Posted by: nsrupidara | May 23, 2008

Menjadi Universitas Riset?

Orientasi menjadi research university tampaknya makin tidak terhindarkan bagi sebuah perguruan tinggi bermutu. Hal ini diindikasikan dari pilihan fokus pengembangan perguruan tinggi yang diambil oleh sejumlah perguruan tinggi papan atas Indonesia, terutama perguruan tinggi negeri di Jawa yang mulai menglaim diri sebagai universitas riset.

 

Pilihan ini tampaknya tidak bisa dilepas pula dari institutional pressures di lingkungan pendidikan tinggi akibat internasionalisasi dan globalisasi. Hasil pemeringkatan perguruan tinggi terbaik di dunia mengirimkan pesan yang sangat jelas bahwa mereka yang terbaik adalah yang berorientasi riset, seperti Harvard, Stanford, dan Yale di Amerika Serikat serta Oxford dan Cambridge di Eropa. Perguruan tinggi seperti itu merupakan role model dan pematok standar praktik terbaik di lingkungan pendidikan tinggi dunia dan apa yang dibuat mereka menjadi referensi bagi perguruan tinggi lainnya. Hal mana mendorong terjadinya proses mimicry atau meniru, di mana perguruan tinggi lainnya berupaya melakukan apa yang telah dilakukan oleh universitas-universitas terbaik itu, dalam upaya menjadi universitas kelas internasional atau disebut bermutu.

 

Karena itu, tampak ada gerakan sistematis ke arah peningkatan kinerja universitas di bidang riset, pada universitas-universitas di Asia, termasuk pada sejumlah perguruan tinggi elit di Indonesia. Riset makin menjadi pumpunan perhatian dalam memandang masa depan persaingan dan kerja sama antar perguruan tinggi. Sinyal pergeseran orientasi ini sangat benar dalam pengalaman interaksi dengan berbagai universitas mitra baik Amerika, Eropa, Australia, maupun Asia.

 

Hal ini mengindikasikan bahwa hampir-hampir tidak ada pilihan lain bagi perguruan tinggi manapun di Indonesia jika ingin memasuki kancah pergaulan akademik dunia selain makin memantapkan orientasi menjadi universitas riset. Namun, tentu saja tetap saja ada pengecualiannya, yakni bilamana sebuah universitas hanya ingin bermain pada aras ‘universitas lokalan’. Namun, pilihan untuk menghindar seperti itupun diduga tidak akan lepas dari tekanan-tekanan institusional yang makin besar ke depan.

 

Pilihan menjadi universitas riset jelas bukan tanpa konsekuensi dan hambatan. Ada beberapa potential problems berkaitan dengan langkah menjadi universitas riset. Pertama, menguatkan karakter sebagai universitas riset membutuhkan komitmen sumber daya yang tidak kecil. Infrastruktur dan sarana penunjang riset perlu disediakan secara memadai dan ini berimplikasi investasi yang tidak kecil. Dalam hal ini tampak bahwa ada banyak keterbatasan bila hanya mengandalkan resources internal universitas, walaupun komitmen universitas itu sendiri menjadi vital.

 

Namun, perlu diingat bahwa pilihan ini dan konsekuensi-konsekuensinya bukan urusan individu lembaga pendidikan tinggi semata-mata. Ini adalah juga urusan strategi dan program pemerintah, dhi. Depdiknas, lebih khusus lagi Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti). Dalam hal ini pertanyaan atas strategi, kebijakan, program, dan komitmen sumber daya pemerintah via Dikti perlu dipertanyakan. Misalnya, political will pemerintah untuk benar-benar menginstitusikan otonomi lembaga pendidikan tinggi menjadi pertanyaan. Tarik ulur dalam hal ini tampak memrihatinkan. Padahal, apa yang diharapkan dari pemerintah adalah supports bukannya pengaturan-pengaturan yang terlalu legalistik-administratif yang kemudian bernuansa menghambat . Dan, otonomi lembaga pendidikan tinggi bukan hanya soal otonomi manajerial, apalagi untuk dimensi finansial. Yang jauh lebih substansial adalah kebebasan institusi perguruan tinggi menentukan strategi dan taktik penyelenggaraan kegiatan-kegiatan akademiknya. Pemerintah hanya perlu untuk membangun platform pengawasan mutu di satu sisi, serta mekanisme topangan finansial untuk mendorong pengembangan institusional bagi keunggulan akademik. Ambil contoh, pemerintah Hong Kong menunjukkan support yang sangat besar bagi universitas-universitasnya agar mampu menyelaraskan dan menyinergikan kekuatan akademiknya bagi meningkatkan kinerja pendidikan tinggi Hong Kong secara menyeluruh.

 

Kedua, transisi atau dapat disebut proses perubahan ini memerlukan strategi penginstitusian ke dalam kultur akademik yang kuat. Proses ini akan makan waktu. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang matang dan konsistensi menjalankan rencana tersebut. Di sini seringkali menjadi persoalan kita. Mentalitas untuk mencapai hasil secepat-cepatnya (quick-yielding mentality) tidak jarang merusak peta-jalan yang ada. Ini sering terjadi karena ketidaksabaran, apalagi ketika diganggu oleh persoalan-persoalan jangka pendek yang muncul tiba-tiba.

 

Ketiga, persoalan yang seringkali muncul adalah dikotomi riset vs. Pengajaran. Ini seringkali menjadi masalah klasik. Jika dosen rajin meneliti, maka perkuliahan dan mahasiswa menjadi korban. Ada juga pihak yang memandang bahwa solusinya adalah mengatur dengan baik jatah pengajaran para profesor untuk program sarjana. Hal ini, di sisi lain, dipandang akan menaikkan pamor universitas.

 

Sejauh pemahaman penulis, universitas-universitas riset di Amerika pun pada beberapa tahun belakangan ini sedang bergumul sangat serius tentang bagaimana upaya juga meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan undergraduate mereka. Apa yang dilakukan mereka bukan sekedar mewajibkan para professornya mengajar mahasiswa pada program sarjana tetapi bagaimana melibatkan sejak dini mahasiswa program sarjana dalam lingkaran-lingkaran riset universitas. Kasus Universitas Syracuse (Wright 2001) yang banting setir dari sekedar menjadi research university kepada student-centered research university merupakan salah satu kasus tipikal tentang bagaimana sebuah universitas riset juga peduli tentang kualitas pengajaran pada tingkat sarjana karena penerimaan universitas dari program-program undergraduates masih signifikan proporsinya dan karenanya tidak bisa ditelantarkan begitu saja. Karena itu, integrasi riset dengan teaching and learning activities seolah menjadi keharusan strategik dan sinergik yang makin menjadi orientasi universitas-universitas riset di Amerika.

 

Terlepas dari persoalan-persoalan di atas, keputusan menjadi universitas riset merupakan sebuah kemendesakan secara strategik. Dalam konteks itu, maka keputusan ini merupakan salah satu upaya mendongkrak daya saing perguruan tinggi Indonesia. Sebagai sebuah keputusan strategik, ia harus diambil dalam pertimbangan yang matang atas lingkungan kompetitif yang dihadapi dan posisi strategic resources yang dimiliki atau yang dapat diakses. Namun, di samping itu, keputusan ini akan sangat terkait dengan orientasi misi atau raison d’etre sebuah universitas.

 

Dalam konteks itu, baiklah kita bertanya apa sesungguhnya tentang alasan hidup (mission atau core purpose) sebuah universitas sebagai lembaga pendidikan tinggi. Dalam hal ini, Meyerson and Massy (1995) mengatakan bahwa the fundamental roles of university are creating, preserving, integrating, transmitting, and applying knowledge. Pertanyaannya, bagaimana mungkin universitas dapat melakukan semua tugas itu dengan baik, khususnya dalam mencipta pengetahuan, jika tidak aktif melakukan riset bagi pengembangan ilmu pengetahuan?

 

Sama halnya juga ketika D’Andrea dan Gosling (2005) mengatakan bahwa “Higher education has a social purpose that is not merely about transmitting knowledge and skills… it should also engage students in a transformational process by encouraging critical reflections on their learning and actions.” Proses transformasi ini diyakini akan makin bermakna ketika mahasiswa turut masuk ke dalam aktivitas inti universitas yakni pencarian dan penemuan pengetahuan baru.

 

Dari sisi analisis kompetitif, pemeringkatan universitas yang mencerminkan mutu proses dan output pendidikan didominasi oleh nama-nama besar yang tidak lain tidak bukan adalah universitas-universitas riset. Karena itu, tidaklah heran jika tekanan bagi kebanyakan universitas, bukan hanya di Indonesia, untuk makin memantapkan orientasinya ke arah menjadi universitas riset tidaklah kecil. Tentu, seperti diungkapkan di atas, hal ini hendaknya terjadi dengan turut juga memerhatikan kualitas pengajaran dan pembelajaran.

 

Jika pembiayaan operasional universitas menjadi sebuah masalah atau tantangan untuk maksud tersebut, sebagaimana itu juga dirasakan oleh universitas-universitas di Amerika maupun di negara lain seperti Australia, maka persoalan ini tentunya bukan hanya pergumulan sebuah universitas riset belaka. Sebuah college di sebuah kota kecil di Minnesota tempat saya ‘mondok’ selama lebih dari tiga bulan yang cenderung mengasosiasikan dirinya sebagai sebuah teaching institution pun merasakan hal yang sama. Memang pengadaan seluruh sarana prasarana riset, apalagi di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini atau ke depan, tidaklah murah. Apalagi competitors bagi universitas dalam dunia riset ini makin banyak dan muncul dari lembaga-lembaga riset independen dan spesifik Namun, kembali ke persoalan pendanaan, persoalan ini adalah dan akan tetap menjadi tantangan bagi jenis institusi perguruan tinggi manapun di waktu yang akan datang. Karena, seperti diungkapkan Weber (1999), tekanan kompetitif bagi sebuah institusi pendidikan tinggi ke depan luar biasa besarnya, kalau ingin menyebut diri lembaga pendidikan yang benar-benar bermutu.

 

Salah satu gagasan yang dilontarkan dalam merespon masalah pendanaan universitas adalah tantangan untuk mewujudkan diri menjadi sebuah entrepreneurial university. Salah satu universitas yang menglaim diri cukup berhasil mewujudkan diri menjadi universitas entrepreneur adalah Macquarie University di Sydney dengan mengangkat slogan sebagai innovative research university. Universitas ini cukup mampu mengembangkan pola partnership yang baik dengan industri dengan memanfaatkan keunggulan assets-nya, baik aset fisik maupun aset lunak berupa pengetahuan dan keahlian sehingga menjadi sumber pendapatan universitas yang tidak kecil. Model ini tampaknya cukup representative untuk menjadi contoh kolaborasi yang baik, tanpa mengorbankan misi dan cita-cita universitas yang bergiat menjadi frontier dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, universitas di masa depan haruslah mampu independen secara academic (academically independent), tetapi sekaligus mampu berpartner secara konstruktif dengan stakeholders strategik, misalnya industri (Rhodes, dalam Hirsch dan Weber 1999) untuk mengakses resources secara memadai.

 

Strategi lain adalah melakukan internasionalisasi program-program pendidikan. Australia dan Singapore merupakan negara tetangga yang cukup berhasil dengan program internasionalisasinya. Tantangan ini tentu saja masih cukup berat bagi perguruan-perguruan tinggi di Indonesia mengingat ketertinggalan mutu dan kendala bahasa. Tentu semua itu bisa diatasi dan satu cara strategik untuk itu adalah kembali ke persoalan utama kita, menjadi universitas riset.

 

Berdasarkan semua itu, semoga pilihan sejumlah universitas elite di Indonesia untuk menjadi research university bukanlah sebuah keterpaksaan atau latah karena tekanan-tekanan institusional belaka, sekalipun itu tidak terhindarkan akibat ketertinggalan. Namun, pilihan itu lebih diharapkan merupakan sebuah strategic choice. Karena itu, tantangan dan konsekuensinya tentu saja sudah harus dipikirkan dengan matang dan untuk itu dibutuhkan sebuah strategic roadmap bergerak ke arah universitas riset.

 

Rasa hormat perlu diberikan kepada sejumlah universitas yang sudah mencanangkan langkah strategik ke arah universitas riset. Catatannya, semoga benar-benar menjadi universitas riset untuk menjadi contoh bagi yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: