Posted by: nsrupidara | May 21, 2008

Arah Pendidikan di UKSW: Quo vadis?

Hampir tidak terbantahkan lagi bahwa model pendidikan yang baik adalah yang mendorong terjadinya pembelajaran yang mendalam (deep learning). Paul Ramsden, seorang ahli pendidikan dari Australia/UK, membedakan deep learning dari surface learning. Yang dimaksud dengan deep learning adalah proses pembelajaran yang mendorong mahasiswa mencari tahu dan menilai secara kritis ilmu pengetahuan yang dipelajarinya sehingga mengantarnya memahami secara mendalam dan lama atas apa yang dipelajarinya. Sederhananya bisa disebut belajar untuk membangun pemahaman (understanding) yang dalam jangka panjang mendorong si pembelajar untuk menjadi bijaksana dan mampu menjalani hidup dan pergumulannya dengan lebih baik.

 

Kontras dengan itu adalah surface learning alias belajar kulitnya saja di mana ciri umumnya adalah mahasiswa belajar untuk sekedar menghafal apa yang diajarkan dosennya, tidak pernah dikaitkan dengan aspek-aspek lain dan biasanya itu dilakukan hanya untuk kepentingan mendapat nilai yang baik dalam tes atau lulus mata kuliah. Lazimnya, habis tes, lupalah si mahasiswa atas apa yang sudah dipelajarinya.

 

Kedua model ini mudah dilihat dalam praktik, namun itu sesungguhnya menggambarkan apa di dalam benak si pendidik dan si pembelajar. Implikasi dari pilihan cara pandang di antara keduanya akan membawa konsekuensi pada proses pembelajaran yakni metode belajar mengajar dan akhirnya load belajar-mengajar masing-masing.

 

Tulisan ini adalah bagian pendahuluan dari analisis dan pengajuan konsep pedagogis bagi kita di UKSW. Sebagai pendahuluan, tulisan ini belum akan membahas hal-hal tersebut tadi secara mendetail, tetapi baru akan memberi background untuk pembahasan lanjut pada bagian kedua. Bagian ini juga memuat beberapa refleksi terhadap perkembangan praktik pedagogis di UKSW dan mengajukan beberapa pertanyaan reflektif.

Pergeseran Orientasi Pedagogis

Bagi saya, perdebatan deep vs. surface learning bukan perdebatan baru dan bukan juga hanya persoalan kita di Indonesia. Mungkin usia perdebatan ini sama tuanya dengan munculnya sekolah-sekolah modern di manapun yang demi kepentingan formal harus mengeluarkan ijazah dan nilai sebagai bukti keberhasilan seorang pelajar menempuh dan menyelesaikan sebuah bahan pelajaran. Namun, ia semakin mengemuka ketika pendidikan berubah dari pendidikan sebagai sebuah tanggung jawab sosial menjadi pendidikan sebagai sebuah proses transaksi pengetahuan di lembaga pendidikan sebagai pasar pengetahuan.

 

Dahulu kala, belajar ilmu pengetahuan rasanya adalah sebuah ’kemewahan’. Tidak semua orang bisa mencapai taraf pendidikan tinggi (bukan dalam ukuran menjadi mahasiswa tetapi menjadi orang-orang yang benar-benar mendedikasikan diri untuk belajar dan belajar menimba ilmu). Barangkali bukan saja tidak bisa mencapai, tetapi tidak semua orang memiliki kebutuhan untuk itu. Kini, hampir-hampir semua orang yang mampu secara ekonomi, akan merasa malu jika tidak berkuliah. Karena itulah barangkali, pendidikan kini beralih fungsi menjadi sebuah mesin raksasa yang berproses dalam suatu lingkungan yang terinstitusi sedemikian rupa sehingga hampir-hampir kita tidak lagi atau lupa memersoalkan sebetulnya apa makna sesungguhnya pendidikan, apalagi arti belajar di tingkat pendidikan tinggi.

 

Kembali ke dunia baheula di mana pendidikan menjadi barang mewah, khususnya setelah munculnya para filsuf yang mencoba memersoalkan berbagai fenomena hidup dan merentang pikiran untuk mencari jawab atasnya. Para pelajar pada zaman itu adalah mereka yang cenderung ingin tahu apa saja. Pengetahuan bagi mereka tidak berbatas, mulai dari ilmu alam/fisik hingga fenomena sosial budaya dipelajari. Bahkan setelah manusia mengenal cabang-cabang ilmu pengetahuan dalam lembaga-lembaga pendidikan formal, khususnya pendidikan tinggi, maka para mahasiswa pun harus belajar ilmu-ilmu pengetahuan secara holistik. Dari matematika, ilmu alam, ilmu sosial, bahkan hingga pendidikan fisik dan kesenian, semua dipelajari. Itulah yang lazimnya dikenal sebagai pendidikan liberal arts.

 

Apa yang mau dikemukakan dengan semua itu adalah bahwa pendidikan benar-benar merupakan barang mewah. Karena mewah atau mahal dan untuk mendapatknya harus dengan kerja keras, maka diperlakukan sedemikian rupa istimewanya. Rentangan subyek yang dipelajari kalau bisa semuanya dan terutama semua harus dipelajari secara mendalam untuk benar-benar paham. Para pelajar harus berupaya tahu hampir segala hal dengan baik agar menjadi bijak, menjadi pribadi yang lengkap sehingga mampu menjalani hidup dengan lebih baik. Di situlah cita-cita pendidikan untuk membentuk warga negara yang baik terletak dan di situlah istilah yang saya pakai sebelumnya yakni pendidikan untuk hidup berlaku.

 

Model pendidikan macam begitu tampaknya masih tersisa baunya dengan cukup kental hingga tahun-tahun 1970-1980an di Indonesia di tingkat perguruan tinggi, namun saya tidak pasti dengan hal itu. Jika mengingat kembali diskusi-diskusi kemahasiswaan kami di tahun 1990an awal, istilah liberal arts kadang masih terdengar. Saya pun masih sempat merasakan berkuliah dengan mata kuliah wajib umum seperti Ilmu Alamiah Dasar dan Ilmu Budaya Dasar serta mata kuliah pilihan olah raga seperti Tenis. Dan mahasiswa diperlakukan serta memerlakukan diri sendiri untuk benar-benar belajar dan paham apa yang dipelajarinya. Karena itu, misalnya, perpustakaan UKSW tetap ramai, khususnya ruang bacanya hingga jam 10 malam.

 

Namun, perubahan tidak terelakkan, termasuk di dunia pendidikan. Sesungguhnya perubahan ke arah spesialisasi keilmuan juga bukan barang baru. Dunia pendidikan sudah lama mengenal pendidikan ke arah profesi sudah cukup lama. Di zaman pendidikan kolonial pun orang sudah belajar menjadi misalnya untuk menjadi ahli hukum (Master in de Rechten/MR), walaupun mata kuliah dasar umum yang wajib tampaknya harus tetap untuk memberi fondasi umum yang cukup. Pola ini masih tampak hingga sekarang dengan mata kuliah umum, tetapi dengan porsi yang makin sedikit. Namun, yang saya lebih maksudkan dengan isu pergeseran adalah pada makna belajar di perguruan tinggi, dari belajar untuk hidup ke arah belajar untuk sekedar mendapat ijazah atau bahkan menjadi lebih sempit, untuk sekedar dapat nilai dan lulus mata kuliah. Saya tidak tahu persis sejak kapan, tetapi sejak saya berkuliah di tahun 1990 di UKSW, rasanya pandangan sempit itu telah ada.

 

Dulu sewaktu kuliah, masih ada dosen yang bercerita betapa bergengsinya status berkuliah atau lebih lagi kalau sudah memanggul gelar sarjana di zamannya bermahasiswa. Status itu merupakan modal besar mendapat pengakuan mertua, katanya. Prinsipnya, bagi masyarakat di zaman itu, berkuliah dan menjadi sarjana masih berupa sebuah kemewahan. Saya lalu teringat konsep creative minority di UKSW yang juga memaknai mahasiswa sebagai sebuah kelompok elite dalam masyarakat dan karenanya UKSW bercita-cita agar lulusannya menjadi ’pasukan elite’ di masyarakat. Kesimpulan saya, belajar di perguruan tinggi hingga zaman 1990an masih ada bau belajar untuk hidup, tetapi ia mulai digoda oleh belajar untuk selembar ijazah.

 

Tarikan nilai ekonomis pendidikan tinggi makin kuat sejak era 1990an dan rasanya pendidikan tinggi mulai bergeser dari paradigma sosial, ke paradigma ekonomi dan ia menjadi sebuah ’industri’. Jika melihat wacana yang dikembangkan di UKSW pasca 1995, sangat kentara paradigma ini mulai berkembang di UKSW.

 

Pikir saya, memerlakukan lembaga pendidikan sebagai sebuah industri dalam sebuah negara macam Indonesia yang masih tega membayar buruh murah atau memanipulasi bahan baku palsu untuk sekedar menghasilkan barang murah atau mencari untung sepihak, sebuah paradigma bisnis yang masih cukup dominan hingga saat ini di lingkungan kita, bisa jadi menjebak pendidikan tinggi pun untuk berada pada kelas ’industri murahan’. Pendidikan hanya jadi tempat transaksi bisnis sempit antara yang mencari gelar dan yang memberi gelar. Tidak lebih. Pendidikan tidak atau belum menjadi industri unggulan yang cita rasa dan kualitas menjadi aroma dan ciri utamanya. Apalagi, ia pun sudah bukan lagi sebuah proses yang mempunyai tugas dan tanggung jawab sosial, yakni pembentukan dan transformasi karakter subyek didiknya.

 

Bukan berarti menuding para pemimpin lembaga pendidikan tinggi seperti UKSW di era 1990an sudah ’melacurkan’ lembaga pendidikan tinggi di satu sisi dan di sisi lain belum mampu membawanya (kembali) menjadi sesuatu yang benar-benar berkelas (dulu ia dipandang sangat terhormat), tetapi jebakan itu, yakni menjadi ”industri murahan”, bisa jadi telah benar-benar memerangkap kita komunitas pendidikan tinggi sehingga kita terkesan hanya berjalan di tempat atau bahkan berjalan mundur dari perspektif pedagogis dan kemampuan kontributifnya dalam membentuk masyarakat berkemampuan kelas wahid. Padahal, dunia katanya terus bergerak maju, bahkan makin cepat. Lembaga pendidikan seperti UKSW kini akhirnya tidak lebih dari sebuah mesin produksi massal. Ia bukan lagi sebuah aset sosial budaya. Pendidikan termasuk yang berlangsung di UKSW bisa jadi juga tidak lebih dari sebuah proses produksi kacangan, dan bukan lagi sebuah proses penanaman dan pewarisan budaya (perhatikan bunyi salah satu visi UKSW). Misi pendidikan tinggi untuk menransformasi subyek didik untuk menjadi warga negara terhormat yang akan mengemban berbagai tugas sosial-ekonomi-budaya-politik di masyarakat terbengkalai.

 

Penutup: Bertanya Kembali Apa Mau Kita

Aahh, dari pada menuding, lebih baik bertanya. Pertanyaan dari fenomena seperti itu adalah, ”Apa benar itu yang terjadi pada lembaga seperti kita di UKSW, lembaga yang konon punya cita-cita bukan sekedar mencetak lulusan siap pakai di tempat kerja tetapi yang bisa melakukan transformasi sosial? Apa memang sudah zamannya untuk mereduksi peran dan tanggung jawab lembaga pendidikan tinggi di UKSW untuk sekedar menyelenggarakan program-program pendidikan dan menghasilkan lulusan tanpa dilandasi oleh misi agung pendidikan?”

 

Jika jawabannya bisa disebut ya, ada benarnya, maka kembali ke makna pendidikan dan proses belajar, ”betulkah proses belajar di UKSW juga sudah terjebak hanya demi selembar ijazah? Kalau sudah demi selembar ijazah, maka apakah benar selembar ijazah memang sudah cukup untuk bekal hidup di hari seperti ini?

 

Dalam hati saya bertanya, ”apa sesungguhnya konsep pendidikan UKSW saat ini? Bertanya ini sangat terkait dengan bertanya, ”Siapa kita sesungguhnya?” Pikiran saya melayang mencoba membayangkan pikiran seorang Notohamidjojo (note: rektor I UKSW) di era 1950an hingga 1970an yang menjadi konseptor awal baik model pendidikan maupun UKSW sebagai lembaganya. Di antaranya pak Noto mencita-citakan sebuah pergulatan ilmu pada tataran tinggi baik oleh dosen maupun mahasiswa agar UKSW mampu membawa perubahan dan mewariskan kebudayaan yang baik bagi masyarakat dan bangsanya. Dan, ketika pikiran itu melayang kembali melintasi waktu untuk membandingkannya dengan pikiran yang mencuat dari dan dalam sikap dan perilaku warga UKSW kini, rasanya saya tidak sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sendiri karena khawatir kita justru menegasi eksistensi kita sendiri. Baiklah Anda juga ikut menjawabnya. Apakah jawabmu?

 

Kalau Anda membenarkan indikasi-indikasi saya itu, lalu apa nikmatnya sih belajar itu? Belajar adalah beban! Karena itu, belajar-mengajar baru sedikit asyik kalau ada lelucon segar yang membuat kita semua tertawa terbahak-bahak, tetapi lalu hanya lelucon itu yang kita ingat dan semua yang lain kita lupa? Benarkah belajar menjadi sangat menjemukan karena dosennya sok serius dan mahasiswa dibuat susah karena dituntut harus banyak baca dan baca dan baca, serta tugas dan tugas dan tugas, atau sejenis itu? Oh, oh, oh, sedemikian parahkah kita?

 

Saya bingung… Zaman apakah ini? Barangkali benar Ronggowarsito seperti juga dikutip Notohamidjojo, ”Inikah zaman edan, karena itu siapa tidak melu edan gak kebagian atau dianya justru bisa dianggap sebagai yang gila?”

 

Tapi, lalu mau ke mana kita? Mau jadi apa kita? Saya merenung, berpikir, dan karenanya berkata ”ada sesuatu yang salah dalam konsep pendidikan kita, termasuk di UKSW!” Dan, harus ada jalan keluarnya, agar sakit kita tidak semakin akut-menahun.

Note: Tulisan ini telah diposting di Scientiarum, majalah online Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana sejak 1 May 2008.

 

Advertisements

Responses

  1. Hmm, ternyata apa yang saya rasakan itu saat awal-awal kuliah memang realita. Pada saat saya menginjak awal smstr 2, pernah terpikir untuk berhenti kuliah, karena yang saya rasakan kuliah sama saja seperti di SMA, setelah tes, apa yang saya pelajari ternyata setelah itu menguap entah di mana. Ternyata hal itu adalah imbas daripada sistem surface learning. Dalam realita pendidikan di UKSW sekarang ini memang saya rasakan menerapkan surface learning, dan ini mungkin salah satu penyebab menghasilkan lulusan yang secara garis besar “biasa saja”. Saya tidak menyalahkan sepenuhnya UKSW atas menghasilkan lulusan yang biasa saja ke pihak institusi pendidikan, tetapi menurut saya UKSW dalam hal ini punya andil yang cukup besar, selayaknya menciptakan deep learning agar dapat membuat mahasiswa tidak hanya proses belajar mengajar seperti “mengisi botol kosong” tetapi membuat mahasiswa proses belajarnya sebagai sebuah proses menyalakan api dalam hati untuk mencari ilmu. Terimakasih untuk tulisan Bapak, yang telah memberi jawab atas segala tanya yang ada di pikiran-pikiran saya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: