisme untuk hal ini terjadi dan ditampung. Kalau ditelusuri sedikit lebih jauh, maka hal ini terkait dengan pemikiran Sardan diatas soal adapters, dimana menurut dia (dan kembali hal ini memiliki urutan waktu path dependence seperti dikatakan Pierson) setiap inovasi dilahirkan terlebih dahulu oleh para pioneers, selanjutnya dikembangkan oleh para innovator, lalu apabila diterima, dimanfaatkan oleh para minoritas maju (advanced minority) sebelum akhirnya menjadi praktek umum mayoritas yang “lelet” dan akhirnya juga digunakan pula oleh para latecomers.

    Soal UKSW, yang memungkinkan UKSW menjadi creative minority menurut hemat saya, adalah keragaman komposisi latar belakang staf dan mahasiswanya dari berbagai suku dan tempat di Indonesia. Kampus ini apalagi dengan program pasca sarjananya sebenarnya menjadi penggerak migrasi kaum kreatif, meskipun untuk kurun waktu yang terbatas. Kecilnya kota Salatiga dan terbatasnya “gangguan” pihak lain juga memungkinkan/mendorong interaksi yang lebih intensif di dalam kampus sehingga menciptakan ruang dimana positive feedback processes seharusnya dapat berjalan secara lebih baik apabila memang ada mekanisme untuk menangkap proses umpan balik ini dan terus mengembangkannya. Sayangnya hal ini kadang kurang dilihat dalam kebijakan universitas yang malah cenderung melihat sosok UKSW sebagai “universitas lokal” dan lebih mefokuskan diri untuk bersaing ditingkat Jawa Tengah.

    Teknologi yang menurut Friedman turut berperan sebagai salah satu “flattener” bumi, telah memungkinkan tangkapan pengetahuan terjadi tidak saja di dalam kampus tetapi juga memungkinkan positive feedback dari para alumni yang sudah sering terbukti menjadi pionir, inovator atau minimum masuk dalam kaum minoritas maju. Dalam hal ini, saya setuju dengan Bung Herbin bahwa masukan dari para alumni seharusnya disikapi dan ditampung secara lebih sistematis (bukan sekedar saduran milis) dan dilakukan secara serius.

    Kalau melihat pertanyaan Bung Neil soal sinergi antara kampus dan PEMKOT, sebenarnya tidak sulit digerakkan kalau kita misalnya membagi peran diantara dua lembaga ini. Misalnya kalau memang ruling class dipacu menjadi creative class, sebagai satu diantara sekian pemerintahan kota, rekan2 di PEMKOT Salatiga bisa saja didorong hasratnya melalui ide-ide segar agar menjadi pionir dalam berbagai sisi pelayanan publik (katakanlah untuk mengangkat profil kota Salatiga). Hasrat pioneering ini bisa dikembangkan para inovator di kampus dengan mitranya di pemerintah.

    Mungkin beberapa teman akan mengatakan bahwa hal ini sulit dilakukan, tetapi pengalaman kami di program KTI menunjukkan bahwa di setiap struktur pemerintahan daerah terdapat para inovator/reformis yang mau melakukan perbaikan dan menjalankan perubahan dalam kegiatan yang dijalankannya. Masalah utama adalah bagaimana mengidentifikasikannya dan sejauh mana terdapat forum-forum diskusi dan interaksi yang reguler antara reformis di dalam struktur pemerintah dan UKSW dimana UKSW dipandang sebagai mitra yang dipercaya, karena ada kesan selama ini bahwa UKSW hanya berhubungan dengan PEMKOT apabila ada masalah yang mencuat, atau sekedar untuk ikut berebutan proyek, bukan sebagai program menyeluruh UKSW (kalau memang hanya mau menjadi kampus “lokal”).

    Inovasi seperti ini juga yang sebenarnya teman-teman di PSKTI sudah lakukan seperti di TTS yang memperkenalkan program baru, hanya muncul permasalahan apabila kegiatan tidak sepenuhnya dijalankan secara baik seperti dalam studi kemiskinan yang sempat tersendat. Hubungan ini yang belum dimatangkan sehingga terkesan sebagai proyek jangka pendek, karena di PSKTI pun temuan-temuan seperti di TTS tidak banyak ditindaklanjuti, misalnya dengan rekomendasi-rekomendasi penguatan pemerintahan untuk mengatasi permasalahan dan dimana ada misalnya help-desk NTT yang memang berkutat dengan tantangan pembangunan di NTT. Dalam hal inilah yang kita mungkin harus mengakui bahwa kapasitas maupun sistem untuk mengembangkan modal intelektual yang ada masih banyak PRnya.

    Minta maaf, tadinya mau nanggapi pendek, malah jadi panjang, tetapi terima kasih kepada Bung Neil atas “pancingan” ini!

    Salam,
    Petra

  2. Dear Bung Petra,

    Weeh, danke voor ‘sambaran’ yang hangat dan kuat… Sharing pandangan si Florida itu hasil salah satu sesi baca santai di hampir setiap hari Minggu duduk baca bersama istri dan anak di toko buku dekat kampus. Kami biasa sepulang gereja mampir ke toko buku itu, duduk baca sampai sore (maklum boleh baca gratis sampe bodo sepanjang toko buka dalam lingkungan yang nyaman), lalu belanja makanan seminggu dan pulang rumah. Kebetulan Minggu dua minggu lalu, setelah baca sejumlah majalah beta menjelajah kumpulan buku sosiologi dan tertarik sejak lihat judulnya. Cuma, karena sudah dekat jam pulang ya tidak sempat baca, cuma lihat-lihat isi secara garis besar. Minggu yang baru saja berlalu kemarin-lah beta sempatkan baca, walau belum selesai. Maklum, sambil temani Nike baca jadi kadang-kadang ya bantu dia pahami bacaannya. Nah, karena merasa hal itu menarik, ya beta share.

    Sebelum beta tanggapi respon om soal kombinasi-kombinasi pikiran beberapa penulis tersebut (Pierson, Florida) dan menambahkan satu – dua pikiran institutionalists lain, beta tambahkan sedikit pandangan Florida dari “The flight of the creative class”. Jadi, menurut Florida, ibarat ada magnet, the creative class akan mencari daerah yang ada komponen mereka. Ibarat orang pintar akan cari daerah di mana orang pintar berada dan mengumpul di situ. Dalam analisis cluster industri yang dibuat oleh penulis yang beta lupa namanya (baca pada waktu mengunjungi perpustakaan VU di Amsterdam pada hari pertama beta injak tanah Belanda, diajak mbak Rooskities dan mas Hari Sunarto), perusahaan-perusahaan ‘baru’ akan mencari lokasi di mana telah terkonsentrasi perusahaan-perusahaan sejenis. Mereka mencontohkan industri IT di Silicon Valley, keramik di Itali, dan beberapa lainnya yang beta lupa. Kalau kasus di UKSW dulu adalah, ada Arief Budiman, maka analis kritis lain juga suka datang ke Satya Wacana (tolong koreksi kalau penilaian ini keliru). Tapi, mekanisme itu kiranya cukup ‘natural’ alias bisa dimengerti dan itu dibuktikan oleh Florida (Beta baru saja pinjam 2 buku Florida yang lain, The rise of the creative class (2002) dan Cities and the creative class (2005) karena penasaran dengan penelitian2nya.

    Terima kasih untuk sudah memasukkan penjelasan penting dari fenomena mengapa “orang pintar pergi cari tempat untuk bergabung dengan orang pintar”. Om Petra ternyata ahli benar dengan analisis institusional, salut! Seperti dikatakan Pierson, analisis institusional menyasar ke mekanisme-mekanisme (note: dengan jalan membongkar detail-detail dalam history), bukan sekedar membuktikan apa (pola analisis berorientasi variabel). Memahami detail akan menjelaskan mekanisme dan selanjutnya menjelaskan why. Dan, om Pet sudah sampai menyodorkan why-nya kepada kita, dan itu menunjukkan kemampuan retrieve rekaman2 sejarah yang om intensif terlibat di dalamnya. Jadi, salah satu kemungkinan penjelasan atas fenomena berkumpulnya the creative class di tempat yang sama adalah karena ada mekanisme positive feedback itu. Kan bisa mutung orang bila apa yang dibuatnya tidak ditanggapi (entah dipuji atau dikritik, tanda ada penghargaan) orang lain. Mereka membutuhkan constructive dissent, pinjam istilah yang digunakan Steven Schwartz, rektor atau vice chancellor Macquarie dalam pidatonya “The real skills shortage”
    (catatan: Schwartz menilai constructive dissent sebagai bagian dari 3 skills penting di masa dengan, bersama foresight dan creativity, yang mana justru secara riil masih belum mampu dipenuhi oleh dunia pendidikan).

    Dalam konteks tersebut, sebuah inisiatif memang akan mendapatkan proses penguatan terus menerus untuk selanjutnya menjadi sebab bagi sebuah perubahan. Beta duga, ketika Pierson mengatakan soal early small events yang stimulate large results, tampaknya ada asumsi tentang kehadiran pembaharu dalam konteks itu. Jadi, tepat sekali langkah om mengaitkan the creative class Florida ke dalam analisis sejarah, momen, dan sequence-nya Pierson. Mengapa? Institusi cenderung statis atau resisten untuk berubah. Jadi, jika Pierson menganalisis mekanisme path-dependence dalam konteks perubahan institusi, asumsi tentang keberadaan kelompok pendorong perubahan harus ada.

    Beta setuju bahwa di mana-mana ada innovators, entrepreneurs. Florida malah klaim, “every human being is creative!” (dalam Cities and the creative class 2005). Cuma, dalam konteks tarik-menarik institutional change vs. persistence, seringkali yang menjadi soal adalah soal kekuatan yang dimiliki untuk mendorong perubahan dan kekuatan (institusi) yang menahan perubahan tidak berimbang dan membuat innovators justru kalah. Dan, di situ, pendapat kaka Suanggi putih soal dibutuhkannya sebuah critical mass menjadi penting, kecuali ada sesuatu power besar dari event pendorong perubahan, sekalipun jumlahnya sangat kecil, satu orang misalnya. Kalau orang terbatas, beta kira lalu penting untuk mengaitkan dimensi relasional/networking untuk diffusi dan adopsi ide perubahan dalam network.

    Ke soal path-dependence, pandangan Pierson tampak cukup berbeda dari Campbell, misalnya. Jika Pierson mengatakan bahwa di fase awal cenderung bebas dengan adanya critical juncture lalu di belakang cenderung tertutup atau (ide) perubahannya sudah tidak ‘wah’ lagi (sebagai akibat akumulasi proses2 reinforcing?) tetapi dapat berakibat besar, maka Campbell justru membedakan apa yang disebut path-dependence dari critical jucture yang disebutnya cenderung merupakan perubahan radikal atau revolusioner. Perubahan institusi dalam model path-dependence ‘terikat’ oleh apa yang sudah ada (existing), hal mana juga sempat disebut Pierson dengan mengatakan ‘cumulative commitments on the existing path will often make change difficult (p 76).” Bagi Campbell, dalam model path-dependence, para aktor perubahan cuma meramu-ramu apa yang sudah ada dan menghasilkan perubahan-perubahan kecil. Proses meramu itu disebut sebagai bricolage. Ini dibedakannya dari proses meramu apa yang sudah ada dengan ide dari luar, yang memungkinkan munculnya critical junctures, walau tergantung juga seberapa banyak elemen yang berubah sedikit radikal sehingga bisa diklaim sebagai perubahan radikal (punctuated-equilibrium). Namun, kedua perbedaan ini mungkin (masih sebuah dugaan saja) terjadi karena apa yang ada dalam pikiran Pierson adalah tindakan perubahan (atau disebutnya events), sedangkan Campbell cenderung berbicara soal ide perubahan (walau akan berujung ke tindakan). Karena itu, bagi saya, ide perubahan bisa radikal (=critical juncture), tetapi dalam institusi yang kuat (highly institutionalised), langkah perubahan akan cenderung kecil (small) dan jika berakumulasi akan berujung pada perubahan/hasil besar. Namun, jika ada momentum, mungkin saja aktor2 langsung menawarkan large events.

    Itu soal mekanisme-mekanisme dalam proses perubahan.. masih ada sejumlah mekanisme yang beta rasa beta masih perlu dalami lagi.. baru sharing dan diskusikan.

    Soal keragaman, setuju sekali om! Florida juga menyebut demikian, kota-kota yang kreatif, biasanya berisikan keragaman. Keragamanlah yang mendorong (openness dan) toleransi dan toleransi adalah salah satu dari tiga ingredients (3T) kreativitas dalam formula Florida: technology, talent, tolerance. Dalam teori organisasi, isu ini telah diakomodasi dalam konteks tim dan pengambilan keputusan, saya yakin kita semua mengerti ini. Jadi, mestinya kita dapat sedikit demi sedikit jawaban-jawaban kunci ke arah kreativitas dan prestasi. Karena itu, memang harus disayangkan ketika UKSW mengambil policy berkonsentrasi ke Jawa Tengah. Dan, karena itu pula, harus diacungi jempol langkah FTI untuk mencari talents dari dispersed geographical areas. Cuma nanti, apakah kita bangun mekanisme-mekanisme institusional yang stimulate further changes atau tidak, atau cukup terjebak di variabel saja.

    Yes, we are in the midst of technological advancement yang memungkinkan terjadinya mekanisme pemfasilitasian akses pada kantung-kantung pengetahuan yang luas dan dalam. Bagi institutionalists, lalu muncul soal translation (asumsi kita pakai lho akses yang luar biasa itu).. bagaimana kita translate pengetahuan yang terdifusi luas itu pada konteks kita.. atau jangan2 kita cuma jadi tikus yang mati di lumbung padi..?!

    Setuju juga soal bisa dijembatani.. tetapi, tidak mudah dalam perspektif membongkar apa yang terlanjur terinstitusi.. dalam hal ini kebiasaan masing-masing.. itu juga yang membuat inisiatif2 tergelincir (karena kurang mekanisme reinforcement yaa..).. termasuk juga kasus trimester kita, tergelincir karena orang telah terbiasa dengan semester.. lagi-lagi, institusi itu kuat dan karenanya langkah penginstitusian (melalui pembangunan mekanisme2 institusional) menjadi sangat critical..

    OK, sementara ini dulu Om! Ini ju su talalu panjang ko bikin cape yang baca.. tapi, senang berbagi dan saling menguatkan, termasuk via kritik2 konstruktif (walau pedas, tetapi tujuannya jelas, membangun!)

    salam
    neil

  3. Mr. nsrupidara saya sangat interest dengan bukunya Richards Florida, dimana ya saya harus cari? Thanks

    • Halo pak Erwinimaji,

      Saya tidak tahu kalau buku itu ada di toko-toko buku yang menjual buku impor yang ada di kota-kota besar kita di Indonesia. Namun, silahkan cek, dan tanya apakah mereka bisa sediakan, kalau tidak ada. Namun, satu jalan termudah ya membeli online via Amazon.com misalnya, sejauh ada credit card.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: