Posted by: nsrupidara | June 24, 2008

Gereja, UKSW, dan Peran Politik

Diskusi di bawah ini adalah bagian dari percakapan di sebuah milis yang bernaung di bawah tema asli: “Politik atau Politisasi Agama?” yang dipicu oleh sebuah artikel berjudul sama dengan tema diskusi yang ditulis oleh Pdt. Richard Daulay dan dimuat pada Koran Suara Pembaruan (yang diposting ke milis oleh bung Jeffry Lempas).

1) Yakub Adi Krisanto:

Bungs & Nons,

Tulisan dari Richard Daulay yang dikirim oleh bang Jeffrie layak dijadikan bahan diskusi berkaitan dengan aktualisasi iman kristen terhadap situasi bangsa saat ini. Meski secara bercanda dapat dikatakan bahwa ‘demo berarti boleh dan sangat alkitabiah” karena Yesus yang menjadi panutan dan sesembahan kita melakukan demo ‘anarkhis’ dibait Allah yang diungkapkan oleh bang Richard sebagai ‘pusat kekuasaan’.

Tetapi it is not the point, the point is: pertama, social justice movement mendapat tempat dari sejarah perjalanan Yesus dan sekaligus dapat mengilhami orang nasrani untuk membangun gerakan tersebut sebagai salah satu cara membantu negara ini lepas dari keterpurukan. Saya jadi ingat akan diskusi di milis ini yang membicarakan mengenai kata (baca: pengetahuan) dengan perbuatan. Diskusi beberapa waktu yang lalu menemukan relevansinya ketika tulisan bang Richard ‘menyusup’ (atau disusupkan) di milis ini. Ternyata Yesus tidak sekedar berkata-kata (baca: berkotbah) melainkan berani mengambil tindakan ekstrim (menurut saya anarkhis) hanya untuk membongkar akar kemiskinan dan penderitaan rakyat Israel waktu itu.

Bahwa akar kemiskinan adalah korupsi dan itu dilakukan di tempat yang seharusnya menjadi tempat paling suci, tempat dimana pada jaman perjanjian lama menjadi tempat bertemunya Allah dengan manusia melalui perantaraan Imam. Korupsi dalam hal ini tidak boleh dipahami sebagaimana dirumuskan dalam UU No. 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20/2001 tetapi korupsi dalam pengertian telah terjadi degradasi moral. Korupsi menurut Black’s Law Dictionary adalah

Illegality; a vicious and fraudulent intention to evade the prohibition of the law, something againts or forbidden by law; moral turpitude or exactly opposite of honesty involving intentional disregard of law from improper motives.  An act done with an intent to give some advantage inconsistent with official duty and the rights of others.

Korupsi adalah kejahatan moral yang melibatkan ketidakjujuran dalam setiap aspek kehidupan. Yesus tahu bahwa terjadi ketidakjujuran yang kasat mata dilakukan di bait Allah. Yang terpenting adalah Yesus berani bergerak sendirian tanpa melibatkan murid atau pengikutnya apabila diakumulasikan mencapai ribuan. Yesus adalah seorang REVOLUSIONER, mungkinkah pengikuti Yesus menjadi revolusioner seperti JURUSELAMAT kita?    Kedua, berkaitan dengan politisasi agama. Sejak awal saya tidak setuju dengan pendirian Partai Kristen atau berlabelkan kristen karena menunjukkan inferioritas dan ekslusifitas. Namun ketidaksetujuan tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh bang Richard, ketika terlibat politik tantangan terbesar adalah JUJUR & TULUS! Dan dunia politik kita belum memungkinkan (bahkan tidak mungkin) untuk mengelaborasi kejujuran dan ketulusan.

Ketidakmungkinan tersebut melahirkan manipulasi dan manipulasi atas nama kekuasaan merupakan bentuk KORUPSI! Saya lebih menghargai orang kristen yang mau & mampu terlibat di partai yang non kristen, SALUT karena potensi untuk menjad terang dan garam dunia sekaligus membuktikan diri bahwa anak Yesus tidak eksklusif.    Dimanakah sekarang kita berada?

Syallom dari Ged F(acile, acetious, abulous, etc) lt IV

2) Henry Lokra:

Beberapa catatan:
Tulisan Pdt. Richard Daulay menarik untuk dikritisi. Yang hilang dari ingatan Pdt. Richard Daulay adalah sudah sejauhmana Gereja-Gereja di bawah payung PGI melakuakan otokritik kepada Negara. Mengapa gereja menjadi sangat tendensius bagi Parpol Kristen, seolah-olah mengutuknya sebagai yang tidak bermoral, tapi tidak jarang juga gereja (Baca: orang-orang dalam gereja “Mungkin juga Pdt. Richard Daulay”) yang tidak mengutuk berbagai bantuan partai politik Kristen bagi gereja/person? Dengan tidak bermaksud membela atau mengakui kehadiran partai politik aliran, saya agak kecewa dengan sikap ‘malu-malu mau’ gereja dalam berpolitik (dalam pengertian yang luas).

Sikap menolak atau menerima kehadiran sebuah partai politik adalah sikap politik dan derajat moralitasnya sangat terukur sebagai sebuah konstruksi subyektif yang tidak patut diteladani apalagi oleh seorang yang sedang menjabat sebagai Sekum PGI.Tidakkah lebih bijaksana gereja melakukan otokritik terhadap dirinya, apa sumbangan gereja dalam konteks dan dinamika sosial politik gereja dewasa ini?. Satu hal yang pasti adalah Agama-agama berdiri pada ideologi sendiri yang akan sulit dipertemukan dengan ideologi lain dalam kintal politik.

Salam,
Henry Lokra

3) Theo Litaay:

Kebanyakan dorongan membentuk partai kristen terjadi karena rasa frustrasi akan terbungkamnya peran sosial politik gereja. Sekarang sudah terbentuk, apakah PGI akan menyangkali anak kandungnya?

TL

4) Neil Rupidara

Dear friends,

Bagi saya, pertama dan esensial bagi kita adalah memertanyakan makna kehadiran kita sebagai orang dan institusi kristen (christian presence) di Indonesia. Apa sih panggilan iman kita di sini? Untuk apa sebagai orang dan institusi Kristen kita ada di Indonesia? Jelas, bukan pertanyaan baru, tetapi akan terus relevan. Pertanyaan ini pula yang mendasari eksistensi Satya Wacana. Pergumulan para teolog Indonesia termasuk pak John Titaley penting untuk terus kita angkat (catatan: ada banyak teolog impor, atau teolog buta konteks). Karena, jawabannya terkesan cukup sederhana, tetapi manifestasi bentuknya yang aligned dengan konteks tetapi sekaligus mampu memfasilitasi perwujudan misi sebaliknya tampak cukup pelik.

Implikasinya ada pada dampak kehadiran kekristenan di Indonesia. Jika hari ini kita tanyakan mengapa kehadiran kita seperti tidak dianggap, bagi saya, ada banyak soal di sana.

Di sini bung Yakub angkat kembali kontestasi kata dan perbuatan. Jika dipikir, rasanya, cukup banyak sudah yang kita (orang kristen) (ikut) buat di negeri ini, tetapi apakah kita tidak cukup bersuara sehingga kadang tidak cukup dianggap keberadaannya? Atau, barangkali kita sudah cukup bicara tetapi tidak cukup keras sehingga tak terdengar didengar lalu haruskah diekspresikan melalui sebuah gerakan yang lebih besar, gerakan fisik di ruang sosial dan politik? Ataukah, kita belum cukup berbuat sehingga buah2 dari kehadiran kekristenan di Indonesia mudah tersapu. Akhirnya, jatuh2nya bukan saling meniadakan antara kata atau perbuatan. Hendaklah yang dikarunia kemampuan berkata2  ya mengemban tugasnya dengan baik, demikian juga yang lainnya. Yang punya satu talenta tidak harus merasa dianaktirikan dan tidak berbuat apa-apa, apalagi yang punya multitalenta jika menganggurkan kemampuannya. Masing-2 lilin menyala di sudutnya untuk mengumpulkan sinergi penerangan. Mata tidak lebih penting dari organ lainnya. Bahkan dubur yang jadi tempat yang menjijikkan pun kalau tidak berfungsi baik, berabe kita.

Namun, untuk bisa “berbicara” banyak, merujuk apa yang dilakukan Kristus, tampaknya kita perlu fokus. Kristus tidak berpolitik dalam arti harafiah dalam menyampaikan inti ajaranNya yang radikal atau revolusioner itu. Namun, jelas ia berpolitik di dan melalui “ruang”nya. Di samping itu, sangat kentara Ia teguh dan sangat jelas dalam pesan-Nya, bertutur atau mengekspresikan suatu struktur nilai melalui berbagai cara dan kesempatan. Bahkan, Ia menguatkannya lewat perbuatannya.  What an examplary leader! Lebih dari itu, ini sangat penting bagi saya, Ia datang dengan membawa suatu standar kehidupan baru yang jauh lebih tinggi daripada referensi zaman dan lokal-nya. Ia aiming high, bahkan very high! Luar biasanya, Ia mampu mewujudkannya, melalui contoh2 hidupNya. Ia bahkan mampu merombak wajah masyarakat, sekalipun tanpa berpolitik seperti lazimnya orang bermaun di dunia politik.

Kesederhanaan (menyangkut keseharian?) (tetapi sesuatu yang diyakini kuat) sikap dan perbuatan mungkin kuncinya. Merujuk khotbah hari minggu kemarin di Trinity Chapel, sebuah jemaat non-denominational di depan kampus Macquarie, dengan merujuk Matius 13: 31-33 (perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi) pengkotbah mengatakan bahwa Kerajaan Allah dan Kekristenan telah dimulai dari satu orang dan terus bekerja (turun ke-12, menjadi puluhan, ratusan, ribuan) hingga kini “tak terhitung” banyaknya (seperti bintang di langit dan pasir di laut).

Bagi saya, ini hanya bisa terjadi dalam konteks argumen saya di atas. Sebuah standar baru yang (sangat) tinggi (di tengah kenyataan kehidupan sehari-hari), tetapi penggagasnya mampu membuktikan itu dan menjadi contoh. Karena memang itu (terbukti) baik adanya, orang lain tidak bisa tidak akhirnya mengamini dan mengikutinya. Ia tidak dimulai dengan jalan perang, justru menransfromasikan jalan kekerasan menjadi jalan damai dan demonstrasi kasih. Tatanan masyarakat pun berubah secara pasti, sebagai efeknya. Yang terbelakang dikedepankan, yang tersingkir diutamakan. Sekali lagi, ini standar kehidupan tinggi yang diperkenalkan dengan jalan hidup yang konsisten. Itulah juga yang harus kita lakukan, sebagai orang Kristen.

Di luar itu, bagi si pengkotbah (saya mengamininya), Tuhan sendiri juga telah dan akan terus bekerja melalui berbagai caranya, menguatkan pekerjaan kita itu yang melalui kesederhanaan tutur dan perbuatan, mengekspresikan kebaikan Tuhan yang telah kita terima di dalam ruang2 hidup kita.

Jelas, kita (baca: orang Kristen) berkiprah di banyak tempat, termasuk kita yang di UKSW melalui layanan pendidikan tinggi. Saya juga teringat: “Kita sudah menerima yang terbaik dan harus juga memberi yang terbaik!”

Karena itu, orang dan lembaga Kristen macam UKSW (termasuk kita di dalamnya) perlu setting standards yang terbaik dan bekerja dengan sangat keras untuk mewujudkan itu. Jelas, bahwa standards yang saya maksudkan bukan untuk/berorientasi diri sendiri, tetapi bagi panggilan2 kemanusiaan yang lebih besar, tetapi dengan tetap bermain di dalam core activities kita. Jadi, jika UKSW mampu menjadi salah satu lembaga pendidikan tinggi terbaik, maka kita sudah berpolitik melalui membangun masyarakat terdidik bagi pembentukan bangsa yang diberkati.

Catatan saya: di samping memberi layanan pendidikan terbaik, UKSW tidak bisa mengabaikan dan takut mengekspresikan ciri-2 kekristenannya melalui berbagai manifestasi empirisnya (karena ada tercetus pandangan bahwa barangkali suatu waktu barangkali kita tidak perlu pakai atribut/nama Kristen). Orang macam Matori Abdul Jalil (alm.) pun bangga dididik dalam suatu tradisi lembaga pendidikan tinggi Kristen.

Karena setiap lilin perlu menyala di sudutnya, implikasinya maka hendaknya kita yang mengajar ya mengajar dengan baik: penuh tanggung jawab dan memberi yang terbaik dari yang mampu kita lakukan (dalam perspektif membarui diri secara terus menerus sehingga standardsnya ya naik terus). Demikian juga untuk ranah ke-2 darma pendidikan tinggi yang lain. Demikian juga mereka yang berkiprah di domains yang lain, termasuk mereka yang bermain di domain politik.

Bagi saya, jika ini bisa dicapai, maka ada keseganan (bahasa Amsal (Takut akan Tuhan): sikap takut dan hormat) siapapun terhadap kita. Jadi, jika kita bertutur mengingatkan orang lain untuk tidak bermain2 api terhadap kita, suara kita penuh power (di dalam kesadaran bahwa Tuhan juga menjaga kita). Sebaliknya, jika kita bukan siapa2 (asal menjadi universitas atau menjadi universitas asal-asalan), apapun yang kita katakan dan buat akan cenderung sia-sia. Kata pengkotbah, segala sesuatu di bawah matahari sia-sia.

Jadi bung Yakub, tuntutan kata dan perbuatan bagi kita di UKSW, misalnya, adalah berbuatlah yang terbaik di dunia pendidikan tinggi: pendidikan+pengajaran, penelitian+publikasi, pengabdian masyarakat. Itu core business kita. Jika di dan untuk dunia pendidikan saja kita amburadul, apalagi lalu mau berpolitik di ruang2 politik? Apa kata dunia? Celakanya, kita sudah kehilangan banyak momentum untuk menjaga prestasi dan reputasi kita sebagai salah satu yang terbaik. Ini challenge kita.

Maaf, jika saya mengajak kita untuk cenderung inward looking. Namun, bagi saya ini esensial, itulah talenta/tugas yang diberikan kepada UKSW. Kita tidak mau asal bunyi dan gerak di segala tempat. Baik bahwa kita punya hati untuk melihat hal2 yang lain, termasuk untuk peduli pada banyak persoalan di luar. Namun, kita peduli semua itu, melalui medan layanan kita dan bukan bergerak di medan baru. Saya yakin jika kita mampu menata diri ke dalam dan well performed dalam perwujudan bidang panggilan tugas kita itu, maka kita akan ‘penuh peluru’ dalam mengajar dan bersaksi.  Tanpa menjadi lembaga pendidikan tinggi dan akademisi yang sungguh, kita akan cenderung berada di pinggiran, kecuali kita semua banting setir, keluar dari dunia pendidikan tinggi, main di partai politik, misalnya.

Di mana tugas gereja, sebagai institusi? Tugas gereja (termasuk keluarga Kristen) adalah membekali umatNya untuk terus menyaksikan kebaikan Tuhan itu di tempat2 umatnya melayani. Bagi saya gereja juga hendaknya bermain di wilayahnya. Umatnya-lah yang bergerak di banyak medan layanan, entah mau dirikan partai politik Kristen, silahkan saja tetapi itu bukan representasi gereja sebagai institusi. Itu adalah interest politik umat atau sekelompok umat, mereka adalah warga gereja yang misioner. Gereja hanya perlu terus menguatkan hati dan perbuatan umatnya sesuai struktur nilai2 kekristenan, untuk menjadi gereja yang misioner. Jikapun di waktu2 tertentu gereja menyampaikan pesan moral, maka itu diterangi oleh komitmen pada standards kehidupan tinggi yang sudah diwariskan kepadanya 2000an tahun namun perlu direintepretasi, dikontekstualisasi dalam ruang waktu dan wilayahnya. Jikapun gereja mau sedikit keluar dari domain utamanya, saya pribadi memandang perlu dalam kaitan core business-nya. Dalam hal ini, saya tetap konservatif dalam memandang gereja2 yang berbisnis, berpolitik, etc.

Bagi saya, jika saja gereja2 di Indonesia bisa membangun dan menjalankan teologi yang tepat untuk konteks Indonesia dan zaman yang terus berubah, maka itu akan membekali warga gereja untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Saya bukan pengamat yang baik, tetapi saya kira kita juga harus siap menghadapi ‘peminggiran’ peran gereja karena menguatnya institusi2 masyarakat modern. Jika tatanan masyarakat sipil adalah modal bangsa, maka gereja harus mampu membangun sebagian komponen dari masyarakat sipil yang peduli terhadap urusan2 kemanusiaan. Dengan begitu, gereja untuk bermain di wilayah intinya dan tidak perlu untuk “garagas” (=rakus) mau masuk dan kerjakan semua hal.

Namun, jelas ini persoalan pelik dan satu sikap mungkin tidak bisa dan tidak cukup. Barangkali dalam masa tertentu dan dengan tantangan nyata tertentu, mungkin konsepsi saya menjadi tidak pas. Ambil contoh Gereja Katholik dan gerakan sosialnya di Timor Leste, misalnya. Namun, concern saya, asal tidak ‘mengotori wajah’ gereja saja (ini bersifat dapat didebat apa yang dimaksud dengan tidak mengotori wajah).

OK, mohon tanggapan para warga PSKTI.

salam

neil

—-

5) Yakub Adi Krisanto
Bungs & Nons,
Salut atas lontaran pemikiran dari Bung Neil yang mengajak kita untuk berefleksi atas kegiatan kita ber-Satya Wacana. Dan mengAmini apa yang dikatakan oleh beliau dan berusaha serba sedikit mengulas dengan ide atau gagasan yang menyeruak dalam diri. Pertama, mengenai inward looking. Refleksi yang disampaikan dalam email tersebut mengingatkan saya atas nats Alkitab, Kolose 3:23,”Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.
Kata “apapun” menunjuk pada semua hal atau aktivitas yang kita lakukan. Meskipun dalam konteks ulasan bung Neils bahwa inward looking berkaitan dengan kemampuan melakukan kegiatan ber-Satya Wacana dalam proses belajar mengajar dengan baik (atau sebaik-baiknya) dan hal tersebut menjadi tugas pokok kita yang harus di lakukan seperti itu. Dalam konteks tersebut bung Neil mengajak kembali ke core business, dan itu betul adanya. Asumsi yang digunakan adalah ketika kita well performed maka kita akan ‘penuh peluru’ dalam mengajar dan bersaksi.
Namun apakah well performed on our core business dapat membentuk kita teralienasi dari interaksi sosial? Tentu tidak demikian yang dimaksud karena yang dimaksudkan adalah bekerja dalam ‘wilayahnya’ dan tidak melampaui wilayah tersebut. Lontaran bung Neil mengingatkan saya terhadap diskusi tentang Ilmu Hukum yang salah satu alirannya menginginkan melakukan pemurnian atas ilmu hukum yang terpisah dari pengaruh-pengaruh non-hukum (the pure theory of law – Hans Kelsen). Pertanyaan yang mendasar adalah mungkinkan hukum dipisahkan dari pengaruh non-hukum seperti sosial, ekonomi, politik?
Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak mungkin diletakkan terpisah dari locus dari Perguruan Tinggi tersebut berada. Dan ketika kita mensinergikan ‘setia kepada Firman’ dan ‘takut akan Tuhan’ maka aktualisasi dari sinergi itu tidak akan tercerabut dari lingkungan dimana kita beraktualisasi. Matius 5:15, “lagipula orang tidak akan menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan diatas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu”, dan Mat 5:13, “kamu adalah garam dunia, Jika garam itu menjadi tawar dengan apakah diasinkan?” Garam akan dirasakan manfaatnya apabila dia bisa membaur atau melebur ke dalam sayuran.
Ulasan ini bukan bermaksud untuk mengilmiahkan Alkitab dalam diskusi kita tetapi mencoba bersetuju dengan catatan sederhana dari apa yang dilontarkan oleh bung Neil. Ketika kita well performed dalam tri dharma perguruan tinggi maka minimal pengaruh dari pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi dapat dirasakan kemanfaatannya bagi keberadaan perguruan tinggi baik di wilayah internasional, nasional, regional maupun lokal. UKSW kehilangan momentum menjadi terbaik, mungkinkah hal tersebut terjadi karena kita terlalu inward looking dalam pengertian (i) mempersepsikan diri kita terlalu baik dibandingkan dengan orang lain. Karena sindrom persepsi ini akan mempengaruhi kita untuk memisahkan dari komunitas dan merendahkan pihak lain. (ii) berpuas diri dengan capaian yang sudah kita peroleh.
Kedua, bekerja diwilayah yang menjadi core busines. Dalam konteks ini bung Neil mencoba melihat kembali peran UKSW dan gereja dalam formula yang general bagi lembaga-lembaga. Menarik menanggapi bahwa tidak ada masalah apabila muncul partai kristen asalkan gereja tetap di core business. Dan saya setuju100% dengan pendapat itu bahwa gereja tidak perlu berpolitik tetapi hanya sebagai moral guardian dari jemaat gereja yang berpolitik. Pertanyaannya bagaimana apabila ada jemaat yang berpolitik yang menerapkan prinsip ketidakjujuran dan manipulasi kekuasaan? Apa yang harus diperbuat gereja?
Yang dilontarkan bung Neil menemukan relevansinya pada Pilgub Jateng (meski sudah diketahui hasilnya) yang terjadi di kota Salatiga yaitu ketika sosialisasi Bibit-Rustri mengundang pendeta-pendeta se Salatiga di gedung Sinode. Saya memaknai sosialisasi tersebut hanya sekedar merebut dukungan dengan jargon nasionalisme khususnya perlindungan terhadap minoritas agama kristen. Pertanyaannya adalah apakah model berpolitik yang demikian yang layak dikembangkan oleh gereja apabila pendeta dianggap sebagai representasi gereja?
Politik gereja tidak dimaknai sesempit pengertian politik praktis yang dipahami sebagai kegiatan untuk mencapai/merebut kekuasaan. Padalah bicara politik adalah bagaimana bisa mendatangkan kesejahteraan rakyat. Sehingga percuma apabila kemunculan partai kristen atau keterlibatan gereja dalam politik tidak berimplikasi pada kesejahteraan rakyat. Dan mencipta kesejahteraan rakyat berarti gereja harus mampu bersinergi dengan lingkungannya. Tuntutan untuk bersinergi menjadi keniscayaan tanpa mengkhianati core business gereja yaitu untuk menggembalakan domba-dombanya.
Mohon diskusi ini dapat terus berkembang dan untuk itu mengharapkan respon teman seperti diminta juga oleh bung Neil.
Syallom dari Ged F(oolproof, ootlights, ootsie, etc.) lt IV
Yakub

6) Neil Rupidara:

Dear Yakub dan temans lain,

Terima kasih sudah menambah pengertian dan catatan terhadap komentar saya. Sangat saya hargai!

Betul, inward looking dalam konteks yang saya ajukan lebih pada fase refleksi bagi proses koreksi diri untuk memberi yang terbaik dalam panggilan tugas pelayanan kita. Ia tidak berarti lalu self-centered atau menutup diri terhadap dunia di sekitar kita. Satya Wacana lahir karena pergumulan menyangkut realitas sekeliling-nya. Apa yang hendak dijawabnya adalah justru bukan kepentingan dirinya semata dan dalam banyak hal perkembangannya juga adalah respon terhadap kebutuhan2/masalah2 nyata di masyarakat sekitar. Sebuah wawancara kecil yang dilakukan teman2 Scientiarum terhadap pak Willi Toisuta masih mengingatkan kita tentang misi ber-UKSW, yang seringkali terabaikan dalam rutinitas ber-darma pendidikan tinggi di UKSW. Hal mana juga saya kira sangat jelas dan kental terekspresi dalam ideologi dasar UKSW, sebagaimana dirumuskan Notohamidjojo. Sayangnya, justifikasi teologis-sosiologis-etc atas banyak kiprah Satya Wacana di masa lampau seringkali pudar dalam pragmatisme pilihan2 Satya Wacana kekinian. Bagi saya ini jelas membahayakan dari sudut pemenuhan standards tinggi yang saya ‘ributkan’ sebelumnya. Karena, pragmatisme kita (dalam kacamata saya) seringkali cuma respon2 sesaat (cari jawaban cepat dan untuk enaknya kita) terhadap fenomena kontemporer yang tidak/belum jelas apa sih ‘itu’ sesungguhnya, apalagi menyoal aspek mengapa dari fenomena itu dan juga mengapa kita harus merespon demikian (karena malas berpikir dan berusaha?). Seringkali kita kehilangan pemahaman akan makna hakiki. Dalam hal ini, terima kasih sekali untuk memberi emphasis yang kuat pada makna yang dicari dari sebuah gerakan politik institusi kristen dan khususnya gereja.

Karena sifat inward looking yang dimaksud adalah self-reflection, maka ia jauh dari sikap puas diri dan menganggap diri besar, di tengah kenyataan lingkungan yang terus berubah, dan bahkan berubah dengan makin cepat. Namun, dalam fase perkembangan UKSW, dua sikap itu jelas muncul dan perlu disayangkan karena itu menciderai sifat proses refleksi itu sendiri yang misalnya termuat dalam keinginan Satya Wacana untuk memantau perubahan dan menjadi salah satu sumber inspirasi perubahan dalam masyarakat. Complacency adalah sifat-anti perubahan dan kalau itu ada ya itu sangat berlawanan dengan sifat pembawa perubahan yang ada dalam “gen” UKSW dan ini sangat berbahaya. Dalam ulasan Wikipedia tentang “A Study of History-nya Arnold Toynbee, ditulis:

“He argues that the breakdown of civilizations is not caused by loss of control over the environment, over the human environment, or attacks from outside. Rather, it comes from the deterioration of the “Creative Minority,” which eventually ceases to be creative and degenerates into merely a “Dominant Minority” (who forces the majority to obey without meriting obedience). He argues that creative minorities deteriorate due to a worship of their “former self,” by which they become prideful, and fail to adequately address the next challenge they face.”

Jadi, itu sikap puas berlebihan adalah hantu bagi kita.

Ketiga, terkait dengan itu, Satya Wacana dan gereja menganut pemikiran yang sama, menjadikan warganya sebagai unsur utama pelaksana misinya. Satya Wacana dengan creative minority dan gereja dengan statement gereja yang misioner. Konsepsi Satya Wacana tentang creative minority adalah kuat roh dan jiwanya (spiritual) dan keyakinannya (secara intelektual). Warga gereja yang misioner saya kira juga sama, sejalan dengan perumpamaan biji sesawi dan ragi yang menunjukkan dari inti yang kecil berkembang luar biasa, apalagi kalau bukan karena iman dan pengharapan yang kuat untuk mewujudkan kasih besar yang telah mereka terima. Persoalannya adalah bagaimana membentuk dan terus membimbing Satya Wacana-ists atau warga gereja yang misioner seperti itu. Di sinilah soal kita. Kita masih gagal membentuk profil murid seperti itu, hal mana justru berhasil dibentuk Kristus dalam diri 12 murid dan ditambah Paulus dan murid2 turunan mereka. Yang macam begitulah yang telah merubah wajah dunia, sedangkan kita?

Jika konsepsi warga Satya Wacana dan gereja adalah seperti itu, maka saya rasa pertanyaan warga gereja yang menyimpang mudah2 dapat kita kesampingkan. Namun, jelas sifat buruk manusia (dark-side personality) adalah juga bawaan kita, di samping hasil transformasi menjadi creative minority atau murid tadi. Namun, dengan menempatkan proses pembentukan diri menjadi creative minority itu dalam suatu siklus Aksi – Observasi – Refleksi yang dilakukan secara kritis dan terus-menerus, maka akan terjadi mekanisme koreksi diri untuk mengingatkan dan memurnikan diri. Namun, celakanya, kadang kita berlaku “buruk muka cermin dibelah”, takut lihat wajah buruk kita, cari2 alasan. Pejabat gereja misalnya akhirnya menjadi untouchable, sama juga dengan pemimpin2 organisasi ‘buruk rupa’ lainnya. Padahal seluruh brutal facts tentang diri kita yang disodorkan ke muka kita hanyalah sebuah mekanisme untuk mengenali diri dengan lebih baik, dalam konteks terang misi yang diemban. Ini juga fenomena berbahaya dalam diri banyak organisasi, termasuk di Satya Wacana dan gereja2.

Kita akhirnya kehilangan refleksi kritis tentang menjadi diri sendiri di tengah dunia yang berubah, dan akhirnya ya gagal mengemban misi kita di tengah dunia yang makin pelik persoalannya. Juga, kehilangan keberanian untuk berhadapan dengan masalah dan ancaman. Dengan begitu runtuh pula semua konsepsi di atas dan akhirnya malah self-centered, membenarkan diri sendiri, puas justru di antara kegagalan2 pemenuhan misinya, etc. Jadi, jangankan berpikir untuk membawa damai sejahtera di sekelilingnya, menjadi diri sendiri (dalam terang pengemban misi) saja gagal. Ironis!

Di situ bung Yakub, posisi saya mengajak kita untuk “mari tengok ke dalam”, siapa kita sesungguhnya. Sudah jadikah kita seperti yang dikehendaki? Parameter pembanding kita adalah suatu standar yang sayangnya sudah dinyatakan sedemikian tinggi, jadi tidak ada jalan lain selain memenuhi itu. “Kita sudah menerima yang terbaik, pantas pula memberikan yang terbaik.” Sang janda miskin itu memberi terlalu kecil dibanding si juragan kaya, tetapi ia memberi yang terbaik dari dirinya, tidak seperti si juragan.

Sama halnya juga dengan konteks gereja. Gereja2 kita juga seringnya cenderung seperti pasar yang hiruk pikuk dengan politik kotor di dalamnya. Mau ngomong apa tentang dirinya ke luar sana? Jangan2 juga cuma interest politik sempit dan sesaat dan sikap ketakutan luar biasa akan ancaman luar, padahal seperti catatan Wikipedia di atas, kita justru-lah yang seringkali gagal secara internal. Ini soal mendasar kita. Namun, tentu semua masih bisa diupayakan secara simultan. Dan, tentu masih ada yang baik dalam diri kita, dari antara yang buruk2. Karena itu, mari konsentrasi di situ.

Dalam konteks mengupayakan baik koreksi ke dalam dan kesaksian ke luar, saya sangat bersepakat bahwa “kita tidak sendiri”. Ini psikologi baik, sejauh digunakan dengan baik. Jejaring rekanan yang banyak adalah energi tambahan buat kita. Jangan sampai kita gagal lagi untuk memanfaatkan yang baik dari hal ini juga.

salam
neil

Advertisements

Responses

  1. OM NEIL, BETA TERTARIK DENGAN LATAR BELAKANG YANG ADA DI FOTO, BISA KASIH PINDAH DI KUPANG KO? … HE HE HE

  2. Beta angkat karmana ini o.. Eh, ma nanti Mr Rudd suruh polisi tangkap beta te Australia ju miskin aer na..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: